TIM JAKARTA, TRADISILISAN.ID—Rangkaian kegiatan Seminar Internasional XIII dan Festival Tradisi Lisan Nusantara (Lisan XIII), 4-8 Agustus 2026, diawali pelaksanaan Musyawarah Nasional AsosiasiTradisi Lisan (ATL) dibuka Selasa (4/8) sore oleh Mukhlis PaEni selaku ketua Dewan Pembina ATL. Acara dua tahunan ini diikuti 23 dari 33 perwakilan ATL yang ada di Indonesia dan di beberapa negara.
Munas ATL berlangsung hingga Rabu (5/8) sore, dilanjutkan pembukaan Lisan XIII oleh Menteri Kebudayaan Fadli Zon. Baik kegiatan Munas maupun seminar dan festival Lisan XIII berlangsung di Balai Sastra Pusat Dokumentasi HB Jassin, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta.
Kegiatan utama Munas ATL adalah mendengarkan laporan sekaligus pemaparan capaian program kerja dua tahun terakhir oleh masing-masing perwakilan ATL yang hadir. Satu di antaranya adalah pelaksanaan musyawarah daerah (musda) untuk penyusunan kepenguruan baru di tiap perwakilan ATL. Ternyata, belum semua perwakilan ATL di berbagai daerah yang telah melaksanakan musda. Padahal, imbauan dari ATL Pusat agar semua kepengurusan perwakiltan ATL di seluruh Indonesia sebaiknya disamakan masa jabatannya, yaitu 2026-2030.
Dalam acara ini juga dilangsungkan peluncuran portal (website) TRADISILISAN.ID; buku 70 Tahun Pudentia: Ibu Kandung Tradisi Lisan Indonesia (Yayasan Pustaka Obor); buku Mak Yong: Mengangkat Batang Teredam (Yayasan Oustaka Obor) karya Pudentia MPSS; serta pemaparan program Most Endangered Archive Program (MEAP) yang merupakan digitalisasi arsip-arsip tradisi lisan dari seluruh Indonesia.
Ketika membuka Lisan XIII, Menteri Kebudayaan menyampaikan apresiasinya kepada ATL, para leluhur, dan maestro, komunitas budaya, dan seluruh pihak yang terlibat dalam acara ini. Untuk itu, ia mengatakan, “Mari kita tempatkan pengetahuan masa lalu sebagai sumber daya untuk membaca persoalan hari ini dan membangun masa depan yang lebih manusiawi, berkeadaban dan berkelanjutan. Selama tradisi terus dilanjutkan, didengar, dimaknai, dan diwariskan, ingatan kebudayaan Indonesia akan tetap hidup.”
Dengan tema “Peranan Tradisi Lisan sebagai Warisan Budaya Takbenda dalam Merawat Kemanusiaan, Alam, dan Kehidupan dari Masa Lalu ke Masa Depan,” acara ini, menurut Menteri Kebudayaan, memiliki relevansi yang kuat dengan berbagai tantangan kontemporer. Tradisi lisan merupakan warisan hidup atau living heritage di mana setiap penuturan mengandung ingatan, interpretasi, improvisasi, dan penciptaan baru sesuai konteks serta kemampuan penuturnya.
Hal ini sejalan dengan yang disampaikan sebelumnya oleh Ketua ATL Pudentia, bahwa acuan tema tersebut mengajak kita melihat tradisi lisan sebagai pengetahuan yang terus hidup. Cerita rakyat, mantra, pantun, nyanyian, petuah adat, ritual, seni pertunjukan, dan berbagai ekspresi budaya menyimpan nilai kemanusiaan, etika ekologis, ingatan kolektif, serta cara masyarakat menjaga keseimbangan kehidupan.
Selain para pemerhati tradisi lisan dari seluruh Indonesia, acara ini juga dihadiri oleh peserta dari India, Singapura, Brunei Darussalam, Malaysia, Thailand, Swiss, dan Swedia. Menurut Pudentia MPSS, “kehadiran mereka menegaskan bahwa tradisi lisan mampu mempertemukan beragam bangsa, bahasa, keyakinan, dan kebudayaan dalam ruang dialog yang setara.”
Sebagai pamungkas dari acara festival hari pertama, digelar pertunjukan Tari “Seraikela Chhau” dari India, seni monoplay Besutan (yang merupakan asal-muasal Ludruk Jawatimuran) dari Surabaya, musik Gambang Kromong dan pentas drama Topeng “Si Jantuk” khas Betawi. (hn)