
ederhana, lugu, dan pendiam. Itulah kesan awal yang muncul dari keseharian Ibrahim bin Ahmad. Akan tetapi, kesan lugu dan pendiam itu segera sirna manakala akan ada pementasan Bangsawan di kampugnya. Ibrahim justru sibuk berkata-kata, memberikan instruksi kepada pemain yang akan naik panggung.
Dilahirkan di Desa Penuba, Kecamatan Lingga, Kepulauan Riau, pada 1 Juni 1945, Ibrahim memang dikenal sebagai penggubah cerita-cerita untu lakon Bangsawan. Ia juga sekaligus bertindak sebagai sutradara, meski istilah ini sebetulnya tidak dikenal di tengah komunitas teater tradisi Bangsawan Riau-Lingga.
“Memang sejak kecil saya suka pada cerita-cerita yang kerap dikisahkan oleh para tetua kampung. Biasanya kisah mereka tentang peristiwa sejarah yang terjadi di berbagai pulau seperti Lingga, Singkep, Selayar, Bintan, dan Penyengat. Apalagi, menurut sejarah, pada masa lampau Pulau Lingga ini kan pernah jadi pusat kerajaan besar,” tutur Ibrahim saat ditemui di Daik, Lingga, akhir November 2007.
Ibrahim memang sosok sederhana dan hanya mampu menyelesaikan pendidikan sekolah rakyat (SR). Kemiskinan yang melilit keluarganya membuat ia tak bisa melanjutkan pendidikan lanjutan. Karena ada orang menaruh perhatian pada Ibrahim, selepas SR ia diajak membantu bekerja di Kantor Syahbandar di Penuba.
Di sinilah Ibrahim mendengar banyak kisah tentang berbagai hal terkait sejarah masa lampau di wilayah laut dan kepulauan tersebut. Penggalan-penggalan kisah yang lebih banyak bertutur tentang kehidupan dan petualangan para bangsawan kerajaan itu kemudian ia susun dalam bentuk cerita, lalu ia tuangkan di atas kertas dalam tulisan tangan.
Tiga tahun lamanya Ibrahim bekerja di Kantor Syahbandar Penuba, sebelum akhirnya ia mengundurkan diri. Dalam masa tiga tahun itu cukup banyak kisah sejarah yang ia tuangkan dalam bentuk cerita, kemudian dijadikan lakon untuk pementasan Bangsawan, sandiwara, atau tonil di Penuba pada masa itu. Tak lama kemudian ia pindah ke Kampung Budus di Desa Merawang, masih di wilayah Kecamatan Lingga, dan meneruskan kebiasaannya mengarang cerita-cerita untuk lakon panggung Bangsawan.
Saat ditemui di Daik pada penghujung 2007, Ibrahim tergabung dalam grup panggung Bangsawan “Mekar Malam” yang dipimpin Auzar, mantan Pengulu (sekarang kepada desa) Merawang. Grup ini sangat bergantung pada Ibrahim. Selain sebagai instruktur saat latihan, tak jarang Ibrahim juga ikut naik pentas, terutama bila pemeran tokoh Khadam (peran tokoh ini dalam panggung Bangsawan mirip sosok punakawan dalam cerita wayang Jawa) sedang berhalangan.
Menjadi sutradara dan penulis cerita untuk lakon Bangsawan memang tak memberinya penghasilan apa pun. Kalaupun ada tanggapan, hampir tak ada bayaran kecuali sekadar untuk uang rokok dan diberi makan-minum seadanya. Di tengah masyarakat pendukungnya yang miskin, panggung Bangsawan masa kini bahkan jarang bisa dipentaskan, kecuali ada warga yang sedikit mampu mau menjadi sponsor.

“Latihan-latihan masih dilakukan. Saat latihan itulah sebetulnya pentas Bangsawan kami sajikan kepada masyarakat yang tinggal di Merawang,” kata Ibrahim. Biaya latihan? “Tak ada-lah. Paling saya keluarkan untuk buat kopi,” tambah Auzar sang pemimpin grup Bangsawan “Mekar Malam”, yang mendapat penghasilan sehari-hari dari ojeg sepeda motornya.
