AMAQ RAYA Berguru pada Alam Lombok

May 18, 2026

Maestro Amaq Raya 1

Pernah main di depan presiden, juga di Jepang. Kini, di masa tuanya, ia harus hidup dari upah pemecah batu kali. Akan tetapi semangat memajukan tari tetap menyala pada dirinya.

Rasa lapar dan sakit hilang seketika kalau mendengar gending. Apalagi kalau diajak bicara soal tari dan gending ciptaannya, tubuh yang kelihatan ringkih dimakan usia itu mendadak semangat. Bahkan mulutnya sibuk nggamel dan nggending, mengiringi, kaki, tangan, kepala, dan tubhnya bergerak lincah.

Begitulah Amaq Raya (sekitar 70 tahun), salah seorang koreografer terkemuka Nusa Tenggara Barat (NTB), yang kini menghabiskan masa tuanya sebagai buruh pemecah batu kali dan pembuat batu bata di tempat tinggalnya di Dusun Dasan Desa Lenek Daya, Lombok Timur, NTB. Padahal semasa jayanya, ia pernah tampil di depan Presiden Soekarno di Bali (1957) dan Lombok (1958), di Istana Merdeka disaksikan Presiden Soeharto (1990) dan melawat ke Jepang bersama tim kesenian NTB (1988).

Pagi itu hujan baru saja reda. Lenek masih basah. Matahari menghangatkan rumah-rumah, pepohonan, hamparan ladang, dan jalan berbatu menuju rumahAmaq Raya. la mengenakan sarung, dan jaket oranye.

“Maaf keadaannya seperti ini,” ujarnya saat menerima kami di ruang tidur, merangkap dapur, ruang tamu, ruang makan dan ruang keluarga.

Rumahnya berlantai tanah, berdinding bambu, dan beratap ilalang, berukuran sekitar 4 x 6 meter, disekat jadi dua, masing-masing memiliki satu pintu, merangkap jendela. Kami diajak duduk diatas kasur tua, yang digelar ditanah. yang sehari-hari jadi tempat tidurnya. Beberapa jengkal dari kasur ada rak bambu, tempat menyimpan, tikar, bantal, dan lain-lain.

Di sekeliling lantai tersebar peralatan dapur, seperti kompor minyak, rak piring, tempat cuci. Sementara itu selembar sajadah dan kantong plastik kecil tergantung di dinding. Kantong plastik itu untuk menyimpan tanpa pengenal: pin dan undangan sewaktu pentas di Jepang dan Jakarta. Sementara itu, piagam penghargaan yang diperoleh dari pemda setempat, Pemerintah RI yang ditandatangani Mensesneg Moerdiono ketika itu, disimpan di ruangan sebelah; tempat tinggal anak, cucu dan menantunya.

Sudah sejak zaman Jepang Amaq aktif dalam kegiatan kesenian, secara otodidak, baik menjadi penari, pencipta tari, gending, maupun penabuh gamelan wayang. Bersama teman-teman sedesa Lenek, Amaq remaja (15 tahun) bergabung dalam sebuah kelompok kesenian tradisi yang berpentas dalam pesta-pesta adat, memainkan tari tradisional Gandrung dan Wayang.

Orangtuanya tidak punya cukup uang untuk menyekolahkan dia, sehingga Amaq buta huruf sampai sekarang. Meski begitu ia bisa mendalang, memainkan seluruh instrumen gamelan Sasak, dan hafal seluruh gending-gending pusaka (lama). Lebih jauh dari itu, ia terdorong untuk mengubah, membarui, dan mencipta tarian maupun gending baru.

“Sejak saat itu, saya ingin bisa mencipta dan terkenal,” ujarnya polos.

Lahirlah karya pertamanya, tari Gagak Mandi, yang mulai populer tahun 1956. Karya yang digarap dengan susah payah selama satu tahun tersebut diciptakan ketika dirinya berusia 17-18 tahun. Idenya diperoleh ketika dia mandi di sungai, melihat gerak-gerik sejumlah burung gagak yang juga mandi di sungai yang sama.

“Setelah melihat burung gagak itu, sesampai di rumah saya tidak enak makan dan minum,” ujar Amaq mengenang awal proses kreatifnya. “Saya tidak punya foto tarian tersebut. Tapi anak-anak dan cucu saya sudah bisa menarikannya,” tambahnya.

Amaq Raya dikaruniai enam anak, dua lelaki dan empat perempuan. Semua mengenyam pendidikan SD, dan semua sudah berumah tangga. Yang sulung Ayuningsih, kedua Aminah, ketiga Yanti (saat kelas V SD sudah diajar tari Gagak Mandi), keempat Sadri, kelima Zaenal, dan yang bungsu Mulyani. Selain menari, Mulyani pernah dijadikan asisten saat ia mengajar putri pejabat NTB menari Gandrung, sebagai bekal ikut pertukaran pemuda Indonesia-Australia.

“Di sini laki-laki memegang perempuan yang bukan mahramnya masih peka. Jadi kalau ada gerakan yang salah, Mulyani yang memegang dan memperbaiki gerakannya,” katanya.

Sejak tari Gagak Mandi lahir, Amaq makin populer di dalam hingga di luar kampungnya. Ia pun semakin percaya diri, sehingga lebih gigih mengasah bakat alamnya. Kemudian lahirlah karya-karya tari dan gending berikutnya, antara lain Kebyar Galian Lombok, Semar Geger, Kembang Jagung, Pidata, hingga Gending Nyondol dalam rentang tahun 1957-1990-an (sebelum reformasi).

