BESUT TOLAK BALAK PUNGKASI FESTIVAL TRADISI LISAN

TIM JAKARTA, TRADISILISAN.ID—Bersama dengan Teater Bangsawan dari Singapura, kesenian Besutan dari Jawa Timur menjadi pamungkas Festival dan Seminar Internasional Tradisi Lisan XIII di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, Jumat malam (8/8/26). Berbeda dengan tampilan saat pembukaan yang cenderung menghibur, kali ini Besutan dibawakan serius sebagai ritual tolak balak (menolak malapetaka) dan mendoakan para pejuang tradisi lisan di seluruh nusantara.

Di ruang Balai Sastra Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin di kompleks TIM, Meimura yang menjadi tokoh Besut muncul dari kegelapan. Berpayung daun pisang dan lampu sorot di dahinya, ia berjalan pelan sambil ngidung (bersenandung). Pendaran cahaya yang menembus daun pisang seolah sebuah ajakan untuk meneropong kembali masa lalu, ketika kesenian rakyat bukan sekadar tontonan, melainkan cara masyarakat membaca kehidupan, menyuarakan kegelisahan, sekaligus menertawakan kekuasaan.

Di bawah payung daun pisang itu, Besut seolah datang dari sebuah kampung yang jauh, membawa ingatan tentang panggung-panggung sederhana, tentang ludruk yang tumbuh dari kehidupan rakyat, dan tentang tradisi garingan yang tidak membutuhkan kemewahan tata panggung untuk menyampaikan sesuatu yang penting. Hanya tubuh, suara, cahaya, dan keberanian untuk berkata-kata.

Cahaya yang muncul di dahi Besut seperti sebuah sorot kesadaran. Ia menerangi bukan hanya wajah seorang tokoh, tetapi juga jejak perjalanan ludruk: dari Besutan, dari monolog yang sederhana, dari kelakar dan sindiran, hingga menjadi kesenian panggung atau kesenian arena yang pernah begitu dekat dengan denyut kehidupan masyarakat Jawa Timur.

Maka kemunculan Besut malam itu bukan sekadar menghadirkan tokoh masa lalu. Ia seperti mengetuk pintu ingatan. Mengajak kita bertanya: ke mana perginya kesenian rakyat ketika panggung-panggung modern semakin megah? Apakah yang hilang sebenarnya bukan hanya pertunjukannya, melainkan juga keberanian masyarakat untuk berbicara melalui kesenian?

Di bawah payung daun pisang, Besut kembali bercahaya. Barangkali ia hendak mengingatkan bahwa tradisi tidak selalu harus dipanggil kembali dengan cara yang sama. Yang perlu dihidupkan adalah rohnya: spontanitasnya, kecerdasannya, keberaniannya menyentil keadaan, dan kedekatannya dengan kehidupan sehari-hari.

Dari sana, Besut tidak lagi sekadar tokoh dalam sejarah ludruk. Ia menjadi cermin. Dan cahaya kecil di dahinya mengajak kita melihat kembali wajah kebudayaan kita sendiri.

Bagimu Negeri

Sebuah kejutan tiba-tiba terjadi. Penonton yang semula menyangka hanya akan duduk nyaman menikmati pertunjukan, mendadak diminta berdiri oleh Besut.

“Mari kita bersama-sama menyanyikan lagu Bagimu Negeri,” ujar Besut dengan nada serius.

“Ah, mau upacara rupanya,” celetuk seseorang pelan.

Berdiri tegap dengan sikap sempurna, semua orang mengalunkan lagu ciptaan R. Kusbini itu dengan syahdu. Dengan telapak tangan menempel di dada, Besut memimpin ritual ini. Kekhusyukan tiba-tiba hadir terasa seperti menyihir seluruh ruangan. Besut rupanya tidak sedang bercanda, sebagaimana penampilannya saat pembukaan festival. Bagaimana mungkin tokoh yang begitu gemar mbanyol (melawak) itu tiba-tiba berubah menjadi begitu khidmat?

Penonton boleh saja kecewa jika sejak awal terlalu berharap mendapatkan tawa. Tetapi memang begitulah Besutan. Ia sarat improvisasi, kejutan, dan perubahan suasana. Tidak ada yang sepenuhnya bisa ditebak. Tawa dapat tiba-tiba berganti hening, kelucuan dapat berbelok menjadi permenungan, bahkan sebuah pertunjukan yang semula terasa ringan dapat mendadak menyentuh sesuatu yang lebih dalam.

Di situlah kekuatan Besutan: ia tidak sekadar menghibur penonton, tetapi juga mengajak mereka mengalami sebuah peristiwa bersama. Besut bukan hanya tokoh yang dimainkan, melainkan pengendali suasana yang sewaktu-waktu dapat membalik harapan penonton. Dan justru dalam ketakterdugaan itulah roh Besutan menemukan hidupnya.

