
Kiagus Rusdi Rasyid (kedua dari kanan) dari Sanggar Sri Palembang saat hadir pada Festival Wayang 1970 di Jakarta (Dokumentasi keluarga Kiagus Rusdi Rasyid)
Tidak banyak orang tahu bahwa tradisi wayang (kulit) juga ada dan pernah berkembang di Palembang.
Tampilannya cukup khas. Misalnya, ia dimainkan tanpa sinden seperti halnya pada pertunjukan wayang kulit di Jawa. Juga tanpa suluk alias narasi yang dinyanyikan dalang ketika akan memulai suatu adegan. Adapun komunikasi antartokoh menggunakan bahasa Palembang. Oleh masyarakat pendukungnya, tradisi ini dinamakan Wayang Palembang.
Konon, pada tahun 1950-an hingga awal 1960-an, Wayang Palembang sempat menikmati masa jaya. Kesenian rakyat yang mirip wayang kulit purwo di Jawa ini kala itu laris ditanggap. Bukan cuma masyarakat Palembang, mereka yang tinggal di pelosok-pelosok desa di Sumatera Selatan pun ramai-ramai menanggapnya untuk berbagai perhelatan. “Waktu itu saya masih kecil, tetapi sering diajak bapak bersama rombongannya kalau ditanggap ke daerah-daerah,” kata Kiagus M Rusdi Rasyid.
Rusdi adalah satu dari dua dalang Wayang Palembang yang masih tersisa, anak almarhum ki dalang Kiagus Rasyid. Keluarga inilah satu-satunya pemilik kelompok Wayang Palembang yang ada, yang mereka beri nama Sri Palembang Grup. Adapun dalang lain, Achmad Syukri Ahkab, penyiar RRI Stasiun Palembang tak lagi aktif lantaran sejak pertengahan 1990-an pindah tugas ke RRI Sumenep di Pulau Madura, Jawa Timur. Keduanya—baik Rusdi Rasyid maupun Achmad Syukri Ahkab—bukan hasil “pengaderan” almarhum Rasyid dalam artian “terprogram”, tetapi lebih karena rasa suka keduanya pada Wayang Palembang yang kerap mereka tonton. Lain tidak.
Bahwa dalam perkembangan berikut nasib Wayang Palembang seperti kerakap tumbuh di batu (kata bersayap ini biasanya diembel-embeli: hidup segan mati tak mau), pasti ada penyebabnya. Tanda tanya besar kini justru terus menggoda sang dalang: bagaimanakah kelangsungan hidup Wayang Palembang selanjutnya? Masih bisakah ia bertahan?
Nama penggiat dan kelompoknya memang masih ada, hanya saja bersifat semu. Dikatakan ada tetapi sesungguhnya tidak ada. Ya, apalah artinya sebuah kelompok seni pertunjukan bila lebih dari 10 tahun tak pernah tampil di pentas!
***
TAK ada catatan pasti kapan Wayang Palembang mulai dikenal. Cerita-cerita yang berkembang cuma bersifat perkiraan.
Konon tradisi ini masuk ke Palembang pada fase akhir masa kejayaan Majapahit, atau masa-masa sesudah itu, yakni bersamaan mulai terbentuknya suatu imperium yang kemudian menjadi cikal bakal berdirinya Kesultanan Palembang awal yang masih berkiblat ke Jawa. Malah ada yang agak berani dengan menyebutkan bahwa Wayang Palembang sudah ada sejak pemerintahan Ario Damar alias Ariodilla (1445-1474), adipati dari Majapahit yang ditugaskan memerintah di Palembang.
Catatan yang disebut terakhir memang tergolong berani karena sejarah pun masih meragukan keberadaan Ario Damar. Dalam sejarah Palembang nama ini sesungguhnya tidak pernah ada. Begitupun dalam Negarakertagama dan kronik-kronik Cina. Baru dalam Babad Tanah Jawi dan Serat Kandha ia muncul, tetapi aspek mitos dan legenda jauh lebih menonjol ketimbang sebagai fakta sejarah. Itu pun dengan nama yang beragam.
Boleh jadi ini merupakan salah satu kelalaian “sejarah” (untuk tidak menyebutnya ‘penyakit lupa’ bangsa ini sebagaimana sinyalemen budayawan Goenawan Mohammad). Kelalaian itu bukan saja pada aspek kesejarahan, tahap-tahap perkembangan bentuk pertunjukannya pun tak terdokumentasikan.
“Saya cuma mengingat-ingat apa yang pernah dilakukan orangtua saya dulu. Meski kisah utama berangkat dari Ramayana dan Mahabrata, tetapi lakon-lakonnya ‘kan beda dengan yang di Jawa. Dan, saya tidak belajar secara khusus, ya, itu tadi; cuma mengingat-ingat, ditambah obrolan dengan orang tua-tua yang katanya sedikit ngerti wayang,” tutur Kiagus Rusdi dalam satu percakapan di rumahnya di kawasan Tangga Buntung, Kelurahan 36 Ilir, Palembang.

