ISLAMIDAR “Tuen” Penjaga Seni “Sampelong”

June 4, 2026

InShot_20260608_172128420

Ditemui saat tampil di satu hajatan perkawinan di pinggiran kota Payakumbuh, Sumatera Barat, lelaki tua berkacamata tebal itu sedang asyik memencet-mencet tuts keyboard bersama sanggar seni tradisional “Talang Pitunang”-nya. Hanya saja, siang itu tak ada musik tradisi dengan dendang Sampelong yang sangat ia kuasai. Juga tak terdengar bunyi talempong dimainkan.

eski musik dan nyanyian yang terdengar dari atas panggung masih berirama Melayu klasik, akan tetapi unsur musik modern begitu terasa. Apalagi bila yang naik ke panggung adalah mereka yang berasal dari kalangan anak muda, lagu dangdut pun mengalun dalam irama Melayu masa kini.

“Kalau mau tetap bertahan, ya, kami harus menyesuaikan dengan keinginan orang banyak. Akan tetapi, ke mana pun kami diundang, alat musik sampelong dan talempong tetap selalu kami bawa. Sebab, kadang-kadang ada juga permintaan dan ahli rumah agar kami berdendang Sampelong,” kata lelaki tua berkacamata tebal itu, yang tak lain adalah Islamidar, sosok pewaris dan penjaga seni tradisi Minang dari Lima Puluh Kota.

Dilahirkan pada 17 Juli 1941 di Nagari Talang Maua, Kecamatan Mungka, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, sejak kecil Islamidar aktif menekuni seni tradisi setempat. Selain Sampelong, lslamidar juga dikenal sebagai pemain Dikia Rabano dan Talempong Duduak. Berdendang basijobang, jenis dendang yang diiringi musik dari entakan korek api, Islamidar juga piawai.

Tak cuma itu, ia pun jago sebagai pemain musik Talempong Goyang, sebuah genre musik pop daerah yang menggunakan alat musik tradisional talempong dipadukan dengan alat-alat musik elektronik, seperti gitar dan bas elektrik serta keybord. Kombinasi alat musik tradisi dan modern inilah yang belakangan lebih sering ia mainkan bersama sanggar ”Talang Pitunang”-nya, seperti saat mengisi acara hajatan perkawinan di sebuah kampung di pinggiran kota Payakumbuh saat ditemui tim dari Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) pada akhir 2007.

Tradisi dan modern

Penguasaan Islamidar atas sejumlah alat musik tradisi dan modern, sekaligus kemampuannya menciptakan lagu-lagu disertai not balok, membuat ia dikenal luas hingga ke luar batas ke-nagari-annya. Sejumlah sanggar kesenian di Sumatera Barat—termasuk sanggar-sanggar tari—banyak yang meminta jasa Islamidar. Boleh jadi, karena itulah orang di luar kampung halamannya menyapa Islamidar dengan panggilan ”Tuen”, sebutan untuk tokoh pewaris sekaligus penjaga seni tradisi Minang, khususnya Sampelong.

Hanefi dari Jurusan Karawitan, Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Padangpanjang, mencatat bahwa Sampelong adalah salah satu genre musik Minangkabau yang pernah berfungsi magis kemudian mengalami perubahan ke fungsi hiburan semata. Di samping sebuah genre musik, sampelong juga nama alat musik yang digunakan untuk mengiring dendang (melodi vokal). Bentuknya berupa alat musik tiup dari bambu (block flute), memiliki empat lubang nada, meski yang dominan dipakai untuk mengiringi melodi hanya tiga lubang.

Dengan kata lain, Sampelong adalah nama salah satu jenis musik tradisi Minang sekaligus alat musik pengiringnya. “Menurut cerita orang tua-tua, dulu Sampelong sebagai alat musik pernah dipakai mengiringi mantra-mantra untuk menggunai-gunai orang dengan memanfaatkan gasing dari tengkorak manusia. Tapi praktik semacam itu sudah lama ditinggalkan. Sampelong kemudian dimainkan pada saat orang-orang istirahat sehabis memetik dan mengolah gambir,” kata Islamidar tentang masa lalu seni tradisi Sampelong.

