ALISTER NAINGGOLAN “Fort De Kock“ dari Medan

Entah mengapa di kalangan seniman tradisi di Sumatera Utara ia lebih dikenal dengan panggilan “Fort de Kock” ketimbang nama aslinya: Alister Nainggolan. Tak ada penjelasan. Seolah nama panggilan itu muncul begitu saja dari kesehariannya, seperti perjalanan hidupnya yang tanpa bisa ditebak ke mana akan mengalir.   “Biasanya karena tidak bisa membayar uang sewa kontrakan,” kata Thompson Hs, seniman muda Sumatera Utara yang kini […]

AMAQ RAYA Berguru pada Alam Lombok

Pernah main di depan presiden, juga di Jepang. Kini, di masa tuanya, ia harus hidup dari upah pemecah batu kali. Akan tetapi semangat memajukan tari tetap menyala pada dirinya.   Rasa lapar dan sakit hilang seketika kalau mendengar gending. Apalagi kalau diajak bicara soal tari dan gending ciptaannya, tubuh yang kelihatan ringkih dimakan usia itu […]

BACHTIAR SANDERTA Pembangkit Mamanda di Kalimantan Selatan

Namanya sangat melekat dengan kesenian Mamanda, kesenian yang sudah dikenalnya sejak kecil. Tapi sebetulnya ia adalah seniman serba bisa. Teater, tari, musik, dan sastra ia kuasai.   Tanpa Bachtiar Sanderta, barangkali Teater Mamanda yang merupakan kesenian tradisional di Kalimantan Selatan sudah lenyap. “Alhamdulillah Mamanda masih banyak diminati oleh masyarakat dan selalu dirindukan,” ujar Banchtiar Sanderta, […]

Haji Bodong Yang Paling Tua di Topeng Betawi

Selesai tetalu disambung dengan keluarnya seorang penari wanita yang disebut Ronggeng Topeng. Ada ciri khas busana si penarinya, yaitu mengenakan kain batik panjang dengan kebaya berlengan pendek, dengan detail dua lembar kain berhias penutup dada, punggung, dan perut. Serta hiasan kepala terbuat dari kain perca. Setelah beberapa saat menari, keluarlah bodor ‘pelawak’ yang setelah mengadakan dialog perkenalan […]

COPPONG DAENG RANNU Menari dari Istana Raja Goa hingga ke Amerika

Tidak hanya ibu, ayahnyapun memberikan dorongan dan restu. Sehingga Mak Coppong, demikian biasa dipanggil, pada usia 10 tahun telah memutuskan menjadi generasi penerus dalam keluarga untuk menekuni tari terutama Salonreng dan Pakarena. Bahkan ketika sudah menikah, suaminya juga mendukung. Sehingga dalam perjalanan hidup sebagai penari dan pelatih tari, kendati awalnya sekedar menuruti kata ibu, tapi […]

PANTUN-NYANYIAN SAHILIN: Dendang tentang Kesunyian

         Dengan sangat hati-hati, Sutrisman Dinah membelokkan sepeda motornya ke gang sempit itu. Malam belum larut, tetapi atmosfer di sepanjang gang terasa senyap. Di kanan-kiri jalan setapak itu, rumah-rumah panggung—yang bagian kolongnya kebanyakan sudah dibeton—berdiri rapat seperti sambung-menyambung. usul bae kami ke Gang Gading!” Begitu pesan singkat yang kami terima dari Sahilin, […]

Tradisi Muang Jong RITUS MENJAGA KESEIMBANGAN ALAM

Akhirnya mau juga Mak Una (69) melantunkan beberapa nyanyian khas Orang Sawang. Gendang yang disodorkan Idris Said (61) pun diraihnya. Alat musik pengiring itu lalu ia kepit di bawah ketiak kiri, sementara jari dan telapak tangan kanannya mulai dipukul-pukulkan ke kulit permukaan gendang, mencari nada-nada ritmis, sebelum syair-syair dalam nada pilu itu terdengar.   Ketika […]

“RAMBU SOLO'”: Menenun Duka di Tengah Meriahnya Sebuah Pesta

Ma’badong   Nyanyian berisi puji-pujian bagi mendiang Felix Dammen alias Nenek Robin (1922-2002) terus dilantunkan oleh puluhan lelaki yang berdiri saling bergandeng tangan membentuk sebuah lingkaran.   Bau anyir darah kerbau dan babi yang masih berceceran di depan rumah tongkonan—rumah adat tempat ritual itu dilangsungkan—tak sedikit pun mengganggu konsentrasi mereka.  Sesekali suara para lelaki berkaos […]

Bayi yang Dikuburkan di ”Rahim” Pohon

  Air mata Carmelia (48) akhirnya tumpah di hutan bambu di Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Wisatawan asal Israel itu menangis sesenggukan begitu Stanislaus Sandarupa (54) usai menjelaskan sistem penguburan mayat bayi di batang pohon, sebuah ritual unik penganut Aluk Todolo atau Alukta (agama para leluhur di Tana Toraja) yang tak ada duanya di muka bumi. uasana pun […]

BAHASA (DI) PAPUA: Kelisanan dan Keberaksaraan

  Orang sering keliru menempatkan bahasa ibu dalam konteks keberaksaraan. Dalam banyak kasus, bahasa ibu malah dituding pangkal dari interferensi yang negatif, melanggar kaidah gramatikal, sehingga jadi sumber kekacaubalauan dalam berbahasa yang baik dan benar.   Bahasa ibu lalu seperti “dimusuhi” karena dianggap bisa merusak kemampuan bahasa anak dalam pemerolehan bahasa baru: bahasa Indonesia! Akan […]