MBAH KARIMUN Hidupnya untuk “Topeng Malangan”

June 4, 2026

InShot_20260608_164457929

Suatu saat boleh saja ia mati, tetapi Topeng Malangan harus hidup sepanjang zaman.

 

ubuh boleh renta, ke mana-mana memakai kursi roda—akibat kecelakaan—tetapi semangat hidup Mbah Karimun tidak mau kalah dengan yang muda-muda. Siang-malam tak pernah lelah berkarya, dengan harapan topeng tidak punah tergerus zaman. Kalaupun tidak membuat topeng, ya, macapat Malangan di rumah-rumah orang yang punya hajatan. Pada hari-hari tertentu, dibantu istrinya sebagai asisten, ia melatih anak-anak remaja menari Topeng Malangan di sanggarnya, yang terletak tak jauh dari rumahnya di dusun Kedungmonggo, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

“Sanggar Tari Asmorobangun ini bangunannya bantuan Presiden Soeharto, dan tanahnya dari  pemerintah,” ujar Mbah Karimun dengan suaranya yang groyok (bergetar). Dari sanggar yang dibangun tahun 1982 tersebut, ia telah menyebarkan ilmu dan mewariskan keterampilannya kepada lingkungan sekitar. Termasuk bagi para mahasiswa yang ingin menulis skripsi tentang Topeng Malang, atau wartawan dari dalam dan luar negeri yang ingin memberitakan kepada masyarakat luas, maupun peneliti untuk kepentingan ilmiah.

Mbah Mun, sapaan akrabnya, lahir di Pakisaji, 80-an tahun lalu. Sekolahnya hanya sampai kelas VI SD Pakisaji, di zaman penjajahan Belanda. Tapi sejak usia 14 tahun ia sudah diajari menari topeng oleh sang ayah, Kiman. Karimun remaja juga belajar membuat topeng Malangan, dengan mencontoh topeng-topeng peninggalan Kakek Serun, didorong oleh rasa prihatin karena topeng-topeng itu satu per satu habis dimakan rayap. Tidak hanya berhenti sampai di situ, ia pun melengkapi topeng buatannya dengan pakaian dari karung goni, dan sampur dari kulit kayu bende.

***

Sebelum kecelakaan hingga kakinya patah, Mbah Mun dikenal luas sebagai penari Topeng Bapang, penabuh kendang, sekaligus dalang Wayang Topeng Malangan terkemuka yang diakui ketokohannya di kalangan seniman tradisi di Malang. Bahkan beberapa gending Malangan kreasi Mbah Mun yang sudah direkam oleh produser setempat, telah lama beredar di pasaran. Bahkan  kaset itu dijadikan pedoman/iringan, khususnya oleh generasi muda, saat menarikan Tari Topeng selama ini, baik dalam pementasan di Malang, Jakarta, bahkan sampai di luar negeri. Ironisnya, Mbah Mun tidak cukup bisa menikmati royalti kasetnya.

Apapun yang dialami Mbah Mun, selalu nrimo ing pandum alias sabar dalam menerima cobaan hidup. Hal itu tidak hanya menyangkut soal royalti kaset saja, tapi juga peristiwa kecelakaan yang menimpa dirinya sehingga tidak bisa menari lagi dengan sempurna.  Bahkan saat dirinya diberhentikan sebagai pengajar di Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya, di mana ia ikut merintisnya, ia tidak protes. Termasuk hilangnya kesempatan pentas di luar negeri karena pada waktu yang sama ia harus tampil di Malang.

Ditanya soal berapa kali sudah pentas Mbah Mun di Malang, ia tidak bisa lagi menghitung jumlahnya. Mulai dari acara keluarga (sunatan, perkawinan) dan lingkungan (misalnya peringatan 17 Agustusan), hingga pentas pada acara resmi Kabupaten Malang. Selain itu, ia pernah ditunjuk sebagai duta Malang ke Festival Tari Tradisional Tingkat Nasional di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta, tahun 1978. Bahkan tujuh tahun kemudian, ia kembali pentas di TMII, disaksikan oleh Presiden Soeharto serta para pejabat tinggi dan sejumlah duta besar negara sahabat.

Dalam kaitan dengan Presiden Soeharto, Mbah Mun punya kenangan tersendiri. Tahun 1978 ia diundang ke Istana. “Pak Harto yang saat itu didampingi Pak Jop Ave, bertanya kepada saya, ‘Mbah Mun apa yang belum ada di sini?’ Saya jawab, ‘Yang belum ada topeng Malang Pak.’ Mendengar jawaban saya seperti itu, Pak Harto tersenyum, lalu mengelus punggung saya,” tutur Mbah Mun semangat. Pak Harto lalu memesan topeng sebanyak tiga kotak (berisi kurang lebih 190 topeng) beserta alat-alat pahat dan ukirnya. Dalam waktu yang tidak lama, pesanan itu segera ia kirim ke Jakarta. Sekarang, setelah Pak Harto lengser, ia tidak tahu apakah topeng-topeng tersebut masih ada di Istana atau tidak.

***

Tahun 1986, ketika usia Mbah Mun genap 60 tahun, ia menikah lagi dengan seorang janda (talak) dari Desa Karangpandan. Namanya Siti Mariyam binti Tampun, yang ketika itu berusia 28 tahun. Foto di buku nikah menunjukkan penampilan Mariyam seperti seorang artis. “Lho, sampeyan belum tahu to, saya dulu memang tandak, juga penyanyi keroncong, penari topeng, dan pemain ludruk,” ujar Mariyam, perempuan berambut panjang yang buta huruf tapi pandai bicara.