Perpaduan permainan bunyi yang dihasilkan dari alat musik tiup terbuat dari bambu yang mengiringi melodi vokal dalam bentuk lantunan syair, umumnya berupa pantun-pantun rakyat, di tangan Islamidar tercipta harmoni yang indah. Sekalipun lirik-lirik syair yang kerap didendangkannya kebanyakan berkisah tentang kepahitan hidup, keperihan nasib, kemiskinan, kenestapaan, atau kegagalan cinta. Dalam dendang Sampelong, semua itu seperti bermetamorfosa dalam satu nada tunggal: keindahan seni tradisi!

Adapun talempong adalah alat musik dari keluarga gong. Seperti halnya Sampelong, istilah talempong juga dipakai untuk merujuk genre musik yang diiringi pukulan alat musik talempong. Taruhlah seperti Talempong Pacik yang dimainkan oleh 3-4 orang sambil berjalan atau berdiri, dan Talempong Duduak yang dimainkan dalam posisi duduk.

Untuk jenis yang pertama, sperangkat talempong dimainkan oleh 3-4 orang dengan cara dipegang atau dijinjing oleh masing-masing pemain. Bentuk permainannya kait-mengait (interlocking). Selain pemain talempong, pada Talempong Pacik biasanya ditambah seorang pemain gendang, dan kadangkala dilengkapi seorang pemain alat tiup yang disebut pupuik gadang.

Adapun talempong jenis kedua, seperangkat alat musik talempong yang terletak di rak dimainkan secara melodis. Selain 5-6 buah talempong, perangkat musiknya kerap dilengkapi dengan gendang, aguang (gong ukuran sedang), dan pada beberapa kelompok juga menggunakan lesung.

“Selain sampelong, Islamidar juga seorang seniman talempong yang sangat dikenal di Sumatera Barat. Permainan Talempong Duduak secara tradisional sangat dikuasainya. Tak hanya itu, Islamidar juga cukup andal memainkan melodi talempong dalam komposisi berdasarkan harmoni musik Barat untuk mengiringi tari-tari serta permainan melodi dalam instrumentalia,” jelas Hanefi.

Darah seni memang mengalir dalam tubuh Islamidar. Sejak usia enam tahun ia sudah pandai memainkan talempong yang diajarkan neneknya. Sementara dendang sampelong ia dapatkan dari ibunya, Rabiana Ma’ruf, yang memang dikenal sebagai pelantun dendang sampelong dan juga pandai memainkan gendang. Kakek, etek, dan mamak-nya termasuk pemain gambus terkemuka di ke-nagari-annya. Tak heran bila alat-alat musik lain juga ia kuasai, termasuk akordeon dan pianika.

Kemampuan Islamidar membaca not balok diakuinya ternyata sangat mendukung kegiatannya berkesenian. Begitupun penguasaan alat-alat musik modern yang ia pelajari dari Sanggar Sofyani di Bukittinggi. Suami Tati Afrida (mereka menikah tahun 1969) ini memang tak pernah berhenti belajar. Sayangnya, di antara lima anak mereka (Farida H, Ahmad Yuslim, Rahmi Lenggogeni, Deri Gantosori, dan Renti), hanya Ahmad Yuslim yang tertarik menekuni seni tradisi, terutama sampelong.

Setelah pensiun sebagai penjaga sekolah di kampung halamannya, kini ia lebih banyak mencurahkan waktunya untuk berkesenian. Kemampuannya dalam berkesenian itu pula yang menarik perhatian pemerintah setempat, sehingga ia yang cuma lulus sekolah rakyat (SR) diminta mengajar kesenian di SD Negeri Talang Maua, meski statusnya secara formal ketika itu adalah penjaga sekolah. Tak hanya urusan kesenian, Islamidar juga diminta mengajar matematika dan agama.

Meski sebagai pegawai negeri ia sudah pensiun, tetapi sebagai seniman tradisi Islamidar tak mengenal kata berhenti. Sang “Tuen” tetap tampil pada berbagai peristiwa kesenian, baik di desa-desa maupun kota. Satu hal yang membebani pikirannya, minat anak muda untuk menekuni seni tradisi—khususnya sampelong—hampir tidak ada. Jika suatu saat Islamidar tiada, bagaimana masa depan sampelong? Entahlah! (Tim ATL/KN)