Wayang Palembang (I): Punah Ditinggalkan Pendukungnya

Rombongan dari Sanggar Sri Palembang saat mengikuti Festival Wayang 1970 di Jakarta (foto: dokumentasi keluarga Kiagus Rusdi Rasyid)

 

Pengantar: Pada tahun 1990-an, Wayang Palembang nyaris hanya tinggal nama. Saat itu tak lagi terdengar keberadaannya, sebagaimana dapat disimak dalam dua laporan yang dimuat harian Kompas:  “Punah Ditinggalkan Pendukungnya” (Kompas, 2 Januari 1996) dan “Mengusung Sendiri Kerandanya” (Kompas, 3 Januari 1996). Tahun 2019, penulis—dalam  kapasitas sebagai anggota tim penilai Anugerah Kebudayaan Indonesia yang dilibatkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan—diminta memverifikasi calon penerima anugerah usulan dari Sumatera Selatan untuk kategori Pelestari. Sosok calon penerima itu adalah Kiagus Wirawan Rusdi, yang dinilai berhasil “menghidupkan” kembali seni tradisi Wayang Palembang. Laporan mengenai hal tersebut termuat dalam buku Profil Penerima Anugerah Kebudayaan dan Maestro Seni Tradisi 2019, yang juga dapat disimak pembaca TRADISILISAN.ID pada bagian ketiga dari tulisan berseri ini di bawah judul “Membangkitkan Batang Terendam”.

***

“PEJAMKAN mato-mu Raden Jagoarit. Pejamkan mato-mu Raden Jakokethu. Masuk ke mahkotaku,” kata Prabu Indropuro. Dalam iringan gending berirama lambat, kedua pengikut Prabu Indropuro itu kemudian lenyap. Mereka menyatu dengan tubuh sang prabu.

Caranya? Gampang! Indropuro ditancapkan dulu di gedebok pisang. Lengannya bersedekap. Kedua pengikut Indropuro pelan-pelan sekali didekatkan sampai menindihnya ke layar, kemudian ditarik ke bawah, hilang dari pandangan.

Namun dalam kisah sebenarnya hal itu membutuhkan kesaktian. Mereka hendak menyatroni keluarga Pandawa. Karena penjagaan kuat, mereka terpaksa main sembunyi dengan menghilang. Kemudian terdengar narasi: “Prabu Indropuro pakai ilmu pemberian dewa yang menulung dio, Dewa Langlang Buana. Dio hilang dari penengokan …”

Cuplikan kisah raja sakti jelmaan panakawan Petruk dengan lakon Prabu Indropuro inilah yang dicatat Kompas ketika grup Wayang Palembang tampil dalam Pekan Wayang Indonesia IV di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, 25 Juli 1983. Meski induk cerita tetap mengacu ke kisah Ramayana dan Mahabrata, lakon yang ditampilkan adalah khas Palembang. Bahasanya juga khas Palembang. Sayangnya, ternyata itulah penampilan terakhir mereka di arena pentas wayang nasional, sebelum grup Wayang Palembang satu-satunya yang tersisa ini terpuruk dari pentas pewayangan di Tanah Air.

Di tingkat lokal pun peninggalan tradisi tontonan para penghuni keraton Palembang ini juga tersuruk. Jangankan melakukan pembaruan, sekadar bertahan hidup pun gagal. Gejala ke arah itu sesungguhnya sudah dirasakan sejak paruh pertama 1960-an. Memasuki era 1970-an nasibnya semakin menyedihkan.

“Kalaupun sesekali wayang dikeluarkan dari kotaknya, itu pun cuma lebih banyak dimainkan untuk para tetangga. Untuk senang-senanglah,” kata Kiagus Rusdi Rasyid, pimpinan kelompok wayang “Sri Palembang” yang ia warisi dari ayahnya, almarhum Ki Dalang Kiagus Rasyid.

Tahun 1978, almarhum Kiagus Rasyid memang sempat mengikuti forum Pekan Wayang Indonesia II, juga di TIM, Jakarta. Antara 1978 hingga 1983, kelompok wayang “Sri Palembang” cuma ditanggap tiga kali untuk hajatan semacam sunatan dan perkawinan. Selebihnya, kalaupun ada, hanya ikut berpartisipasi memeriahkan kegiatan resmi pemerintah, seperti perayaan 17 Agustusan.

Usai mengikuti Pekan Wayang Nasional IV tahun 1983, nasib Wayang Palembang bukannya membaik, tetapi malah semakin terpuruk. Memang ada sedikit perhatian dari pihak tertentu, seperti bantuan sound system dan 20 duplikat wayang yang rusak. Selain itu juga ditandai munculnya kesenian ini di siaran RRI Palembang. Namun acara sekali sebulan di RRI Palembang itu tak bertahan lama. Memasuki paruh kedua 1984 acara tersebut hilang dari peredaran.

“Terakhir kami diminta memperdengarkan rekaman instrumen Wayang Palembang pada pesta pernikahan anak Pak Husni (Wali Kota Palembang saat itu—pen). Itu pun cuma diputar sekitar 10 menit,” kata Rusdi. Instrumen musik pengiring pertunjukan Wayang Palembang yang direkam saat almarhum Kiagus Rasyid tampil memang agak berbeda dibandingkan musik wayang asli Jawa. Suara gong dan gendang tampil dominan. Irama musiknya lebih dinamis. “Kalau lagi rindu pada wayang Palembang, kaset inilah yang kami putar,” tambah Kiagus Rusdi.

