Bulan Februari-Maret adalah saat para petani tembakau di Temanggung mempersiapkan ladang. Bibit-bibit tembakau yang hijau segar telah menunggu untuk disemai.

i saat itulah ritual among tebal atau wiwit nandur tembakau di dusun-dusun di Kabupaten Temanggung Jawa Tengah pun segera digelar. Bucu robyong, ayam ingkung, beras kapuroto, cambah pethek, gula-kelapa, dan beragam sesaji menanti dijampi.
Sutopo (48), petani yang juga tokoh masyarakat Dusun Lamok Legok, Desa Legoksari, masih bersantai. Meski ladangnya telah dicangkuli, diratakan, dan digemburkan, Sutopo belum beranjak untuk among tebal karena hitungan tanggalnya belum pas.
“Among tebal harus disesuaikan tanggalnya dengan weton, jadi tidak bareng-bareng semua petani. Hitungan saya April,” kata Sutopo. Weton adalah hari kelahiran yang merujuk pada hari pasaran dalam penanggalan Jawa, seperti Senin Pahing, Selasa Pon, atau Rabu Wage.
Among tebal atau wiwit mbako merupakan ritual tahunan untuk memulai proses bertani tembakau, ditandai dengan menancapkan bibit pertama di ladang, menjelang musim kemarau. Among berarti memomong/merawat, tebal berarti menanam (tembakau). Mayoritas petani melakukan dua kali among tebal, personal/individual dan massal sedusun/sedesa. Proses dan aneka sesajinya sama, tetapi magnitude-nya berbeda. Pemassalan ritual mungkin mengurangi kesakralan, meski tidak meluruhkan kehikmatan.
Berkomunikasi dengan alam
Itulah sebabnya ritual massal sebagai “selebrasi” komunalitas dan indentitas tidak menghapuskan ritual individual yang sakral, sebentuk cara berkomunikasi dengan alam dan Tuhan. Tidak seperti ritual personal yang dilakukan sendiri “dalam diam”, among tebal massal justru diumumkan waktunya, termasuk jumlah rupiah untuk iuran per keluarga, sesuai hasil kesepakatan rapat panitia. Masyarakat di sejumlah desa di Temanggung, seperti di Legoksari, Bansari, dan Mranggen menyiapkan panggung di balai desa, ladang untuk proses ritual, juga dapur umum, dan pertunjukan wayang. Namanya juga selebrasi, ajang unjuk diri.
Dalam beberapa perayaan di Legoksari yang saya ikuti, among tebal digabung dengan nyadran atau merti dusun di mata air Sungai Pontong. Karena diikuti warga sedusun, bahkan dua dusun, suasananya semeriah Lebaran. “Ini memang lebaran kami,” kata Parmudi (53), petani dari Lamok Gunung.
Warga desa sudah bersolek. Gamelan ditabuh. Lima puluh bergodo Kasepuhan Kejawen duduk hikmat. Bucu robyong atau gunungan hasil bumi besar diletakkan di tengah aula balai desa. Pejabat pemerintahan menyambut acara sebelum sesepuh desa berdoa. Berikutnya, para penampil unjuk kebolehan: “sepasukan” kuda lumping Gagak Mataram dan Wahyu Turonggo, kelompok jathilan, salawat gedhek, topeng ireng, rebana, kelompok tari hokya, hingga drumband taman kanak-kanak.

Prosesi dimulai. Bucu robyong diarak melewati jalan yang terjal mendaki, sebelum turun menuju mata air. Maklum, Dusun Lamok Gunung ini berada di ketinggian 1.000-an meter di atas permukaan laut, jalannya pun naik-turun. Seusai membaca doa di mata air, among tebal digelar.
Beberapa petani lelaki dan perempuan memasuki ladang, membawa rupa-rupa sesaji. Pak Rame memimpin ritual. Setelah membakar kemenyan, ia menebarkan beras kapuroto (campuran beras dan kunyit) ke empat penjuru mata angin untuk menolak bala. Sepenggal batang kayu dadap srep yang ujungnya sudah diruncingi dan diolesi kunir (kunyit) ditancapkan guna melubangi tanah yang akan ditanami bibit. Fungsi kunir ini untuk tolak bala, (ku)nir ing sambikolo (tanpa mara bahaya).
