Budayawan Sardono W. Kusumo begitu terharu mendengar kisah Ismail Sarong saat ia selamat dari bencana tsunami, 26 Desember 2004. Saat itu Sardono berada di Aceh untuk misi kemanusiaan. Berdiri tanpa baju dengan rambutnya yang panjang tergerai, di bekas perkampungan yang sudah rata tanah, keberadaan Sardono menarik perhatian banyak orang. Salah satunya Ismail Sarong.
ada awalnya, baik Sardono maupun Ismail Sarong tak bisa saling mengenali, meski keduanya sudah sering berjumpa. Boleh jadi lantaran suasana perjumpaan tersebut lain daripada biasanya. Musibah besar yang menghancurkan Banda Aceh dan sejumlah tempat lain di bumi Serambi Mekah pascatsunami, 26 Desember 2004, menjadi penyebabnya.
Sosok Ismail Sarong (61) sebagai salah satu seniman tradisi Aceh, yang sebelumnya sudah dikenal Sardono, siang itu tampak jauh berbeda. Sebaliknya, setelah mengamati lebih dekat lagi, Ismail Sarong akhirnya sadar bahwa sosok lelaki yang berdiri tanpa baju dengan rambut gondrongnya yang berkibar-kibar ditiup angin itu tak lain adalah Sardono W. Kusumo, seniman tari yang sangat terkenal dan sudah akrab di kalangan senimanseniman tradisi di Aceh.
“Begitu mengenali saya, dia langsung memeluk saya dan menangis sambil bercerita bahwa hampir seluruh keluarganya jadi korban tsunami. la sendiri bersama salah satu anaknya selamat. Percaya atau tidak, menurut dia, alat musik seurune kale semacam menjadi media yang ‘menyelamatkan’ nyawanya dari sapuan tsunami,” tutur Sardono tentang sahabatnya itu.
Jalan hidup seseorang memang terkadang penuh kejutan. Pagi itu, Ismail baru saja usai ikut mengisi acara di Lapangan Blang Padang, Banda Aceh. Di sana ia diminta memainkan alat musik kebanggaannya, seurene kale, bersama putra bungsunya, Rusdian (25). Usai tampil ia segera pulang karena untuk mengisi acara tersebut ia sudah meninggalkan rumah sejak subuh.
Tiba-tiba bumi bergetar. Gempa keras mengguncang seisi kota. Ismail yang pulang naik vespa berboncengan dengan Rusdian melihat dari arah depan begitu banyak orang bergerak. Belum sempat menyadari apa yang terjadi, tiba-tiba air sudah ada di mana-mana. Ia pun ikut terseret, tidak lagi menuju pulang ke rumah tapi ke arah Masjid Baiturahhman di pusat kota.
“Saat itu air sudah di atas kepala. Saya sudah tidak bisa lagi bergerak karena kaki terluka. Hanya berpegangan pada balok kayu agar tak tenggelam. Tahu-tahu alat (seurene kale miliknya) itu muncul ke permukaan. Entah bagaimana seurune kale itu terlepas dari setang kemudi vespa,” ujar Ismail Sarong.
Setelah beberapa kali terantuk balok kayu yang mengambang bersamaan masuknya air ke pusat kota, Ismail diselamat orang. la dibawa ke gedung yang cukup tinggi dan tidak roboh akibat gempa. Rudian pun belakangan ia ketahui juga selamat. Sementara keluarganya yang lain, istri (Rosnidar) dan lima putrinya (Iswani, Iswina, Afrieli, Afriela, dan lsriati) meninggal dalam musibah yang menyentak perhatian dunia tersebut.
Dari “rapai” ke “seurune”
Kemunculan alat musik tiup miliknya itu dari dalam air di saat tsunami meluluhlantakkah Banda Aceh tak ubahnya semacam pertanda, bahkan mukjizat. Di balik peristiwa itu, Ismail Sarong merasa masih diberi kesempatan untuk menjaga tradisi leluhur sebagai seniman peniup seurune kale yang kian langka.
