JANGAN MENANGIS (-I) MAK YONG…

May 18, 2026

khirnya Sarijah (67) jadi juga berangkat ke Singapura. Suaminya, Muhammad Atan Rahman atau biasa dipanggil Pak Atan (almarhum), adalah pewaris utama Mak Yong kelahiran sebuah kampung di Tanjung Kurau, Singapura sekarang ini. Karena itu, bagi Sarijah kehadirannya bersama rombongan Mak Yong dari Kepulauan Riau ke Negara Pulau itu di perhelatan Singapore Arts Festival 2005 punya makna lain: “ziarah” ke tanah kelahiran almarhum suaminya!

Akan tetapi, Singapura begitu sombong terhadap Sarijah. Dalam kondisi tubuh yang mulai renta, berjalan agak terbongkok-bongkok, selama tiga hari Sarijah harus bolak-balik dari hotel tempat rombongan pemain Mak Yong menginap di kawasan Geylang ke lokasi pertunjukan di Istana Kampong Gelam.

Bukan cuma soal turun-naik bus yang membuat Sarijah kelelahan. Justru proses menunggu naik panggunglah yang amat menjemukan. Ketika mereka dijadwalkan tampil pada puncak Festival Teater Rakyat—sebagai bagian kecil dari perhelatan besar Singapore Arts Festival 2005—Mak Yong diagendakan naik panggung pukul 18.00 waktu setempat. Namun, oleh panitia mereka diminta sudah harus siap berangkat dari hotel pada pukul 11.30. Kembali ke hotel menjelang tengah malam. Sementara esok harinya pada pukul 06.00 mereka sudah harus berada di lobi hotel untuk diantar ke pelabuhan; pulang, kembali ke kampung halaman mereka di Pulau Bintan.

“Ya… capek juga, Nak,” katanya pelan.

Lengkap sudah “penderitaan” para pemain Mak Yong, yang sebelumnya harus melewati masa-masa latihan selama sebulan penuh menjelang keberangkatan ke Singapura. Proses latihan yang dipusatkan di Tanjung Pinang itu ditempuh pihak Dewan Kesenian Kepulauan Riau lantaran pemain yang akan ke Singapore Arts Festival adalah gabungan tiga kelompok Mak Yong. Selain dari Mantang Arang, sebagian pemain juga diambil dari Keke dan Sanggam. Karena itu, mereka perlu latihan untuk memadukan penampilan di atas panggung.

Proses latihan ini kerap mengharuskan mereka menginap di tempat latihan hanya beralaskan tikar. “Baru pada malam menjelang keberangkatan ke Singapura kami diinapkan di hotel,” kata Rogayah, pemain Mak Yong lainnya.

Selama lima hari di Singapura (8-12 Juni 2005) sebetulnya tak banyak yang dikerjakan oleh Sarijah. Juga anggota rombongan lainnya sesama pemain Mak Yong yang berjumlah 20 orang.

Setiba di Singapura, setelah dua jam naik feri dari Tanjung Pinang, mereka langsung istirahat di hotel. Tak ada program jalan-jalan. Tak ada agenda sempalan untuk sekadar berleha-leha, menyapu pemandangan kota yang sebagian wilayahnya berasal dari pasir pulau mereka di Bintan. Senja pun turun berganti malam. Wajah Singapura hanya bisa mereka pandang lewat jendela kamar masing-masing.

***

TAK ada catatan tertulis yang secara jelas menyebutkan asal usul Mak Yong. Namun, dari hasil penelusuran yang dilakukan oleh Ketua Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) Pudentia MPSS ketika melakukan penelitian pada tahun 1990-an tentang Mak Yong untuk disertasi doktornya di Universitas Indonesia, terungkap bahwa teater tradisi sejenis Mak Yong di Melayu-Riau pertama kali dikenal oleh orang- orang Eropa pada abad ke-18 di Thailand selatan. Tepatnya di daerah Narathiwat, Patani.

