Surat dari Menteng Wadas Timur…

June 30, 2026

LogoTradisi

Sahabat ATe-eLian,

Mulai hari ini, Selasa (30/6/2026), portal khusus mengenai tradisi lisan Nusantara hadir untuk berbagi cerita dan berita tentang para pelaku tradisi dengan berbagai persoalan yang mereka hadapi, termasuk di dalamnya kisah di balik keberadaan tradisi lisan yang mereka “hidupi”. Melalui laman-laman yang tersedia di ‘ruang-bingkai’ JENDELA dengan sejumlah kategori yang merupakan bagian dari ruang lingkup tradisi lisan, kami mencoba menghadirkan berbagai isu, utamanya mengenai para pelaku yang “menghidupi” dan “menghidupkan”-nya.

Mengapa perhatian pada pelaku—termasuk di dalamnya komunitas tradisi—menjadi bagian dari pendekatan sekaligus misi kami (baca: Yayasan Asosiasi Tradisi Lisan) melalui TRADISISILISANI.ID? Sebab, kami percaya, dengan lebih banyak menampilkan sosok tokoh pelaku yang mumpuni di bidang yang mereka “hidupi” itu maka keberlanjutan sebuah tradisi (lisan) akan dapat terus terjaga dari kepunahannya.

Lantas di mana posisi audiens alias khalayak penonton-penikmat tradisi lisan? Juga kalangan akademisi yang mengamati dan mengkajinya? Ya, mereka yang melakukan penelitian untuk berbagai alasan dan kepentingan, termasuk demi eksistensi di jalur akademiknya? Dalam kaitan ini kami justru ingin menjalin kerja sama, khususnya pada mereka yang masih “berjarak” untuk “masuk” lebih dalam lagi: tidak sekadar melihat, mendengar, mencatat, dan menuangkannya dalam berbagai model laporan, lalu setelah itu seperti menghilang, meninggalkan objek penelitiannya dalam sunyi. Selesai! Bukankah akan lebih afdol bila setelahnya juga diikuti semacam kegiatan—apa pun bentuk dan modelnya—untuk  “menghidupi” dan “menghidupkan” para pelaku-komunitas tradisi bersangkutan.

Yayasan Asosiasi Tradisi Lisan melalui sayap organisasi Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) yang dibentuk pada 11 Desember 1992, telah berupaya mewujudkan cita-cita itu. Sebagai organisasi nirlaba, Yayasan Asosiasi Tradisi Lisan tentu tidak dapat bekerja sendiri tanpa kehadiran nyata para pihak—baik lembaga donor ataupun instansi pemerintah—yang ikut mendukung dan membantu dalam berbagai bentuk sebagaimana telah mereka lakukan selama ini. Kendati demikian harus diakui memang belum banyak yang dapat dihasilkan. Namun dari yang sedikit itu, taruhlah seperti revitalisasi teater tradisi Mak Yong di Kepulauan Riau dan Opera Batak di Sumatera Utara sebagai dua contoh kasus, beberapa upaya pendampingan yang dilakukan ATL berhasil “menghidupkan” kembali seni tradisi yang pada saat itu sudah sekarat dan akhirnya kini mereka tampil dan berkembang kembali.

Di luar itu, sebagai bentuk kepedulian pada  keberadaan para tokoh seni tradisi, Yayasan Tradisi Lisan melalui sayap organisasi ATL-nya ikut menggagas kehadiran “Penghargaan Maestro Seni Tradisi”. Gagasan ATL mengenai peran penting sosok para  tokoh yang mumpuni, yang terus berkiprah dalam upaya keberlanjutan sebuah tradisi agar perlu diberi penghargaan seumur hidup, dan dengan itu mereka dapat terus melatih serta mewariskan ilmunya kepada generasi penerus, disambut baik oleh Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata. Pada tahun 2007, gagasan itu dieksekusi oleh Kemenbudpar melalui Direktorat Jenderal Nilai Budaya seni dan Film (Ditjen NBSF).

Setelah melalui proses cukup panjang, di mana tim ATL terlibat aktif dalam proses pemilihan dan seleksi para calon maestro yang akan diberi penghargaan (lihat catatan ketua ATL pada laman di ruang ‘Maestro’ bertajuk “Penghargaan Maestro Tradisi: Berlomba dengan Waktu”), akhirnya pada 2018 untuk pertama kali sebanyak 27 maestro tradisi dari berbagai daerah ditetapkan sebagai penerima “Penghargaan Maestro Seni Tradisi”. Kita patut bersyukur, setelah hampir 20 tahun berjalan—meski kementerian yang membawahi bidang kebudayaan beberapa kali berganti nomenklatur, dan kini berdiri sendiri di bawah payung Kementerian Kebudayaan—tetapi penghargaan tersebut masih dipertahankan hingga hari ini.

Ruang “maestro” yang kami hadirkan pada pemuncak “JENDELA” tentu bukan untuk bernostalgia, tetapi lebih karena kami memandang betapa penting menampilkan sosok-sosok tokoh semacam itu pada masing-masing jenis tradisi lisan yang mereka “hidupi”. Di tengah arus perubahan yang terus menggerus keberadaan sejumlah tradisi lisan di negeri ini, tanpa peran mereka, para maestro itu, ancaman kepunahan kian mendekat. Mereka adalah sosok-sosok penjaga tradisi sekaligus juga berarti penjaga identitas budaya kita yang mesti terus ditengok, disambangi, serta diberi “bekal” dan semangat agar dapat dan mau mewariskan pengetahuan mereka tentang tradisi yang ia kuasai itu kepada generasi yang lebih muda.

