Dalam usia 80 tahun, Haji Bodong eksis sebagai penari Topeng Betawi. Setelah HajiBokir tiada, tinggal dialah yang tertua

openg Betawi merupakan kesenian rakyat yang menggabungkan beberapa cabang seni sekaligus—musik, tari, lawak, dan lakon—dengan pengiring terdiri atas gendang besar, kulanter, rebab, kromong, kecrek, kemul, dan gong, Pertunjukan dimulai dengan permainan musik yang disebut talu atau tetalu, berupa instrumentalia yang membawakan lagu Arang-arangan atau Tetopengan.Selesai tetalu disambung dengan keluarnya seorang penari wanita yang disebut Ronggeng Topeng. Ada ciri khas busana si penarinya, yaitu mengenakan kain batik panjang dengan kebaya berlengan pendek, dengan detail dua lembar kain berhias penutup dada, punggung, dan perut. Serta hiasan kepala terbuat dari kain perca.
Setelah beberapa saat menari, keluarlah bodor ‘pelawak’ yang setelah mengadakan dialog perkenalan dengan penari, akhirnya belajar menari dengan gaya lucu. Pertunjukan dilanjutkan dengan lakon—antara lain yang terkenal Mursidin dari Pondok Pinang dan Saimun Buang Anak—kemudian ditutup dengan pertunjukan lakon keluarga Jantuk.
Ritual Topeng Betawi semacam ini pastilah sudah dihapal oleh Haji Bodong. Sebab ia sudah mulai ikut manjak di Topeng Betawi sejak tahun 1942, dalam usia 15 tahun. Maka, dia mengingatkan, yang juga penting diingat di Topeng Betawi itu, “Enggak boleh ngomong cabul.”
Meski sudah berusia 80 tahun, Haji Bodong masih tetap semangat untuk tampil di Topeng Betawi. “Tinggal bisa-bisanya kite. Ampe gini hari enggak bisa kerja laen,” katanya, untuk menjelaskan bahwa hanya Topeng Betawi-lah yang ia kuasai sampai sekarang.
Meskipun sebetulnya Bodong juga mengakui bahwa fisiknya sudah tidak sekuat dulu. “Jalan dari sini ke depan aja udah dua kali brenti, udah sesek ambegan-nya,” ungkap Bolot, rekan Bodong, seraya menunjuk jarak dari rumah Haji Bodong—yang berada di dalam Gang Dukuh, Taman Mini, Jakarta Timur—ke ujung gang. Hanya saja, kalau diminta tampil, Bodong lupa pada keterbatasan tersebut.
Kelahiran asli Betawi, tepatnya di Gandaria, Cibubur, sebetulnya ia juga tak membayangkan akan menjadi pemain Topeng Betawi. Seperti yang dikatakannya, “Ketarik main Topeng karena enggak ada kerjaan lain.”
Semula, anak pasangan Disan dan Sanih ini menjadi pedagang keliling, menjajakan kue apem, onde, dan putu mayang buatan ibunya. Sedangkan ayahnya tukang gerobak pembawa kayu.
Di sela waktunya, ia sering nonton Topeng Betawi. “Jadi waktu itu ada yang ngajak-ngajak. ‘Manjak topeng aja, katanya gitu.’ Jadi bergaul tuh sama topeng.” Ia ingat, ketika itu, grup Topeng Betawi yang tenar di kawasannya adalah grup Topeng Kinang Putere pimpinan Dalih Jiung, Cisalak. “Ada lagi Topeng Bokir. Bokir dulu ikut Pak Jiun ini,” tutur Bodong, menjelaskan tentang grup Topeng Setia Warga pimpinan Haji M. Bokir, yang sejak lama menjadi satu-satunya kelompok Topeng Betawi di kawasan Taman Mini.
Topeng Betawi pimpinan Bokir itulah yang sering ditonton ketika Bodong kecil. “Sering nonton, jadi kepengen,” tutur Bodong. Begitu seringnya pula melihat Bodong nonton, hingga kemudian Bokir yang berusia dan berpostur badan sama, mengajaknya untuk bergabung. “Nggak pake diajarin. Liat orang-orang main, tentu dia bisa, saya juga bisa,” ujar Bodong.
