Namanya sangat melekat dengan kesenian Mamanda, kesenian yang sudah dikenalnya sejak kecil. Tapi sebetulnya ia adalah seniman serba bisa. Teater, tari, musik, dan sastra ia kuasai.

anpa Bachtiar Sanderta, barangkali Teater Mamanda yang merupakan kesenian tradisional di Kalimantan Selatan sudah lenyap.“Alhamdulillah Mamanda masih banyak diminati oleh masyarakat dan selalu dirindukan,” ujar Banchtiar Sanderta, yang kini dalam di usia 69 tahun masih tetap sehat berkat hobinya berjalan kaki di sekitar rumahnya yang berdekatan dengan kampus Universitas Lambung Mangkurat (Unlam).
Semula tokoh yang akrab disapa Pak BS ini sempat gelisah mengetahui kesenian tradisional tersebut tak pernah dimunculkan. Sampai dengan tahun 1969, kesenian tradisional setempat yang ditampilkan selalu tarian Melayu.
Kelahiran Amuntai, 4 Juli 1939, Bachtiar Sanderta yang masa kanak-kanaknya dihabiskan di Hawayan—daerah perbatasan antara Kabupaten Hulu Sungai Utara dengan Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan—teringat ketika kecil melihat banyak jenis kesenian lain yang patut dibanggakan. Di antaranya Teater Mamanda, yang menurut Pak BS, mengangkat “Kisah 1001 Malam” dengan penekanan pada etika moral. Ketika kecil ia sering diajak pamannya, yang adalah pemain Mamanda, pergi ke tempat pertunjukan dengan mengayuh sepeda. Pak BS kecil duduk di depan sambil memegang baju untuk pentas Mamanda.
Sejak itu ia tertarik pada Mamanda, jenis teater yang mirip dengan Wayang Orang tetapi para pemainnya menggunakan topeng sesuai dengan tokoh yang diperaninya. Sampai-sampai pada usia 10 tahun, saat masih di kelas IV SD, Pak BS bersama teman-temannya membuat grup Mamanda. Dirinya selalu menjadi tokoh raja, dan para penonton yang adalah teman-teman yang tidak ikut menjadi pemandaan—sebutan untuk para pemeran Mamanda—harus membayar pertunjukan dengan buah kemiri. “Karena di kampung itu banyak pohon kemiri,” tutur Pak BS seraya tertawa.
Bungsu dari tiga bersaudara ini memang lahir dari keluarga seniman. Ayahnya seniman syair hadrah, sedangkan ibunya penari ronggeng—meski tak melanjutkan profesi itu. Tidak heran bila tamatan sekolah guru di Amuntai ini meski saat menjadi guru SD (1958-1976) ia tetap menjadi seniman. Pada 1969, suami Hj Asteah ini mendirikan sanggar Teater Banjarmasin yang kemudian dipimpin salah seorang cucunya, Amir Hasan Bondan. Di grup teater tersebut ia mewujudkan ciptaan yang biasanya merupakan perpaduan antara drama atau seni Barat yang modern dengan bentuk-bentuk kesenian tradisional yang dikenalnya semasa kanak-kanak dan remaja.
Mantan Sekretaris Teater Masa Amuntai (1955-1958) ini juga bergabung dengan Lembaga Seni Budaya Muslim (Lesbumi), yang beraviliasi pada Nahdlatul Ulama (NU). Di Lembaga yang pada peristiwa G30S melawan Lekra itu, selain sempat menjadi ketua untuk wilayah Banjarmasin (1964-1971) dan Wakil Ketua Wilayah Kalsel (1971-1974), ia belajar drama modern dan membaca naskah-naskah drama Barat seperti karya-karya Shakespeare.
Berbagai naskah Mamanda kemudian lahir dari tangannya. Di antaranya, fragmen tari wayang orang berjudul Ratu Zulaeha (1970), yang juga mengangkat kisah ‘1001 Malam’, seperti halnya Mamanda yang asli. “Tapi naskah yang saya buat pendek saja, karena detailnya pada saat di panggung,” ujar penulis buku Kumpulan Cerita Mamanda (1977), Deskripsi Mamanda Teater Tradisi Kalsel (1994), dan Pengantar Latihan Teater Tradisional Mamanda (1997) ini.
