PERKAMPUNGAN SUKU SASAK: Melihat Tradisi Berenang di Arus Modernisasi

June 17, 2026

Ibuanakanakdudukdianaktanggadidepanpinturumah.

Ibu dan anak-anak duduk-duduk di ‘anak tangga’ di depan pintu rumah.

“Kalau mau tetap tinggal di sini, buatlah rumah seperti model dan bahan bangunan yang sudah ada. Kalau ingin membangun rumah permanen seperti rumah-rumah di kampung-kampung lain pada umumnya, silakan keluar dari kampung ini.”

EGITULAH pesan yang disampaikan secara turun-temurun oleh tetua adat suku Sasak yang tinggal di wilayah Dusun Limbungan. Pesan itu juga yang diterima oleh Suparman, salah satu warga Sasak Limbungan, ketika ia berkeluarga dan berniat membangun rumah sendiri yang terpisah dari orangtuanya. Sudah menjadi tradisi mereka, begitu menikah, maka sang anak harus segera keluar dari rumah “induk” dan mendirikan rumah baru.

“Biasanya, tak lama setelah menikah langsung pindah rumah. Kalau belum mampu bangun rumah sendiri, warga akan membantu secara bergotong royong. Di sini tak ada keluarga baru yang tinggal bersama orangtuanya hingga lebih dua tahun,” kata Suparman.

Perkampungan tradisional orang-orang Sasak ini berada di kawasan kaki Gunung Rinjani, yang secara administratif masuk wilayah Desa Perigi, Kecamatan Suwela, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Karena mulai banyak generasi baru yang membangun rumah di luar “arsitektur” khas adat setempat, permukiman mereka kini ada di tiga lokasi berdekatan. Kawasan rumah adat menempati dua gugus: Limbungan Timur (100 rumah) dan Limbungan Barat (90 rumah), yang dipisahkan oleh jalan beraspal. Adapun tempat warga dari generasi baru yang “memberontak” dengan mendirikan rumah semi permanen berada di sebelah selatan. Kedua hunian itu dibatasi tanaman hidup dan pagar bambu yang dianyam kasar, yang mereka sebut kampu.

Tatanan adat istiadat dan ikatan sosial kekerabatan yang berlaku di dusun itu masih begitu kuat. Semua aktivitas yang bersifat komunal dikoordinasi oleh pemangku adat. Sifat gotong royong dalam berbagai hal masih tinggi; mulai dari mengerjakan tanah garapan, membangun atau merehabilitasi rumah, hingga menyangkut pesta perkawinan.

Ikatan sosial itu masih melekat pada generasi mudanya. Meski secara fisik terjadi semacam pemberontakan terhadap tradisi pembuatan rumah, secara sosial sesungguhnya tak ada masalah. M Yani (30), misalnya, meski tidak lagi tinggal dan berumah di dalam kampu, dia selalu dilibatkan tiap kali ada kegiatan di dusun itu.

“Saya buat rumah di luar kampu lebih karena saya ingin hidup lebih sehat,” ujar Yani.

Apa yang dikemukakan Yani memang tidak berlebihan. Sebagai lulusan SMA, ia tahu persis bahwa hidup di rumah- rumah adat yang sempit dan tak berjendela itu jauh dari menyenangkan.

Sikap serupa juga dianut oleh Suparman, yang kini dipercaya warga sebagai Kepala Dusun Limbungan. Selain itu, Suparman juga punya pertimbangan lain. “Saya juga khawatir jangan sampai ibu saya ngomong biasa, misalnya, lalu didengar dan salah dimengerti oleh istri saya, lalu membuat hubungan kami dengan orangtua jadi keruh,” ucap Suparman yang juga memilih tinggal di luar kampu.

***

Suasana perkampungan Desa Limbungan di kaki Gunung Rinjani

 

SEBETULNYA, bukan tidak ada upaya dari kalangan generasi muda suku Sasak Limbungan untuk menyesuaikan “arsitektur” rumah adat mereka sehingga lebih nyaman ditempati. Namun, seperti diakui oleh Yani, kalangan tua tetap bersikukuh dengan adat yang telah memayungi orang-orang Sasak dari generasi ke generasi mereka selama ratusan tahun.

“Pokoknya pamali, begitu alasan mereka kalau ditanya mengapa tak boleh membangun rumah berjendela, misalnya,” kata Yani.

Di luar itu juga ada pertimbangan-pertimbangan yang bersifat irasional lantaran ada sejumlah peristiwa nyata yang sulit dicerna akal sehat. Sekadar contoh, kata Yani, tahun 1988 pernah ada yang membuat berugak (semacam lumbung yang dibangun di depan rumah untuk menyimpan hasil pertanian) berkonstruksi semi permanen di wilayah perkampungan adat. Saat itu cuaca di dusun itu amat panas, sementara warga sudah tiba waktunya untuk mengerjakan lahan garapan. Menurut pemangku adat, hujan terhambat turun karena ada bangunan semi permanen di lingkungan adat. Lalu, oleh warga, berugak itu pun ramai-ramai digotong keluar kampu. Anehnya, tak lama berselang Limbungan diguyur hujan.

Begitu pun saat proses pengerjaan saluran air oleh Pemerintah Kabupaten Lombok Timur. Ketika itu pekerjanya menggunakan batu-batu alam yang ada di seputar kampu. Akibatnya, sang pemangku adat sakit perut, dan dia sembuh setelah batu itu tidak digunakan untuk bahan membangun saluran air.

***

Perkampungan suku Sasak di Sade yang sudah jadi tujuan wisata.

