SAHILIN: Maskot Pemantun Lagu “Batanghari Sembilan”

 

Sejak usia lima tahun matanya buta. Wabah cacar air yang menyerang Dusun Benawe, Kecamatan Tanjung Lubuk, Kabupaten Ogan Komering llir, Sumatera Selatan, pada tahun 1957, ikut mengubah jalan hidup lelaki kelahiran tahun 1952 tersebut. Sejak itu pula ia sangat bergantung pada orang lain. Ke mana pun pergi ia selalu harus dituntun oleh sanak keluarganya.

 

elaki itu adalah Sahilin, yang karena kebutaannya itu sulit justru menemukan “jalan baru” bagi kehidupannya. Berkat talentanya dalam berpantun, serta kemampuannya memetik dawai gitar dengan cara yang khas, membuat Sahilin kini dikenal sebagai maskot pemantun lagu-lagu “Batanghari Sembilan” di daerah Sumsel. Bakat alam yang dipadu kehidupan keras dan sulit yang harus ia jalani sebagai tunanetra ternyata membawa berkah tersendiri bagi Sahilin.

Dalam kebutaannya, Sahilin yang sebelumnya sudah mulai belajar memetik gitar dari bapaknya, Mat Soleh, lebih banyak menghabiskan waktu kecil hingga remaja dengan menembangkan lagu-lagu daerah yang kerap ia dengar lewat siaran RRI Palembang. Terlebih setelah bapaknya meninggal dunia dan Sahilin kecil dibesarkan oleh ibunya yang miskin—sementara sanak keluarga yang lain menganggap kehadirannya hanya sebagai beban—kepiluan hidup itu lalu ia tuangkan dalam pantun-pantun yang ia nyanyikan.

Di kemudian hari, setelah ia pindah dari Benawe ke Palembang pada awal 1970-an, kisah sedih itu kerap ia tembangkan bersama iringan gitar tunggalnya yang khas setiap kali diminta tampil dalam berbagai hajatan. Bahkan, Palapa Record—perusahaan rekaman yang ada di Palembang ketika itu—meminta Sahilin untuk merekam lagu-lagu (baca: pantun) daerah yang ditembangkannya itu di atas pita kaset.

 

Anak elang anak la layang

Anak tiung menari-nari

Bapak melayang umakku malang

Sape nak menulungi aku lagi

 

Ke laut sambilan mandi

Mandi ke lubuk menyelam jangan

Sape nak menulungi aku lagi

Banyak dibenci lah sanak-sanak

 

Kalu nak mand; menyelam jangan

Mandilah juge di lubuk kecik

Sangkan dibenci la sanak-sanak

Aku dek pacak bejalan dewek

 

Kalu nak mandi di lebak kecik

Anak tupai di pucuk kayu

Aku dek pacak bejalan dewek

Lain la uhang lain bagiku

 

Kalu mak ini rase bagiku

Padi banyak campuran daun

Lain uhang lain bagiku

Mate cacat umur la lime tahun

 

Batang padi campuran daun

Daun padi daun teriti

Mate cacat umur la lime tahun

Turun dunie tesimpang kiri .. .

***

UNTAIAN pantun berisi ‘bocoran’ biografi hidup Sahilin yang pada awal kariernya sebagai pemantun lagu-lagu daerah Sumsel kerap ia tembangkan itu biasanya ia iringi petikan gitar yang dominan memanfaatkan melodi bas (tali 4, 5, dan 6). Setiap ganti lagu dia selalu menyetel tali gitarnya, sehingga irama yang dihasilkan selalu berbeda.

Menurut sejumlah pengamat, dalam banyak lagunya terlihat bahwa Sahilin tak ingin terikat pada pola-pola birama konvensional. Sahilin bermain dengan mengikuti frase-frase melodi yang pada dasarnya memiliki metrum berbeda, walaupun pada bagian awal dinyatakan dengan hitungan 4 atau metrum empat per empat (4/4). Dari delapan nada dasar pada gitar, Sahilin cenderung hanya mengandalkan empat atau lima nada saja.