***

Dalam kaitan inilah, TRADISILISAN.ID sebagai perpanjangan tangan Yayasan Asosiasi Tradisi Lisan hadir untuk ikut berperan lewat dunia kata-kata. TRADISILISAN.ID boleh dibilang adalah kelanjutan dari beberapa portal (website) yang dulu dikelola oleh ATL secara sambil lalu.

Disebut “beberapa” dan “sambil lalu” karena ATL, yang juga berada di bawah naungan Yayasan Asosiasi Tradisi Lisan, sejak akhir tahun 2000-an sebetulnya telah memiliki portal (website) tetapi dengan muatan yang cenderung lebih dominan berupa informasi kegiatan ATL. Juga tidak ajeg. Selain karena tidak ada tim khusus yang mengelolanya, keberadaan portal-portal itu kerap menghilang. Mungkin karena  ‘domain’-nya dicabut oleh penyedia jasa web (hostinger) lantaran masalah teknis-administratif. Setelah itu ATL bikin website lagi, hilang lagi, bikin lagi hilang lagi, dan begitulah yang terjadi.

Belajar dari pengalaman tersebut, Yayasan Asosiasi Tradisi Lisan akhirnya berketetapan untuk membangun kembali portal/website, tetapi kali ini dikelola oleh tim khusus melalui semacam ‘kelembagaan’ baru bernama TRADISILISAN.ID yang sekaligus menjadi nama/alamat ‘domain’ kami. Muatan materinya pun disempurnakan dengan lebih mengutamakan kekayaan tradisi lisan Nusantara, sedangkan kegiatan Yayasan Asosiasi Tradisi Lisan dan ATL ‘hanya’ kami tempatkan di sub-JENDELA pada bagian “Kabar dari Menteng Wadas Timur”.

Sebagai kelanjutan dari portal-portal ATL terdahulu, yang—sekali lagi—sudah hadir sejak akhir tahun 2000-an, TRADISILISAN.ID dapat dikatakan merupakan satu kesatuan dengan yang lampau. Ini semacam penggabungan, sehingga sedapat mungkin naskah-naskah yang pernah dimuat pada portal-portal terdahulu akan kami hadirkan kembali di sini. Dalam prosesnya memang muncul banyak hambatan, terlebih karena naskah yang dipilih mesti diselaraskan dengan ‘misi’ untuk mengedepankan para pelaku berikut cerita di balik tradisi lisan yang mereka “hidupi”.

Agar semua ruang yang tersedia di balik JENDELA tidak kosong, dalam segala keterbatasan saat ini  kami pun “mengambil”—sejauh masih sesuai dengan ketentuan yang ada di TRADISILISAN.ID—beberapa naskah pada rubrik “Tradisi Lisan” di harian Media Indonesia. Perlu diketahui, kehadiran rubrik ini merupakan hasil kerja sama dengan ATL-Media Indonesia. Beberapa tulisan anggota pengelola TRADISILISAN.ID yang pernah dimuat di harian Kompas, atas seizin pihak redaksi Kompas juga kami tampilkan di ‘edisi awal’ TRADISILISAN.ID ini.

Dengan senang hati kami pun menerima naskah dari para pembaca, utamanya para pecinta tradisi lisan yang kami sapa dengan sebutan ATe-eLian, ikut berpartisipasi mengirimkan tulisan melalui akun surel redaksi@tradisilisan.id dengan mencantumkan kategori yang dituju berikut biodata singkat penulis. Ketentuan pengiriman tulisan dapat dilihat pada “Pedoman Pengiriman Naskah” yang tertera pada BERANDA kami di halaman muka paling bawah.

Harus kami akui, sejumlah kendala teknis kami hadapi dalam mempersiapkan keberadaan TRADISILISAN.ID . Ahasil, semula tulisan pemberitahuan “Under Maintenance” yang sedianya kami cabut pada 1 Juni 2026—bertepatan Hari Lahir Pancasila—sebagai penanda bahwa TRADISILISAN.ID resmi hadir untuk khalayak. Akan tetapi berbagai masalah teknis yang belum mampu diselesaikan oleh tim teknologi informasi (masterweb) memaksa kami mengundur jadwal kehadiran resmi TRADISILISAN.ID.

Dalam segala keterbatasan itu, sejak 30 Juni 2026 kami sepakati kembali hadir sebagai  kelanjutan portal-portal ATL untuk menyapa para pembaca lewat sajian naskah-naskah terdahulu yang dimuat ulang di TRADISILISAN.ID. Sembari menata diri untuk menghadirkan hasil perjumpaan terbaru kami—termasuk dari ATe-eLian—dengan para pelaku, hasil kunjungan ke komunitas-komunitas seni tradisi ataupun laporan dari panggung pertunjukan mereka, saran dan masukan konstruktif niscaya akan menambah energi bagi kami. Meski sejauh ini kami membangun TRADISILISAN.ID hanya berlapikkan ide/gagasan dan semangat, akan tetapi kami akan berusaha agar situs ini dapat tampil berkelanjutan dengan sajian yang segar dan memberi makna baru bagi tradisi lisan Nusantara. Tabik!

 

Salam dari Menteng Wadas Timur

REDAKSI TRADISILISAN.ID