Beli sepapan kain katun
Katun diukur dengan kayu
Bertutur sopan bile berpantun
Karena pantun budaye Melayu
Katun diukur dengan kayu
Kayu dibeli dari Nongsa
Pelihare pantun budaye Melayu
Rosak budaye rosaklah bangsa
***
ENJADI ‘tukang pantun’ tentulah bukan cita-cita Muhammad Ali Achmad sejak kecil. Semula ia hanya mengikuti garis nasib yang mengalir, sesuai profesinya sehari-hari sebagai guru sekolah menengah pertama (SMP) di kota kelahirannya, Tanjung Pinang, Kepulauan Riau.
Tidak seperti kebanyakan orang, nama Muhammad Ali bukanlah pemberian orangtuanya. Dialah yang membuat nama bagi dirinya sendiri. Sebab Muhammad Ali terlahir dengan nama Jepun. Nama pemberian orangtuanya ini tidak terlepas dari saat kelahirannya pada 1 Maret 1942, bersamaan dengan masuknya tentara Jepang ke Indonesia. Belakangan, nama Jepun ini kemudian menjadı Ipon, nama kecil yang sampai sekarang masih melekat, terutama di lingkungan keluarga.
“Ipon kecil membuat nama sendiri untuk dirinya menjadi Muhammad Ali bin Achmad ketika masuk sekolah dasar,” ujar lelaki yang dikenal humoris ini.
Usai menyelesaikan SD (1954), anak pasangan Achmad dan Putih Husin ini melanjutkan pendidikan ke sekolah menengah ekonomi pertama (SMEP), kemudian ke sekolah menengah ekonomi atas (SMEA), semua di Tanjung Pinang. Usai tamat SMEA, tahun 1961, sebelum bekerja di sebuah perusahaan swasta pada akhir 1962, Muhammad Ali sempat bekerja serabutan selama setahun.
“Cukup lama saya bekerja di perusahaan swasta itu, yakni hingga tahun 1978, sampai saya mendapat SK pengangkatan sebagai calon pegawai negeri sipil (CPNS) guru pada 1 Maret 1979 dan bertugas di SMP Negeri 5 Tanjung Pinang. Setahun kemudian turun SK pengangkatan sebagai PNS dan bertugas di sekolah yang sama,” kata Muhammad Ali yang sejak itu akrab dipanggil Pak Ali oleh murid dan koleganya.
Tamatan SMEA bisa menjadi guru? Sepintas agak aneh, tetapi pada kasus Muhammad Ali ada cerita yang terpotong. Setamat dari SMEA dan bekerja di sebuah perusahaan swasta pada tahun 1966-1967, dibukalah pendidikan guru sekolah lanjutan pertama alias PGSLP di Tanjung Rnang. Muhammad Ali pun tergerak masuk ke dalamnya dan memilih Jurusan Bahasa Inggris, dan lulus di akhir tahun 1967, dengan memperoleh Ijazah A serta mendapat hak untuk mengajar bidang studi Bahasa lnggris di tingkat SLTP.

Dalam pergaulan sehari-hari, baik dengan teman maupun keluarga dan tetangga, kehadiran Ipon selalu membuat orang tertawa. Entah gaya humornya yang memang lucu atau karena celetukan-celetukannya yang ia sampaikan melalui bait-bait pantun. Bergurau menjadi kesenangannya. Ia sudah terbiasa diperolok-olok teman-temannya. Begitupun sebaliknya. Ketika “menembak” balik, pantun menjadi senjatanya dan orang yang diserang cuma bisa tertawa kecut.
Rupanya bakat merangkai bait-bait pantun, tanpa disadarinya, sudah melekat pada diri Ipon muda. Belakangan, pada awal 1970-an bakat dan talenta yang dimilikinya itu mulai mendapat penyaluran setelah ia kerap diminta menjadi pembawa acara di berbagai hajatan. Di acara-acara perkawinan, kegiatan-kegiatan remi pemerintahan, hingga upacara-upacara adat, nama Muhamad Ali mulai dikenal luas sebagai master of ceremony (MC) di Tanjung Pinang dan sekitarnya. Dalam membawakan acara ia kerap tampil berpasangan dengan Nunung, wanita penyiar di RRI Tanjung Pinang.
Sejak itu pula dunia pantun-memantun menjadi semakin akrab dalam keseharian Muhamad Ali. Hal itu terjadi lantaran untuk menjadi pembawa acara ia mulai dituntut agar bisa berpantun setiap jeda waktu pada pergantian acara. Belum lagi pada awal dan akhir kegiatan, kebiasaan berpantun sudah menjadi tradisi yang tak terpisahkan dalam setiap perhelatan di tanah Melayu. Pantun telah menjadi hiasan dan bunga-bunga yang digunakan juru acara majelis untuk membuat ruang pertemuan ’harum semerbak’.
“Awalnya memang berat, tapi lama kelamaan pantun-pantun itu mengalir begitu saja. Seperti kata pepatah, ’ala bisa karena biasa’. Kiatnya sederhana. Percaya diri serta rajin membaca dan berlatih,” ujar Pak Ali, sang guru pantun dari Pulau Bintan.
