Pejabat di daerah yang bolos kerja karena sibuk “pesiar” (ke Jakarta) sudah jamak terjadi, khususnya di era otonomi daerah seperti sekarang. Akan tetapi, apa yang dilakukan Said Parman (48) boleh jadi harus dilihat dari perspektif lain.
Mantan Asisten Ekonomi dan Pembangunan Kota Tanjung Pinang, Kepulauan Riau-yang baru saja ditunjuk sebagai Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Kesejahteraan Sosial Kota Tanjung Pinang-ini membolos kerja hanya karena terpanggil untuk ikut terlibat mengembangkan seni tradisi.
Paling tidak itulah yang dia lakukan selama beberapa hari menjelang rekaman pengambilan gambar untuk film dokumenter tentang seni tradisi makyong, pada Februari 2008, di Pulau Bintan. Surat-surat penting yang diantarkan stafnya terpaksa ia baca sambil berdiri, lalu diparaf atau ditandatangani di lokasi latihan.
Selama proses perekaman itu pula Said harus rela “diperintah- perintah” oleh tim dari Studio Audio Visual Puskat Yogyakarta. Berbagai pola lantai serta gerak dasar tari dan komposisi pemanggungan makyong terus diulang-ulang untuk mendapatkan gambar terbaik.
Berjam-jam Said dan para pemain makyong menghadapi cuaca buruk di alam terbuka. Hujan gerimis dan terik matahari datang silih berganti, di tengah iklim pancaroba yang melanda kawasan Kepulauan Riau selama musim angin barat yang cukup panjang pada awal 2008.
Makyong sebagai salah satu bentuk seni tradisi Melayu yang masih tersisa di Kepulauan Riau memang menyedot minat dan kepedulian Said. Baginya, makyong adalah semacam roh yang menyimpan jejak dan tapak kemelayuan masa lampau yang masih tetap aktual untuk disimak, digali, dan dimaknai ulang di tengah alam Melayu kini.
Ketika Asosiasi Tradisi Lisan dipercaya pemerintah “menggarap” usulan ke UNESCO agar seni makyong masuk sebagai Memory of the World, Said pun tak keberatan ikut disibukkan untuk mempersiapkannya di tingkat “akar rumput”. Semua itu Said lakukan bukan lantaran saat ini ia dipercaya memimpin Lembaga Kemajuan Makyong. Juga tidak sepenuhnya karena ayah empat anak ini pada dasarnya adalah seorang seniman (baca: koreografer).
Lulusan S-1 Komposisi Tari pada Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini mengaku melakoni itu semua karena seni makyong telanjur menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.
“Waktu masih di SPG (sekolah pendidikan guru) kebetulan saya dan teman-teman dilibatkan untuk berlatih main makyong dalam program yang digagas Kanwil Depdikbud Riau. Ini untuk menghidupkan kembali seni tradisi itu. Saat itu makyong memang sudah hilang, tak pernah lagi berpentas,” kata Said mengenang awal ketertarikannya pada seni tradisi makyong.
***
TAK banyak birokrat yang menyukai seni, apalagi seni tradisi. Said Parman adalah satu di antara yang sedikit itu. Latar belakang pendidikannya sebagai calon guru SD, serta keterlibatannya dalam semacam program revitalisasi makyong pada 1978/1979, menjadi semacam jalan pembuka.
Setelah ikut bermain makyong dan sempat tampil di beberapa tempat, benih kecintaan pada seni tradisi ini pun terus tumbuh. Bahkan belakangan, kecintaan itu kian berkecambah setelah ia “kecantol” pada pemeran tokoh Cik Wang (tokoh utama makyong) bernama Elvi Lettrianna, yang kini menjadi pendamping hidupnya.
Makyong adalah seni tradisi yang mengandung unsur ritual-magis. Pemanggungannya memadukan gerak seni tari, musik, nyanyian, dan lakon sehingga ada yang menyebutnya sebagai “opera Melayu”.
Sejak bersentuhan dengan makyong, Said remaja sudah terobsesi untuk menceburkan diri di sini. Sejak itu pula, Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ, kini Institut Kesenian Jakarta) yang berada di lingkungan Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta menjadi impian dan harapan Said.
Setamat SPG pada 1981 di Tanjung Pinang, dan berbekal uang Rp 40.000 yang ia selipkan di kaus kaki, Said naik kapal ke Jakarta untuk melamar ke LPKJ. Tetapi Jakarta tak begitu ramah kepada anak desa dari Pulau Lingga ini. Uang Rp 40.000 yang ia bawa hanya cukup untuk biaya pendaftaran. Itu artinya, jika nekat mendaftar ke LPKJ, Said harus siap menggelandang di Ibu Kota tanpa uang sepeser pun.
Setelah menyambangi seorang kenalan keluarga, anak dusun kelahiran Kampung Sungai Pinang, 29 Oktober 1960, ini memutuskan meneruskan perjalanan ke Yogyakarta. Said lalu mendaftar di Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) pada jurusan Komposisi Tari. “Soalnya cuma di sini yang biaya pendaftarannya murah, waktu itu Rp 12.000. Sisa uang yang ada masih bisa digunakan untuk biaya hidup selama beberapa bulan di Yogya,” cerita Said.
Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana muda, kemudian-seiring perubahan status ASTI yang melebur dalam Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta-Said melanjutkan ke jenjang S-1 pada jurusan yang sama. Gelar sarjana seni akhirnya ia raihpada 1987.
Selama di Yogyakarta, makyong pun seperti hilang dalam kehidupan Said. Namun, makyong tampaknya justru tak rela melepaskan dia. Sepulang dari Yogyakarta, Said lalu bekerja sebagai pegawai negeri sipil di Taman Budaya Pekanbaru, maka perjumpaannya dengan makyong kembali terjadi.
Bersama sastrawan BM Syamsuddin (almarhum), pada awal 1990-an, Said ditunjuk oleh Kepala Kanwil Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Riau (ketika itu) O Kanzami Jamil untuk menggali khazanah seni tradisi makyong yang sudah tak lagi terdengar keberadaannya. Untuk itu, selama sekitar tiga bulan dia harus “nyantrik” di rumah Pak Khalid, tokoh makyong yang masih tersisa di Pulau Mantang Arang.
“Bukan saja untuk menggali ‘cerita’ dari Pak Khalid tentang makyong berikut ritual dan seni pertunjukannya, tetapi yang lebih penting dari ‘proses nyantrik’ itu adalah untuk menyerap roh makyong,” tutur Said.
Sebagai koreografer lulusan ISI Yogyakarta, pola-pola gerak tari makyong ia sempurnakan. Meski tidak mengubah pakem yang sudah ada, Said percaya bahwa makyong sebagai seni tradisi juga memiliki kekenyalan.
Topeng makyong diyakini tetap menjadi kekuatan. Tetapi dialog dalam lakon kisah masa lampau yang dihadirkan juga perlu disikapi dengan semangat kekinian.
Dalam konteks seni pertunjukan, aspek ritual dan profan acap kali memang jadi kabur. Karena itu, ketika berperan sebagai tokoh Awang Pengasuh dalam setiap pentas makyong yang ia ikuti, Said mengaku bisa leluasa berimprovisasi sekaligus menyerap roh makyong hingga ke dasar. “Kita harus melihat makyong dengan nurani. Karena saya percaya, kita semua adalah pewaris dan pembuat tradisi,” ujarnya. (KN)