
Entah mengapa di kalangan seniman tradisi di Sumatera Utara ia lebih dikenal dengan panggilan “Fort de Kock” ketimbang nama aslinya: Alister Nainggolan. Tak ada penjelasan. Seolah nama panggilan itu muncul begitu saja dari kesehariannya, seperti perjalanan hidupnya yang tanpa bisa ditebak ke mana akan mengalir.
i usianya yang kian senja, mendekati 70 tahun, Alister Nainggolan masih saja berpindah-pindah tempat tinggal. Bersama istri, anak, dan sejumlah cucunya, saat ini ia harus rela tinggal berdesak-desakan di rumah kontrakan mereka di Jalan Karya Bakti, Medan Kota. Besok atau lusa, seperti hal nya kemarin dan kemarin dulu, ia mesti mengemasi sedikit barang-barangnya untuk mencari rumah kontrakan lain lantaran ’terusir’ karena berbagai sebab.“Biasanya karena tidak bisa membayar uang sewa kontrakan,” kata Thompson Hs, seniman muda Sumatera Utara yang kini lebih banyak mencurahkan waktunya untuk membangkitkan kembali Opera Batak yang tengah mati suri. Lewat institusi yang diberi nama Pusat Latihan Opera Batak (PLOt) di Pematang Siantar, Thompson menghimpun sejumlah bekas seniman Opera Batak—termasuk Alister Nainggolan —agar terlibat, terutama bila ada program pemanggungan.
Menjadi seniman tradisi sebagaimana pilihan hidup Alister Nainggolan memang
bukan tanpa risiko. Akan tetapi, sejak putus sekolah saat duduk di kelas II SMA di Umbang Hasundutan, Humbalas, dunia seni tradisi seperti menyedotnya untuk bergabung. Apalagi kerja kerasnya membantu sang ayah bertani tidak memberinya penghasilan, sementara keinginan untuk berdagang terbentur ketiadaan modal usaha.
Dalam situasi serba sulit tersebut, tahun 1965 datang rombongan Opera Batak yang dipimpin Tilhang Gultom (alm) menggelar pertunjukan di Tanjung Balai. Hampir sebulan lamanya rombongan Opera Batak ini berada di sana. Tak hanya mampu menyedot banyak penonton, tetapi ternyata juga menarik keinginan seorang anak muda di sana untuk menjadi bagian dari mereka.
“Saat itu kami tinggal di Sungai Loba, kurang lebih 10 kilometer dari Tanjung Balai. Agar bisa menonton pertunjukan mereka, awak harus jalan kaki. Entah bagaimana ceritanya, tiba-tiba saja sejak itu awak ikut bergabung dengan mereka. Bukan sebagai pemain atau pemusiknya, tapi jadi tukang angkat-angkat barang,” kenang Alister Nainggolan tentang awal mula keterlibatannya dalam kehidupan komunitas Opera Batak “Serindo” pimpinan Tilhang Oberlin Gultom.
Sebagai pendatang baru ternyata tidak gampang untuk bisa dilirik oleh sang pemimpin. Dua setengah tahun ia harus menunggu. Selain sebagai tukang angkat barang-barang perlengkapan bermain, Alister juga dapat tugas tambahan. Saat pertunjukan berlangsung ia menjadi semacam tenaga keamanan khusus untuk mencegah kalau-kalau ada calon penonton tanpa karcis yang berniat menyelinap ke tempat pertunjukan.
Kesempatan itu akhirnya datang juga. Setelah lebih 2,5 tahun sebagai pelengkap penderita di grup Opera Batak “Serindo”-nya Tilhang Gultom, tiba saatnya bagi Alister Nainggolan untuk unjuk kemampuan. Bukan sebagai aktor panggung, melainkan di bidang musik.
Berkat kebiasaannya memainkan berbagai atat musik pendukung pertunjukan opera di saat tak ada pementasan, sedikit demi sedikit Alister mulai menguasai hampir semua jenis alat musik yang biasa digunakan dalam pertunjukan Opera Batak. la terampil memainkan sorune etek (serunai kecil) dan sarune bolon (serunai besar). Begitupun dalam hal meniup sulim (seruling) dan memetik hasapi (kecapi dua tali). Tak hanya itu, Alister juga pandai memainkan garantung (gamelan kayu) dan taganing (seperangkat gendang yang terdiri atas dua pasang gendang besar dan satu kecil). Apatah lagi memainkan alat musik pelengkap yang disebut tokkel, yakni botol yang dipukul-pukul untuk memberi warna pada ’oskestra’ simponi Opera Batak, bagi Alister itu hal paling gampang.
