Sakeco, Bertahan dari Kepunahan

June 16, 2026

FOTO SAKECO

Namanya Sakeco, seni tutur yang populer bagi masyarakat di Kabupaten Sumbawa dan Kabupaten Sumbawa Barat/KSB, Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Seni tutur ini berupa cerita yang disampaikan lewat ucapan dan nyanyian (lawas). Pemainnya dua orang: laki-laki dewasa—meski belakangan melibatkan anak-anak dan remaja laki-laki dan perempuan.

 

LAT musik yang digunakan kombinasi vokal dengan permainan rebana macam yang dipakai pemain grup qasidah. Seperti yang ditampilkan beberapa waktu lalu oleh pemain Sakeco cilik bernama  Fira (13),  siswi kelas I SMP Negeri Taliwang;  dan Ahmad Al Qatir (12), siswa kelas VI SD Negeri Telaga Baru, Taliwang, di pusat pemerintahan KSB. Tangan-tangan para pemain lincah memukul membran rebana dengan jemari tangan kanan, sedang jemari tangan kiri menggapit tambur tradisional itu.

Mereka belawas, bernyanyi-bersahutan, kompak, seraya menampar membran rebana dengan irama (temung) dinamis, menghibur dan memukau penonton. Saat berkisah, irama rebana ditabuh lamban-pelan, lalu berubah keras-cepat tatkala satu bait cerita selesai didendangkan. Begitu seterusnya. Sakeco yang mirip mirip kesenian Madihin di Kalimatan Selatan ini dipentaskan siang atau malam hari saat acara hajatan pernikahan, khitanan, atau ada warga yang bayar kaul.

Ada tahapan pementasannya. Biasanya diawali lawas pembuka (samula), yaitu penutur menyampikan ucapan terima kasih dan minta kepada penonton yang memiliki ‘ilmu tertentu’ tidak mengganggu.  “Umur tu setahun jagung, darah tu setumpuk pinang, ado dulang tare baso tunung, balong sanenge nas dunung (usia kami baru setahun umur jagung, darah kami baru sebesar buah pinang, tolong dengarkan dengan seksama)”, begitu kira-kira isi lawas pembuka yang dilantunkan Fira dan Ahmad.

Kemudian ada lawas ikhtisar cerita berisi nasihat, introspeksi, nilai kearifan lokal, norma adat dan agama, tragedi gempa, banjir, kasus pembunuhan dan realitas sosial yang mengundang perhatian publik. Penutup cerita adalah apa yang disebut racik (humor/cerita jenaka) dan biasanya diselipkan sebelum ending pertunjukan. Lewat tuturan lawas itu pemain seolah berperan sebagai saksi mata di tempat kejadian.

“Seniman Sakeco ini ibarat wartawan yang menyampaikan berita kepada pemirsa dan pendengar,” ujar Ari Burhan, warga Desa Taliwang.

Sumber kisah? Bisa dari mana saja. Misalnya, pada hari Minggu, 3 September 2003—lebih dari 20 tahun silam—Taliwang dilanda banjir akibat meluapnya air Sungai Brang Rea. Lalu, oleh Abu Bakar—seniman Sakeco senior di Sumbawa Barat—peristiwa yang relatif jarang terjadi tersebut ia tuangkan dalam tulisan tangan. Kisah yang kemudian diberinya judul “Balada Banjir Taliwang” itu kemudian kerap ia tampilkan dalam pertunjukan Sakeco bersama teman duetnya, Adam, sesama warga Kampung Menala RT 1, RW 7, Taliwang.

Tuate kaling samula, datang barat bulan balu, dua batan dua ngana, ujan batangku ke mengas gado mo sarēa tau-tau—bermula di bulan delapan, dua malam dua hari hujan turun sambung-menyambung, yang bikin orang ribut.” Selanjutnya, “ada kembo jaran bawa lako bega tingi tenris ke sampi suaē, ka taket bawa ling ai—terus ada kerbau dan kuda yang dibawa ke dataran tinggi, sapi takut hanyut dibawa air.”

Ai man sala-sala muntuk tingi ampo salewat korak nyir loka. Ado no mongka tu sangka ai ba datang. Ngaruntung datang kales otak benrang. Ai rango lewat batas siong masi turit benrang.” (“Permukaan air naik setinggi batang pohon kelapa. Tidak disangka air bah datang. Suara air bergemuruh datang dari hulu. Bukan saja mengalir lewat sungai, juga menerjang saluran irigasi sawah.”)