Adapun tokoh kita, Ibrahim bin Ahmad, untuk mencukupi ekonomi keluarga sehari-hari ia bercocok tanam di lahan yang tak begitu subur. Kadang-kadang ia juga mengolah pohon sagu untuk dijadikan bahan makanan. Dulu, sagu memang dijadikan bahan makanan pokok penduduk Riau-Lingga.
Mulai surut
Pada mulanya teater tradisi Bangsawan ini dikenal sebagai Wayang Parsi, diperkirakan masuk ke daerah ini pada tahun 1870-an. Seperti halnya Mamanda di Kalimantan Selatan dan Dulmuluk di Sumatera Selatan, panggung Bangsawan (juga kerap disebut wayang Bangsawan) tergolong teater rakyat yang dalam pementasannya menggunakan babak atau episode. Lakon yang disajikan selalu berkisah tentang kehidupan istana dan sekitarnya.
Ada dugaan jenis pertunjukan ini masuk ke Semenanjung Melayu dibawa oleh para pedagang India melalui Pulau Penang, Malaysia. Dari hasil penelusuran Sutamat Arybowo, peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), teater ini kemudian disebarluaskan oleh Jaffar de Turk sampai ke Tanah Semenanjung dan Singapura, sebelum akhirnya menyerbar ke Riau-Lingga dan wilayah Sumatera Timur.
Di daerah Riau-Lingga, jenis panggung Bangsawan yang berkembang merupakan panggung campuran, di mana alat musik, tari, dan ceritanya sangat sinkretis. Para pemainnya berasal dari berbagai lapisan masyarakat: nelayan, petani, pedagang kelontong, buruh kedai kopi ataupun guru. Penontonnya pun multi-etnis.
Pementasan panggung Bangsawan bisa dilangsungkan kapan pun, tanpa harus menunggu hari libur atau ada orang hajatan. Panggung biasanya didirikan di lapangan terbuka tak jauh dari pasar atau pelabuhan. Pada masanya, pentas panggung Bangsawan ramai dikunjungi di saat musim “angin selatan” (September-Desember). Pada musim ini angin bertiup kencang dari utara ke selatan, sehingga penduduk jarang pergi melaut atau bepergian jauh dari pulau mereka.
Struktur pementasan Bangsawan terdiri atas tiga bagian utama: prolog, dialog, dan epilog. Prolog berupa musik tablo dengan nyanyian pembuka, “Selamat Datang”, diikuti pembacaan syair dan pengantar pementasan. Dialognya dibawakan oleh para tokoh, mengikuti jalan cerita yang berparas istana dengan beragam latar. Adapun epilog berupa pesan dari pembawa acara yang mencerminkan semangat ‘raja adil raja disembah, raja lalim raja disanggah’.
Pada masa konfrontasi dengan Malaysia, panggung Bangsawan mengalami masa jaya karena dapat menghibur para prajurit marinir yang bermarkas di Pulau Penuba. Di sinilah pemuda Ibrahim amat berperan lewat cerita-cerita heroik yang dikarangnya. Boleh dikata, ketika itu—di tangan Ibrahim bin Ahmad—panggung Bangsawan tak hanya sebagai media hiburan tetapi juga berfungsi sebagai media komunikasi dan wahana propaganda untuk memberi semangat kepada masyarakat penontonnya.
Dalam perjalanan waktu, sejak beberapa dekade terakhir panggung Bangsawan kehilangan roh dan semangatnya. Orang-orang seperti Ibrahim sudah mulai uzur, regenerasi tidak berjalan mulus, sementara minat dan antusiasme masyarakat penontonnya pun ikut surut.
Alhasil, pentas panggung Bangsawan di Riau-Lingga kini semakin jarang bisa dinikmati, kecuali pada saat-saat tertentu. Taruhlah seperti di saat perayaan Hari Kemerdekaan, 17 Agustus, atau pada pesta rakyat yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah setempat. Di luar itu, panggung Bangsawan dibiarkan merana … ! (Tim ATL/KN)