Kiagus Rusdi Rasyid memperlihatkan ‘kayon’ wayang kulit Palembang (Dokumentasi keluarga)
Yang pasti, pada awalnya Wayang Palembang hanya berkembang di lingkungan keraton. Kalaupun ditonton para kawula, itu hanya pada peristiwa-peristiwa khusus, sehingga wajar jika masyarakat Palembang di luar lingkungan keraton merasa tidak terlalu memilikinya. Situasi demikian mau tidak mau berpengaruh pada semangat kultural pendukung kesenian itu. Pentas wayang sekadar tontonan, sebagai hiburan, sementara filosofinya tak pernah betul-betul singgah di jiwa mereka.
Awam tidak tahu, misalnya, mengapa hanya keluarga Pandawa yang boleh bebaso (berbahasa Palembang halus), sementara keluarga Kurawa dan lainnya cuma boleh berbahasa Palembang pasaran. Bahkan mereka pun banyak yang tidak tahu nama-nama keluarga Pandawa, kecuali para punakawan yang konon memang terkenal lantaran kerap tampil jenaka.
Meski dalam perkembangan berikutnya seni pertunjukan ini ‘hijrah’ ke luar keraton, menyusul runtuhnya Kesultanan Palembang Darussalam (1823), akan tetapi masyarakat sudah telanjur menjaga jarak. Mereka lebih merasa memiliki kesenian tradisi lain semacam Dulmuluk atau Bangsawan.
***
SETELAH sempat tampil di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta pada Pekan Wayang Indonesia tahun 1978 dan pada 25 juli 1983, sejak itu keberadaan Wayang Palembang hampir-hampir hilang dari peredaran. Hingga paruh pertama 1984, sesekali ada undangan resmi dari beberapa instansi pemerintah, termasuk “agenda tetap” mengisi acara di RRI Palembang sebulan sekali dengan honor bermain yang amat minim.
“Cuma Rp 7.500 sekali tampil. Cukup? Kalau hanya untuk ongkos ke sana, memang,” kata Kiagus Rusdi. Meski besar honor sekadar untuk biaya pengganti ongkos datang ke lokasi pertunjukan, akan tetapi Rusdi bersama kelompok pengiringnya tetap setia mengunjungi pendengar RRI kala itu. “Yang penting ‘kan ada yang nanggap,” tambahnya.
Setelah itu Wayang Palembang seperti kehabisan ‘napas’ untuk terus bertahan. Tak ada undangan, apalagi masyarakat yang sengaja menanggap untuk satu perhelatan paling sederhana sekalipun. Di sisi lain, perangkat wayang—yang memang tak pernah lengkap—pun terus berkurang, baik karena lapuk dimakan usia maupun karena sebab lain. Malah seperangkat gamelan yang mereka miliki ada yang tenggelam di Sungai Musi ketika peralatan itu dibawa menyeberang dengan perahu.
Kisah sedih seputar nasib Wayang Palembang belum berakhir. Setiap tahun didata oleh bidang kesenian kantor Dikbud setempat, “Namun tak pernah ada tindak lanjut. Grup wayang kulit Jawa yang ada di sini selalu dapat bantuan, lha, untuk wayang wong Palembang mana?” keluh Kiagus Rusdi, yang terpaksa pensiun dini dari Bank Exim Cabang Palembang lantaran penyakit ginjal yang terus menderanya.
Memiliki tak lebih dari 30 buah wayang dari sekitar 130 yang semula mereka punyai, bisa dibayangkan bagaimana kelompok ini bisa naik pentas. Belum lagi perangkat pendukungnya. Instrumen yang ada cuma tinggal dua saron serta masing-masing sebuah gambang, kenong dan kromongan yang tidak utuh. Di luar itu, dan ini yang sangat penting, para penabuh instrumen itu sendiri kini sudah tercerai-berai. Entah di mana mereka kini berada. Beberapa di antaranya malah terkabar sudah meninggal dunia.
Beberapa di antara karakter wayang kulit yang masih tersisa itu kini hanya jadi pajangan di ruang tamu kediaman Kiagus Rusdi. “Yang lain ada dalam kotak, tapi cuma tinggal seadanya,” ujar ayah dari sembilan anak ini.
Lebih memprihatinkan lagi, semangat untuk mencegah kepunahan satu dari sedikit tradisi wayang di luar Jawa ini pun cenderung ikut tenggelam. Jangankan generasi penerus, yang ada sekarang pun tak bisa dipertahankan. Mereka seolah pasrah pada nasib yang bergulir. Ataukah jalan sejarah mereka memang harus demikian: sebelum benar-benar punah justru mesti mengusung sendiri keranda kematiannya. (KN; tulisan ini pernah dimuat di harian Kompas edisi 3 Januari 1996)