“Bahasa Kore kini masih menyisakan penutur kalangan usia tua saja. Tetapi kami berupaya melestarikan dan memasukkan bahasa Kore sebagai pelajaran muatan lokal, biara para siswa mengenal dan mau menggunakannya untuk berkomunikasi, selain bahasa Mbojo yang menjadi bahasa pengantar sehari-hari masyarakat di Kabupaten Bima dan Dompu.”
Grup musik tradisi mengiringi para penari di Desa Sanggar, Kabupaten, Bima, NTBarat. (Foto: Museum Negeri NTB 1 Juli 2025)
egitu kata Afifudin, kepala SMA Negeri 1 Sanggar, Bima, Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB), yang ditemui di Mataram, beberapa waktu lalu. Pernyataan ini sekaligus mengonfirmasi tindak lanjut upaya Suhada Saleh dan As’ad, keduanya guru SMA Negeri 1 Sanggar, saat penulis bergabung dengan Tim Ekspedisi Kompas “Cincin Api” Tahun 2011 (Kompas, Sabtu 17 September 2011, halaman 16). Bahasa Kore tergolong bahasa Bima lama, yang dikenal oleh penuturnya sebagai Inge Ndai; agak berbeda dengan bahasa Bima (Nggahi Mbojo) sebagai sarana komunikasi masyarakat di Kabupaten Dompu dan Kabupaten Bima kni.
Suhada dan kawan-kawan-nya punya komitmen untuk menghadirkan dan menghidupkan ‘bahasa ibu’ itu, yang sudah hilang di ‘rumah’-nya sendiri. Mereka ingin membuat kamus khusus bahasa Kore agar generasi muda di sana tahu bahwa ada bahasa lokal selain bahasa Bima yang dikenal saat ini. Dulu, Sanggar adalah sebuah kerajaan, semasa dengan Kerajaan Tambora dan Kerajaan Pekat. Namun tiga kerajaan itu terkubur oleh telusan dahsyat Gunung Tambora pada 10 April 1815.
Dari tiga kerajaan yang musnah tersebut, hanya Kerajaan Sanggar yang terekam jejaknya pascausia letusan 211 lalu, sementara Kerajaan Pekat dan Tambora belum ditemukan lokasinya. “Kerajaan Sanggar semula berada di (Desa) Boro. Karena letusan Tambora, pusat kerajaan ini berpindah ke Kore. Bahkan, Raja Sanggar saat itu sampai mengungsi ke Nggembe, Bima,” kata Fahruriski, penggiat sejarah Bima.
Menurut Fahruriski, Ketajaan Sanggar bertahan dengan jumlah penduduk hanya sekitar 275 jiwa, sedangkan 1.100 jiwa meninggal akibat letusan hebat Gunung Tambora. “Jumlah penduduk Kerajaan Sanggar sebelum letusan Tambora, tahun 1808 tercatat sekitar 2.000 jiwa, tahun 1815 sebanyak 2.200 jiwa, dan setelah letusan bertahan sekitar 200 jiwa,” ungkap Fahrurizki sebagaimana dikutip di laman Kompas.com , 8 April 2023, diunduh Sabtu 27 Juni 2026).
Mengingat tiga kerajaan itu diyakini punya tinggalan artefak dan benda bersejarah lainnya, pada akhir Mei 2025, Kepala Museum Negeri NTB Ahmad Nuralam bersama timnya berkunjung ke wilayah itu, di antaranya ke Desa Sanggar. Ia mendorong masyarakat di sana membangun semacam ‘Museum Desa’, dengan materi koleksi benda tinggalan yang ada: bendera kerajaan, kopiah kebesaran raja, makam raja, foto-foto masa lalu dan sejumlah pusaka yang tersimpan di sebuah rumah warga. Inisiatif pengumpulan benda pusaka yang dijadikan cikal bakal isi ‘Museum Kerajaan Sanggar’ pun dilakukan oleh keturunan raja terkahir Kerajaan Sanggar, yaitu Raja Abdullah Syamsudin Daeng Manggala.
M Taufan Aga, adalah cicit dari Raja Sanggar terakhir, Abdullah Daeng Manggala Bin Samsudin La Kame’a. (Foto Museum Negeri NTB, 1 Juli 2025)
***
SELAIN tinggalan berupa artefak bersejarah tersebut, tidak kalah penting adalah bahwa tiga kerajaan yang sudah musnah ini juga meninggalkan bahasa Kore atau bahasa Sanggar, salah satu varian dialek Mbojo, meliputi dialek Sarasuba, Wawo, Kolo dan Kore. “Namun warga Desa Kore, Desa Piong dan Taloko lebih suka hanya menyebutnya bahasa Kore. Penutur bahasa Kore kini sekitar 30 persen dari 3.000 jiwa di tiap desa itu,” kata Suhada Saleh, pengajar di SMA Negeri 1 Sanggar yang masih fasih berbahasa Kore.
Menurut Suhada, bahasa Kore sebagai muatan lokal diajarkan pada siswa kelas I yang meliputi tiga kelas, dengan rombongan belajar 30 orang per kelas. Pengajarannya dilakukan tiga kali seminggu, dan tiap kelas dapat jatah satu kali dalam sepekan.