Oleh karena itu, tidak aneh bila Mak Yong—juga disebut-sebut sebagai opera Melayu—punya banyak kemiripan dengan teater (tradisional) Manora dari Thailand selatan. Dari Patani, teater-opera ini diperkirakan masuk ke Kepulauan Riau melalui Kelantan di Tanah Semenanjung dan Tajung Kurau di Teluk Selabim, Singapura.

Adakah keistimewaan Mak Yong yang hidup dan tumbuh di Riau? Tentang hal ini, Pudentia punya catatan kecil.

Seperti halnya banyak seni tradisi lisan yang lain, Mak Yong pun sempat mengalami masa ketiadaannya, yakni pada sekitar tahun 1980-an dan 1990-an, saat ia mencoba menemukan jejaknya. Sebelumnya, Mak Yong sempat mencapai masa puncak kejayaan pada tahun 1950-an.

Selama lebih dari dua dekade tak pernah terdengar ada pentas Mak Yong. Padahal, kata Pudentia, saat itu masih ada beberapa tokoh yang dapat bermain Mak Yong. Pak Atan (meninggal dunia tahun 2004) dan Pak Khalid adalah dua tokoh pewaris utama Mak Yong yang sempat menikmati masa kejayaan salah satu seni tradisi Melayu ini.

“Keduanya punya ingatan lengkap mengenai hal-ihwal pertunjukan Mak Yong. Akan tetapi, untuk meminta berpentas adalah sesuatu yang mustahil ketika itu karena tradisi berpentas sudah menghilang selama sekitar 20 tahun,” tutur Pudentia.

Dari sanalah ia lalu lebur dan terjebak dalam pusaran kehidupan pemain-pemain Mak Yong. Pada sekitar tahun 1975 dan tahun 1982 memang ada usaha untuk menghidupkan Mak Yong lewat semacam kegiatan revitalisasi pada para pelajar sekolah pendidikan guru (SPG). Hanya saja, pementasan Mak Yong dalam arti yang sesungguhnya tak kunjung muncul.

Peristiwa “bersejarah” itu pun tiba ketika pada bulan Agustus 1991 tim peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bersama Pudentia memelopori pementasan Mak Yong di Mantang Arang, kampung asal Makyong Riau. Masyarakat Bintan seakan bangkit. Ingatan pada kegemilangan Mak Yong pada era 1950-an seolah dihidupkan kembali.

“Tentu saja mereka merasa dihibur dan dihargai karena orang ‘kota’ pun mau nonton seni tradisi leluhur mereka. Eforia ini terus berlanjut sampai tahun 1993, yakni ketika Mak Yong Riau berpentas di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta dalam Seminar dan Festival Tradisi Lisan Nusantara I,” jelas Pudentia.

***

SEJAK itu kegiatan pendampingan terus dilakukan. Selain ATL, Ford Foundation dan pemerintah daerah juga mulai menoleh pada Mak Yong. Hasilnya memang tidak seperti mantra simsalabim, tetapi penguatan pada sikap dan semangat para pemain Mak Yong mulai memberi harapan. Apalagi semangat di balik pementasan Mak Yong bukanlah pada cerita yang dimainkan, tetapi lebih pada momen penting pertemuan antara pemain dan penonton.

Seperti dikatakan Pudentia, inti dari Mak Yong adalah hiburan (rakyat). Kalaupun ada cerita, maka akhir dari cerita selalu tidak pernah menyelesaikan masalah yang ada. Pertunjukan dianggap jauh lebih penting artinya daripada kelengkapan cerita.

Boleh jadi, dalam konteks inilah mengapa Mak Yong sebagai bagian dari pranata sosial menjadi penting dijaga roh dan semangat hidupnya. Meski untuk itu perlu banyak pengorbanan, seperti yang harus dialami oleh Mazlan. Anak (alm) Pak Atan ini harus kehilangan pekerjaan sebagai sopir lantaran harus berlatih Mak Yong menjelang keberangkatan mereka ke Singapura.

“Dia dipecat oleh majikannya lantaran sering tidak masuk kerja karena lebih mengutamaka bermain Mak Yong,” kata Satar, kakak Mazlan.

Memang masih terus ada kesedihan, tapi tak boleh lagi ada tangis untuk Makyong…. (KN)