Pada tahun 1999, Teater Banjarmasin menggelar Krisis Manitir, plesetan Pak BS atas krisis moneter 1998. Karya Bachtiar Sanderta yang disebut Kesenian kontemporer dengan dasar tradisi ini dianggap lebih dapat dipasarkan kepada konsumen, antara lain ke Jakarta dan Malaysia. Hal itu dikarenakan Pak BS mau berkompromi dengan membuat pertunjukan dalam tempo hanya dua jam. Berbeda dengan aslinya, yang memakan waktu semalam suntuk. Ia pun disebut sebagai seniman yang tidak mau bertentangan dengan selera masyarakat.
“Tapi mereka yang biasa nonton Mamanda semalam suntuk jadi marah kalau nonton Mamanda hanya dua jam,” tutur penulis Kumpulan Naskah Mamanda Gandut Bariyah (2003) ini.
Kini Teater Mamanda sudah kembali disukai masyarakat. Bahkan, seperti dulu, Mamanda dicari masyarakat sebagai bagian dari upacara perkawinan. “Masyarakat banyak yang suka karena bahasanya memakai bahasa Melayu,” ujar penerima Hadiah Seni untuk bidang seni teater dari Gubernur Kalsel ini.
Namun bukan hanya Mamanda yang mendapat sentuhan Pak BS. Ketua Grup Bina Bakat Banjarmasin (1966-1969) dan Ketua Kursus Tari Sukmaraga Banjarmasin (1979-1981) ini juga menggarap Japin, Bapandung, Wayang Gung sehingga bisa diminati penonton masa kini. Tidak heran bila
Selain menulis naskah-naskah untuk pementasan Mamanda, Bachtiar Sanderta juga menulis puisi (antara lain Antologi Puisi Pohon Maksiat, 1996) serta menulis cerpen (antara lain Antologi Cerpen Bahasa Banjar Kamandrah, 1997). Tidak heran bila ia dikenal di Kalimantan Selatan sebagai ‘seniman serba bisa’.
Wajar pula bila kemudian Pak BS kerap diminta menjadi narasumber penelitian atau pembicara seminar tentang kebudayaan dan kesenian Kalimantan Selatan. “Pada waktu disuruh menjadi pemakalah, saya punya keterbatasan. Karena itu lebih baik saya kuliah,” tutur Pak BS, yang setamat dari FKIP Jurusan Bimbingan Penyuluhan (1976 ) ditarik dari guru SMP swasta kemudian menjadi PNS pada Bidang Kesenian Kanwil Depdikbud Kalimantan Selatan (1976-1978). Selanjutnya, ia yang kemudian menjabat Penilik Kebudayaan (1978-1979), Kasi Kebudayaan Depdikbud Kota Banjarmasin (1979-1980), Kasi Bina Program Bidang Kesenian Kanwil Depdikbud Kalsel (1980-1985), juga dikenal sebagai pejabat yang sangat menentukan strategi perkembangan kesenian di wilayah Kalimantan Selatan.
Posisinya sebagai pejabat, terutama ketika menjadi ketua Taman Budaya (1985-1996), dianggap menunjang kreativitasnya. Apalagi ia dikenal sangat gemar pergi ke luar kota Banjarmasin, guna melihat berbagai bentuk jenis seni pertunjukan untuk dikreasikan supaya bisa dinikmati lebih luas lagi. Misalnya tentang sentuhannya pada Panting—alat musik petik khas Kalimantan Selatan—berawal dari kunjungannya ke Harakit, Kabupaten Tapin. la melihat seseorang bermain kecapi dengan menggunakan nada pentatonik, bukan slendro. Sejak itulah ia memberi sentuhan dan mencipta lagu untuk musik Panting, bahkan menulis buku Musik Panting (1995).
Dari berbagai pengalamannya dengan musik Panting, Pak BS mengusulkan agar dinas kebudayaan setempat membuat orkes Panting, yang kemudian dibawanya ke Jakarta untuk diikutsertakan dalam festival dan ternyata masuk 10 besar. Sekembalinya dari Jakarta, Pak BS membuat lokakarya tentang musik Panting, dan sejak itu musik Panting mulai populer untuk memeriahkan pesta hajatan atau hari-hari besar nasional.
Kini, meski resminya pensiun dari Kanwil Depdikbud Kalsel sejak 2000, ayah lima anak dan sembilan cucu ini masih tetap sibuk. Selain menjadi dosen luar biasa pada STKIP PGRI sejak 2002, anggota Majelis Pertimbangan Kesenian Kalsel sej ak 2006, Bachtiar Sanderta juga banyak memberi pelatihan kesenian pada sejumlah kabupaten dan kecamatan di Kalsel.**