Akibat banjir itu sarana dan prasarana luluh-lantak serta korban nyawa manusia.“Hato diri nakarimuk ai jangka anok sangkok—air berputar-putar di tempat setinggi dagu (orang dewasa), bekelēk nonda tu nyamung—ada (orang) yang memanggil-manggil, tetapi tidak ada jawaban, tenris mo lalo badange ke sampē pong bao bara—langsung berenang dan tubuhnya nyangkut di pohon ara,  kira lengka lima menit tenris mo lalo ka milir—sekitar lima menit kemudian dia (orang itu) hanyut tergerus air ke hilir.”

Ini konsekuensi manusia yang abai mengeksploitasi alam, sehingga Semesta  mengingatkan lewat bencana alam. Karena itu, Ahmad dalam lawas-nya mengingatkan, “Masi angan duana, pasa tota papin aji, suru to sabar tawakkal, ola boat kē sembayang lima kali nuntung anaē, dzikir dia kemangku—Masih teringat di masa lalu dari nasehat para tetua, bersabar dan tawakkal, dengan cara mengerjakan sholat lima waktu sehari, dan mengakui kesalahan di hadapan Allah.”

***

BELUM diketahui asal-usul kesenian ini. Satu hal yang diingat Abu Bakar bahwa ayahnya sekaligus gurunya adalah seniman Sakeco. Sakeco konon diambil dari nama pelantun yang dipercaya pertama kali menampilkan seni tradisi ini: Sakaria dan Samsudin. Dalam masyarakat Sumbawa Barat, seseorang memiliki panggilan akrab: Sakaria dipanggil Saka, dan Samsudin menjadi Co. Nama pendek dua nama ini disingkat menjadi ‘Sakeco’, kemudian disematkan sebagai nama kesenian ini sampai sekarang.

Seiring berjalannya waktu, pemain Sakeco melibatkan muda-mudi dan remaja semacam Fira-Ahmad. Perubahan ‘pakem’ personil terjadi sekitar 20 tahun silam. Penyebabnya tak lain karena pengidung senior yang sudah lanjut usia tak mampu lagi menularkan keterampilannya kepada generasi muda. Demi menaik minat generasi muda belajar seni tradisi ini, sejak kitu saban tahun Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat berinsiatif menggelar Festival Sakeco. Pesertanya siswa PAUD dan SD, laki-laki dan perempuan. Hasilnya bermunculan grup Sakeco hampir di semua SD.

Biasanya pemain Sakeco memiliki suara sopran, kompak, intonasinya bagus dalam pengucapan dialek lokal.  Kekompakan itu diasah lewat latihan vocal dan teknik pukul. Fira-Ahmad, misalnya, melatih teknik pukul dengan menggunakan piring seng dan ember plastik. Bahkan, Ahmad  yang suka usil main pukul meja di kelas saat jam istirahat, meski ulahnya yang bikin gaduh itu sering kena damprat gurunya. Duet Fira-Ahmad sering diundang tampil dalam berbagai acara hajatan. Sama halnya Abu Bakar-Adam yang bisa tampil empat kali sebulan, dengan bayaran sekali tampil Rp 300.000-Rp 600.000. Itu sekitar 20 tahun lalu, sekarang tentu menyesuaikan dengan perjalanan waktu.

Materi cerita seni Sakeco umumnya didapat dari informasi: televisi, radio dan amatan kehidupan lingkungan sosial.   “Atau ada tamu datang ke rumah, bercerita persoalan yang terjadi di kampungnya,” tutur Abu Bakar. Bahkan tak jarang Abu Bakar diundang warga desa lain ke tempat peristiwa, lalu hasil amatannya dijahit sebagai lawas syair, yang nantinya dikisahkan dalam pementasan.

Misalnya kisah nyata yang sempat menggegerkan publik Kabupaten Sumbawa Barat. “Ada tuka dapet jangi, kamatē sodara Anto, kena dalam petang senan, tanggal lima ado bulan Juni 2016, kapokok sanak sawai, basingan siti Nuraini, Tamarin ya bacok Anto karena Anto memperkosa ariknya Tamarin bernama Siti Nuraini—Ada yang bernasib malang, Anto meninggal malam Senin, 5 Juni 2016. Tamarin membacok Anto yang memperkosa adiknya Tamarin, Siti Nuraini.”

Soal proses pemain Sakeco dapat bakal bahan cerita itu urusan lain. Yang jelas awak Sakeco bertransformasi melibatkan lintas generasi: dari pemain dewasa dan senior ke bocah-bocah selaku pelapis. Ini justru menambah basis dan segmen penggemar. Kalau fakta-fakta itu benar dan dapat terus menular dari generasi ke generasi, yakinlah, seni tradisi lisan Sakeco tetap eksis, tak punah di tengah gempuran kesenian modern. (Khaerul Anwar)