MIMI RASINAH Wanita di Balik Topeng

June 4, 2026

IMG_20260510_153810

Tari Topeng Cirebon gaya Dermayu (Indramayu) rasanya tak dikenal bila tak ada Mimi Rasinah. Wanita inilah, yang kendati manggung dalam usia 70 tahun, tampak bak 20-an tahun.

 

“Ada yang bilang, kalau menari, ya, seperti umur 20, padahal sudah tua. Tau’ apa saya tuh,” celoteh Mimi Rasinah, yang akrab disapa Mimi Ras, seraya tersenyum-senyum.

Komentar-komentar kekaguman seperti yang diceritakan itu memang ada, dan muncul antara lain ketika ia tampil di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta dan Prancis. Ketika itu para penonton terkejut tatkala sang penari topeng yang mereka lihat sangat lincah di panggung ternyata—ketika membuka topeng—wajahnya sudah berkeriput.

“ltulah istimewanya seorang Mimi Rasinah,” komentar Aerli, yang akrab dipanggil dengan Eli,  cucu sekaligus pendamping Mimi Ras. Mimi bila di panggung seakan menyatu jiwa dengan karakter topeng yang dikenakannya. Kalau memakai topeng panji, maka Mimi Ras menjadi Panji, kalau memakai topeng samba, ya menjadi Samba.

Penampilan Mimi Ras selalu mengundang pesona. Sepak soder (selendang) dan gesit pula buang sumping (roncean benang berbentuk bola-bola kecil yang menjuntai di kiri-kanan badan). Caranya ngolah gulu (menggerak-gerakkan leher) selalu tegas.

“Saya beda gayanya, meskipun gending sama. Saya keras,” jelas penerima penghargaan Hadiah Seni 2002 dari Depbudpar dan Woman of The Year 2005 dari An-TV ini. Menurut Eli, Mimi selalu mengawali dengan gerakan halus, tiba-tiba naik. Gerakan-gerakan tersebut tidak mudah ditiru. Bahkan Eli, yang jadi penerus, mengaku masih harus mempelajari melalui rekaman-rekaman pementasan Mimi Ras di VCD.

Sejak usia 20 tahun, Mimi Ras mengembangkan karakter topeng yang pada Topeng Cirebon umumnya terdiri atas lima5 karakter. Mimi Ras mengembangkannya menjadi delapan: Panji, Samba (putih dan merah), Rumyang, Tumenggung, Kelana (Kelana gandrung, Kelana udeng, Dursasana, Kiprah, Jinggananom). Yang diangkat oleh sanggar adalah Kelana udeng, karena tidak semua penari topeng punya.

 

Sayang, Mimi Ras yang lahir tanggal 11 Jumadilakhir (di paspor tercantum tanggal 3 Maret 1930) ini, pada 1974 menderita stroke. Tubuh bagian kirinya tidak dapat berfungsi. Setelah sempat 15 hari dirawat di RS Pertamina Klayan, Cirebon, kemudian seminggu terapi di Bandung, kini hari-harinya lebih banyak di tempat tidur atau di kursi roda. Berat badannya yang semula 63 kg turun menjadi 30 kg.

Meski begitu, beberapa kali wanita bertinggi 165 cm ini masih menerima permintaan untuk tampil secara khusus. Sambil duduk di kursi roda, wanita yang sehari-hari mengenakan jilbab dengan rok panjang dan blus ini bersedia mengenakan busana Tari Topeng dan tangan kanannya melakukan gerakan tari. Kadang ia ngecrek juga. “Tapi sayanya enggak bisa berdiri,” tutur Mimi Ras.

Pendengarannya pun masih peka bila mendengar musik. Seringkali, meski sedang berbaring, bila mendengar tabuhan salah satu alat musik di depan rumah—kendang, saron, bonang, kecrek—yang salah, dia memaksa diri menggeser tubuh ke tempat latihan, untuk memberi tahu cara menabuh atau ngecrek yang benar.

