ENCIM MASNAH : Petinggal Penyanyi Klasik Gambang Kromong

June 4, 2026

InShot_20260509_173436738

Dia pernah sangat populer sebagai penyanyi Gambang Kromong di seantero Jakarta dan Banten. Kini, dalam usia 82 tahun, meski tak setenar dulu, tinggal dialah yang tercatat sebagai penyanyi Gambang Kromong.

etika ditemui, Encim Masnah sedang termangu-mangu di depan rumahnya, di kawasan Teluk Naga, Tangerang. Berbalut blus motif kembang kecil-kecil lengan pendek dan kain batik lusuh yang ia ikat begitu saja hingga panjangnya hanya mencapai betis, ia duduk menghadap jalan. Rambutnya yang memutih ia gelung di atas kepala.

Sebentar-sebentar terdengar suaranya menjawab sapaan tetangga yang lewat, ditingkahi suara motor yang lalu-lalang di jalan depan rumahnya. “E … Ce’ am!” serunya, ketika ada yang menyapa sambil lewat. “ltu besan saya,” jelas wanita yang sampai sekarang dikenal sebagai penyanyi klasik Gambang Kromong ini. Biasanya para tetangga suka menemaninya di rumah untuk sekadar kongkow-kongkow.

Begitulah hari-harinya di rumah, berbeda dengan penampilannya bila sedang manggung. Dalam usia 82 tahun—lahir pada 12 Januari 1926, meski sebetulnya ia tak yakin tahun berapa  dilahirkan—Encim Masnah biasanya rapi di panggung mengenakan kain kebaya lengkap dengan selendang dan sanggul. Saat di panggung ia juga mengenakan kacamata. Suaranya masih melengking membawakan lagu-lagu andalannya, antara lain Robin dan Cente Manis.

“Tapi saya sekarang udah tua, udah kurang napas. Asal dingin, saya angot,” ujar Masnah, yang setahun belakangan terkena asma. “Tau’ dah, dulu-dulu mah enggak punya penyakit begini. Kecapean kali dari muda, ya,” keluhnya.

Dari ruang dalam rumah terdengar kaset rekaman suaranya saat masih menjadi primadona Gambang Kromong. “Saya seneng aja denger suara sendiri,” ujarnya seraya terkekeh.

Rekaman kaset dengan sampul gambar dirinya itu jelas bagian dari kesuksesannya pada era 1960-an. Pada era itu, ia tak bakal punya kesempatan untuk duduk-duduk. Sebab hampir tiap hari ada yang mengundangnya untuk tampil. Hasilnya, antara lain, ia bisa membeli rumah yang ditempatinya hingga sekarang.

Masnah bersyukur dengan kariernya itu, meskipun ia sendiri tidak menyangka bahwa ternyata ia bisa menyanyi. Bahkan ketika kecil, ia tak pernah menonton Gambang Kromong. Padahal Gambang Kromong pada era 1950-1960-an sangat berjaya di kawasan Tangerang.

Terlahir sebagai anak tunggal dengan nama Pang Tjin Nio, Masnah yang lahir saat ayahnya sudah meninggal dunia ini harus membantu ibunya, hingga akhirnya dinikahkan dengan Tju Lin, seorang petani dari Serang. Sayang pernikahan itu tidak berusia panjang, lantaran anak Masnah meninggal saat masih di bawah satu tahun, disusul meninggalnya sang suami. Tak lama kemudian ibunya juga meninggal.

Masnah yang buta huruf sangat putus asa karena kehilangan orang-orang yang dicintainya. “Enggak tahu tahun berapa itu, lagi masih zaman normal, zaman Belanda,” tutur Masnah. Maka, untuk melipurnya, seorang teman mengajaknya menonton pertunjukan Gambang Kromong. Sejak itu ia jadi sering mengikuti di mana saja pementasan Gambang Kromong.

“Saya enggak kenal siapa penyanyinya. Dengerin aja sambil ngelamun, lantas kecantum,” tuturnya. Yang ia tahu, penyanyi Gambang Kromong ketika itu sangat sedikit jumlahnya.

 

Rupanya kehadirannya menarik perhatian pimpinan sebuah kelompok Gambang Kromong, yang kemudian mengajaknya menyanyi di panggung. “Saya mah enggak belajar, dengerin sendiri aja,” tutur Masnah. Satu hal yang ingat, pertama kali menyanyi di panggung adalah di Serang.

Di panggung, nama aslinya Pang Tjin Nio kemudian mendapat bermacam panggilan. Ada yang memanggil dengan Nyo Nyo, ada yang memanggil dengan Tjin saja. Akhirnya malah panggilan Masnah yang populer hingga sekarang.

