encari di mana keberadaan seniman tradisi seperti Sawir Sutan Mudo ternyata susah-susah gampang. Pada hari pertama kedatangan kami di Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, hingga tengah malam tak ada jejak yang ia tinggalkan agar bisa diikuti ke mana ia pergi mangkal atau di mana tampil dalam pentas bagurau.
Sederet informasi tentang keberadaan Sawir bagai menguap saat lokasi-lokasi yang ditunjukkan itu didatangi.
Baru pada hari kedua keberuntungan itu datang, sesaat sebelum kami berniat meninggalkan Bukittinggi menuju Padang Panjang. “Kita coba mampir dulu ke sebuah rumah makan di Pasar Bawah. Menurut kabar terakhir, belakangan ini dia sering tidur di sana,” kata Hanefi, Ketua Jurusan Seni Karawitan pada Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Padang Panjang. Hanefi bagai tak kenal lelah menemani tim dari Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) yang tengah melakukan semacam ‘kunjungan budaya’ ke sejumlah pewaris dan penjaga seni tradisi di tanah Minang, Sumatera Barat.
Dugaan Hanefi benar. Setelah menuruni deretan anak tangga yang cukup banyak (ada sekitar 100 anak tangga) dari Pasar Atas Bukittinggi, sehabis melewati antrean dokar dengan kuda-kuda yang kelihatan jarang dimandikan, Jufri- juga dari STSI Padang Panjang yang tiba lebih dahulu di Pasar Bawah dengan mengendarai mobil, mengabarkan lewat telepon seluler bahwa Sawir memang ada di rumah makan itu. “Mak Sawir tadi malam tidur di atas meja makan ini,” kata sang pemilik rumah makan ketika kami tiba di sana.
Sejak beberapa bulan terakhir (kami berjumpa pada pertengahan Juli 2007) seniman tradisi dari kawasan Danau Maninjau ini sudah jarang pulang ke rumahnya di Kampung Tengah Sawah, Bukittinggi. Malam-malam sehabis tampil bagurau (begitulah masyarakat minang menyebut jenis pertunjukan Mak Sawir dengan lantunan dendang yang diiringi tiupan saluang) memenuhi panggilan orang yang menggelar hajatan (baralek ataupun batagak), menjelang subuh ia mengetuk pintu rumah makan dan langsung tidur menggeletak di sana.
Meja makan yang pada siang hingga menjelang tengah malam biasanya dipaka1 untuk tempat hidangan, dimanfaatkan oleh Sawir sebagai tempat merebahkan diri melepas lelah. Pagi sebelum pelanggan pertama rumah makan itu berdatangan, biasanya Sawir sudah menghilang. Beruntung, pagi itu ia masih ada di sana. Pakaiannya sudah rapi, sudah bersiap untuk pergi entah ke mana, meski terlihat wajahnya yang lelah tak bisa menyembunyikan kantuknya.
“Saya pesan kopi pahit saja,” kata Sawir saat ditawari sarapan pagi. “Ada masalah rumah tangga,” ujarnya pendek ketika disinggung mengapa ia tidak pulang ke tempat istri (Syakni Deliyarti, 52) yang ia nikahi tahun 1972 bersama anak mereka (Syafrial, Syarfil, Kurniawati, si kembar Rina Rahmadani dan Rini Ramadani, Fatimah Zahara, Fajori Rachman) di Kampung Tengah Sawah, Bukittingi.
Berguru pada kehidupan
Sawir Sutan Mudo atau biasa dipanggil Mak Sawir dilahirkan tahun 1942 di Nagari Kota Kaciak, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Tak lama setelah kelahirannya, bungsu dari empat bersaudara ini sudah ditinggal pergi oleh ibunya, Siti Saleha. Pada usia enam tahun, ayahnya, M Isa, juga berpulang. Hidup tanpa kedua orangtua sejak kecil membuat Sawir lebih cepat mandiri. Bahkan pada usia 13 tahun ia sudah merantau ke Palembang dan Lubuk Linggau di Sumatera Selatan.
Di samping berjualan pakaian di kaki lima, selama di perantauan itu Sawir terus memperdalam kemampuannya mendendangkan lagu-lagu Minang yang sebelumnya sudah ia pelajari saat di kampung. Berkat kemampuannya berdendang dengam iringan saluang, juga lantaran kebisaannya bermain randai, ia pun kerap diundang untukmengisi acara pesta perkawinan dan atau pertemuan orang-orang Minang di perantauan.
Alhasil, bagi Sawir yang cuma bisa mengenyam pendidikan formal hingga kelas IV sekolah rakyat (SR), masa-masa di perantauan itu bukan saja bagian dari ‘aktivitas pendidikan’ informal untuk menempa kematangan diri dalam mengarungi hidup, tetapi juga sebagai medium tempat mengasah kemampuan memperdalam seni tradisi leluhur.