Sejak 29 November 1999, di rumahnya di Desa Pekandangan, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, berdiri sanggar dengan nama Sanggar Tari Topeng Mimi Rasinah. Sanggar tersebut membuka kelas tari—khususnya Tari Topeng—dan gamelan. Setiap Sabtu dan Minggu dari pukul delapan pagi sampai pukul lima sore, paviliun rumah yang dilengkapi dengan peralatan gamelan dan kaca di sebagian dinding itu dipenuhi anak-anak berlatih. Baru sejak 1999 itu, latihan dilakukan dengan gamelan. Sebelumnya latihan hanya dengan kecrek bambu.

Sanggar ini juga menerima permintaan kursus privat di luar Sabtu dan Minggu. Bersama beberapa SMA negeri di lndramayu, sanggar ini juga membuka Roll Art de School dengan anggota siswa-siswa sekolah. Beberapa kali sanggar bersama sekolah-sekolah itu mengadakan pertunjukan bersama. Dengan pembayaran Rp 2.000-Rp.6.000 per kedatangan—bahkan bisa gratis untuk yang tidak mampu—kini sanggar sudah mempunyai lebih dari 300 murid, dari usia TK hingga SMA dan ibu-ibu rumah tangga. Dengan cara itu, sanggar bisa memenuhi permintaan manggung dalam jumlah besar.

“Sanggar ini berdiri sepulang Mimi dari Jepang,” tutur Eli, yang menjadi pelatih di sanggar itu bersama ibunya, Waci—anak Mimi Ras yang masih hidup. Tepatnya, sanggar itu dibangun setelah Mimi Rasinah bersama dosen STSI Bandung, Toto Amsar Suanda, dan Ketua Lembaga Pendidikan Seni Nusantara Endo Suanda, berpentas di lima kota di Jepang. Mimi mendapat bantuan dari Pemerintah Jepang.

Perjalanan ke Jepang itu adalah salah satu tanda kebangkitan kembali Mimi Rasinah. Sebab, sebelumnya, Mimi Rasinah sempat 20 tahun putus menari, yaitu sejak mendapat larangan dari pemerintah pada tahun 1960-an. Ditambah lagi, pada 1993 suaminya, Amad, dan anak sulungnya, Warno, meninggal dunia.

Keadaan tersebut sempat membuat Mimi Rasinah merasa tidak berarti. Hingga Mimi Ras yang sejak usia tujuh tahun selalu berpuasa pada musim penghujan—selama 40 hari ia setiap hanya makan satu pisang dan satu gelas air atau makan daun-daunanan—menghentikan tirakatnya.

Mereka tak ada mata pencarian, akan tetapi ketika topengnya—antara lain Samba merah dan Samba putih yang patah waktu zaman Jepang—ada yang mau beli, kata Mimi Ras, “Dijual Rp 1 miliar pun enggak saya lepas.” Karena itu, Waci sebagai satu-satunya anak yang masih ada waktu itu memutuskan untuk menjadi TKI di Malaysia.

Untunglah, pada 1994, Toto Amsar Suanda dan Endo Suanda—yang gelisah melihat kesenian Cirebon nyaris punah—berhasil merayu Mimi Ras untuk menari lagi. Itu pun dengan sebuah syarat. “Kalau diminta menari lagi, saya mau gigi palsu. Harganya Rp150 ribu,” tutur Eli, menirukan ucapan Mimi Ras. “Ya, daripada Mimi Ras enggak mau menari lagi, Pak Endo mengeluarkan Rp 150 ribu, meskipun katanya tinggal itu uangnya yang ada di kantongnya,” tutur Eli.

Bagi keluarga keadaan tersebut tentu juga sangat membahagiakan. Dengan begitu ilmu Mimi Rasinah bisa diturunkan melalui sanggar. “Dengan adanya sanggar tersebut, meskipun Mimi Rasinah sakit, kami bisa berupaya agar pengorbanan Mimi Rasinah dan nenek moyangnya selama berabad-abad tidak sia-sia,” ujar Eli. Sanggar ini banyak menerima undangan untuk tampil di sekolah, dengan biaya Rp 500 ribu hingga Rp 1,5 juta untuk sekitar Indramayu. Angka yang sangat kecil dibandingkan dengan saat Mimi Rasinah masih aktif, yang honornya bisa mencapai Rp 9 juta sekali tampil.