Semula Ismail lebih dikenal sebagai pemain rapai gambus. la juga bermain rapai geundrang atau rapai jeune. Persentuhannya dengan jenis kesenian ini sudah ia jalani sejak masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Belakangan, bersama kelompok yang ia bentuk bersama saudara sepupunya, Abdullah Radja, mereka bermain rapai keliling Aceh hingga ke pelosok desa.
Baru pada tahun 1970-an Ismail Sarong merasa tertarik dengan bunyi yang dihasilkan oleh alat musik tiup yang disebut seurune kale. Apalagi ia tahu saat itu orang yang bisa memainkannya sudah sangat langka. Sepengetahuan Ismail, saat itu hanya ada dua orang peniup seurune kale di Aceh, yakni Leman di Keutapang (Aceh Besar) dan Cek Manyuk di Banda Aceh. Saudara sepupunya, Abdullah Radja, memang punya seurune kale tetapi tidak bisa meniup alat musik tersebut.
Merasa tertantang, Ismail mendatangi Leman dan minta diajari cara meniup seurune kale. Tapi ia harus kecewa karena Leman hanya mengajari, “Tarik napas dalam-dalam dari hidung, kemudian embuskan pelan-pelan dari mulut.” Cuma itu. Tapi Ismail tidak kecut hati, apalagi mundur. Kata-kata itu justru makin membuat ia tertantang, lalu belajar sendiri, sampai akhirnya bisa menghasilkan nada-nada yang memesona.
Ketika Ismail Sarong mendapat kepercayaan untuk mengisl acara pembukaan anjungan Aceh di Taman Mini Indonesia Indah (TMll) di Jakarta pada tahun 1975, kesempatan itu tidak ia sia-siakan. Bunyi seurune kale yang ia mainkan bukan saja menggetarkan penonton di TMII, tetapi sejak itu ia lebih dikenal sebagai seniman tradisi peniup seurune kale ketimbang pemain rapai geundrang atau rapai jeune.
Sejak itu pula Ismail sering diminta tampil dengan tiupan seurune kale-nya di acara hajatan, sunatan, maupun acara-acara resmi pemerintahan. Persis pada pagi menjelang bencana tsunami menerjang sejumlah kawasan di Asia Tenggara dan Asia Tengah, termasuk Nanggroe Aceg Darussalam, Ismail Sarong diminta tampil di acara yang digelar oleh wali kota Banda Aceh di Lapangan Blang Padang. Tiupan seurune kale-nya memang memukau, tetapi bencanalah yang menyentak ribuan pengunjung yang memadati Blang Padang hingga sebagian besar di antara mereka—termasuk sang wali kota—jadi korban.
Setelah rumah mereka hancur diterjang tsunami, Ismail bersama anak satu-satunya yang selamat, Rusdian, serta istri keduanya yang ia nikahi tahun 2006, Jariah Umar, kini tinggal di rumah barunya di Kampung Pande, Kutaraja, Banda Aceh. Sebelum menempati rumah bantuan Bank Pembangunan Asia tersebut, ia dan Rusdian sempat dua tahun tinggal di barak pengungsian.
Di rumah yang baru ini pula pensiunan pegawai Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam tersebut mendirikan sanggar kesenian Putroe Ijo. Sanggar yang dibangun berkat bantuan Sardono W. Kusumo dan sejumlah rekannya sesama seniman Aceh itu tak hanya berfungsi untuk mendidik anak-anak usia dini mengenal beragam seni tradisi, kadangkadang juga dijadikan tempat berkumpul oleh sejumlah seniman Aceh guna memperbincangan masa depan negeri Serambi Mekah ini.
Melalui sanggar Putroe Ijo yang ia kelola, Ismail Sarong berharap akan lahir generasi baru Aceh yang akan mewarisi dan menjaga keberlangsungan seni tradisi yang selama ini hidup di Tanah Rencong tersebut. Termasuk peniup-peniup seurune kale yang andal. “Seni tradisi janganlah dilupakan,” katanya. (Tim ATL/Thompson Hs/KN)