Nada-nada itu dipadukan secara pentatonis, mirip gamelan atau ketukan perkusi yang ritmis dan terdengar agak monoton. Oleh karena itu, tak salah bila Philip Yampolsky dari Ford Foundation memasukkan permainan gitar tunggal Sahilin ke dalam kelompok seni gitar tradisi dalam penelitian mereka beberapa tahun lalu.

Tinggal di rumah panggung sangat sederhana yang berdiri di atas lahan berawa di sebuah gang sempit di Kelurahan 35 llir, Kecamatan Gandus, Palembang, Sahilin hidup bersama istri (Semah) dan tiga anak (Saidina, Sulaiman, Sjarwani), serta seorang menantunya. Rumah panggung yang berdiri di atas rawa itu hanya berukuran 5 x 8 meter, hampir-hampir tanpa penyekat ruangan; kecuali dinding pemisah ruang depan, ruang tengah, dan ruang belakang yang difungsikan sebagai dapur. Dari ‘pintu’ yang selalu terbuka, tamu di ruang depan dengan leluasa bisa melihat aktivitas di dapur, begitu pun sebaliknya.

“Rumah dan tanah ini dibeli dari hasil rekaman lagu-lagu daerah itulah,” kata Sahilin ketika dikunjungi beberapa waktu lalu, pada penghujung tahun 2007. Sudah puluhan kaset rekaman lagu yang sudah ia hasilkan melalui perusahaan rekaman lokal pada akhir 1970-an, dan setiap rekaman ia hanya mendapat honor sekitar Rp 300.000. Ya, cuma itu. Tak ada royalti, meski hingga kini puluhan kaset berisi tembang-tembang pantun Sahilin masih saja direkam ulang dan dijual di tempat-tempat tertentu di Palembang.

***

TAK ada catatan tetang asal usul jenis musik/lagu daerah Sumsel ini. Juga tak ada nama khusus terkait genre kesenian yang mengandalkan unsur pantun dan syair ini sebagai esensi bermusik. Namun, berbagai kalangan (terutama dari generasi tua) di Sumsel meyakini bahwa seni tradisi ini sudah ada sejak ratusan tahun lampau. Hanya saja, pada awalnya pantun-pantun yang dilagukan itu sekadar ditembangkan, mirip seni macapat di Jawa, tanpa iringan melodi macam gitar dan sejenisnya.

Masyarakat Sumsel pertama-tama hanya mengenalnya dengan sebutan lagu daerah. Karena dalam perkembangannya ia dihadirkan dengan iringan petikan gitar, sebutan gitar tunggal pun kemudian juga dilekatkan. Pada era 1970-an jenis seni tradisi ini berkembang pesat, ditandai maraknya rekaman-rekaman lagu-lagu daerah Sumsel dalam bentuk kaset. Saat itu hampir seluruh Sumsel, yang dikenal juga dengan sebutan sebagai daerah ‘Batanghari Sembilan’, mengenal jenis kesenian ini. Alhasil, oleh Djaafar Malik (alm), istilah musik Batanghari Sembilan pun ia tasbihkan.

Terlepas dari apa pun nama yang disandang oleh jenis kesenian ini, masa depannya sangat bergantung pada kepedulian kita semua. Sahilin hanya salah satu pelakunya, yang kebetulan dikenal luas dan menjadi maskot jenis seni tradisi ini di Sumsel. Tanpa upaya pewarisan, bukan mustahil jenis seni tradisi ini pada satu saat kelak akan tinggal nama. Sahilin pun mengaku sedih karena generasi muda saat ini hanya mau mendengar lantunan pantunpantun yang ia tembangkan bersama petikan gitar tunggalnya, tetapi tak ada yang mau belajar bagaimana menggelutinya. Tiga anak lelakinya pun pandai memetik gitar, akan tetapi belum satu pun yang mewarisi bakat sebagai pemantun lagu-lagu daerah Sumsel.

“Jangankan membuat pantun, menghafal pantun-pantun lama pun anak-anak sekarang malas. Mungkin dianggap panjang dan rumit, tapi itu kan sebetulnya bisa dipelajari. Seperti pepatah lama kita: ala bisa karena biasa. Kalau memikirkan itu, terus terang, saya jadi sedih,” kata Sahilin membatin dalam kebutaannya. (Tim ATL/KN)