Namun di tengah persaingan dengan musik modern saat ini, mereka masih bersyukur bila mendapat undangan berpentas. Apalagi, secara khusus, Mimi Rasinah sudah berpesan kepada Eli—cucunya yang memperdalam tari di STSI Bandung—agar Tari Topeng Cirebon gaya Indramayu dapat dilestarikan.

Perjalanan hidup Mimi Ras sangat menyatu dengan Tari Topeng. Pada usia lima tahun, Mimi Ras tidak sekolah. Orangtuanya, Lastra (alm) yang dalang dan Sarminah (alm) yang ronggeng, tidak menginginkan Mimi Ras sekolah. “Orangtua bilang, ‘Udah enggak usah sekolah, yang penting cari makan,” tutur Mimi Ras, yang diarahkan ayahnya khusus menjadi penari topeng.

Pada usia sembilan tahun ia sudah harus bebarangan (ngamen) bersama orangtuanya, berjalan kaki dari satu kampung ke kampung lain. “Setahun belum tentu kembali ke Pekandangan ini. Ya, semua untuk hidup sih,” tutur Mimi Ras, seraya menggambarkan, “Orangtua saya enggak punya, jadi kalu makan di tampah, bersama-sama.”

Dalam perjalanan itu, “Bapak masih ngendangi saya. Kata bapak saya, tarian saya paling jempol,” tutur Rasinah, seraya mengacungkan jempol tangan kanannya. Sampai ketika di Desa Kiyang, terdengar teriakan, ‘Pedalang-pedalang, lari! Lari! Ada serangan. Belanda nyerang!’ Saya lari nyumput. Bapak saya yang jalan di depan, ditembak. Saya lari-lari sambil nangis,” kenang Mimi Ras.

Semasa hidup, ayahnya sempat menjodohkannya dengan Tamar, seorang kerabat. Kebetulan Tamar adalah dalang. “Saya punya prinsip, kalau menikah harus dengan dalang, kalau bukan dalang, enggak mau,” tutur Mimi, yang kemudian menikah pada saat usia 14 tahun dan Tamar berusia 20 tahun.

Dalam perjalanan pernikahan mereka, ia mengalami berbagai bujukan agar bercerai saja dari suaminya. “Ada yang mau bubarannya, menikah dengan saya, cerai aja dari suami kamu. Saya enggak mau,” tutur Rasinah. Suaminya kemudian diracun sampai meninggal. Karena tak mau juga dinikahi, Rasinah diracun hingga matanya rusak. “Tiga bulan saya enggak kelihatan orang,” tutur Rasinah, yang kemudian menikah lagi pada tahun 1950, dengan Amad, yang memberinya dua anak Warno dan Waci.

Sekarang, meski dalam keadaan mata kiri cacat, pendengaran sebelah kanan sudah tidak jelas dan stroke, Mimi Rasinah – yang ketika muda sering luluran sendiri dengan bedak bayi – ini, masih tampak cantik dengan kulit yang putih terang.

Menurut Eli, Mimi Ras, yang selain berpentas di Jepang, juga di lnggris, Prancis, !tali, Belanda, Swiss ini, mengalami stroke sepulang dari lnggris. “Pulang dari lnggris langsung melatih tari ke sekolah-sekolah. Jatuh stroke karena kecapean,” tutur Eli.

Kebahagiaan Mimi Ras sekarang adalah bila hari Sabtu dan Minggu. Setelah bangun pukul empat pagi, kemudian mandi dengan air panas dan sarapan bubur atau nasi dengan sayur, ia  berkumpul dengan kelima cucu, tiga cicit, dan murid-murid sanggar. Apalagi cicitnya pun sudah ada yang bisa menabuh gamelan. “Saya sudah tua, semua sudah ada. Paling kalau saya sembuh, saya pingin ngaji. Kemauan sih pingin naik haji tapi modalnya enggak punya,” bisik Mimi Ras. (Tim ATL/RSH)