Ruangan menjadi hening. Besut yang seluruh tubuhnya dibalut kain putih kemudian duduk bersimpuh, menghadap sesajen dalam sebuah kuali gerabah. Di dalamnya terdapat bunga, pisang, kelapa, rempah-rempah, wayang suket, dan sebuah bendera kecil merah putih. Rupanya, bendera itulah yang menjadi pemantik nyanyian “Bagimu Negeri” tadi.

Perlahan, ia melepas topi bayi yang dikenakannya, lalu menggantinya dengan sanggul besar. Di atas sanggulnya tertancap Cundhuk Menthul, hiasan kecil yang bergoyang setiap kali kepalanya bergerak. Lapisan luar kain putih yang melilit tubuhnya juga dilepas. Seketika, sosok laki-laki itu berubah menjadi perempuan, tokoh Rusmini. Ia mengenakan kaos putih lengan panjang dengan kain hitam dengan bordir keemasan sebagai bawahan.

Sapu lidi yang sejak awal diletakkan dalam posisi terbalik kemudian diambilnya. Beberapa helai lidi dicabut dan dilemparkan ke kanan dan kiri panggung. Sambil melakukannya, Rusmini melafalkan mantra dalam bahasa Jawa:

Balak dari barat kembali ke barat,

balak dari timur kembali ke timur.

Semoga semua pejuang tradisi lisan di seluruh Nusantara mendapatkan perlindungan, dijauhkan dari bencana, diberikan keselamatan, dan dihargai oleh pemerintah daerah masing-masing. Kepada para pelaksana kegiatan, semoga mendapatkan berkah dan selalu berada dalam lindungan semesta.

“Jangan lupakan tradisi. Perjuangkan tradisi. Jangan sampai hilang ditelan gelombang zaman,” ucap Rusmini sambil menempatkan selendang merah di depan mulutnya.

Besut yang telah berubah menjadi Rusmini menyampaikan pesan-pesan penting itu tanpa terkesan sedang berkhotbah. Justru di sinilah muncul pertanyaan: mengapa pesan tersebut disampaikan oleh Rusmini, bukan Besut?

Seruan Ibu Pertiwi

Dalam kesenian Besutan, Rusmini tidak hanya berfungsi sebagai pasangan Besut. Ia merupakan representasi perempuan, terutama sosok ibu yang memiliki peran yang tidak dapat digantikan oleh laki-laki. Rusmini adalah istri, ibu, sekaligus simbol tanah air. Sebagaimana kita mengenal istilah Ibu Pertiwi. Dalam pandangan kosmologis Jawa dikenal pula ungkapan ibu bumi, bapa angkasa.

Karena itu, ketika Rusmini berseru, seruan itu tidak hanya datang dari seorang tokoh perempuan di atas panggung. Ia dapat dibaca sebagai suara seorang ibu, suara tanah tempat kita berpijak, dan suara tanah air yang mengingatkan agar kita tidak melupakan akar budaya sendiri.

Seruan Rusmini menjadi semacam panggilan untuk kembali melihat tradisi sebagai bagian dari kehidupan, bukan sekadar warisan masa lalu. Tradisi perlu dirawat, juga diruwat, diperjuangkan, dan diberi ruang untuk terus hidup di tengah perubahan zaman.

Pertunjukan Besutan kali ini memang lebih panjang dari sebelumnya. Padahal hanya sekitar belasan menit, tanpa terasa tiba-tiba sudah selesai. Ada sesuatu yang seperti terlepas dari dada. Rasa sesak yang sejak tadi tertahan berubah menjadi kelegaan, seolah-olah kita baru saja melewati sebuah pengalaman yang membuat kita terlahir kembali.

Ini sebuah ekstase yang tidak muncul karena kemegahan pertunjukan, melainkan karena keterlibatan batin penonton di dalamnya. Besutan berhasil membawa penonton dari tawa, keheningan, kekhusyukan, hingga akhirnya pada perasaan lega. Pertunjukan berakhir, tetapi pengalaman itu masih tertinggal beberapa saat setelah tepuk tangan menggema mengakhiri pertunjukan.

Pada akhirnya, itulah yang menjadi substansi pertunjukan Besutan ini. Besutan tidak hanya hadir untuk menghibur, tetapi mengajak penonton mengalami sesuatu: tertawa, merenung, mengingat, dan kemudian menyadari kembali hubungan dirinya dengan tradisi dan lingkungan sosialnya. Dalam bentuk yang sederhana dan terbuka terhadap improvisasi, Besutan memperlihatkan bahwa tradisi tidak harus tampil sebagai sesuatu yang beku dan serba serius. Tradisi justru dapat tetap hidup ketika mampu berbicara dengan persoalan hari ini, menyentuh perasaan penonton, dan memberi ruang bagi mereka untuk menemukan maknanya sendiri. (henri nurcahyo)