“Anak-anak umumnya cepat sekali hafal kata-kata, dan mereka praktikkan dalam percakapan. Biar mudah, bahasa Kore saya terjemahkan ke dalam bahasa Mbojo, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris,” tutur Suhada, yang saat ini sudah berhasil menghimpun sekitar 400 kosa kata bahasa Kore.
Agaknya ada perbedaan bahasa Kore (BK) dengan bahasa Mbojo (Mb). Misalnya: kata muncu (BK) = utam beca (Mb) untuk menyebut sayur dalam bahasa Indonesia; ncai (Mb) = oro (BK) atau jalan; koko (BK) = oha (Mb) atau makan; kiwa (BK) = uta (Mb) berarti ikan; ngino (BK) = nono (Mb) berarti minum; mbau (BK) = sahe (Mb) atau kerbau; kemudian janah (BK) = jara (Mb) berarti kuda; ndalo-ndalo (BK) = lampa-lampa (Mb) atau jalan kaki
Warga Desa Sambori, yang dikenal sebagai Donggo Ele (tenggara), yang tinggal di Pegunungan Lambitu, juga memiliki bahasa berbeda. Misalnya, kekasih dalam bahasa Sambori dikatakan la’i atau mou mē’ē dalam bahasa Bima. Kakak, oleh masyarakat Sambori disebut aa’ atau sa’ē dalam bahasa Mbojo. Bila masyarakat Sambori mengatakan kambau (kerbau), maka bahasa Bima disebut sahe. Masyarakat Sambori menyebut ayam manu alias janga dalam bahasa Bima (Kompas edisi Minggu, 24 April 1994, hal 15).
***
Rahmatia Ardila, mahasiswa pascasarjana Universitas Negeri Semarang yang menyusun tesisnya ‘Pemertahanan Bahasa Inge Ndai dalam Ranah Keluarga pada Masyarakat Lambitu’, menyebutkan, masyarakat Donggo Ele punya bahasa tersendiri yang disebut Inge Ndai. Selama ini di Bima dikenal dialek Wawo, Kolo, Serasuba dan Kore. Bahasa Sambori lalu dimasukkan sebagai salah satu dialek Wawo yang justru berbeda dengan Inge Ndai. menyelamatkan Inge Ndai, diunduh Rabu 18 Oktober 2023).
Di laman itu juga dikatakan, bahasa Kore atau Inge Ndai termasuk bahasa Bima lama yang dituturkan orang Donggo Ele (timur-tenggara). Di Donggo Ipa (barat) pun, di sejumlah desa, pernah dituturkan bahasa Bima lama tersebut. Adapun bahasa Bima baru adalah bahasa Bima sekarang (Nggahi Mbojo). Inge Ndai adalah bahasa “minoritas” yang dituturkan masyarakat Kecamatan Lambitu. Bahasa Inge Ndai meliputi tujuh sub-dialek, tersebar di enam desa kecamatan itu: Sambori dengan dialek halus, Kuta dialek intonasi sedang. Kaboro, Londu dan Kaowa dengan dialek intonasi tinggi. Desa Teta terdapat dua dialek intonasi tinggi: Dusun Teta Awa dan Teta Ese.
Topi Raja, keris dan beberapa benda koleksi peninggalan Kerajaan Sanggar, yang kini disimpan di Museum Sanggar, Bima, NTB. (Foto Museum Negeri NTB, 1 Juli 2025).
Anwar Hasnun, budayawan yang banyak menulis buku tentang bahasa dan sastra lisan Bima, lebih memilih sebutan bahasa Inge Ndai daripada bahasa Kore. Menurutnya, bahasa Inge Ndai termasuk bahasa Bima lama yang dituturkan oleh orang Donggo Ele. Pada sejumlah desa di Donggo Ipa pun pernah dituturkan bahasa Bima lama ini.
“Saya dan tim Majelis Kebudayaan Mbojo telah mengumpulkan kosa kata Inge Ndai, Kolo dan Kore yang memang berbeda dengan Nggahi Mbojo. Dari hasil pengumpulan itu, rumpun Inge Ndai memiliki perbedaan yang jauh dengan bahasa Bima. Perbedaan itu melebihi 80 persen dengan bahasa Bima. Dalam kaidah linguistik, jika sebuah dialek melebihi 80 porsen dari bahasa induknya, maka dialek itu bisa menjadi bahasa yang mandiri, begitu kata Alan Malingi (alm), penekun dan penulis di kota Bima,” kata Anwar Hasnun.
Kata orang-orang tua Bima, bahasa daerah/lokal beserta varian dialeknya itulah yang membuat budaya—tarian, gamalen dan lain sebagainya—di daerah uni punya ruh. Oleh karena itu, bahasa lokal Inge Ndai harus dijaga. Biar kelak tidak menyesal jika ia hilang, yang akan menjadikan generasi muda hanya akan mengenal warisan luluhur sebatas simbol tanpa ruh. Menjaga bahasa daerah pun bukan romantisme masa lalu, melainkan strategi agar identitas bangsa tidak tercerabut oleh gempuran zaman.
Bersyukur ada Suhada Saleh, As’ad, dan Afifudin yang masih peduli. Paling tidak kosa kata dan struktur ‘bahasa ibu’ mereka masih terdata secara tertulis, seraya berharap ia menjadi alat komunikasi yang tetap hadir dan ‘hidup di rumah-nya sendiri’. (Khaerul Anwar)