JEREMIAS A. PAH Memelihara Identitas NTT lewat Sasando

June 4, 2026

InShot_20260606_100650143

 

Namanya identik dengan Sasando, karena antara dia dan Sasando saling menghidupi, baik sccara sosial ekonomi maupun kultural.

 

Menyebut alat musik petik Sasando asal Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), kita akan teringat sosok Jeremias A. Pah.  Sebaliknya, kalau kita menyebut Jeremias A. Pah, kita akan teringat alat musik Sasando-NTTyang terbuat dari daun lontar. Bila kemudian keduanya melekat jadi satu, karena antara Jeremias dan Sasando, sudah puluhan tahun menjadi “dwi-tunggal” yang saling menghidupi.

Jeremias tinggal di Desa Oebelo, Kecamatan Kupang Tengah, sekitar 22 km arah timur Kupang, cukup jauh dari pusat keramaian kota Provinsi NTT di Pulau Timor itu. Ayah delapan anak ini adalah salah seorang turunan leluhur Rote. Di kota Kupang dan sekitarnya, keluarga Pah dikenal berdarah seni musik. Selain itu, keluarga ini peduli terhadap pelestarian Sasando. Salah seorang anggota keluarganya, Welly Pah (40), bahkan pernah memainkan Sasando hingga ke Amerika Serikat dan Berlin-Jerman, tahun 1996 dan 1997, atas dukungan Gubernur NTT (waktu itu) Herman Musakabe.

Tidak ada yang menyangkal jika keberadaan Sasando dewasa ini karena ada yang memainkan dan sekaligus membuatnya. Peran itulah yang dipikul tanpa kenal lelah oleh Jeremias dan keluarganya. “Anak-anak saya juga hampir semuanya bisa bermain Sasando. Karena itu, yang kami lakukan sekarang sebenarnya tidak sekadar melestarikan keberadaan jenis musik Sasando, tetapi sekaligus menjadi peluang usaha,” ujar Jeremias seperti yang dikutip Kompas beberapa saat lalu.

Sulit dibayangkan seandainya Jeremias Pah tidak membuka usaha kerajinan alat musik tersebut. Sudah pasti pengunjung atau peminat Sasando yang datang dari berbagai pelosok Indonesia, bahkan dari mancanegara, pasti sangat kesulitan mendapatkan alat musik tradisional yang bentuknya seperti gayung air itu. Namun berkat adanya usaha Sasando-nya selama ini, pesanan terus mengalir, tidak saja dari dalam negeri, juga dari luar negeri (Amerika, Eropa, serta Jepang dan negara Asia lainnya).

Ada juga yang membeli untuk koleksi pribadi, dipajang di dalam ruangan (rumah atau tempat kerja), tapi ada pula untuk kajian akademik maupun untuk dimainkan. Pengalaman putra Jeremias, Welly Pah, saat pentas di luar negeri menunjukkan bahwa pemusik di Barat sangat tergakum-kagum pada Sasando. Pemusik Barat itu terkesan dan sulit percaya bahwa dari sebuah Sasando yang dimainkan satu orang bisa menghasilkan paduan nada secara lengkap.

Jangan salah, meski namanya alat musik tradisional akan tetapi Sasando tidak statis, seperti yang dibayangkan banyak orang. Entah bagaimana ceritanya, ada semacam salah paham yang selama ini bersemayam di benak masyarakat bahwa yang namanya (musik) tradisional identik dengan sesuatu yang serba mandek, beku, statis. Padahal, dalam banyak seni tradisional menunjukkan bahwa di dalamnya terdapat kreativitas, dalam arti pembaruan, pengembangan, sehingga “sesuatu yang lama tetap hadir pada masa kini dengan semangat barunya.” Setidaknya Sasando membuktikan semua itu, dan menolak stigma yang salah kaprah tersebut.

Meski sebagian besar bahan bakunya masih asli, mengandalkan daun lontar dan bambu, tapi tampilan Sasando dewasa ini mengalami perubahan. Sebut saja daun lontar yang dilengkung hingga berbentuk setengah bundaran, masih dipertahankan hingga sekarang. Begitu juga potongan bambu yang dipasang seolah menjadi garis tengah permukaan bundaran daun lontar, masih seperti aslinya.

