
Kesenian Ngajek ini pernah populer. Cukup lama mati suri karena terdesak kesenian populer.
etelah melewati berbagai dusun akhirnya sore itu kami sampai di sekelompok rumah gaya tradisional Jawa, berpagar tembok berlumut hijau, menghadap ke satu halaman luas, dengan dua pohon sawo kecik rimbun di tengah-tengahnya. Satu di antara rumah itu adalah rumah Ki Sugito Adiwasito. Cat dinding teras yang mencolok itulah yang membedakan dengan rumah-rumah di sekitarnya.
“Monggo pinarak,” ucap lelaki berkulit sawo matang itu menyambut dan menyilakan kami duduk. Ia lalu bergegas masuk kamar, yang berada di samping ruang tamu yang hanya disekat lemari kayu, dan di sisi lain disekat partisi kayu pula. Dari tempat duduk itu, kami melihat sepeda teronggok dekat pintu menuju ke dapur. Tak jauh dari sepeda ada pesawat televisi.
Persis di depan pintu masuk, terdapat sebuah ranjang kayu tanpa kasur. Dan, pada dinding-dinding rumahnya terpajang gambar hitam putih potret Bung Karno, Ki Sugito dengan istri, dan Ki Sugito dengan kostum dalang. “Wong itu anak saya yang menggambar,” ujar Ki Sugito dengan nada bangga.
Kalau sebelum masuk kamar ia hanya berkaos tanpa peci, saat keluar menemui kami kemudian ia menutup kaosnya dengan baju batik, tetap menggunakan sarung dan mengenakan peci hitam. la duduk dikursi panjang, melipat kedua kaki, sambil merokok ia menceritakan panjang lebar perjalanan hidupnya sebagai dalang, dengan menggunakan bahasa Jawa krama inggil; kalaupun terselip bahasa Indonesia, hanya satu dua kata.
Bagi Gito, panggilan kecilnya, Ngajeg tidak hanya tempat lahir. Dusun yang terletak di Kelurahan Tirtomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah lstimewa Yogyakarta itu juga sekaligus tempat masa kanak-kanaknya tumbuh menjadi seorang pemuda, dewasa, hingga kini ia menjadi kakek 16 cucu. Ke-16 cucunya itu buah dari pernikahan lima anaknya: Gandung Jatmiko (pengrawit), Winarsih (lbu rumah tangga), Sukardi (pedagang), Suparno (melukis, campursari, main wayang), dan Jumpono (pengrawit). Ki Sugito sendiri lahir sebelum Indonesia merdeka, kira-kira tahun 1942, akan tetapi ia lupa tanggal dan bulannya. Mengenyam pendidikan formal di dusunnya, hanya sampai kelas V sekolah rakyat (SR).
Darah seni Gito berasal dari banyak sumber. Kakeknya, Ki Redisono, semasa hidupnya dikenal sebagai dalang yang cukup populer di kampung mereka. Sumi, ibunya, adalah putri seorang dalang dari desa Kalibulus, Bimomartani, Steman. Adapun ayahnya, Ki Gondowasito (almarhum), dikenal luas sebagai dalang wayang purwo sekaligus dalang wayang topeng, yang banyak menggembleng bakatnya sejak masa kanak-kanak.
“Sejak sekolah rakyat saya sudah diajak main wayang,” ujarnya.
Sambil menunjuk sebuah foto sang ayah yang belum selesai dibingkai, Gito bercerita bahwa ayahnyalah yang mengajarkan bagaimana menjadi dalang Wayang Purwo sekaligus dalang Wayang Topeng. Menginjak remaja, ia juga berguru pada pemain-pemain (dalang) yang ikut dengan ayahnya. Di antaranya Ki Cermo Surip (Dewa Dewan, Tambakbayan, Steman), Ki Widitomo (Babadan, Steman), Ki Gitar, adik ayahnya (dari Loji Sari, Steman), dan Ki Suyatin dari Bantul, yang ikut kelompok Steman. Selain itu, Gito juga belajar ilmu pangruwatan kepada Ki Cermo Taryono, yang berasal dari Logondang, Kabupaten Gunung Kidul. Dan, pertama kali ia meruwat tahun 1996 di Talang Padang, Lampung.

ltulah sebabnya, oleh masyarakat setempat sejak lama ia dikenal sebagai dalang Wayang Purwo, pemain dan dalang Wayang Topeng Pedalangan, serta dalang Ruwat. Bahkan kini ketika tanggapan mulai jarang lantaran kesenian Wayang Purwo, apalagi Wayang Topeng Pedalangan, terdesak oleh hiburan populer dan televisi, predikat itu tetap saja menempel pada dirinya.
“Bancak Maling”
Wayang Topeng Pedalangan adalah sebuah genre seni pertunjukan di Daerah Istimewa Yogyakarya, yang dulu berkembang dan populer di Kabupaten Steman dan Kabupaten Bantul. Disebut Wayang Topeng Pedalangan karena diperankan oleh para dalang Wayang Purwo (kulit) dan setiap tokohnya mengenakan topeng.
Adapun ceritanya mengambil lakon Panji. Lakon yang paling sering ditampilkan adalah Bancak Maling (Bancak menjadi pencuri), Bancak Njala (Bancak menjala ikan), Rabinipun Bancak (Pernikahan Bancak), dan Datang Kudho Norowongso. Para pemerannya semua dalang laki-laki. Hanya pada pentas tahun 2004 di Ngajeg, disisipkan perempuan untuk tokoh putri (Dewi Sekartaji).
