“Warige”, Radar Pemandu Musim di Lombok

June 26, 2026

warigeNTB7

Seperti halnya di beberapa daerah di Nusantara, suku Sasak di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, juga memiliki apa yang oleh orang Jawa disebut pranata mangsa. Pranata berarti aturan, dan mangsa tak lain padanan dari kata masa atau musim.

erjemahan bebas dua kata itu (pranata mangsa) adalah panduan untuk mengerjakan sesuatu pekerjaan, terutama di bidang pertanian. Orang Jerman menyebutnya bauern kalender atau penanggalan untuk bertani.

Sistem penanggalan tradisional tersebut adalah hasil rangkuman dan kepekaan batin leluhur orang Sasak membaca fenomena jagat raya, lalu diwujudkan dalam apa yang mereka namakan warige atau kutike. Warige atau kutike menjadi semacam almanak penanda musim berbasis peredaran bintang, matahari, dan bulan.

Meski lebih banyak digunakan pada bidang pertanian di sawah atau di ladang, sejatinya warige atau kutike kerap dijadikan pedoman untuk mengawali beragam aktivitas keseharian lainnya. Sebutlah seperti kegiatan melaut,  berdagang, menagih utang, mencari barang hilang, menentukan acara perkawinan, membangun rumah, kenduri, dan acara-acara yang terkait siklus hidup manusia.

Prakiraan keluarnya cacing nyale saat acara “Bau Nyale” di Pantai Kute, Lombok Tengah—juga di  Pantai Kaliantan, Lombok Timur—pun memakai kutike. Bahkan, uniknya, ada yang memanfaatkan warige/kutike sebagai panduan ‘jalan malam hari memburu harta warga’ alias untuk mencuri.

***

KALENDER ini umumnya berupa papan kayu empat persegi bergambar garis tegak lurus dan mendatar. Tetapi ada juga yang berbentuk setengah bundar, bulat panjang, atau empat persegi panjang. Satu hal yang pasti, di tiap permukaan papan warige/kutike selalu dilengkapi semacam simbol atau fitur ilustrasi.

Tak banyak orang Sasak yang memiliki kemampuan “membaca” simbol-simbol yang tertera pada warige atau kutike. Nasarudin (66) dari Dusun Dasan Rempung, Desa Kabul, Kecamatan Praya Barat Daya, Lombok Tengah, termasuk satu di antara sedikit orang yang mampu “membaca” warige/kutike. Dulu, hingga tahun 2000-an, ada juga Suryasim, warga Dusun Belencong, Desa Mumbulsari, Kecamatan Bayan, Lombok Utara (Kompas, 1 Oktober 2007, halaman 16).

Warige atau kutike empat persegi terdiri atas enam kolom dari kiri ke kanan dan lima kolom dari atas ke bawah. Kolom itu berisi simbol titik (naptu) dari satu sampai sembilan, tanda kali (X), selain kolom fitur kosong (sung). Kolom dari kiri ke kanan berisi jumlah hari per minggu, hanya boleh dibaca hari Jumat. Adapun kolom dari atas ke bawah adalah penunjuk waktu. Penentuan baik-buruknya waktu dimulai/dibaca dari bawah pada kolom penunjuk waktu:  sung (sepi, tanpa simbol), perang bakat (tanda X), kale (satu titik), lampan (mulai kerja, tiga titik) dan rame (ramai, enam titik).

Warige dilengkapi fitur penjuru mata angin. Fungsinya, jika seseorang harus bepergian dalam waktu tidak tepat, pembaca warige mencarikan cara lain. Si pejalan, dari rumah, mengawali langkah dengan kaki kiri diikuti kaki kanan, lalu melewati jalan tertentu yang tidak pernah dilalui orang banyak. Mata angin itu dibaca berlawanan arah jarum jam, dimulai arah kedatangan (barat, timur, dan seterusnya).

Perhitungan kutike ini berpedoman pada tahun Hijriah, dan Penanggalan Sasak yang disebut ‘Tahun Baluk’ (delapan) seperti Tahun Alif, Ehe, Jimawal, Se, Dal, Be, Wau dan Jimahir. Tiap tahun ini punya karakteristik iklim. Ada dua musim/mase/masen dalam Kalender Sasak: masen kentaun (hujan) dan masen kembalit (kemarau). Durasi dua musim itu masing-masing berlangsung enam bulan, meski di daerah selatan Pulau Lombok masen kentauan hari hujannya lebih singkat: 90 hari, malah terkadang kurang dari itu.

Butuh waktu dan ketekunan untuk dapat membaca/menerjemahkan fitur warige. Suryasim, misalnya, membutuhkan waku selama 20 tahun mempelajarinya. Simbol-simbol itu bertali-temali dengan sistem budaya setempat, nilai keislaman seperti tertulis dalam kitab Tajul Muluk dan Betaljemur, atau yang tertera dalam naskah lontar (takepan). Karena itu, warige  umumnya “dikuasai” tokoh agama (kiyai) dan sesepuh adat, mengingat fiturnya bertali-temali dengan daur-hidup manusia, hubungan Tuhan dengan manusia, antarmanusia dan makhluk hidup lainnya.