Semua jenis alat musik pendukung pertunjukan opera itu ia kuasai. Dan, begitu ada pemain musik yang berhalangan, Alister memberanikan diri tampil sebagai pemain pengganti. Begitu seterusnya, sampai akhirnya ia dipercaya penuh menjadi bagian dari pemain musik tetap dalam setiap pertunjukan Opera Batak “Serindo”.

Masa bulan madu dengan grup Opera Batak “Serindo” hanya bertahan hingga awal 1970-an. Setelah Tilhang Gultom meninggal dunia pada 1972, dan estapet ’kepemimpinan’ diteruskan oleh Zulkaidah boru Harahap, Alister memutuskan membentuk grup sendiri. Di bawah bendera Tiurma Opera yang ia dirikan pada tahun 1974, Alister pun mulai menyadari betapa berat beban menjadi seorang pemimpin. Ketika masyarakat mulai mengenal tontonan melalui layar televisi, pertunjukan-pertunjukan Opera Batak mulai ditinggalkan.
“Petinju Elias Pical ikut bikin hancur Opera Batak,” kata Alister Nainggolan sembari tertawa kecut mengingat masa-masa kejayaannya sebagai pemain musik dan touke Opera Batak.
Tentu saja nama petinju Elias Pical yang ia maksudkan itu sekadar untuk menyebut jenis tontonan yang ditayangkan televisi. Kebetulan ketika itu nama juara dunia tinju dari Indonesia ini begitu populer dan setiap ia bertanding disiarkan secara langsung oleh televisi (baca: TVRI). Akibatnya, orang-orang tak lagi berminat pergi menonton pertunjukan Opera Batak, melainkan duduk beramai -ramai di depan pesawat televisi menonton Elias Pical mempertahankan gelarnya.
Tak kuat lagi menanggung biaya hidup para pendukung grupnya, tahun 1984 akhirnya Tiurma Opera ia bubarkan. “Sekarang, setelah dipikir-pikir, untung juga waktu itu segera ditutup. Kalau tidak akan banyak orang yang hıdupnya kian susah ,” kata Alister, sang ‘Fort de Kock’ dari Medan.
Sejak tak lagi menjadi tauke Opera Batak, kehidupan Alister dan keluarganya bukan tambah membaik. Seperti halnya para bekas pemain Opera Batak lainnya, Alister dan anak-anaknya pun harus bekerja serabutan agar bisa bertahan hidup. Belakangan, bersama istri (Arliana boru Sihombing) yang ia nikahi pada tahun 1966 seusai manggung di Sidikalang; serta anak- anak mereka (terutama si sulung Siti Tiurma, Edi , dan Hendra), Alister sibuk ‘ngamen’ dengan seperangkat alat musik Opera Batak yang harus ia sewa.
Uang yang mereka peroleh dari ‘ngamen’ di berbagai hajatan, meski bisa tampil tiga kali dalam seminggu, hanya cukup untuk biaya hidup sehari-hari. Dengan bayaran Rp 600.000 hingga Rp 1 juta sekali tampil, setelah dipotong sewa peralatan musik, sisanya dibagi untuk sekitar 10 orang. Sedikit? Memang!
“Apalagi pada saat -saat tertentu, dalam sebulan bahkan tıdak ada panggilan untuk main. Kalau tiba-tiba ada permintaan, wah… senangnya bukan main. Paling tidak sudah ada harapan untuk bisa beli beras,” kata Alister.
Meski usia terus menggerogotinya, bapak delapan anak dan kakek dari 17 cucu ini begıtu bersemangat ketika diajak bicara tentang Opera Batak. Apalagi bila sudah memegang alat-alat musik tradisi tersebut, wajahnya tampak seperti bercahaya, semangat hidupnya pun bagai menyala-nyala.
“Masalah di rumah jangan dipikirkan, nanti saja itu. Memainkan alat- alat musik ini harus benar- benar dijiwai. Bukan sekadar sulim dan sorune ditiup, hasapi dipetik, atau garantung dan ragoning dibunyikan,” ujarnya.
Ketika tiga di antara delapan anaknya mengikuti jejak bapaknya, ada rasa gembira tetapi sekaligus sedih menggayuti Alister. Gembira karena anak-anaknya bisa meneruskan permainan musik tradisi Opera Batak. Ada yang akan menggantikannya. Namun, di balik itu juga rasa sedih yang tak bisa ia sembunyikan. Ia yang sudah 40 tahun lebih meleburkan diri dalam seni tradisi ini—bahkan sempat ikut menikmati masa kejayaan Opera Batak—saja tak bisa memberikan yang terbaik bagi keluarganya, bagaimana masa depan hidup anak dan cucu-cucunya dari hasil bermain musik Opera Batak kelak?
Alister tak mampu berkata-kata, seiring langit malam kota Medan yang kala kami bercakap kian tua dan kelam… (Tim ATL/KN)