Sesaji pada hakikatnya adalah doa yang tidak diucapkan tapi diungkapkan melalui simbol, atau dalam istilah Jawa disebut sastro tan kawedar. Makna sesaji dalam among tebal adalah sebagai berikut:
- Cambah petek. Cambah itu biji kecambah, simbol harapan rezeki yang terus bertambah. Tanaman biji-bijian seperti kecambah atau kapri itu adalah tanaman merambat, hal ini berarti sebuah doa agar tembakau mampu membuat kualitas hidup terus merambat, bertambah, baik bagi diri sendiri maupun keluarga. Petek adalah sejenis ikan asin yang lazim disantap sebagai lauk di Temanggung. Secara umun, ikan adalah hewan yang tampak tidak pernah tidur atau matanya melek terus. Petani melihat meleknya ikan ini sebagai cerminan untuk hidup prihatin dan selalu bekerja-keras tanpa lelah, mulai dari tanam hingga petik. Ada makna lain dari ikan asin ini, terkait dengan mitos. Ikan asin adalah simbol penyatuan antara Dewi Sri dan Joko Bergolo. Alkisah, Joko Bergolo sangat mencintai Dewi Sri, tetapi dihalangi oleh Patih Haryo Puring karena menganggap mereka berbeda alam. Dewi Sri adalah bidadari dan Joko Bergolo adalah raksasa. Joko Bergolo akhirnya dikutuk menjadi ikan laut, tetapi ia berjanji akan tetap mencintai Dewi Sri. Maka, untuk merestui penyatuan mereka, ikan asin harus disajikan. Mengapa ikan petek? Selain karena banyak dijual di pasar Temanggung, secara turun-temurun pedagang di pasar sudah menyiapkan ikan ini berikut sesaji lain dalam satu paket sesaji ritual bertani tembakau.
- Tumpeng nasi bakar. Bentuk tumpeng yang lancip mengarah pada satu titik, Tuhan Yang Maha Esa. Di pucuk tumpeng ditancapkan bawang putih, bawang merah dan cabe yang melambangkan keseimbangan. Tumpeng dibakar, untuk mengingatkan manusia agar lebih bekerja keras. Geni nyepuh emas dadi bergas, kasangsaran nyepuh menungso dadi santoso (api menyepuh emas menjadi indah, kesengsaraan menyepuh manusia menjadi sejahtera).
- c. Telur rebus. Telur adalah awal kehidupan, menetas menjadi makhluk. Tembakau ini awalan petani banyak harapan dan penantian ketika hanya satu biji sawi tapi kalau sudah panen tembakau bisa memberi kesejahteraan. Telur hanya bulatan, tapi kalau sudah menetas akan luar biasa.
- Beras kapiroto. Simbol untuk tolak bala. Dalam ritual among tebal, beras kapuroto disebar ke empat arah penjuru angin dan ke atas dan posisi petani ada di tengah. Hal itu dilakukan secara otomatis selama bertahun-tahun.
- e. Koin. Koin ini berarti uang, yang ditaruh menjadi bagian dari sesaji sebagai sesuatu untuk berjaga-jaga kalau ada kekurangan. Uang itu sebagai tebusan, kalau ada kekurangan silakan belanja sendiri di Pasar Agung. Sewaktu meletakkan koin, petani berkata, “Ngapunten menawa ubo rampe wonten kekiranganipun” (minta maaf kalau ada kekurangan). Pasar Agung hanya disebut sebagai nama, pasar yang baik. Pasarnya bisa pasar apa saja dan di mana saja.
- Ponjo, yakni alat untuk melubangi lahan dari batang pohon dadap srep. Dadap srep dipilih karena batangnya yang empuk dan memberi efek dingin, sesuai dengan kata srep yang dalam bahasa Jawa berarti asrep atau dingin. Selain itu juga karena batang dadap srep ini jarang digunakan sehingga dimanfaatkan untuk pelubang lahan penanaman bibit.
Ritual dan sesaji ini disebut Mohamad Sobary (Perlawanan Politik dan Puitik Petani Tembakau Kabupaten Temanggung, 2016) sebagai ritus yang menyajikan suasana kudus. Sajen (sesaji) menghubungkan dunia ini dan dunia sana, yang menciptakan keyakinan bahwa apa yang manusiawi juga sekaligus bersifat ilahi.
Ritual bertani tembakau biasanya menghindari empat situasi, yakni hari nahas atau meninggalnya orangtua, sanger tahun, puput puser, dan apes weton. Sangar tahun merujuk pada tanggal satu di awal tahun dalam penanggalan penganut Islam Aboge (Alip Rebo Wage). Puput puser adalah hari saat tali pusar lepas sewaktu bayi. Adapun apes weton adalah beberapa hari setelah tanggal kelahiran (ada rumusnya).
Bagi awam, hitungan seperti itu memang cukup rumit, akan tetapi tidak bagi para petani, terutama penghayat Islam Aboge, yang dalam laku keseharian menggunakan penanggalan Jawa. Terlebih, mereka telah melakukan ritual ini sejak masa kolonial Belanda, ketika Nicotiana tabacum yang berasal dari Benua Amerika itu dibudidayakan di wilayah Karesidenan Kedu.
