
Umumnya wayang bergantung pada sang dalang. Akan tetapi dalang yang satu ini unik. Ia bergantung pada sang wayang yang keramat itu.
bah Kandar saat itu sedang di sawah ketika Mbah Lamidi menghampiri dan meminta dirinya mendalang. Tentu saja ia amat terkejut atas permintaan itu. Bagaimana tidak. Ia belum pernah mendalang, dan merasa tidak punya bakat untuk itu. Tapi ia tidak berdaya menolak permintaan Mbah Lamidi, pewaris wayang Mbah Gandrung.
Tanpa persiapan apa pun, dan tidak tahu bagaimana jalan ceritanya, Mbah Kandar malam itu langsung memainkan wayang Mbah Gandrung. Gelak tawa menyertai pergelaran perdana Mbah Kandar. Bukan karena ia pandai melucu, akan tetapi karena “kecelakaan-kecelakaan” kecil yang dialaminya. Misalnya, ketika Mbah Kandar seharusnya membunyikan kecrek dengan kaki, tapi pada saat itu kakinya lupa.
“Pokoknya hari pertama Mbah Kandar ndalang itu dadi guyon, jadi bahan tertawaan penonton,” ujar Mbak Lamidi saat ditemui di rumahnya Dusun Pagung, Semen, yang terletak sekitar 20 kilometer dari pusat kota Kediri, Jawa Timur. Mbah Kandar yang saat itu (2007) berusia 70-an tahun hanya tersenyum kecil, sambil mengenang peristiwa yang terjadi tahun 1982 atau peristiwa yang terjadi 25 tahun sebelumnya.
“Begitulah, saya jadi dalang bukan atas kehendak saya sendiri, tapi atas kehendak Mbah Gandrung, yang disampaikan lewat Mbah Lamidi,” ujar Mbah Kandar yang dibenarkan seratus persen oleh Mbah Lamidi. “Kalau Mbah Gandrung mboten ngersakne, tidak menghendaki atau tidak memilih, ya, seseorang tidak bakal menjadi dalang. Di sini bedanya dengan ringgit (wayang) lain di tanah Jawa ini,” tambah Mbah Lamidi menjelaskan.
Karena sudah pilihan Mbah Gandrung, Mbah Kandar mengaku dengan begitu saja kemudian tahu lakon-lakon yang harus dimainkan. Ia juga hafal begitu saja tokoh-tokoh wayang Mbah Gandrung yang dalam satu kotak jumlahnya 40 buah wayang kayu.
Tapi jangan tanya siapa yang membuat wayang krucil dari kayu itu, dibuat dari kayu apa dan tahun berapa dibuatnya. Jangankan dia yang hanya seorang dalang “tiban”, Mbah Lamidi selaku pewarisnya pun tidak bisa menjawab karena memang tidak tahu. Yang Mbah Laidi tahu, ia hanya menerima warisan sekotak wayang dan seperangkat gamelan itu dari ayahnya. Sementara ayahnya mendapat warisan wayang itu dari ayahnya (kakek Lamidi). Dan, sang kakek mendapat warisan dari ayahnya (mbah buyut Lamidi). “Menurut cerita Bapak, wayang ini sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda,” kenang Mbah Lamidi.
Seingat Mbah Kandar, dirinya adalah dalang ke-6. Melanjutkan dalang sebelumnya, Kasdi yang kebetulan masih saudaranya. Kasdi hanya setahun “dipilih” Mbah Gandrung. Ia tidak tahu apa sebabnya, mengapa hanya sesingkat itu. Kasdi tidak bisa dikonfirmasi. Sebab setelah tidak mendalang, Kasdi meninggalkan Kedin dan pergi merantau ke Kalimantan. Tak lama kemudian ia meninggal di sana.
Begitulah! Boleh percaya atau tidak, Mbah Gandrung adalah wayang krucil bertuah. Setiap malam Jumat, Lamidi harus memberi sesaji. Apalagi kalau mau main, harus ada sesaji dan selamatan, baik pada saat mau mengeluarkan wayang dari kotaknya maupun pada saat memasukkan kembali wayang tersebut ke dalam kotaknya. Sesajinya tidak boleh sembarangan. Dari dulu sampai sekarang, sesaji itu tetap berupa ingkung ayam, tumpeng, dan jenang merah- putih.
Pengalaman selama ini menunjukkan, Mbah Gandrung hanya mau dimainkan untuk melayani tujuan baik seseorang, misalnya kaulan atau nazar. Sebaliknya, kalau ada orang sudah kaul atau nazar mau nanggap Mbah Gandrung bila sudah terkabul keinginannya, tapi yang bersangkutan lupa, Mbah Gandrung pun tahu dan akan mengingatkan yang bersangkutan. Caranya bagaimana? Bermacam-macam. Misalnya, anak orang yang punya nazar (tapi lupa) itu tiba-tiba hilang. Setelah yang bersangkutan ingat, anak tersebut kembali dengan tidak ada kekurangan satu apa pun.
