COPPONG DAENG RANNU Menari dari Istana Raja Goa hingga ke Amerika

May 18, 2026

Maestro Coppong Daeng Ranu 3b

Setia menari sejak zaman Belanda, Jepang, Kemerdekaan, hingga kini. Meski secara materi tidak menjanjikan kemakmuran.


ALAU kamu tidak belajar menari dan menjadi penari, maka tidak ada lagi penerus di keluarga kita yang akan jadi penari.” Begitulah nasihat sang ibu yang kemudian menggugah hatinya berlatih menari pada masa anak-anak.

Tidak hanya ibu, ayahnyapun memberikan dorongan dan restu. Sehingga Mak Coppong, demikian biasa dipanggil, pada usia 10 tahun telah memutuskan menjadi generasi penerus dalam keluarga untuk menekuni tari terutama Salonreng dan Pakarena. Bahkan ketika sudah menikah, suaminya juga mendukung. Sehingga dalam perjalanan hidup sebagai penari dan pelatih tari, kendati awalnya sekedar menuruti kata ibu, tapi kemudian menari adalah panggilan jiwa. Sedangkan mengajar menari adalah tanggungjawab melestarikan tradisi.

Pakarena adalah tarian khas Makassar kuno yang dulu kerap dipersembahkan di istana dalam acara resmi. Adapun Salonreng juga merupakan tarian Makassar kuno yang sarat nuansa ritual, dan hanya ditarikan pada acara tertentu, semisal upacara mengusir tolak bala. Berbeda dengan Pakarena yang bisa dibawakan lebih dari tiga orang, tarian Salonreng hanya dibawakan satu orang. Saat ini boleh dikata hanya Mak Coppong seoranglah Pa’ Salonreng (pemain Salonreng) yang bisa menarikan Salonreng sesuai pakem asli.

Menjadi penari Makasar kuno bukanlah hat yang mudah. Selain ia harus menghafalkan dan menjiwai beberapa jenis tarian tradisional ia pun harus melalui beberapa ritual tertentu dan ditasbihkan oleh gurunya. Setelah melewati semua itu barulah seorang penari pakarena dapat diizinkan tampil di depan umum. Begitulah yang dilalui Mak Coppong, yang menguasi lebih dari 10 tari atau Pakarena antara lain, yolle, jangang lea-lea, dan maqbiring kassiq. Dahulu rombongan Mak Coppong jika ditanggap untuk menari maka seluruh jenis Pakarena ditarikannya dan berakhir menjelang subuh hari, artinya ia menari semalam suntuk. Bahkan tidak hanya semalam bisa sampai tiga malam selama hajatan berlangsung. Seiring perkembangan zaman, dan usia, sekarang tidak demikian lagi, disesuaikan kebutuhan.

Mak Coppong menari pertama kali didepan umum, di Balla Lompoa, lstana Raja Goa. Hal itu menjadi kenangan indah sampai sekarang. Terkadang bertumpang tindih dengan kenangan buruk. Khususnya, ketika menjadi penari istana, hari-harinya banyak dilalui dengan cemoohan tetangga. Ci bi ran seperti “orang bodoh “, “perempuan tak tahu malu “, “perempuan tak terhormat”, dan beragam kata-kata lain yang membuat kuping merah, harus dia terima hampir setiap hari. Namun, dia tak peduli. “Habis, yang mengundang itu petinggi istana,” ucapnya. Apalagi, kesenangan dan pilihan hidup itu mendapat dukungan sang suami, Daeng Serang (alm). Dengan keteguhannya terus menari, akhirnya memberi bukti bahwa menari bukan pekerjaan hina. Lambat laun Mak Coppong mampu membungkam mulut orang-orang desa. Terlebih saat dia melebarkan sayap dengan menari di pentas-pentas bergengsi di banyak tempat hingga ke luar negeri, dan mendapat penghargaan, semua lalu berbalik memuji. Bahkan, banyak orang yang tiba-tiba mengakuinya sebagai keluarga.

