Kekhawatiran itu akhirnya terjadi juga. Setelah hampir satu jam menyusuri jalan tanah berdebu pada dini hari tanpa bulan, rombongan kecil itu tersadarkan bahwa mereka tersesat. Di kanan-kiri jalan hanya terlihat belukar yang menyerkap. Di kejauhan, kelip pelita yang terpancar dari perahu nelayan seperti timbul-tenggelam.
Rombongan kecil dari Tanjung Pinang itu baru saja menyaksikan pentas Mak Yong di Desa Sungai Nam, Bintan Timur. Tiga mobil yang mereka tumpangi hanya berputar-putar di jalanan yang bagai tak berujung. Tiap ada persimpangan, pengendara paling depan tampak ragu, sampai akhirnya mobil kedua yang dibawa Abdul Kadir Ibrahim alias Akib, Kepala Dinas Pariwisata Kota Tanjung Pinang, mengambil alih kendali. Ia pun memutuskan berputar haluan, kembali ke Sungai Nam untuk mencari “bantuan” penunjuk jalan.
“Bukan apa-apa, kalau terus seperti tadi, bisa sampai pagi kita berputar-putar di sana. Lagi pula saya juga sudah khawatir karena bahan bakar mobil ini sudah kritis,” kata Akib setiba di Sungai Nam saat “melapor” ke Said Parman, Asisten Bidang Ekonomi dan Pembangunan Kota Tanjung Pinang, yang malam itu hadir dan terlibat dalam kapasitasnya sebagai anggota komunitas seni tradisi Mak Yong.
Dalam nada bercanda, Said Parman hanya menanggapi peristiwa tersesatnya rombongan “penanggap” pentas Mak Yong di Sungai Nam tersebut akibat pertunjukan dilakukan tanpa sesaji. Ketua Dewan Kesenian Kepulauan Riau Hoesnizar Hood juga ikut mengamini dan ikut tertawa terkekeh-kekeh dari belakang setir mobilnya.
“Mungkin karena upacara ritual ‘buka tanah’ sebelum dan setelah Mak Yong ditampilkan, yang menurut kepercayaan tetua Mak Yong harus dilaksanakan, pada pentas tadi justru ditiadakan. Sementara topeng- topeng dan alat musik tertentu yang biasanya diupacarai sebelum digunakan dalam pertunjukan tadi juga tidak dilaksanakan,” kata Said, masih dalam nada bercanda, meski di balik itu kata-katanya yang terdengar agak serius.
Seni ritual
Mak Yong adalah jenis teater tradisi khas Melayu, yang tumbuh dan berkembang terutama di Kepulauan Riau. Memanfaatkan kisah-kisah Melayu klasik sebagai lakon, pentas Makyong dihadirkan lewat penggabungan unsur ritual, tari, musik, dan—tentu saja—dialog. Oleh karena itu, beberapa pengamat seni tradisi kerap menyebut pentas Mak Yong sebagai Opera Melayu.
Bagi pengusung setia Mak Yong, seni tradisi ini diyakini tak hanya sebagai seni yang bersifat menghibur. Mak Yong juga dipercaya mengandung unsur ritual sehingga—sebagai seni tradisi—ia merupakan semacam perpaduan antara peristiwa ritual sekaligus media hiburan atau sebaliknya.
Dalam tradisi pementasan Mak Yong, pertunjukan selalu diawali upacara yang mereka sebut “buka tanah”, lalu ditutup dengan upacara serupa. Ritual ini dipimpin oleh tetua yang disebut bomoh alias pawang Mak Yong, seperti yang dilakukan Abdul Gani ketika kelompok Mak Yong dari Pulau Matang Arang tampil di Desa Mantang Lama, juga masih di wilayah Bintan Timur, pada akhir November lalu. Ia juga membacakan mantra-mantra untuk topeng-topeng dan alat musik tertentu sebelum para pemain Mak Yong menghadap penonton lewat ritual tari dan nyanyian perkenalan yang disebut betabek.
“Semua ritual itu dimaksudkan agar pentas bisa berlangsung lancar tanpa ada kekuatan- kekuatan lain yang menghalangi atau mengganggu pertunjukan. Ritual itu juga sebagai media untuk mohon izin mementaskan kisah-kisah lama dari para datuk mereka terdahulu,” papar Ketua Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) Pudentia MPSS, yang sejak awal 1990-an aktif melakukan program pendampingan setelah penelitian panjang tentang Mak Yong untuk disertasi doktornya di Universitas Indonesia (2004).
Sebetulnya, dalam kondisi normal, setelah ritual “buka tanah” seharusnya diikuti ritual tari dan musik, disertai nyanyian oleh tetua Mak Yong atau pemain yang berperan sebagai tokoh utama. Ritual yang disebut “menghadap rebab” ini dilaksanakan sebelum ritual tari dan nyanyi betabek.
