“Peranan Tradisi Lisan sebagai Warisan Budaya Takbenda dalam Merawat Kemanusiaan, Alam, dan Kehidupan dari Masa Lalu ke Masa Depan”
PENGANTAR TIM PERUMUS
Seminar Internasional Tradisi Lisan XIII, yang diselenggarakan pada 5 hingga 8 Agustus 2026 di PDS HB Jassin, Jakarta, menghadirkan 62 pemakalah dari kalangan perguruan tinggi, lembaga riset, serta jaringan pemerhati tradisi lisan dari Indonesia, India, Singapura, Swiss, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Berpijak pada tema utama, “Peranan Tradisi Lisan sebagai Warisan Budaya Takbenda dalam Merawat Kemanusiaan, Alam, dan Kehidupan: Dari Masa Lalu ke Masa Depan,” persidangan ini membentangkan secara kritis keberadaan tradisi lisan di tengah tantangan global seperti perubahan iklim, degradasi ekologis, pergeseran kerangka hukum-politik wilayah adat, hingga transformasi digital yang pesat termasuk Kecerdasan Buatan (AI).
Dokumen ini menyajikan sintesis akademis berbasis 7 Topik Utama seminar, temuan kebaruan (novelty), simpulan komprehensif, serta rekomendasi kebijakan strategis yang dirumuskan oleh Tim Perumus berdasarkan seluruh rangkaian persidangan dan sajian ilmiah.
- SINTESIS AKADEMIS 7 TOPIK SEMINAR
Topik 1: Tradisi Lisan Melintasi Konflik, Perubahan Iklim, dan Teknologi Terbaru
Karya: Henri Nurcahyo (Besutan Ludruk), Ilham Nurwansah (Kisah Kuda Kosong Cianjur), La Ode Ali Basri (Suku Bajo, Sulawesi Tenggara), Retty Isnendes (Bencana Padi), Suroyo (Randai Kuantan), Syahrun dkk. (Tradisi Tolak Bala), Yunita Furinawati dkk. (Mitografi Tokoh Pendiri Kabupaten Magetan), Zulfa dkk. (Sikerei Mentawai), Yeni Mastuti (Senjang).
Review Sintesis: Kajian pada topik ini membuktikan resiliensi tradisi lisan sebagai mekanisme pertahanan sosial, spiritual, dan fisik dalam menghadapi disrupsi zaman. Tradisi tutur—mulai dari ritual kesehatan (Sikerei, Tolak Bala), mitigasi krisis agraris/kebaharian (Bencana Padi, Suku Bajo), hingga pertunjukan adaptif (Besutan, Randai Kuantan, Senjang)—merekam cara komunitas memediasi konflik, merespons perubahan iklim, dan menjaga identitas di tengah gelombang modernisasi.
Topik 2: Pemajuan Tradisi Lisan untuk Kesejahteraan dan Keselarasan Lingkungan
Karya: Angga Prasetyana (Pahargyan Ekaristi Prosesi di Ganjuran), Erwin Syahputra Kembaren (Tradisi Lisan Ala Baloe Alor), Eva Yenita Syam (Rundiang Lapiak), Jafar Fakhrurozi (Canang Lampung), Muhammad Agus Noorbani (Ngeset Kulit Kambing), Muhardis (Pasambahan Adat Minangkabau), Musfeptial (Dari Tapian Silek ke Jaringan Tarekat), Ninawati Syahrul dkk. (Tradisi Ngasa Gandoang), Rozali Jauhari Alfanani (Tradisi Jiki Hadara Bima).
Review Sintesis: Menganalisis peran tradisi lisan sebagai penggerak kesejahteraan berbasis komunitas yang selaras dengan daya dukung alam. Melalui sistem sosial-religius, etika komunikasi (Pasambahan, Rundiang Lapiak), ritus syukuran agraris (Ngasa Gandoang, Jiki Hadara), hingga ekonomi kriya (Ngeset Kulit Kambing, Canang), tradisi lisan menjaga keseimbangan antara kebutuhan materiil dan spiritual masyarakat.
Topik 3: Peluang Teknologi Informasi dalam Memajukan Tradisi Lisan
Karya: Juliandry Kurniawan Junaidi (Mapping the Voices), Linggua Sanjaya Usop (Transformasi Lelei Dayak Ngaju), Lintang Wahyusih Nirmala (Digitalisasi Tradisi Lisan), Maya Pinkan Warouw dkk. (Tradisi Lisan Mane’e), Ruhaliah (Kampung Adat Kasepuhan Gelar Alam), Nur Iskandar (Komunikasi Media dalam Eksposure Hari Pantun), Siti Gomo Attas dkk. (Identitas Budaya Lokal & Transformasi Digital).