Dalam bentuk aslinya dulu, tali pendentingnya langsung dari cungkilan kulit bambu di antara kedua bukunya. Potongan bambu itu kemudian diikatkan pada permukaan bundaran daun lontar, memotong garis tengahnya. Selanjutnya, tali-tali cungkilan tadi diganjal dengan potongan kayu yang disebut senda hingga mendapatkan nada yang diinginkan. Setelah semuanya terbentuk, Sasando sudah bisa langsung dimainkan. Bundaran daun lontar dengan fungsi khusus memadukan resonansi hingga dentingan Sasando yang terdengar lebih bergema, harmonis dan merdu.

Dalam perkembangan selanjutnya, tali cungkilan kulit bambu diganti dengan senar dari kawat halus. Sementara di kedua ujung bambu dipasangi potongan kayu keras yang akan ditancapi sejumlah potongan skrup pengikat senar. Alat musik ini bisa langsung digunakan setelah tali-talinya diganjali senda.

 

Belakangan, atau sejak tahun 1980-an, tampilan Sasando semakin bervariasi dengan ditemukannya Sasando listrik. Sasando ini berpenampilan ”telanjang”—hanya berupa potongan bambu dengan rentangan senar di sekelilingnya. Atau, tidak lagi menggunakan bundaran daun lontar sebagai pengatur resonansi dentingannya.

Namun, pengalaman Jeremias Pah menunjukkan bahwa banyak orang lebih menyukai Sasando terbuat dari daun lontar, terutama pada Sasando lipat. Alasannya sederhana: bisa dibawa ke mana-mana hingga ke negeri jauh sekalipun. Oleh karena itu, bengkel kerajinan Pah berkonsentrasi pada Sasando lipat tersebut. Sasando lipat bertali 9-10 lazim disebut Sasando Gong, sedangkan Sasando Biola berdawai 24-32. Di luar itu, masih ada lagi yang disebut Sasando Cinderamata, berukuran kecil untuk buah tangan dan pajangan.

Sebagai pelestari alat musik yang menjadi ciri khas Tanah Timor selain kayu Cendana, Jeremias berharap Sasando Cinderamata itu bisa jadi semacam jendela apresiasi menuju pertunjukan musik Sasando itu sendiri. Sebab, seiring perkembangan zaman, kini Sasando tidak hanya mampu melantunkan nada-nada pentatonik, aka tetapi bisa juga meyenandungkan nada-nada diatonik. Lebih dari itu, di batik alunan iramanya, Sasando banyak menebarkan nasihat bijak dengan tutur bahasa halus sebagai penuntun menuju kebajikan hidup.

Tapi siapakah sebenarnya penemu Sasando itu pada awalnya? Menurut Jeremias Pah, hingga saat ini tak ada satu tulisan pun yang menceritakan awal mula penemuan Sasando. Kisah turun-temurun, yang diceritakan secara lisan dan diyakini masyarakat setempat, Sasando ditemukan oleh dua penggembala: Lumbilang dan Balialang. Ketika meladang bersama domba-domba, mereka membawa sehelai daun lontar. Saat kehausan di tengah hari, mereka melipat lontar tersebut untuk menimba air. Untuk melipat, bagian tengah daun berwarna kuning muda itu mesti dibuang. Kemudian, ketika hendak melepas, tali tersebut dikencangkannya.

Tanpa disangka, ketika ditarik keras, menimbulkan bunyi nada yang berbeda-beda. Tetapi, karena terputus-putus terus, keduanya lantas mencungkili lidi-lidi tersebut. Akhirnya mereka menemukankenyataan: jika senar tersebut dikaitkan rapat akan membunyikan nada tinggi. Sebaliknya, semakin merenggang, dawai menghasilkan nada rendah.

Kini, tak dapat dipungkiri, Sasando mulai agak tersisih oleh teknologi. Meski demikian Jerimias Pah bertekad akan tetap konsisten membuat dan bermain Sasando. Sebab, selain Sasando sudah jadi identitas NTT, bagi Jeremias, di dalam Sasando terkandung berbagai makna: warisan budaya, kebanggaan etnis, dan—jangan lupa—sebagai penentram jiwa. (Tim ATL)