Tradisi yang mulai luntur
Lahir di Tanjung Pinang pada 1 Maret 1942, bapak dari lima anak (Agus Ika Putra; Yuli Polina; Finaliantry; Dessy Kurniawaty; dan almarhumah Rachmi Ariani) ini sejak 1972 lebih dikenal secara luas sebagai pemantun ketimbang profesinya sebagai guru yang mengajar mata pelajaran Bahasa Inggris di sekolah. Tak aneh bila sebutan ’guru pantun’ pun terkadang muncul dan dijadikan panggilan lain untuknya. Terlebih sejak ia pensiun pada 2001 (terakhir ia tercatat sebagai tenaga pengajar di SMP Negeri 5 Tanjung Pinang), suami Nong Azamah ini mencurahkan sepenuhnya untuk urusan pantun-memantun.
Dalam banyak urusan ‘pinang-meminang’ di Tanjung Pinang, Pak Ali kerap dilibatkan oleh keluarga-keluarga yang tak terlalu pandai berpantun. Pada peristiwa adat itu ia bisa diminta sebagai wakil keluarga yang meminang, atau sebaliknya. Dalam adat resam Melayu tersebut, kemampuan berpantun menjadi penting, lantaran pemaparan isi pertemuan disampaikan dalam bahasa kias yang santun berbentuk pantun.
Di tengah arus modernisasi di mana kalangan generasi muda, tak terkecuali di Pulau Bintan sebagai daerah yang kerap dijuluki Melayu yang sebenar-benarnya Melayu, kebiasaan berpantun untuk mengungkapkan perasaan hati itu sudah mulai luntur. Di tengah kondisi seperti itulah orang- orang seperti Pak Ali menjadi sangat berperan. Ia pun sadar, dan merasa ‘dipakai di masyarakat karena pantun’.
“Padahal kalau memang mau sebetulnya berpantun itu mudah. Gampang. Cari dulu isinya baru kemudian membuat sampiran. Bagi yang belum mahir tetapi ingin sekali berpantun, untuk pembayang (sampiran—red) dapat diambil dari kata-kata yang bersumber dan berunsurkan hal-hal yang ada di sekitar kita. Tak usah mencari-cari kata yang sukar didapat atau payah dimengerti. Prinsipnya sederhana, yaitu tiga M: mudah dibuat; meriah bagi pendengar, dan menarik isinya,” kata Muhamad Ali.
Dengan kata lain, kemampuan berpantun tak selalu berkelindan dengan bakat dan talenta. Kemampuan berpantun bisa diajarkan, dan itu artinya orang bisa belajar mengasah dirinya untuk piawai dalam berpantun. Banyak membaca, rajin berlatih, dan sering dipraktikkan menjadi kunci dalam berpantun.
Tesis ini paling tidak dibuktikan sendirl oleh Pak Ali, yang baru menekuni dunia pantun-memantun secara ‘profesional’ di usia 31 tahun. Sebelum itu hanya tahu dari buku-buku bahwa pantun (pada umumnya) adalah jenis sastra lisan yang terdiri atas empat baris dengan pola sajak ab-ab. Pak Ali juga sejak lama paham bahwa dua baris pertama berupa sampiran dan dua baris berikutnya merupakan isi dari sebuah pantun.
Baginya, tak penting benar perdebatan klasik para ahli apakah antara sampiran dan isi memiliki hubungan atau tidak. Biarlah orang-orang seperti H.C. Klinkert (1868), Pijnappel (1883), van Ophusyen, Hooykas, Tenas Effendi, atau Sutardji Calzoum Bachri berteori tentang pantun, sebab bagi Pak Ali yang terpenting di atas segalanya adalah berpantun itu sendiri.
Seperti orang belajar bahasa lnggris, kata dia, belajar pantun juga harus selalu dipraktikkan agar terbiasa. Syukur-syukur bila kebiasaan itu meningkat menjadi semacam “mata pencaharian”. Tampil berpantun di hadapan khalayak luas, mulai dari acara adat pinang-meminang, resepsi perkawinan, upacara ’tepung tawar’ , hingga ikut dilibatkan dalam acara adat menyambut tamu negara, sebagaimana kini ia lakoni, bagi Pak Ali hal semacam itu merupakan berkah dan anugerah tersendiri.
Satu hal yang selalu ia yakini, berpantun harus dengan hati senang. Oleh karena itu, Pak Ali selalu berusaha membuat pantun yang berisikan hal-hal yang dapat menyegarkan pendengar. Tidak mengherankan bila pantun lebih banyak ia tempatkan sebagai seni tradisi yang bersifat menghibur, bahkan ketika menyampaikan kritik sekalipun.
Ambil jale tolong tebarkan
Dapat ikan buat hidangan
Hanya ini yang dapat dituliskan
Semoga boleh jadi sumbangan
(Tim ATL/KN)