Perjalanan hidupnya dipenuhidengan semangat belajar sendiri, sampai kemudian menjadi salah satu tokoh kesenian Bali.
ada mulanya seorang dalang biasa, yang pentas untuk umum, dan dapat melakonkan tentang cerita apa saja menurut pesanan penanggap. Lama kelamaan ia mengkhususkan diri sebagai dalang untuk keperluan “ruwatan”.
Itulah perjalanan hidup I Made Sija. Dalang ruwat kelahiran Banjar Bona Kelod, Desa Belega, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar, tahun 1933, dari pasangan I Nyoman Gentur dengan I Nyoman Gedor.
Bagi Sija, pilihan sebagai dalang ruwat dikarenakan murid-murid yang diasuhnya sudah dianggap mampu pentas mengikuti keinginan penanggap atau penonton, atau bahasa kerennya pasar. Sementara dalang untuk acara ruwatan benar-benar khusus karena perlu memiliki kemampuan ritual dan spiritual yang tinggi.
Di mata masyarakat Bali, dalang ruwat dianggap dapat menyampaikan legitimasi pencerahan bagi yang memerlukannya. Dan, Sija telah mampu menyerap aspirasi seperti itu, sehingga ia menjadi dalang ruwat yang keberadaannya sangat langka di daerah Bali. Masyarakat menganggap ilmu dalang seperti itu sudah melampaui kemampuan dalang biasa atau lebih tinggi.
Selain dalang ruwat, Sija juga dikenal sebagai dalang Arja, suatu bentuk seni pewayangan yang agak langka di Bali. Kalau dalang ruwat memikul beban, maka dalang Arja pun punya “beban”. Apakah beban itu? Sang dalang harus mampu mengarang gending sampai harus menguasai beragam tipologi karakter; dari tokoh Desak Rai, Condong, Mantri, sampai Galuh. “Oleh karena itu, kebanyakan orang tidak mau menjadi dalang Wayang Arja,” ujar Sija yang menekuni wayang Arja sejak tahun 1940-an.
Sija menjadi dalang ruwat maupun dalang Arja bukan karena pendidikan formal. Sekolahnya sendiri hanya sampai SD pada waktu zaman Jepang. Itu pun Sija terpaksa berhenti sekolah karena merasa tidak puas dengan keadaan pada waktu itu. “Murid-murid sekolah pada saat itu disuruh mencari tikus dan menanam jarak sehingga membosankan,” katanya mengisahkan keadaan yang sudah lama sekali tertinggal dibelakang hidupnya, tapi tetap melekat dengan kuat dalam kenangannya,

Setelah meninggalkan bangku sekolah dasar karena menuruti keinginannya, ia belajar sendiri mendalami huruf Bali dari I Gusti Made Seler. Tidak hanya itu, ia pun juga belajar geguritan (puisi), macapat, dan sekar media dari I Wayan Kereg. Kemudian belajar mengukir paras, kayu, dan kulit dari I Gusti Nyoman Tantra. Ada semacam perasaan semakin kurang dalam dirinya setelah mempelajari banyak hal. Oleh karena itu semakin mendorong keinginannya belajar lebih jauh tentang dunia seni dengan selalu mencari guru yang terpandang.
Pada tahun 1957, Sija menikah dengan seorang gadis bernama Ni Nyoman Saprug. Dari perkawinan tersebut ia memperoleh sepuluh anak; tujuh laki-laki dan tiga perempuan. Pada tahun 1974, saat anaknya masih kecil-kecil, istrinya meninggal dunia saat melahirkan anak yang kesepuluh. Sija mengalami penderitaan cukup lama karena harus membesarkan anak-anaknya. Namun Sija tidak berhenti belajar berkesenian.
