BESUTAN BICARA TAMBANG DI FESTIVAL TRADISI LISAN

Besutan adalah kesenian rakyat dari Jombang, Jawa Timur, yang merupakan cikal bakal seni pertunjukan ludruk. Dalam pembukaan Seminar dan Festival Tradisi Lisan XIII di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta (5/8/26), Besutan ditampilkan oleh Meimura (63 tahun) dari Surabaya. Hanya seorang diri, memerankan tokoh Besut dan sekaligus Rusmini.

Meimura membawakan seni Besutan - 1

Lelaki bernama asli Meijono ini muncul dari sudut panggung sambil bersenandung (ngidung) dan membawa setangkai daun pisang di atas kepalanya. Biasanya Mei juga membawa obor di tangan satunya. Namun itu tidak mungkin dilakukan di Balai Sastra Pusat Dokumentasi HB Jassin ini.

Sebagaimana ciri khas ludruk, Besutan diawali dengan tari Remo dan Kidungan (semacam pantun yang dilagukan). Hanya saja, kali ini tarian Remo dibawakan secara singkat dan sederhana, bahkan tanpa iringan musik sama sekali. Meimura cukup menggumamkan mulutnya sebagai pengganti iringan musik. Dia tampil dengan busana putih lengan panjang dan tertutup hingga mata kaki, berselendang merah tersampir di pundaknya, kepalanya ditutup dengan topi seperti yang dikenakan bayi.

Busana ini merupakan simbol manusia yang masih suci seperti bayi, namun memiliki kecintaan terhadap tanah air sebagaimana dilambangkan dalam warna putih dan selendang merah. Tanah air itu ibarat perempuan yang perannya tak bisa tergantikan dalam kehidupan dan harus dicintai, sebagaimana sosok Rusmini.

Di atas panggung, sebelumnya sudah disiapkan sapu lidi yang diberdirikan terbalik, seperangkat sesajen yang terdiri dari bunga dan buah pisang dalam wadah kuali dari gerabah, serta satu sosok wayang suket (rumput). Seharusnya juga ada dupa yang dibakar, namun tidak dilakukan mengingat ruangan yang tertutup dan berpendingin. Nah setelah Meimura menari remo, dia duduk bersimpuh dan berdialog dengan wayang suket yang diimajinasikan sebagai sosok Rusmini. Meimura berbicara secara monolog dengan Rusmini soal kondisi sosial hari ini secara santai. Soal kehidupan sehari-hari. Seperti mengeluh namun sesungguhnya itulah isi hati rakyat jelata.

Kemudian topi bayinya itu dilepas, dan menggantikannya dengan sebuah sanggul besar yang sudah disiapkannya dalam wadah kuali tadi. Seniman yang juga dikenal sebagai aktor dan sutradara teater ini lantas berdiri. Maka sosok Besut menjelma menjadi perempuan bernama Rusmini, lengkap dengan suaranya.

Tiba-tiba dia memanggil seorang penonton untuk maju ke arena. Sugit Zulianto namanya, dosen UNS yang juga pengurus Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) Solo Raya. Sugit langsung kaget karena tidak diberi tahu sebelumnya. Toh akhirnya salah peserta Munas ATL ini maju juga. Memang inilah salah satu ciri Besutan, improvisatif, tiba-tiba mendaulat penonton ikut main.

Meimura yang sudah menjadi Rusmini mendaulat Sigit sebagai tokoh bernama Enthit. Dalam Cerita Panji, Enthit adalah sosok Raden Panji Asmarabangun yang menyamar menjadi seorang petani.

Dalam cerita aslinya, ada dialog antara Enthit dan seorang perempuan bernama Ragil Kuning, adik kekasih Panji bernama Dewi Sekartaji. Ragil Kuning kagum terhadap kepandaian Enthit menanam berbagai macam sayuran yang subur-subur. Dia bertanya satu persatu tanaman itu, siapa yang menanamnya, kok terlihat segar dan menyenangkan? Enthit dengan sabar menjawabnya, sambil menggoda Ragil, bahwa itu semua adalah hasilnya menanam.

Nah, dalam pentas Besutan Rabu malam itu Rusmini yang menggantikan Ragil Kuning, berdialog dengan Enthit.

Sopo sing ngeruk gunung di Papua?” (Siapa yang menggali gunung di Papua)

Sopo sing ngeruk tambang di Bangka Belitung?” (Ngeruk dalam bahasa Jawa artinya menggali dalam jumlah besar).

Sopo sing nguras iwak di lautan?” (menguras ikan)

Berkali-kali ditanya, Enthit gelagapan menjawab.

“Aku gak eruh yo wuk yoo….” kata Enthit sambil melagukan penolakannya. (Saya tidak tahu).

Nek sampeyan gak isok njawab aku takon Bu Teti lhoo…..” (Kalau kamu gak bisa jawab, aku tanya Bu Teti lho), ucap Rusmini.

Bu Teti, alias Pudentia, ketua ATL yang duduk di kursi paling depan, langsung menolak dengan kedua tangannya.

Besutan memang kesenian yang cair. Penuh improvisasi. Kata Besut itu sendiri merupakan akronim dari mbeto maksut (membawa maksud). Jadi dalam pentas kali ini maksud yang diangkat adalah soal pentingnya menjaga sumberdaya alam dan lingkungan hidup, tidak sembarangan mengeruk tambang.

Sebelum Besutan yang hanya berlangsung singkat itu, tampil seni pertunjukan dari India, Seraikela Chhau, tari topeng tradisional dari negara bagian Jharkhand, India, yang memadukan unsur teater, tari, dan seni bela diri. Sebagai penutup acara malam itu, tampil seni Janthukan dari Betawi.

Hari kedua, tampil lagi seni pertunjukan Serakela Chhau dari India, didampingi Komunitas Papua Yosim Pancar dan Silek Harimau dari Sumatera Barat.

Hari terakhir, Jumat malam, sebagai pamungkas rangkaian Munas, Seminar, dan Festival Tradisi Lisan XIII, Besutan tampil kembali bersama dengan Wayang Bangsawan dari Singapura (hn).