Mbah Yasto (94), sesepuh desa Legoksari, masih mengingat dengan cermat ritual yang ia lakukan saban tahun sejak kecil bersama orangtuanya. Tradisi itu diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi. “Among tebal wiwit mbako itu, ya, berdoa pada Gusti Kang Murbeng Dumadi, supaya alam tidak marah,” kata Mbah Yasto.
Festival ritual

Ritual among tebal untuk pertama kali digelar secara festifal pada April 2019, melibatkan 20 kecamatan di Temanggung, dengan tajuk “Festival Wiwit Mbako Merti Bhumipala”. Festival yang digagas oleh Bupati Temanggung Muhammad Al Khadziq (2018—2023) ini dimeriahkan dengan arak-arakan seribu tumpeng dan seribu ayam ingkung.
Suasana di seputaran alun-alun Temanggung riuh, tumplek blek oleh ribuan petani. Mereka berpuisi. Mereka menembangkan nyanyian Srinthil (jenis tembakau termahal dengan kadar nikotin sangat tinggi). Doa dan tausiyah dilantangkan oleh para ulama, berharap Tuhan YME selalu memberkati semua ikhtiar makhluk-Nya. Inilah harmoni antara agama dan tradisi.
Begitulah wiwit mbako dikemas menjadi pertunjukan ritual, tanpa menghilangkan ritual personal. Pemassalan ritual menjadi sebentuk keberpihakan pemerintah daerah kepada petani tembakau. Posisi tawar petani pun makin besar. Persoalan kesehatan dan keberadaan organisasi antitembakau/antirokok memang menjadi tantangan tersendiri, sehingga tentu tidak dapat diabaikan.
Semua pihak berkepentingan, juga berkesadaran, tetapi alam memiliki bahasanya sendiri. “Ini (alam, tembakau, ritual) adalah hidup kami, sehingga harus kami rawat. Kami tidak menggunakan plastik, tidak mengenakan alas kaki saat masuk ladang, kami menjaga mata air,” kata Parmudi.
Ada masanya ladang ditanami sayur-mayur juga, tidak tembakau melulu. Namun, tembakau paling mahal harganya. “Uangnya untuk menyekolahkan anak dan memberi kita semua makan. Tembakau jadi pelantar rezeki, maka kami harus mengimbangi,” lanjut Parmudi.
Menjaga keseimbangan

Melakukan ritual adalah cara para petani untuk menyeimbangkan diri dengan alam semesta dan Tuhan. Sebab, di dalam ritual-ritual itu juga terselip niat dan janji untuk menjaga, merawat, dan menghormati alam, termasuk di dalamnya tumbuh-tumbuhan, hewan, hingga makhluk gaib. Semua makhluk itu hidup bersama di dalam satu dunia, hidup berdampingan secara selaras.
Bentuk penjagaan keseimbangan alam dalam bertani tembakau, misalnya, memakai pupuk alami untuk menggemburkan tanah, tidak memakai pestisida atau zat berbahaya lain yang bisa meracuni tanaman. Mereka memakai air sesuai kebutuhan, menjaga sumber mata air di Kali Pontong yang terletak di Dusun Lamok Gunung agar tidak tercemar limbah dan sampah.
Ritual telah menjadi bagian dalam siklus hidup petani. Ritual menjadi bagian dari diri mereka sendiri, sehingga jika tidak dilakukan terasa ada yang kurang. Hal ini bisa dianalogikan –bahkan—dengan kebutuhan makan. Seseorang makan untuk mengobati rasa lapar, untuk mengisi zat-zat yang dibutuhkan tubuh, untuk penyokong hidup, untuk sumber energi dalam bekerja. Namun, seseorang kadang tidak harus makan tiga kali sehari, cukup satu kali saja, tapi harus makan.
Sama dengan ritual petani tembakau. Ritual harus dilakukan, tapi kadang ada masa absen dalam satu tahun, atau hanya melakukan satu ritual dalam setahun. Namun pada tahun berikutnya semua ritual dilakukan. Nilai-nilai yang termuat di dalam ritual itu telah menjadi laku kehidupan karena terus-menerus dilakukan dari generasi ke generasi. Ritual yang dilakukan para petani tembakau sejak zaman kolonial hingga saat ini terbukti menjadi pengingat pada diri dan masyarakat untuk berperilaku baik dan pengekang untuk berbuat buruk. Itu adalah tujuan yang hendak dicapai dalam setiap pelaksanaan ritual. (Susi Ivvaty)