Seingatnya, hingga tahun 1950-an Wayang Topeng Pedalangan masih sering ditanggap oleh penduduk di dalam maupun di luar Dusun Ngajek, baik untuk acara bersih desa maupun nadar (kaul). Ketika sang ayah bersama grupnya main Topeng Pedalangan di depan Sultan Hamengku Buwono IX, sang Ngarso Dalem terkejut dan tertarik karena pembukanya tidak biasa. “Swargi bapak Ki Gondowasito, begitu keluar panggung langsung berjalan keliling, dan tidak sembahan dahulu seperti lazimnya,” cerita Gito mengenang.
Masa keemasan Wayang Topeng Pedalangan Ngajeg mulai memudar pamornya sejak pertengahan 1960-an, atau di ujung masa pemerintahan Bung Karno. Ki Sugito tidak tahu apa sebabnya. Bahkan setelah tampuk kekuasaan beralih ke pemerintahan Orde Baru, nasib Wayang Topeng Pedalangan juga tak mampu kembali ke masa keemasannya. Mungkinkah karena pada masa itu bangsa Indonesia sedang mendapat hiburan baru, yang dipancarkan lewat TVRI (Televisi Republik Indonesia) pada awal Orde Baru?
Akan tetapi, apakah penduduk Ngajeg waktu itu sudah banyak punya pesawat televisi? Atau jangan-jangan kemunduran itu disebabkan oleh peristiwa G 30 S, di mana banyak seniman tradisional ikut menjadi korban dan grup-grup kesenian tradisional banyak yang bubar? Sementara masyarakat pun takut nanggap pertunjukan kesenian tradisional, lantaran situasi politik yang mencengkam pada waktu itu. Pendek kata, faktanya sejak itu Wayang Topeng Pedalangan sepi tanggapan. Menurut Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri, Universitas Gajah Mada, Wayang Topeng Pedalangan—seperti halnya beberapa jenis seni pertunjukan tradisional yang lain—terdesak oleh kesenian modern dan kemudian tak ada tokoh penggerak dan pendukungnya jauh berkurang.
Kerinduan Ki Sugito untuk bisa naik pentas kembali di desanya sendiri terobati ketika tahun 2004 ditanggap oleh tetangganya, guru Dwijo Susanto (almarhum) yang ngluari ujar atau nadar sehubungan dengan batalnya pembangunan proyek jalan tol Semarang-Yogyakarta-Surakarta. Pembatalan proyek tersebut tentu saja membuat warga Ngajeg dan sekitarnya merasa bersyukur, tidak jadi digusur. Dan, memang, sejak semula warga Ngajeg tidak mau bedhol desa.
Dan seperti lazimnya pertunjukan Wayang Topeng Dalang, pertunjukan pada tahun 2004 tersebut dimainkan siang sampai sore hari. Saat itu mengambil lakon Bancak Maling, di mana Ki Sugito memerankan tokoh Klono (lihat foto). Lalu pada malam harinya dilanjutkan dengan pergelaran Wayang Purwo (kulit) semalam suntuk, mengambil lakon Bimo Suci. Untuk itu semua, Ki Sugito dan seluruh pemain, pengrawit, dan sindennya menerima honorarium Rp 10 juta.
Menurut pandangan Ki Sugito, belum sempurna kepiawaian seorang dalang Wayang Purwo jika yang bersangkutan belum bisa main Wayang Topeng Pedalangan. Sebab, di dalam Wayang Topeng Pedalangan itu seorang pemain (dalang) harus piawai menari dan memiliki tiga kelebihan: sajak (karakterisasi), wibowo (kewibawaan), dan sedhet (penjiwaan).
Yang unik, sampai saat ini, Ki Sugito—bahkan di Sleman—tidak mempunyai seperangkat topeng sendiri. Setiap kali mau main mereka harus pinjam ke dalang Ki Gunar Bantul, yang masih kerabatnya. Sebelumnya, dulu selalu menggunakan topeng milik Si Mbah Kalibulus. Topeng-topeng antik tersebut, entah bagaimana ceritanya dijual oleh pamannya. Ia pernah mencoba mengejar sampai ke Malioboro, tapi sudah tidak menemukan jejaknya. Gito tidak tahu topeng tersebut buatan mana. Namun, sepengetahuannya, dulu di Krantil, Bantul, banyak orang membuat topeng.
“Kalau nanti saya punya uang, saya ingin memiliki topeng sendiri,” ujar Ki Sugito yang siap mewariskan ilmu dan keterampilannya kepada generasi muda Ngajeg atau para mahasiswa institut seni yang ingin belajar Wayang Topeng Pedalangan. Setidaknya, kini dua dari lima anaknya,diam-diam telah mewarisi bakatnya mendalang maupun main gamelan.
Sebelum kami pamit, Ki Sugito yang didampingi adik kandungnya, Sugeng Widodo alias Cermo Handoko, yang sehari-hari menjadi abdi dalem Kraton Ngayogyokarto Hadiningrat bagian pedalangan, berharap kelak kami dapat kembali ke Ngajeg: menyaksikan bagaimana gamelan kembali menggema, mengiringi latihan Wayang Topeng Pedalangan. Kini di Dusun Ngajeg—seperti dusun-dusun lain di Jawa pada umumnya—mulai sepi dari kesenian tradisional sendiri, sementra rumah-rumah penduduk siang-malam ramai oleh hiburan televisi. (Tim ATL/YSH)