Di samping itu, kalau Mbah Gandrung diundang ke salah satu rumah orang yang punya kaul, maka kotak wayang dan gamelan harus dipikul dengan berjalan kaki, dan tidak bisa dinaikkan mobil. Dulu pernah kejadian, mobil yang ditumpangi wayang dan gamelan itu tidak bisa berjalan. “Pokoknya kalau masih bisa ditempuh dengan jalan kaki sehari, kami layani, sekalipun keluar desa. Tapi kalau tidak bisa ditempuh sehari, ya nazarnya dilakukan di sini saja,” ujar Mbah Lamidi.
Orang yang nazar dengan nanggap Mbah Gandrung tidak hanya dari wilayah Kediri, tapi juga dan kota-kota lain di Pulau Jawa. Bahkan ada yang dari luar Pulau Jawa. Kalau orang-orang jauh itu, penyelenggaraan kaulnya cukup di rumah Mbah Lamidi, atau di balai desa. Sementara para tamu yang datang ingin menyaksikan pertunjukan Mbah Gandrung banyak juga dari luar Kediri, misalnya dari Jakarta hingga Belanda.
Pementasan wayang Mbah Gandrung tidak menggunakan geber seperti dalam pergelaran wayang kulit, tetapi dengan stage semacam wayang krucil dengan memanfaatkan kain jarik yang dipasang melintang dan sejajar, sehingga memunculkan kesan dalang dan anak wayang berada dalam televisi raksasa. Namun demikian, sebelum ubo rampe (perlengkapan) panggung dipasang, terlebih dahulu mesti selamatan nasi ingkung.
Perlengkapan panggung tersebut biasanya berupa sebuah pencon menyerupai burung merak dengan tubuh dan kepala berasal dari ceret air, yang sekaligus berfungsi sebagai penerang. Kayu tipis memanjang dengan sejumlah lubang menjadi tempat tancap kayon. Anak wayang gunungan terbuat dari berbagai bulu binatang yang dipolesi minyak kelapa, yang pertama kali yang ditancapkan di sana. Ketika akan membuka kotak, Mbah Lamidi pun harus berkomat-kamit mengucapkan mantra lagi. Barulah satu per satu anak wayang dikeluarkan dari kotak. Diiringi tetabuhan gamelan yang dimainkan lima niyogo, anak wayang itu dikeluarkan dari kain pembungkusnya dengan hati-hati. Ketika seluruh anak wayang yang terbuat dari kayu ini telah berjejer, Mbah Lamidi pun segera bergeser, digantikan Mbah Kandar yang bertugas sebagai dalang. Lakon yang sering dimainkan oleh wayang Mbah Gandrung ini mengambil sumber dari ceita Mojopahitan.
Seperti dikutip Tempo, 26 Mei 2004, Sardono W. Kusumo yang pernah menyaksikan pementasan Mbah Gandrung di rumah Mbah Lamidi, mempunyai kesan bahwa wayang Mbah Gandrung adalah seni yang eksotik dan sangat orisinal. Eksotisme dapat dilihat dari cara penyajiannya yang begitu sederhana dan lugu. Tidak ada nilai komersialisasi agar orang tertarik karena pertunjukan itu sepertinya bukan ditujukan untuk penonton tetapi untuk memenuhi kepuasan rohani pelakunya.

Mbah Kandar, Mbah Lamidi, dan Mbah Gandrung adalah telu-teluningatunggal, tiga serangkai dalam melayani kaul atau nazar seseorang, yang telah berlangsung sejak dulu hingga kini dan diharpkan hingga masa yang akan datang. Sampai kapan Mbah Kandar akan menjadi dalang wayang Mbah Gandrung, dengan polos ia jawab, “Mboten ngertos.” Tidak tahu! Itu adalah hak prerogatif Mbah Gandrung untuk memilih dan menghentikannya.
Malam itu Dusun Pagung terasa dingin karena sehabis hujan. Paduan suara katak menjadi satu-satunya suara paling dominan. Setelah menempuh perjalanan beberapa saat dari rumah Mbah Lamidi, Mbah Kandar kembali ke rumahnya di dekat perkebunan tebu. Di rumah berlantai tanah dan berdinding bambu itulah ia menghabiskan waktunya bersama istrinya, Markamah. Keempat anaknya sudah berumah tangga dan memberinya 11 cucu. Dalam hidupnya yang sederhana, ia bertekad untuk terus membantu sesama, lewat sarana wayang Mbah Gandrung; yang memiliki kekuatan sabdo pandhito wali. (Tim ATL/YSH)