Sekarang ini usia Mak Coppong, menurut KTP, 83 tahun. Benarkah demikian, orang-orang menganggap lebih tua dari itu. Coppong Daeng Rannu, demikian nama lengkapnya, lahir di kampung Pallangga Kabupaten Gowa. la diajari menari oleh seorang anrong pakarena (guru tari) yang masih keluarga dekatnya sendiri. la menari dalam upacara adat/ tradisional, seperti upacara perkawinan kalangan bangsawan, khitanan, atau upacara daur hidup lainnya. Pada saat remaja, dia dikawinkan oleh orang tuanya dengan Manyerang Daeng Serang yang kini telah almarhum. Dari perkawinannya itu ia dikaruniahi anak 3 orang, yakni Ibrahim, Hadina, dan Kaharuddin (semuanya sudah berkeluarga), yang memberinya 11 cucu.

Sekalipun ia telah memilik anak dan cucu Mak Coppong tidak pernah meninggalkan dunia tarian kuno tersebut dan terus berpentas di mana-mana dalam wilayah Kerajaan/ Kabupaten Gowa, bahkan ia diundang sampai di luar daerah. Ketika pemerintah dan orang luar (selain suku Makassar) sudah mengenal Pakarena, Mak Coppong dan kawan-kawannyapun banyak diundang keluar dalam berbagai event festival dan berbagai acara seremonial antara lain di Makassar, Jakarta, Solo, Yogyakarta. Selain itu ia telah keliling dunia – Singapura, Australia, Eropa, hingga Amerika Serikat — dalam Projek Pertunjukan La Galigo (2002-2006) yang disutradarai oleh Robert Wilson. Untuk pengabdiannya tersebut Mak Coppong pun sudah mendapat sejumlah penghargaan dari pemerintah antara lain Anugerah Seni dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan (2000), dan Penghargaan dari Menteri Pariwisata Seni dan Budaya RI (1999).

Dalam usianya yang semakin renta sekarang ini, Mak Coppong masih tetap menari, meski tidak lagi bersama teman-teman seusianya karena sudah banyak temannya yang meninggal dunia dan yang masih hidup tidak mau lagi menari. Sehingga ia sering tampil menari bersama anak, kemanakan, dan cucu-cucunya. llmu dan keterampilan tarinya, sudah ia wariskan kepada cucu-cucunya Lela, Jum, Kasma, Rabiati, dan beberapa orang lainnya. Dan proses pewarisan tersebut kini sudah “berbuah”. Bagaimana tidak, Lela, kini sudah bisa mandiri dan membentuk kelompok tari sendiri dan membina beberapa penari baru lainnya.

“Pakarena tidak akan mati,” begitu kira·kira bisik hati Mak Coppong, meski suatu saat ia berkalang tanah. Sebab Coppong-coppong muda telah ia semai dan bermekaran di bu mi Sulawesi Sela tan. Tapi ia belum mau berhenti memekarkan bunga-bunga Pakarena. Dirumahnya yang sederhana, ia terus melatih cucu-cucunya yang lain. Juga melatih anak·anak dilingkungan sekitarnya, bahkan para pelajar dan mahasiswa serta beberapa sanggar seni dari Gowa, Takalar dan Makassar yang ingin mewarisi Pakarena. Karena belum punya peralatan gamelan sendiri, kalau kelompok Pakarena Coppong mendapat tanggapan pentas, ia memanggil pemain gendang atau meminjam alat instrumen dari orang lain.

Mak Coppong sepanjang hidupnya telah menunjukkan kesetiaan hidup sebagai penari tradisi, sejak zaman Belanda, Jepang, kemerdekaan hingga reformasi. Meski secara materi pekerjaan itu tak menjanjikan kemakmuran, bahkan pada mulanya harus dilewatinya dengan banyak olokan dan cemoohan dari lingkungannya sendiri. Kini, hidupnya bergantung pada undangan pentas, di samping dua-tiga petak sawah ladang. la pantang menyusahkan anak apalagi orang lain. (Tim ATL/SB)