
ehadiran situs atau portal (website) Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) dengan domain dan tampilan dalam format baru ini tidak lain adalah bagian dari upaya kami untuk berbenah diri. Termasuk di dalamnya penyempurnaan muatan materinya yang secara khusus dipilah berdasarkan kategori yang kami sediakan pada bagian "JENDELA" sebagai pengganti istilah ‘rubrik/rubrikasi’ yang sudah umum digunakan. Di sanalah beragam jenis tradisi lisan Nusantara yang menjadi bagian dari kerja ATL kami tuangkan secara mendalam. Baik berupa hasil "perjumpaan" dengan para pelaku tradisi, kunjungan ke komunitas-komunitas, maupun dari pertunjukan mereka di atas panggung. Laporan diupayakan berpusat pada orang (people), pada pelaku dengan segala persoalan yang mereka hadapi, dan tentu saja berikut cerita di balik keberadaan tradisi lisan yang mereka "hidupi".

Ngeri-ngeri sedap! ltulah ungkapan cerdas yang kaya makna dari Zulkaidah boru Harahap (60), mantan maskot Opera Batak pimpinan Tilhang Gultom pada era 1960-an hingga awal 1970-an.

onteks ucapan boru Harahap tadi sebetulnya sederhana. Bahwa, menjadi seniman tradisi yang ia geluti selama ini ternyata penuh dinamika. Sedih dan duka kerap berjalan beriring dengan kegembiraan. Jarak yang memisahkan keduanya pun terkadang tipis, tetapi di lain waktu bisa jauh merentang: ibarat bumi dan langit!
Tradisi Lisan berkomitmen untuk menjadi garda terdepan dalam menjaga, merawat, dan menghidupkan kembali tradisi lisan melalui berbagai program strategis. Kami melakukan kegiatan dokumentasi dan digitalisasi untuk memastikan bahwa kekayaan budaya ini dapat diakses oleh generasi sekarang dan mendatang. Selain itu, kami juga menyelenggarakan penelitian, diskusi ilmiah, pelatihan, workshop, seminar, hingga festival budaya yang melibatkan berbagai lapisan masyarakat.
Jangan keliru, rubrik 'Maestro' di jurnal JENDELA hadir bukan untuk merayakan sebuah seremonial penghargaan. Ia ada sebagai alarm keras bagi kita semua: bahwa tanpa para penjaga tradisi lisan ini, identitas budaya kita sedang diambang kepunahan.