Bodong kemudian sering tampil sebagai pemeran utama. Dan ikut rombongan ke mana saja kelompok itu pergi – ke kampung-kampung, hajatan perkawinan, khitanan, hingga ke televisi dan sinetron. “Jadi dari dulu sama Bokir,” ujar Bodong.
Hubungan kerja keduanya berlanjut menjadi persahabatan hingga usia tua. Rumahnya pun berdekatan. Bersama Bokir pula, Bodong menikmati masa kejayaan menjadi bintang Topeng Betawi. Di rumahnya, yang ia tinggali bersama Rina, istrinya ke-9, terpampang fotonya mengenakan jas di dekat mobil kijang. ltulah kenang-kenangan masa kejayaannya. “Mobilnya masih ada, di-simpen di rumah yang di Gandaria,” ujar Bodong.
Waktu itu, hampir setiap malam ada jadwal berpentas. Karenanya ia bahagia sekali ketika sekali waktu bertemu dengan seorang penonton yang mengatakan, “Bang Bodong, saya lagi khitanan nanggap Bang Bodong, tapi sampai sekarang Bang Bodong masih begini-begini aja.”
Bodong menikmati masa dipuja-puji wanita. la mengalami menikah sampai sembilan kali. “Ya ganteng, pacar banyak. Saya sembilan kali kawin yang nikah di penghulu, yang lain mah banyak,” tutur Bodong. Sayang dari sembilan istri, Bodong hanya memperoleh dua orang anak, yang diperolehnya dari istri kedua dan ketiga. “Kan kita lagi muda pengen dapet keturunan. Empat-lima tahun enggak dapet keturunan, kita lepas,” tambahnya.
Sayang, sejak Bokir sudah meninggal dunia Bodong tampak terpukul. “Tinggal saya yang paling tua hari ini,” ujar Bodong. Ia sempat gamang sepeninggal Bokir. Tapi kemudian Bolot, pelawak sekaligus tokoh Lenong yang sering ia temui saat masih sama-sama manggung bersama Bokir, mengajaknya untuk bergabung dengan Lenong Betawi ia pimpin. Maka, kalau Topeng Betawi ia ikut Setia Warga yang sekarang dipimpin Mastur, kemenakan Haji M Bokir. “Kalu Lenong sama Bolot,” tutur Bodong. Di dinding rumahnya juga terpampang piagam penghargaan Seni Lenong Betawi Berprestasi se-wilayah Kotamadya Jakarta Timur (2005).
Bodong menyadari tawaran untuk Topeng Betawi sekarang jauh berkurang. “Kendor”, begitu istilah Bodong. “Habis, kan, kadang-kadang buat bayarnya yang enggak cukup. Kalu orgen tunggal lebih ringkes, Rp 2 juta juga udah dapet,” ujar Bodong. Bandingkan dengan Topeng Betawi yang tarifnya mencapai Rp 10 juta-Rp 20 juta untuk jarak dekat dan Rp 25 juta untuk jarak jauh.
Dari tarif tersebut, biasanya Haji Bodong mendapat bagian. “Ya, bangsa Rp500 ribu sih kebagian. Kalu tiap hari sih mendingan. Tapi kalu lagi sepi begini, kadang-kadang kagak kejatuhan sebulan sekali,” ungkapnya dengan nada pasrah.
Meski begitu, Bodong tetap optimistis bahwa Topeng Betawi tidak akan punah. “Bangun anak jadi enggak hilang. Enggak mungkin ilang, sebab banyak perintisannya,” ujarnya, untuk mengatakan bahwa mendidik generasi muda itu penting agar kesenian ini tidak punah. Sayang anaknya sendiri tak ada yang tertarik untuk manjak. Mereka lebih suka jadi sopir dan pedagang.
Seniman yang buta huruf ini mengisi hari-hari kosongnya dengan berjalan kaki keliling kampung dan momong dua orang cucunya ini senang bila diminta mengajar. Tapi ia tidak bisa bila diminta mengajar teori. Karena ia sendiri tidak tahu teori Topeng Betawi. “Saya enggak bisa silatnya, enggak bisa narinya,” ujar Bodong. Tapi, kalau saat di panggung ada yang minta diarahkan, akan dia bantu. “Ngajar-nya di kalangan aja, waktu mentas …. lu jadi ini, jadi ini,” jelasnya. (Tim ATL/RSH)