Review Sintesis: Menjelajahi pementasan dan preservasi tradisi lisan di era 4.0/5.0. Penggunaan pemetaan suara (voices mapping), digitalisasi manuskrip/tuturan, jurnalisme kebudayaan, hingga integrasi kecerdasan buatan (AI) dipandang sebagai peluang terobosan untuk memperluas jangkauan edukasi publik, merevitalisasi bahasa daerah terancam punah, serta mendokumentasikan pengetahuan pesisir (Mane’e) dan adat (Gelar Alam).
Topik 4: Merayakan Keragaman Tradisi sebagai Warisan Budaya
Karya: Eko Suwargono (Lakon Lokapala Bharatayudha), Ervantia Restulita Liber Sigai (Handep Dayak Ngaju), Hapri Ika Poigi (Rego), Helmina Kastanya (Komunitas Morowali), Henri Nurcahyo (Besutan), I Made Suastika & Luh Putu Puspa (Mitos Kan Cing We dan Roro Jongrang), Latifah (Ruh Cerita Panji), Lela Erwany (Tradisi Pesta Tapai), Maslin bin Haji Jukim dkk. (Cerita Lisan Brunei), Syafaruddin (Sejalin Seikat dalam Alam Melayu), Uniawati (Menafsir Bahasa Mitos Me’ong Mpala Karellae).
Review Sintesis: Membedah kekayaan sastra lisan, mitologi, dan ritus siklus hidup sebagai perekat kohesi sosial dan memori kolektif. Narasi lisan—seperti Handep, cerita Panji, mitos komparatif, dan Pesta Tapai—diproduksi ulang sebagai sarana diplomasi kebudayaan lintas wilayah (Nusantara hingga Brunei) dan kritik sosial-ekologis (Me’ong Mpalo Karellaé).
Topik 5: Tradisi Lisan dan Komunitas Lokal dalam Penyelamatan Alam & Lingkungan
Karya: Asrif (Merawat Laut, Merawat Kehidupan Etnik Wakatobi), Budi Agung Sudarmanto (Serambe), Dedy Ari Asfar (Pengetahuan Ekologis Lokal Tradisi Dayak Bidayuh), Esther Rita Ebram (Tradisi Lisan Mandohi Masyarakat Ambai), Indrawan Dwisetya Suhendi (Nu Di Cai), Luqman (Ritual Ulur-ulur Tulungagung), Nirwan (Pertarungan Narasi Lingkungan), Rohmat Djoko Prakoso (Pudhen).
Review Sintesis: Mempertegas tradisi lisan sebagai local ecological knowledge (LEK) dan sistem hukum lingkungan lokal berbasis komunitas (community-based ecosystem governance). Tabu lisan (Nu Di Cai), nyanyian konservasi (Mandohi, Serambe), serta ritus air/laut (Wakatobi, Ulur-ulur) menjadi narasi tanding (counter-narrative) efektif melawan bahasa ekstraktivisme dan kerusakan alam.
Topik 6: Pemberdayaan Masyarakat Peduli Tradisi
Karya: Agus Muare (Palang Pintu Pantun Kalbar), Charles David M. Silalahi dkk. (Pelestarian Batak Toba), Fatmahwati Adnan (Pemberdayaan Masyarakat Tapung), Rois Leonard Arios (Ritual dan Festival Tabot), Rudi Irawanto (Jamasan Wayang Krucil), Sita Rohana & Akhwan Binawan (Orang Petalangan Riau).
Review Sintesis: Menekankan pentingnya kedaulatan masyarakat lokal/adat dalam mengelola warisan budayanya. Tradisi lisan—seperti tombo ruang hidup Petalangan, komunitarisasi Pantun, hingga festival Tabot—dijadikan instrumen advokasi tenurial, negosiasi komodifikasi pariwisata, dan pemberdayaan berbasis participatory heritage-making.
Topik 7: Pemanfaatan Tradisi Lisan dalam Dunia Pendidikan
Karya: A. Vieriawan (Elong Bissu dalam Mappalili), Andi Tenri Bali Baso (Pappaseng La Tenribali Bugis), Dafirah dkk. (Sinergitas Nilai Lempu dan Getteng), Devyanti Asmalasari (Calung Renteng Pandeglang), Gek Diah Sentana (Trilogi Kecerdasan Galungan), Gunoto Saparie (Tradisi Bandongan dan Sorogan), Iskandar Syahputera dkk. (Peran Hikayat Aceh), Jultje Anneke Rattu (Marambak), Niken Pramanik dkk. (Tradisi Lisan BIPA), Rahmat Sewa Suraya dkk. (Tradisi Karia), Rita Novita dkk. (Turuk Mentawai), Gustina I (Revitalisasi Tradisi Pasambahan).
Review Sintesis: Menganalisis fungsi pedagogis dan transformasi kurikuler tradisi lisan. Melalui pengajaran BIPA, metode bandongan/sorogan, serta transformasi ajaran etis (Lempu, Getteng, Pappaseng), tradisi lisan diintegrasikan untuk pembentukan karakter berintegritas, revitalisasi bahasa daerah, dan pendidikan karakter generasi muda.