Dalam perjalanannya dari panggung ke panggung, ia bertemu dengan Oen Oen Hok, pimpinan grup Irama Masa. “Lagi nyanyi. Dia manjak. Sama-sama manggung. Kita pacaran dah,” kenang Masnah. Bersama Oen Oen Hok, berdua memimpin Irama Masa. Ia jadi memahami juga tugas alat-alat yang ada di Gambang Kromong,  yaitu te’yan (rebab), gambang, kromong, gong, gendang, kecrek, suling. Alhasil, meski tidak memainkannya sendiri, ia bisa mengeritik bila ada yang salah.

Perjalanan Masnah bersama grupnya sampai ke Singapura. Di antara penggemarnya yang di Singapura masih ada yang mengingatnya. “Kemaren ada orang Singapura. Udah tiga kali kemari. Dia pengen ketemu doang. Ngebawain kaen sampe 14 biji. Beliin baju, segala peneti,” tuturnya, senang.

Kariernya sempat terhenti pada 1980-an karena ada larangan dari pemerintah. Tapi akhirnya Gambang Kromongnya bisa muncul lagi pada 1990-an. Sayang, pada 1994, Oen Oen Hok meninggal dunia, sehingga Masnah hanya ditemani anak-anaknya.

Sekarang, seiring dengan waktu serta persaingan dengan musik pop dan dangdut, pengundangnya pun jauh berkurang. Tetapi bukan berarti tidak ada sama sekali. Meski berusia sudah sangat lanjut, tetap masih ada yang mengundang Encim Masnah untuk manggung. “Ini tadi majikan saya kemari dari Curug, ngebilangin maen,” tutur Masnah. la biasa menyebut penyelenggara acara dengan ‘majikan’.

Masnah, sepeninggal suaminya pada 1994, masih bisa mendapat jadwal menyanyi dua-tiga kali seminggu. Masih kuat? “Ya masihlah,” ujarnya sembari tertawa. ” Tau’, ya. Kalu di rumah kesel aja, kalu ke mana-mana senang, sehat gitu. Kuat aja kalu mau jalan mah,” ujar Encim Masnah, yang sekarang ke mana-mana dikawal Ocit, anak bungsunya.

Ia kini biasa tampil dengan kelompok Gambang Kromong Suara Kenangan pimpinan Ongkian, yang personilnya sudah sering mengiringinya semasa muda. Mereka umumnya tampil dalam dua hari satu malam. Mulai siang hari dan selesai pada siang hari berikutnya. Meski bergantian dengan penyanyi lain, tetap saja Encim Masnah menyanyikan lebih dari 10 lagu.

Kalu ditonton lebih banyak orang, lebih girang. Ada yang dengerin, ada yang liat,” ujarnya. Kebahagiaan ditonton orang banyak itu, bagi Encim Masnah, lebih besar artinya daripada jumlah honor yang diterimanya.

“Saya dapet-nya gopek (Rp500.000) semalem itu. Tapi dari luaran (saweran), ya kalu milik, kita masih dapet Rp300 ribu,” tutur Encim Masnah. “Ya, bakal makan aja. Beli perhiasan ada juga, selain buat simpenan nanti takut kita kabutuh,” tambahnya.

Di luar dari jadwal menyanyi, nenek lima cucu ini lebih suka di rumah. Bangun pagi pukul dua pagi, lantaran sudah mendengar kesibukan anak bungsu dan menantunya menyiapkan kue untuk dijual. Setelah rumah sepi, ia akan tidur lagi. Lalu wanita yang tak pernah pantang makanan ini akan bangun pada jam makan siang. “Saya mah gawe-nya gini aja. Tidur-bangun aja, hahaha, yang kerja pan ada mantu. Paling kalu mau, momong cucu,” ujar nenek lima orang cucu ini.

Sebetulnya ia ingin ada anaknya yang menuruni bakatnya. Sayangnya, satu-satunya anak dari suami keduanya hilang pada usia sembilan bulan. Maka, penganut agama Budha ini kemudian mengangkat empat orang anak. “Abis, mikirin kita tua, enggak ada yang ngurusin,” kata wanita yang lahir dari ayah berdarah Cina dan ibu orang Indonesia kelahiran Mauk, Tangerang, ini.

la pernah berniat mengajarkan ilmunya kepada yang berminat. Sebab ia sadar, bila dia tiada, tak ada lagi penyanyi klasik Gambang Kromong di Indonesia. Sudah ada dua murid yang ia banggakan, yaitu Lia dan Yuli. “Kalu saya sudah enggak ada, ya, tentu mereka gantinya,” ujar Masnah, yang masih bersemangat untuk mengajar, sayang sekarang tak ada lagi yang berminat mempelajari ilmunya. (Tim ATL/RSH)