ak Khalid Kasim (73) kini sudah memiliki handphone. Luar biasa? Tidak juga!
Di Desa Mantang Arang—sebuah kampung kecil di pulau kecil di Bintan Timur, Kepulauan Riau; tempat lelaki tua “pewaris” utama seni tradisi Melayu bernama Makyong ini tinggal dan bermukim—benda kecil yang kerap dikait-kaitkan dengan simbol kemajuan peradaban itu kini sudah tergolong bukan lagi barang istimewa. Jadi tidak usah heran bila ke mana pun Pak Khalid pergi, handphone itu selalu ia kantongi. Juga ketika ia ikut bersama tim kesenian Kepulauan Riau bertandang ke negeri tetangga: Singapura!
Hanya saja, dalam misi muhibah seni ke negara pulau itu, 9-12 Juni 2005, tak sekali pun handphone Pak Khalid terdengar berbunyi. “Tak tahu mengapa begitu jadinya,” kata Pak Khalid agak masygul.
Tentu saja Pak Khalid tak cukup paham bahwa identitas kartu prabayar yang ia miliki itu tak bisa “dibaca” oleh jasa provider telepon seluler di sana. Alhasil, meski jarak dari kampung kecil mereka di Bintan Timur ke negara pulau itu hanya “sepelemparan batu”, tetapi karena pemegang otoritas wilayah pertelekomunikasiannya berbeda, handphone Pak Khalid pun cuma jadi peneman “sepi” di tengah keriuhan Singapura yang metropolis.

Pak Khalid memang tidak sendiri. Bersama rombongan dari Dewan Kesenian Kepulauan Riau yang dipimpin Hoesnizar Hood, mereka mengusung kelompok teater-tari Mak Yong di pentas Singapore Arts Festival 2005. Dalam forum bergengsi itulah, selama tiga malam berturut-turut, Pak Khalid sebagai sesepuh kelompok Mak Yong dari Kepulauan Riau ikut naik panggung bersama grupnya di lingkaran atmosfer kota internasional seperti Singapura.
***
TUNGGU dulu!
Jangan bayangkan para pemain Mak Yong—semacam opera tradisi Melayu yang pemanggungannya menggabungkan unsur ritual, tari, musik, dan dialog—dari Kepulauan Riau itu tampil di gedung kesenian modern. Jangan pula berasumsi bahwa pentas pertunjukan mereka sepanggung dengan para seniman dari negara-negara lain yang ikut meramaikan kalender Singapore Arts Festival 2005.
Seniman-seniman Mak Yong itu justru bermain di panggung terbuka di halaman bekas Istana Kampong Gelam. Suara deru mobil yang lewat sesekali terdengar hingga ke panggung. Bahkan, menjelang pentas hari/malam kedua dimulai, mereka harus “bertarung” dengan keriuhan lantunan suara musik dan rentak orang-orang berzapin di sebuah restoran yang ada persis di sisi kanan gerbang Istana Kampong Gelam.
Istana Kampong Gelam berada persis di seberang Mesjid Sultan, hanya dipisahkan oleh jalan kecil bernama Kandahar Street. Pada 4 Juni 2005, kawasan ini diresmikan penggunaannya oleh Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong menjadi semacam museum dan dinamakan Taman Warisan Melayu.

“Ya, benar-benar hanya berpayung langit. Kemarin ketika latihan, celana ini sampai basah karena lantai tempat duduk masih ada bekas genangan air sisa hujan,” kata Pak Khalid.
Di bawah payung langit itulah, sembari memandang gedung-gedung jangkung yang ada di sekitar kawasan Kampong Gelam—tempat dahulu (kala) banyak orang Melayu bermukim, juga di Geylang—dialog-dialog khas Melayu-Riau disampaikan dalam bentuk nyanyian dan tarian. Ditingkahi musik Mak Yong yang dihasilkan oleh perpaduan suara gendang, gong, mong, gedombak, breng-breng, dan biola, penonton dibawa ke kelampauan. Apalagi dua lakon yang mereka bawakan, Bongsu Sakti dan Wak Perambun, memang tergolong klasik. Tak hanya dari aspek isi cerita, tetapi juga dalam format pemanggungannya.
Dua tokoh sentral Mak Yong, Cek Wang (dimainkan oleh Tina) dan Awang/Wak Penghulu (Abdul Gani), tak pelak lagi menjadi semacam ikon Mak Yong di atas panggung. Kedua pemain inilah yang sebetulnya inti pertunjukan.
Sementara di barisan pemusik, Pak Khalid dan Satar menjadi tokoh pengimbang. “Sayangnya sampai kami berangkat dari Tanjung Pinang menuju Singapura, alat musik rebab-Melayu yang merupakan ciri khas sekaligus inti musik Mak Yong tak bisa dibawa. Sebetulnya, kalau ada serunai juga bisa dipakai sebagai pengganti, tetapi itu pun kami tak punya,” kata Satar sedikit mengeluh.
***
SATAR pantas mengeluh. Soalnya mereka punya alat musik dimaksud. Namun, karena rebab Mak Yong pemberian Asosiasi Tradisi Lisan (ATL)—disampaikan lewat Philip Yampolsky dari Ford Foundation ketika berkunjung ke kampung mereka—itu diminta agar disimpan di sebuah institusi kebudayaan di Tanjung Pinang, untuk mendapatkannya kembali ternyata sulitnya minta ampun. Begitupun perangkat pakaian Mak Yong (juga sumbangan dari ATL) yang diminta agar “dititipkan” di sana, ketika mereka butuhkan saat akan naik pentas tak bisa lagi diambil.
“Beberapa kali saya bolak-balik dari Mantang Arang ke Tanjung Pinang. Ongkos habis, tapi barang milik kami tak juga diberikan,” kata Rogayah menimpali.
Kabar lain yang didapat salah satu pendukung Mak Yong ini, sebagian dari pakaian sumbangan ATL itu sudah hilang. Adapun rebab yang semula ingin dimainkan Satar saat bertandang ke Singapura justru tak jelas lagi di mana rimbanya.
Tentu saja ini sebuah ironi. Dan, ironi memang selalu menyungkupi keberadaan seni tradisi, di mana pun, termasuk Makyong dan komunitasnya. (KN)
Kalaupun kemudian mereka diundang tampil dalam suatu perhelatan budaya atau disewa untuk memeriahkan acara perkawinan, penghasilan yang didapat tetap tak sebanding dengan kebutuhan hidup sehari-hari.
“Tapi kami bermain Makyong memang bukan untuk diri kami sendiri, melainkan untuk orang lain dan untuk Makyong,” kata Rogayah.
Ada kesedihan di sana, tetapi juga ada semangat bersemayam di balik kehidupan para penggiat Makyong.
Satu hal yang selalu mereka pesankan: jangan lupakan Makyong!
“Jadi kalau nanti teringat pada Pak Khalid, cakap sajalah di dalam henpon,” begitu ia selalu berpesan setiap kali bertemu orang- orang yang mengenalnya namun mereka tinggal jauh dari kampung kecil tempat Pak Khalid bermukim.
Itu pun masih dengan catatan tambahan, yang disampaikannya lewat sebuah pantun berikut: //Ambil atap di dalam kebun/Pergi ke pasar membeli bilis/Pak Khalid nak cakap dalam henpon/Tapi pulsa sudah habis….// (KEN)