II. KEBARUAN KAJIAN TRADISI LISAN
- Kebaruan Perspektif (Shift from Text to Spatial Epistemology):
Kajian tradisi lisan melampaui tekstual dan performativitas, bertransformasi menjadi landasan epistemologis pembentukan wilayah adat. Tuturan lisan seperti tombo, penamaan bentang alam (toponimi), dan konsep keruangan Petalangan terbukti berfungsi sebagai “arsip hidup” yang mendasari peta pemetaan partisipatif (participatory mapping) dan klaim kedaulatan hukum masyarakat adat atas tanah ulayatnya. Begitu juga dengan pengetahuan keruangan dan batas-batas wilayah adat Dayak Bidayuh yang tersimpan dalam tuturan lisan menjadi dasar empiris untuk pengakuan hak atas tanah ulayat masyarakat adat di wilayah perbatasan.
- Kebaruan Metodologis (Participatory Heritage-Making & AI Integration):
Adanya integrasi pendekatan metodologis baru yang menggabungkan participatory heritage-making (seperti reinterpretasi kreatif lakon lisan ke dalam sastra kontemporer) serta penggunaan instrumen Kecerdasan Buatan (AI) untuk restrukturisasi materi pengajaran bahasa berbasis kearifan lokal pesisir (Mane’e).
- Kebaruan Kontribusi Praktis (Community-Based Ecosystem Governanc):
Pembuktian bahwa mitos, tabu, dan ritual lisan (seperti Nu Di Cai, Ngasa Gandoang, atau Bakaper) merupakan bentuk hukum lingkungan lokal berbasis komunitas yang teruji secara aplikatif dalam merawat mata air, keanekaragaman hayati, dan mitigasi krisis iklim.
III. SIMPULAN KOMPREHENSIF
- Tradisi lisan Nusantara membuktikan resiliensi dan daya adaptasi yang tinggi dalam melintasi krisis ekologi, ekspansi industri ekstraktif, tantangan teknologi digital, hingga dinamika perubahan sosial.
- Tradisi lisan beroperasi secara multi-fungsi dan simultan: sebagai instrumen konservasi lingkungan, sarana pembentukan karakter moral, jaminan legalitas kedaulatan tanah ulayat, serta aset ekonomi-kreatif yang berkelanjutan.
- Keberlanjutan tradisi lisan sangat ditentukan oleh partisipasi aktif komunitas lokal (participatory-based) sebagai pemilik, penutur, dan pengelola utama warisan budaya tersebut.
IV. REKOMENDASI STRATEGIS
1. Kebijakan (Pemerintah Pusat dan Daerah)
- Legitimasi Wilayah Adat Berbasis Tradisi Lisan:Pemerintah memosisikan dokumentasi tradisi lisan (seperti tombo, tuturan batas wilayah, toponimi) sebagai bukti legal-formal yang sah dalam proses verifikasi Peraturan Daerah Pengakuan Masyarakat Hukum Adat serta penetapan Hutan Adat/Tanah Ulayat.
- Kebijakan Kebudayaan Berkelanjutan:Menyusun regulasi pelindungan warisan budaya takbenda yang seimbang antara pengembangan ekonomi pariwisata (festival) dengan pelindungan hak sakral dan ruang hidup komunitas adat.
2. Komunitas dan Pelaku Tradisi
- Pemetaan Partisipatif Terpadu:Mendorong komunitas untuk aktif mendokumentasikan tuturan lisan keruangan dan mengintegrasikannya ke dalam peta geospasial wilayah adat.
- Kaderisasi Maestro:Membangun ruang-ruang transmisi antargenerasi di tingkat lokal (sanggar, warung pantun, ritual komunal) demi keberlanjutan tradisi lisan.
3. Bidang Akademik dan Penelitian
- Metodologi Transdisiplin: Mengembangan metodologi transdisiplin dengan menggabungkan antropologi linguistik, kebudayaan, geografi, dan teknologi digital/AI untuk menghasilkan kajian tradisi lisan yang berdampak langsung pada advokasi sosial dan kebijakan publik.
- Integrasi Kurikulum Pendidikan: Pengintegrasian Menyusun modul pendidikan karakter, bahan ajar BIPA, dan materi sekolah berbasis kearifan lisan Nusantara.
Jakarta, Jumat, 7 Agustus 2026
TIM PERUMUS SEMINAR INTERNASIONAL LISAN XIII
- Sita Rohana __________________
(Koordinator)
- Nur Iskandar __________________
(Anggota)
- Syaiful Anuar __________________
(Anggota)
- Gres Grasia Azmin __________________
(Anggota)
- Susi Ivvaty __________________
(Anggota)
- Syahrial __________________
(Anggota)
- Madia Patra __________________
(Anggota)
- Jabatin Bangun __________________
(Anggota)