Bagi Mbah Mun, Mariyam adalah istri ketujuh. Dari istri terakhirnya ini ia dikaruniai seorang anak perempuan, Sriyati (24), lulusan SMA. Sementara dari istri-istri sebelumnya Mbah Mun tidak dikaruniai keturunan, akan tetapi banyak anak angkatnya yang kini telah memberikan cucu untuknya. Anak-anak angkatnya itu juga mengikuti jejak Mbah Mun. Tak ketinggalan Sriyati. Namun bedanya, kalau topeng Mbah Mun atau ibunya dibuat seukuran wajah orang, ataupun lebih besar dari itu, topeng-topeng hasil karya Sriyati berukuran kecil, cocok untuk suvenir turis. Sriyati pun pandai menari Topeng Bapang, kesukaan ayahnya.

Penerima piagam penghargaan dari Gubernur Jawa Timur (1993) ini menjadikan rumah temboknya yang tidak begitu besar itu sebagai tempat tinggal sekalian bengkel kerja.Di ruang tengah, puluhan topeng yang sedang dalam proses penyelesaian terpampang di rak. Semua buatan Mbah Mun maupun Mariyam. Di kolong rak tersimpan beberapa kotak peralatan pahat. Juga beberapa kaleng cat. Disudut lain, terdapat lemari penyimpan pecah belah dan dokumen, salon dan tape recorder. Di depan lemari itulah Mbah Mun (maupun istrinya) memahat dan mengukir topeng, di bawah lampu neon yang menyala amat terang. Bermacam-macam bahan mereka gunakan: kayu pinus, kembang, mentaos, sengon dan pule. “Pantat saya sampai ‘habis’, saya pakai membuat topeng,” ujarnya.

Dari buku tamu yang ada, tidak sedikit tokoh, media massa, turis dari dalam dan luar negeri yang datang ke rumah Mbah Mun untuk berbagai keperluan; mulai dari nanggap, wawancara, hingga membeli topeng. Menurut Mbah Mun, para turis domestik biasanya senang membeli topeng yang sudah dicat, sedangkan turis asing—baik dari Jepang, Korea dan Amerika Serikat—lebih menyukai topeng yang masih kelihatan serat kayunya.

***

Setiap kali akan memulai membuat topeng, Mbah Mun harus mengenakan kopiah, layaknya mau salat. Menutup kepala dengan peci itu baginya wajib. Setelah itu membaca doa tertentu, yang intinya memohon kekuatan dari Allah, Sang Maha Pencipta. “Tanpa kekuatan yang di atas, saya tidak akan bisa membuat topeng. Coba pikir, saya membuat topeng tidak ada yang mengajari. Saya belajar sendiri, lalu bisa. Kalau bukan Tuhan yang membimbing mana mungkin,” ujar Mbah Mun.

Ada 144 jenis topeng yang dikuasai Mbah Mun. Sebanyak 67 di antaranya untuk cerita pewayangan. Adapun untuk topeng Malangan yang baku hanya enam macam: Klono menggambarkan sifat serakah dan angkuh; Bapang menggambarkan sifat bijaksana; Asmoro Bangun lambang keindahan; Sekartaji lambang kesucian; Gunung Sari dan Ragil Kuning lambang kebaikan manusia. “Dibanding yang lain, topeng buatan Mbah Karimun itu ciri khasnya menonjol. Antara lain pamor dan karakternya begitu kuat,” ujar sutradara/petinggi Teater Koma N Riantiarno, salah seorang pengagumnya.

Zaman memang terus berubah. Fungsi topeng pun, dari waktu kewaktu, pun mengalami perubahan. Menurut cerita lisan, pada masa Kerajaan Kanjuruan dengan Raja Gajayana, topeng dibuat dari batu atau emas untuk acara ritual. Lalu pada masa Kerajaan Kediri, topeng dibuat dari kayu, berfungsi sebagai tarian menyambut tamu, dengan cerita Ramayana atau Mahabarata. Pada masa Kerajaan Singasari/Tumapel, fungsi topeng masih tetap, hanya ditambah cerita Panji, dan ini berlangsung hingga Kerajaan Majapahit. Setelah masuknya Islam ke Tanah Jawa, Wali Songo (khususnya Sunan Bonang dan Kalijogo) menjadikannya sebagai sarana menyebarkan ajaran Islam.

Adapun perkembangan Topeng Malangan, tak lepas dari jasa Raden Suryo Atmojo yang membawanya ke pendopo Kabupaten Malang, pada saat Bupati pertama Kanjeng Surgi, di zaman kolonial Belanda. Mbah Reni (Polowijen) dan Mbah Gurawan (Kepanjen) pun ikut mendalaminya. Kakek buyut Mbah Karimun, Kek Serun belajar topeng kepada Mbah Gurawan, yang masih terhitung paman. Sampai di sini, fungsi Topeng Malang tidak untuk menyebarkan Islam, tetapi sarana hiburan, ceritanya Panji.

Masalahnya, pada era Mbah Karimun, Tari Topeng seperti kesenian tradisi pada umumnya di Tanah Air, untuk bisa bertahan harus bertarung secara langsung melawan hiburan populer yang murah meriah berteknologi canggih dari Barat. Sebtulah di antaranya televisi dan VCD/DVD yang sudah menyerbu desa. Selain itu juga selera turistik masyarakat kita yang sengaja dilembagakan. (Tim ATL/YSH)