 

BAGI orang luar, benar-tidaknya cerita itu bukanlah hal penting. Yang jelas, warga dusun yang umumnya petani di lahan-lahan marjinal itu tampak begitu akrab dengan kemiskinan dan kekumuhan. Mata pencaharian utama mereka adalah menanam padi, jagung, dan palawija di sawah dan kebun, dengan penghasilan tak selalu mencukupi.

“Saat ini ada 30 orang warga kami jadi TKI ‘gelap’ di Malaysia, empat di antaranya pulang kampung setelah tiga-empat bulan berada di sana,” ucap Suparman. “Bagaimana tidak ke Malaysia, pendapatan penduduk rata-rata Rp 5.000 sehari, habis buat makan hari itu juga,” tambahnya.

Bisa dimaklumi bila mereka hidup prihatin, yang antara lain tercermin dari kondisi permukiman mereka. Rumah-rumah mereka berdinding bambu yang dianyam, berlantai tanah, beratap alang-alang, dengan rangka konstruksi campuran kayu dan bambu.

Di bagian depan terdapat pintu berikut beranda, lalu ada tangga dari tanah (tiga anak tangga) ke ruang (rong) di mana terdapat tungku, tempat tidur, ruang khusus bila perempuan akan melahirkan atau mayat seseorang disemayamkan sebelum dikebumikan. Di ruang itu terdapat juga sempare (tempat menyimpan makanan, peralatan rumah tangga) terbuat dari bambu, berukuran 2 x 2 meter, berbentuk empat persegi atau bisa empat persegi panjang.

Ruangan ini disebut inan bale (induk rumah). Suasana di dalam rumah itu gelap karena tanpa dilengkapi jendela. Di siang hari pun sinar matahari sulit menerobos, terhalang atap dari lapisan tebal ilalang yang menukik hingga ke bawah. Lantai rumah mereka terbuat dari campuran tanah, getah pohon kayu banten dan bajur (istilah lokal), dicampur batu bara yang ada dalam batu bateri, abu jerami yang dibakar, kemudian diolesi dengan kotoran sapi di bagian permukaan lantai. Dalam ruang yang sempit itulah seluruh aktivitas keluarga berlangsung.

Arsitektur rumah warga Dusun Limbungan ini mirip arsitektur rumah warga Sasak di Dusun Segenter, Desa Sukadana, Kecamatan Bayan, Lombok Barat, maupun perumahan warga Dusun Sade, Desa Rambitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah. Hanya rong dalam rumah di Dusun Segenter lekat tradisi wetu telu-nya. Misalnya, di inan bale, kecuali menyimpan beras dalam gentong (mereka sebut temberasan atau kemeras), barang berharga lainnya, juga tempat menyimpan nenoq (sesaji bagi arwah leluhur dan roh penghuni rumah), dan pada saat tertentu dijadikan tempat pemujaan/meditasi keluarga.

***

SELAIN tempat berlindung, bagi orang Sasak rumah juga antara lain punya makna spiritual, representasi tatanan hidup kemasyarakatan. Di luar itu, rumah juga wujud hubungan harmoni antara Tuhan dan manusia, antara sesama manusia dan manusia dengan jagat raya.

“Hubungan itu—dalam perspektif Islam—disimbolkan pada konstruksi rumah. Anak tangga sebanyak tiga buah, pada rumah tradisional Dusun Limbungan, mungkin simbolisasi daur hidup manusia: lahir, hidup, dan mati, gambaran keluarga batih (ayah, ibu, anak), iman, Islam, ihsan, dan luas rumah (5 x 6 meter), simbol rukun Islam dan iman,” kata M Yamin, pemerhati budaya Sasak.

Pintu masuk ke rumah-rumah adat sempit dan rendah. Bila tamu mau bertandang, ia harus membungkuk. Ini secara tidak langsung dimaknai bahwa begitulah seharusnya sikap seorang tamu; membungkuk sebagai penghormatan kepada tuan rumah.

Berugak yang ada di depan rumah, di samping untuk ruang keluarga dan menerima tamu, juga menjadi alat kontrol bagi warga sekitar. “Misalnya, kalau sampai pukul sembilan pagi belum ada isi rumah itu yang duduk di berugak dan tidak keluar rumah untuk bekerja di sawah, ladang, dan kebun, mungkin dia sakit,” tutur Amak Yani, warga Limbungan Timur.

Namun, lepas dari itu semua, keberadaan permukiman tradisional itu umumnya terkesan sebagai etalase kemiskinan, kebodohan, dan kekumuhan. Kenyataan itu berjalan sejajar dengan kesuburan nilai, gagasan, dan konsep budaya nonfisik yang masih berakar kuat dalam kehidupan masyarakat pendukungnya. Budaya yang bersifat nonfisik itu dalam kenyataannya cukup elastis dan sangat boleh jadi mengandung kebenaran universal.

Di tengah berkembangnya budaya global sebagai dampak kemajuan teknologi komunikasi dan informasi, nilai-nilai budaya etnis itu sangat diperlukan guna memperkokoh jati diri bangsa. Menjadi negara maju dan modern, tanpa kehilangan identitas, selayaknya terpatri dalam sanubari kita semua. Akan tetapi, itu tidak berarti demi menjaga eksotisme sebuah peradaban—sehingga dari sudut pandang ekonomi bisa dijual—ia kita lestarikan sebagaimana adanya. Sebab, tradisi pun perlu penyesuaian-penyesuaian ke arah kehidupan yang lebih baik…. (RUL/KN)