***

Grup wayang kulit dari Sanggar Sri Palembang saat tampil di Festival Wayang 1970 di Jakarta (dokumentasi keluarga Kiagus Rusdi Rasyid)

 

INIKAH babak akhir dari tragedi salah satu kesenian rakyat Sumsel? Jika ya, tentunya sebuah akhir yang amat mengenaskan. Tragedi itu tampaknya memang sulit dicegah. Di tengah hiruk-pikuk dunia yang kian “menyempit”, seni tradisi Wayang Palembang justru tertidur panjang tanpa mampu bangkit. Sudah lebih 10 tahun mereka tak beraktivitas.

Setelah bertahan sekitar 500 tahun sejak tradisi ini diyakini masuk ke Palembang pada fase akhir kejayaan Majapahit, akhirnya ia harus minggir dari peredaran. Satu-satunya kelompok wayang yang masih tersisa, Sri Palembang Grup, sekarang tak lebih dari sekadar nama.

Mengapa tragedi ini mesti terjadi dan menimpa Wayang Palembang? Jawabnya bisa disederhanakan: bahwa ia telah ditinggalkan masyarakat pendukungnya. Tetapi persoalan di baliknya tentu tidak sesederhana itu. Misalnya, mengapa ia ditinggalkan? Mengapa gagal beradaptasi, sementara rekannya di Jawa justru terus bertahan, bahkan cenderung diagung-agungkan sebagai seni adiluhung yang kini amat digemari oleh masyarakat pendukungnya?

“Wayang Palembang? Apo itu Wayang Palembang.” Jawaban semacam ini banyak ditemui penulis ketika berupaya menemukan rumah kediaman ki dalang Kiagus Rusdi Rasyid. Hanya berbekal informasi wilayah tinggalnya di kawasan Tangga Buntung, Kelurahan 36 Ilir Palembang, berikut informasi tambahan tentang profesi dalang—kalau istilah ini masih boleh dilekatkan pada Kiagus Rusdi Rasyid—yang pernah digelutinya ternyata masih amat sulit untuk menuntun nama jalan ke rumah sang dalang.

“Seumur-umur aku baru ini denger yang namo-nyo Wayang Palembang. Jadi maaf bae, Nak, idak tahu aku di mano rumah wong yang kau cari,” ujar seorang ibu yang tinggal di Simpang Pebem atau kurang dari 300 meter dari kediaman Kiagus Rusdi.

Sangat boleh jadi kondisi ini berkorelasi langsung dengan sejarah awalnya yang hanya untuk tontonan kerabat elite kekuasaan di Kesultanan Palembang kala itu. Akibatnya, begitu ia diusung paksa ke luar lingkungan keraton yang diruntuhkan kekuasaan kolonial, wong Plembang pun merasa asing pada seni tradisi ini. Lalu ketika dukungan mereka dibutuhkan agar dapat terus melestarikan salah satu keunikan seni pewayangan khas Palembang itu, mereka justru meninggalkannya. “Terus terang aku idak pernah denger, apo lagi nonton yang namonyo Wayang Palembang. Nah, kalu Dulmuluk aku tahu,” kata E. Hasby, lelaki asal Palembang yang kini bermukim di Jakarta.

***

SEBETULNYA, lewat lakon-lakon Wayang Palembang banyak hal yang bisa disimak tentang kondisi sosial budaya masyarakat setempat. Misalnya bagaimana orang Palembang yang dikenal bertemperamen tingg—dengan kebiasaan membawa senjata tajam sehingga angka pembunuhan di daerah ini kala itu cukup tinggi—ternyata sisi lainnya juga mempunyai sifat jenaka.

Banyak contoh yang bisa dirujuk. Selain lakon-lakon wayang, sejumlah folklor semacam cangkriman (teka-teki) dan teater tutur atau teater tradisi Dulmuluk yang semula berawal dari teater tutur, juga sarat mengandung unsur kejenakaan. Di sana-sini memang terselip kritik, tetapi pengucapannya tetap jenaka. Seperti halnya wayang kulit Jawa, pada Wayang Palembang pun sifat jenaka juga muncul lewat pilihan lakon-lakon yang memang sengaja dilucukan.

Lakon “Petruk Penganten” atau “Petruk Jadi Rajo” misalnya, adalah contoh bagaimana kejenakaan dijalin dalam kisah berbau satire. Di sana ada parodi dan tragedi. Di sana juga ada petuah. Tetapi di sana ada pula kritik.

Seperti fungsi tokoh Kadam dalam pentas Dulmuluk, lakon-lakon dengan tokoh utama Petruk yang dulu banyak diminati masyarakat itu pun disajikan melalui dialog-dialog jenaka dengan bahasa khas Palembang. Misalnya digambarkan bagaimana jadinya bila negara dan institusi kelembagaan lain dipimpin oleh orang-orang yang sesungguhnya bodoh di bidang itu, tapi tetap dipaksakan tampil. Semua lalu jadi hancur berantakan, morat-marit, dan bobrok.

Lewat lakon-lakon semacam ini, dan disajikan dengan situasi kultural setempat, wayang Palembang sesungguhnya mengandung banyak hal yang bisa dijadikan tempat kita bercermin. Masalahnya sekarang cermin itu bukan saja sudah buram dan retak, tetapi juga mulai tersaput langas—asap hitam sisa pembakaran—yang kian tebal… (KN; naskah ini pernah dimuat di harian Kompas edisi 2 Januari 1996)