Akan tetapi, sejak beberapa dekade terakhir, ritual ini jarangterlihat lantaran mereka tak lagi memiliki alat musik dimaksud. Rebab sumbangan Ditjen Nilai Budaya Seni dan Film (NBSF), Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, beberapa waktu lalu belum sepenuhnya berfungsi. Selain hanya satu, sementara jumlah kelompok Mak Yong saat ini setidaknya ada tiga komunitas, pemainnya pun belum ada yang cukup terampil untuk ditampilkan dalam ritual yang menuntut sejumlah persyaratan tersebut.
Di luar pentas, pada masa lampau Mak Yong juga dipakai sebagai media pengobatan tradisional. Hal itu dimungkinkan karena—pada masanya—tetua Mak Yong juga adalah tokoh spiritual yang memiliki kemampuan supranatural. Karena itu, tetua Mak Yong seperti Muhamad Atan Rahman alias Pak Atan (almarhum) juga jadi semacam tokoh pemimpin informal, yang kerap dilibatkan untuk menyelesaikan masalah kemasyarakatan.
Kisah Pak Atan saat ikut menenangkan kerusuhan sosial di Batam pada awal 1990-an masih jadi “kebanggaan” di kalangan komunitas Mak Yong hingga hari ini. Dengan menggunakan salah satu properti Mak Yong, yakni topeng yang disebut Betara Siwu—yang dipercaya memiliki kekuatan magis-spiritual—Pak Atan tampil di tengah massa yang beringas. Kata-katanya didengar, amok massa pun reda. Kehidupan masyarakat di sana kembali berjalan seperti sedia kala.
Batang terendam
Akan tetapi, masa lampau memang kerap tak berkelindan dengan masa kini. Kejayaan Mak Yong sudah lama terjerembap. Dan, ibarat membangkitkan “batang terendam”, itulah yang kini dilakukan ATL bersama Lembaga Kemajuan Mak Yong yang dipimpin Said Parman.
Setelah “berhasil” menghidupkan kembali atmosfer seni Mak Yong pada 1990-an, yang sebelumnya “terkubur” selama lebih dari dua dekade tanpa terdengar sekalipun ada pentas Mak Yong, aktivitas pendampingan terus dilakukan oleh ATL. Saat ini setidaknya sudah ada tiga kelompok Mak Yong, yakni di Pulau Belakang Padang (Batam) serta di Kampung Keke-Sungai Nam dan di Mantang Arang (Bintan). Belum lagi munculnya peminat-peminat baru yang bukan dari komunitas Mak Yong. Mereka adalah anak-anak muda yang tinggal di Tanjung Pinang dan berusaha menampilkan Mak Yong dalam berbagai bentuk yang sudah dimodifikasi serta disesuaikan dengan selera masa kini.
Terlepas dari pendekatan dan orientasi mereka berkesenian, Mak Yong pada hakikatnya adalah salah satu penanda identitas kemelayuan. Makyong menyimpan berbagai repertoar dasar tari, musik, sejarah, dan bahasa Melayu yang dikenal sekarang. Mak Yong juga adalah teater rakyat yang memiliki cerita tentang “Melayu” dalam memori kolektif masyarakatnya.
“Oleh karena itu, mengaitkan Mak Yong dengan kemelayuan sangat sahih. Sebab, kita tidak mungkin mengatakan Mak Yong bukan Melayu. Sementara bila kita mau bicara mengenai Melayu sebetulnya dapat diwakili oleh Mak Yong,” kata Pudentia.
Meski jenis tradisi ini cikal bakalnya berasal dari Patani, Thailand selatan, dan masuk ke Indonesia pada akhir abad ke-19 melalui Kelantan (Malaysia) serta Tanjung Kurau, Tumasik (Singapura), tetapi keberadaan Mak Yong yang ada di Kepulauan Riau sudah merupakan kreasi Melayu-Indonesia. Bukan saja dilihat dari lakonnya, tetapi juga bentuk pementasannya yang relatif berbeda dibandingkan dengan di tempat asalnya.
Dalam catatan bangsa Eropa, seni tradisi jenis ini pada abad ke- 17 hidup di daerah Naratwihat, Patani, Thailand, dengan sebutan teater Manora. Akan tetapi, Mak Yong yang berkembang di Kepulauan Riau cukup unik. Selain merupakan perpaduan antara ritual dan media hiburan, Mak Yong menyimpan ingatan masa lalu tentang kesejarahan negeri dan adat istiadat Melayu.
Melihat asal-usul dan pertumbuhannya, Mak Yong juga memperlihatkan identitas kemelayuan yang multikultur. Sajian musik, tari, dan kata-kata yang disampaikan dalam pertunjukan Mak Yong berbeda dibandingkan dengan seni Melayu pada umumnya seperti saat ini.
Semangat itu pula yang melatari usulan Indonesia menominasikan Mak Yong sebagai Memory of the World ke UNESCO, lembaga PBB yang mengurusi masalah kebudayaan. Karena seni tradisi ini juga ada di Kelantan, sebagai bangsa yang berbudaya dan bertata krama, Indonesia pun menggandeng Malaysia untuk bersama- sama menjadikan Mak Yong sebagai ingatan kolektif dunia… (KN)