***

SEPERTI pengalaman Suryasim dan Nasarudin, pengetahuan astronomi, karakteristik tahun dan bulan yang berbeda, fenomena sifat iklim, serta hasil amatan prilaku hewan—termasuk kicau burun—dan desir angin, mereka rangkum. Setelah itu mereka analisis, dikaitkan simbol dalam warige, lalu dituangkan sebagai bahan simpulan sementara memprediksi cuaca. Ramalan dalam kutike berpedoman pada hari, tanggal dan bulan terbitnya bintang Rowot, posisi bintang Tenggale dan bintang Parek Menah.

Keberadaan tiga rasi bintang itu dihubungkan dengan kalender tahunan tadi, sebagai pendukung peramalan keadaan alam secara umum. Bintang Rowot adalah gugus bintang yang meliputi 11 bintang dan mengelompok menjadi satu. Bintang Pai adalah gugus bintang yang menyerupai bentuk ikan pari. Bintang Tenggale adalah gugusan bintang menyerupai bajak/sikal. Bintang Parek Menah, bintang yang muncul menjelang pagi hari (parek = menjelang, menah = pagi/dini hari).

Untuk mengetahui sifat-sifat iklim dan cuaca dalam 12 bulan (mangse), dari bulan kesatu (bulan Sekēq) hingga ke-12 (due olas), ada tahapan yang mesti ditempuh oleh pembaca warige.  Dimulai dari apa yang oleh Nasarudin disebut boyak dewase (mencari dewasa), yakni masa mencari hari baik (urip jelo) dan buruk (kale) untuk aktivitas bertani (olah lahan, pembenihan padi dan palawija), membangun rumah, menggelar acara pernikahan, menagih utang, dan  perjalanan jauh.

Satu pedoman mengawali kegiatan adalah apa yang dinamakan kelampan nage/perjalanan/arah menghadap ular naga. Nage dipersepsikan selalu bergerak mengangkangi bumi. Kepala, ekor dan perutnya berpindah-pindah posisinya tiap tiga bulan per 365 hari. Jika membangun fondasi rumah atau melakukan pekerjaan di bulan Ramadan, misalnya, berawal dari selatan ke utara, sebab saat itu tubuh naga menghadap selatan-utara.

Analisa kelampan nage dalam fitur warige jarang meleset. Seperti cerita Suryasim, sekali waktu seorang warga hendak menggelar kenduri perkawinan. Ia menyarankan epēn gawē (si empunya gawe),  “jam gawe jelo ni, jam semeni” (jam kenduri hari ini, jam sekian). Tapi epen gawe keliru mendengar saran saya,” katanya. Ternyata, waktu kenduri digelar tidak sesuai jam yang disarankan. Alhasil, saat hari ‘H’ tamu yang hadir hanya sedikit. Lauk-pauk, sayuran dan penganan lain yang disiapkan tuan rumah menjadi basi.

***

PADA masa lalu, hitung-hitungan kutike mungkin lebih efektif untuk menjawab berbagai permasalah kegiatan di bidang pertanian, misalnya, menggingat penggunaan pestisida-herbisida kimia belum marak. Jagat raya pun belum dipengaruhi pemanasan global seperti sekarang, yang mengakibatkan peningkatan fluktuasi dan siklus perubahan musim kian sulit diprediksi.

Dulu teknologi pertanian masih memakai pupuk dan obat-obatan organik ramah lingkungan. Jika terjadi situasi ketidakpastian di tengah serba keterbatasan saat itu, warige/kutike jadi pilihan  karena diyakini petunjuk Illahi agar manusia memakai insting dan pancaindera membaca bahasa alam demi bertahan hidup.

Keyakinan Ilahiah itu pula yang selalu diingatkan oleh Nasarudin sebelum hasil utak-atik warige kepada warga yang bertanya mengenai suatu hal disampaikan. Kutike tidak mutlak benar, karena, kata Nasarudin, “Sengaq si tetu-tetu kenaq, Deside Nenek Si Kuase saq ēpēang (karena kebenaran mutlak itu adalah milik  Allah SWT).”

Namanya juga ramalan, bisa benar bisa pula salah hasilnya. Boleh jadi peralatan moderen lebih rinci dan akurat mendeteksi perubahan iklim,  pola cuaca, dan perubahan di atmosfer dibanding warige. Namun, paling tidak kutike dapat menjadi sarana mengonfirmasi hasil kajian peralatan modern, atau ‘radar’ awal pengingat petani merencanakan pola tanam, teliti memilih komoditas yang ditanam, dan menanam tepat waktu. Dengan demikian tanaman dapat pengairan yang cukup, aman dari serangan hama-penyakit dan organisme pengganggu. Usaha tani petani pun selamat dalam proses tanam-petiknya. (Khaerul Anwar)