Karya Semar Geger yang digarap selama tujuh hari tujuh malam (1958) merupakan gending ciptaan baru. Ia sebut juga sebagai gending reramputan (gado-gado) karena di dalamnya mencampurkan beberapa unsur gending Sasak, Bali dan Jawa. Pada bagian awal melukiskan susahnya hidup kelaparan-kedinginan, tapi karena ketabahan dan kesabaran, akhirnya mencapai kebahagiaan. Nama semar bukan berarti tokoh wayang Jawa, melainkan padanan kata sembarang (gending bisa masuk), sehingga membuat geger, atau gembira. Tapi ketika Amaq menirukan bunyi gamelan dan gending dengan mulutnya, matanya basah. la teringat hidupnya saat itu, sering tidak bisa makan tiga kali sehari, dan hal itu masih tetap dialaminya sampai sekarang.

Kembang Jagung idenya muncul sewaktu Bung Karno datang di Ampenan, kini kota Mataram. Saat itu, sekitar tahun 1958, Presiden RI pertama itu menghadiri acara bertema “Persahabatan lndonesia-Tiongkok”, dan Amaq Raya bersama kelompoknya mendapat kesempatan pentas. “Saya dengar suara piano mengiringi penyanyi,” ujarnya.

Maka, sepulang dari situ, Amaq Raya bersama para penabuh tidak tidur semalaman. Mereka menggarap gending pengiring tarian, sampai akhirnya menemukan gending yang cocok buat Kembang Jagung. Tarian muda-mudi itu diiringi gending tradisional dengan sisipan irama piano dalam interlude lagu.

Adapun tarian Pidata ia ciptakan sebagai tarian pengobatan. Menggambarkan permohonan umat kepada Allah SWT. Tidak hanya mendoakan diri (umat) sendiri tapi juga orang (umat) lain.

Seperti telah disebutkan di muka, bahwa Amaq selain mencipta juga suka mengubah tarian lama yang sudah ada (contoh tarian Tandak Geruk) dan merevitalisasi apa yang ada (tari Pakon yang dipentaskan di TMII, tahun 2000) dan Gending Segara Ayan (gending pusaka) saat Pentas Seniman Tua di Taman Budaya NTB beberapa tahun silam.

Tarian Tandak Geruk merupakan salah satu tarian tradisional NTB yang disukai Bung Karno karena tembang budaya, semangat dan nilai moral yang ada di dalamnya. Tahun 1977 ketika tarian ini digelar di Istora Senayan, Amaq memberi napas baru dengan mengubah geraknya yang semula tangan kosong, lalu membawa peralatan sehari-hari seperti cangkul, parang, jala, dan peralatan petani dan nelayan lain ke atas pentas. Waktu itu ia menjadi pemeteg, semacam penari pengantar, di tengah para geruk yang dimainkan para orang tua.

Amaq Raya tidak lulus sekolah dasar, bahkan telah lama menderita buta aksara. Akan tetapi semangat hidupnya yang berguru kepada alam membuat dia memiliki kecerdasan perasaan yang tinggi, seperti dimiliki oleh maestro-maestro tradisi lainnya. Tentu saja sebagai seniman otodidak yang berguru kepada alam, tidak sendiri. Jauh sebelum dia, semasa dia dan sesudah dia sekarang ini, di negeri ini gudangnya seniman otodidak. Dan, dalam berkarya, satu yang menjadi pegangan utama Amaq Raya selama ini adalah rasa.

Jadi, tepat apa yang pernah dilontarkan Lalu Makbul Said—pemerhati seni tari dan tabuh Lombok—atas karya Amaq yang dikutip Kompas. Bahwa, karya tari Amaq merupakan perpaduan wiraga (gerak raga) dan wirasa (gerak jiwa), yang tidak semua penari mampu menangkapnya. “Wiraga-nya bisa ditiru, tetapi wirasa-nya belum tentu. Padahal wiraga dan wirasa adalah energi sebuah tarian,” komentarnya. Bahkan IN Argawe, filolog di  Museum Negeri NTB, menguatkan bahwa, “Amaq Raya mungkin satu-satunya yang menguasai roh tari gandrung Lombok.”

Amaq bergabung dengan kelompok yang dipimpin Rahil (amlarhum), main dalam paket-paket wisata pesanan travel-travel biro di hotel-hotel berbintang. Tentu saja untuk menambah penghasilannya sebagai buruh di Lenek. Rahil, yang juga dikenal sebagai seniman terkemuka di zamannya, ikut membantu Amaq dalam menuliskan lirik tembang (pepaosan) Pemban Selaparang (1970). Tembang ini mengisahkan suka cita Kerajaan Selaparang yang pernah berjaya di Lombok Timur tempo dulu. Sampai sekarang, tembang tersebut sangat akrab di telinga masyarakat Lombok, dan sering disenandungkan sambil menari oleh para penabuh Gamelan Beleq. Celakanya, dalam Ensiklopedi Musik dan Tari NTB tembang Pemban Selaparan disebut ciptaan NN alian no name.

Begini syairnya:  

Rahayu ing kawula da. lnggih pemban Selaparang.
Purwasila dana dharma. lnggih pemban Selaparang. Rahayu ing
adat gama. lnggih pemban Selaparang. Purwa Urip makmur ia.

(Rakyat hidup tenteram dan damai. ltulah Kerajaan Selaparang.
Adanya kemakmuran dan aturan. ltulah Kerajaan Selaparang.
Hidup selamat adat dan agama. ltulah Kerajaan Selaparang.
Kehidupan yang makmur sentosa). 

“Selain kapada anak cucu, saya ingin mewariskan semua ini kepada anak-anak dan generasi muda, penerus bangsa,” ujarnya seraya berharap sekolah di dekat rumahnya mau merekrut dirinya kembali untuk mengajarkan tari dan gending ciptaannya. (Tim ATL/YSH)