Kehidupan sehari-harinya yang sulit memberi ia banyak pengalaman sekaligus sumber inspirasinya dalam menggarap dendang-dendang saluang.
Tahun 1968 ia pulang kampung. “Balek ke tanah nagari, kawin (Sawir dua kali menikah; tahun 1968 dan 1972) sekaligus mau mengembangkan seni budaya tradisi di kampung halaman,” ujarnya.
Kegiatan berdagang di rantau dengan modal pas-pasan itu tidak ia tinggalkan, bahkan tetap ia lakoni hingga sek
arang. Bedanya, kalau selama di Palembang dan Lubuk Linggau Sawir mangkal di satu tempat untuk menawarkan barang dagangannya, sejak pulang ke kampung halamannya di tepian Danau Maninjau ia harus bergerak dari satu pekan (pasar di kampung-kampung yang dilangsungkan sekali dalam seminggu) ke pekan lain. Begitupun setelah ia memutuskan pindah ke Bukittinggi tahun 1970-an, berdagang di kaki lima lalu sesekali pergi ke pekan-pekan tetap merupakan pekerjaan pokoknya. Pakaian-pakaian bekas alias ‘barang seken’ (second) jadi dagangan utamanya.
Di luar kegiatan rutin tersebut, Sawir terus memperdalam kemampuan berdendang saluang. Tentu saja secara otodidak. Pengalaman adalah sekolah terbaiknya, dan alam kehidupanlah tempat ia berguru. “Alam takambang jadi guru,” kata para cerdik cendekia Minang. Begitu pula jalan hidup Mak Sawir dalam berkesenian.
Berdendang itu harus mengetahui apa peristiwa-peristiwa yang terjadi di kehidupan sehari-hari. ltu semua bahan untuk berdendang, untuk menciptakan pantun yang segar tapi berisi. Kalau membuat sampiran gampang, semua ada di sekitar kita. lsinya yang sulit. Berpantun itu kan penuh dengan ibarat, penuh nasihat. Karena itu pula berdendang saluang itu lebih sulit daripada memainkan musiknya,” tutur Sawir.
Sejak awal 1970-an, setelah ia bermukim di Bukittinggi, nama Sawir Sutan Mudo mulai dikenal banyak orang. Bukan saja permintaan tampil bagurau datang dari banyak orang yang menyelenggarakan hajatan, perusahaan rekaman pun mulai melihat ada nilai jual dari lantunan suara Mak Sawir. Sejak pertama kali rekaman dalam bentuk kaset dan piringan hitam tahun 1972, menurut Sawir, sudah lebih dari 50 album berisi rekaman suaranya yang lahir menggunakan nama Sawir Sutan Mudo sebagai gambar sampul kaset. Bahkan ia pun kini diminta rekaman dalam bentuk VCD karaoke.
Nama Sawir Sutan Mudo kian menjulang. la tak hanya dikenal luas di tanah Minang, tetapi juga di kalangan para perantau Minang di berbagai kota di Tanah Air. Sesekali ia diundang hadir di kota tertentu untuk memuaskan rindu para perantau pada kampung halamannya. Setiap Senin malam, Sawir juga mengisi acara khusus dendang saluang di RRI Bukittingi. Pada tahun 1999, bersama kelompok musik Talago Buni pimpinan Eddy Utama, Mak Sawir ikut berpentas di tujuh kota di Jerman pada Festival Musim Panas di sana.
Kayakah dia? Tidak! Seperti nasib kebanyakan seniman tradisi di Tanah Air, hidup Sawir pun jauh dari mencukupi. Dari hasil rekaman suaranya, Sawir hanya mampu membangun rumah sederhana untuk anak dan istrinya di Kampung Tengah Sawah, Bukittinggi. Kalaupun ada lebih, pendapatan itu ia gunakan untuk menambal modal usahanya yang kerap “bocor” lantaran uang hasil dagang di kaki Lima sering terpakai untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Malah di saat rumah tangganya bermasalah, Sawir harus hidup seperti manusia nomaden, menumpang tidur dari satu tempat ke tempat lain.
Bagaimana mungkin bisa kaya kalau honor yang ia dapat hanya Rp 1 juta sekali rekaman kaset dan Rp 3 juta untuk VCD karaoke. Dengan sistem ‘kontrak putus’, tak royalti yang ia dapat sekalipun kasetnya laku keras. Sementara bila diundang bagurau paling-paling cuma Rp 300.000 sekali naik pentas.
Akan tetapi, kenyataan ini tidaklah terlalu merisaukan Mak Sawir. la justru mengaku lebih resah melihat kenyataan akhir-akhir ini banyak lagu dendang yang dirusak oleh lirik-lirik berbau pornografi. Pantun-pantun dendang yang tertib, penuh kiasan dan nasihat tentang kehidupan, kini mulai digantikan oleh lirik-lirik yang semata-mata lebih mengedepankan unsur hiburan. Kearifan tentang filosofi hidup di balik seni tradisi itu pun kian tergerus zaman.