Di tengah-tengah penderitaan tersebut, ia mulai meniti karier sebagi seniman. Pada tahun 1974, ia mengikuti Festival Topeng se-Bali. Kemudian, tahun 1976, mengikuti Festival Wayang Arja. Tahun 1977, ia mulai menanjak naik daun sebagai pembina dalang. Pada tahun 1978, ia mengikuti pesta seni di Jakarta. Kemudian, pada 1979, ia tampil sebagai pembina dalang se-Bali. Pada waktu didirikan STSI (sekarang ISI}, ia juga diminta mengajar di sini, kemudian dilanjutkan mengajar tentang pedalangan. Sebenarnya tentang pedalangan ini banyak diberikan kepada mahasiswa yang mau datang di rumah.
Pengalamannya ke luar negeri cukup banyak, baik dalam pementasan maupun pameran. Pada tahun 1982, mengikuti pekan wayang mewakili Indonesia ke Seoul. Kemudian, tahun 1987, ikut pameran wayang kulit di Swedia. Sija juga pernah belajar membuat patung perunggu di Melbourne, Australia. Ia juga pernah diundang pameran wayang di Jepang, Jerman, Swiss, dan Finlandia. Bersama rombongan Emil Salim, ia pernah jadi duta pertunjukan topeng di Denmark.
Dengan pengalamannya yang cukup banyak tersebut, pada tahun 1990, Sija mendirikan Sanggar Paripurna guna menampung anak-anak yang telantar atau anak-anak yang tidak dapat melanjutkan sekolah. Sija mengajarkan kepada siapa saja yang ingin saling mengisi di bidang kesenian bagi anak-anak yang kurang mampu untuk modal masa mendatang.
Salah satu dari sepuluh anaknya, yang sejak umur empat tahun dikenalkannya pada dunia pewayangan, termasuk diajak mengkuti festival wayang di luar daerah, kini sudah besar dan menjadi tokh pewayangan pula. Namanya Made Sidia, alumnus Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) Denpasar, yang kini telah menjadi Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar.
Sija tidak membentuk anak seperti kemauannya, tapi memberi kebebasan mengembangkan sendiri sesuai pilihan kreativitasnya. Hasilnya, Sidia yang dikenal sebagai dalang muda ini menciptakan apa yang kemudian populer sebagai wayang listrik. Wayang Sidia ini menggunakan peralatan proyektor.
Dalam festival internasional tiga tahunan Art Summit Indonesia V 2007 di TIM, Jakarta, Made Sidia diundang sebagai salah satu pesertanya. Ia mengangkat cerita tetap bersumber dari pakem Mahabarata dan Ramayana. Akan tetapi bentuk penyajiannya mengikuti perkembangan zaman.
Kini nama Made Sidia memang sedang naik daun di dalam dan di luar negeri, bahkan mungkin popularitasnya melebihi Sija, ayahnya. Masyarakat Bali mengenal Sidia sebagai dalang berbakat dan kreatif. Dalam setiap pementasannya, dia bukan hanya memperlihatkan penguasaan seni pedalangan, tetapi juga memiliki cara khas menyampaikan pesan moral sehingga dapat diterima dan dimengerti siapa pun.
Bedanya dengan Sija yang kukuh berpegang pada tradisi lengkap dengan pakem dan asesorisnya, Sidia yang hidup di tengah maraknya teknologi visual, tak mau ketinggalan menggunakan proyektor dan slide, misalnya sebagai medium untuk menyampaikan pesan sekaligus memperkaya gambar di layar. Ditambah dengan penggunaan bahasa campur aduk: Bali, Indonesia dan Inggris, maka “wayang Sidia” menembus batas-batas ras, bahasa, bahkan kultur. Walhasil, wayang klasik Bali yang sarat pesan moral itu tampil kontemporer dan dapat dengan mudah diterima masyarakat di dalam maupun di luar Bali.
Dengan adanya Sidia, Sija boleh bernapas lega, dalam arti ia telah memiliki “sang penerus”, meski caranya agak berbeda. Tapi kepada siapakah kelak ia akan mewariskan keahliannya sebagai dalang ruwat dan dalang Arja yang tetap menganut pakem klasik? Apakah kepada Sidia, atau yang lain? Waktu yang akan menjawabnya. (Tim ATL)
