Kisah Kampung Juminahan barangkali bukan hal penting bagi orang yang tidak pernah merasa bagian dari kampung itu. Tapi bagi warga setempat, kisah sebuah kampung di Kecamatan Danurejan di Yogyakarta tersebut menjadi kisah menarik tentang kampung-rumah mereka. Begitu menariknya kisah Juminahan, sampai-sampai pohon jambu hingga foto keluarga sempat mengisi sebuah pameran tentang Juminahan pada pertengahan Juli 2006.
Sejarah yang dekat dengan keseharian mereka membuat anak muda getol mempelajari sejarah. Kisahnya barangkali tergolong sederhana bagi orang luar. Kisah jambu Dersono, misalnya, bukan sekadar pohon tapi di sekitar pohon itulah tempat warga Juminahan berkumpul ketika gempa bumi menggoyang Yogyakarta, akhir Mei 2006.
Di kampung yang terletak di pusat kota Yogyakarta itu, di pinggiran Kali Code, kisah demi kisah dari para sesepuh dikumpulkan oleh anak-anak muda. Setidaknya ada 18 anak muda yang datang dari satu rumah ke rumah lain untuk mengumpulkan cerita dari para orang tua di situ mengenai kampung mereka.
Afitriani (20)—ketika mengumpulkan sejarah masih berumur 16 tahun—mengaku merasa bersemangat ketika bertemu dengan narasumber sejarah yang juga tetangga dan kerabatnya di Juminahan, dan menyusun sejarah kampungnya. “Saya senang bisa mengetahui sejarah kampung ini. Sebelumnya, saya tidak peduli tentang apa yang pernah terjadi di kampung ini. Namun, kisah tentang tempat ini ternyata sangat menarik,” tuturnya.
Kisah itu kemudian dikumpulkan menjadi semacam “buku sejarah” Kampung Juminahan. Tentu saja bukan buku sejarah seperti yang dipegang oleh para siswa di sekolah. Sejarah kampung mereka dikumpulkan dalam bentuk foto serta narasi tentang kampung itu sendiri. Meski tanpa tokoh pahlawan di dalamnya, tetapi bagi mereka ini merupakan bagian dari peristiwa sejarah yang menarik: sejarah sebuah komunitas!
Rumekso Setyadi, pekerja lembaga swadaya masyarakat (LSM) di Yogyakarta yang ikut berbagi pengalaman dalam “proyek” ini mengungkapkan, apa yang mereka lakukan adalah bagian dari model mengembalikan fungsi sejarah untuk membangun kesadaran kewargaan kita. “Salah satunya adalah dengan mengembalikan sejarah kepada ‘pemilik’-nya, yaitu masyarakat, karena masyarakatlah yang sebetulnya membuat sejarah dan memilikinya. Upaya untuk mendekatkan sejarah dan masyarakat bisa dengan menggunakan sejarah komunitas,” kata Rumekso Setyadi, yang oleh teman-temannya akrab disapa Yoyok.
Dengan kata lain, ‘proyek’ penulisan sejarah Kampung Juminahan adalah bagian dari jawaban atas keluhan umum bahwa model pendidikan sejarah saat ini tidak menarik, kering, dan—tentu saja—menjemukan. Observasi sederhana yang dilakukan A. Ary Firman Buhori terhadap sejumlah siswa di tiga SMA negeri di Bangkalan, Madura, paling tidak mendukung keluhan itu.
Hasil observasi siswa kelas III SMA di Bangkalan ini menguatkan anggapan dan penilaian umum bahwa pengajaran sejarah di sekolah tidak menarik, sekaligus tidak disukai. Sebagian besar (63,3 persen) siswa sampel yang ditanya Ary menyatakan bosan belajar sejarah. Begitu pula ketika menjawab pertanyaan suka atau tidak belajar sejarah, 18 dari 30 siswa menyatakan tidak suka. Padahal, 28 dari 30 responden (93,4 persen) menganggap bahwa pendidikan sejarah tetap penting dipelajari.
Terlepas dari soal validitas hasil observasi yang dilakukan Ary, sudah bukan rahasia lagi bahwa sejarah merupakan pelajaran yang tidak menarik, membosankan, dan penuh hafalan. Juga bukan rahasia pula bila banyak di antara siswa yang tidak suka pelajaran yang justru masih dianggap penting ini.
“Keadaan ini akan lebih diperparah jika guru yang mengajarkannya monoton, terlalu teoretis, abstrak, kurang buku ajar, ditambah lagi kurikulum yang suka berubah,” kata Magdalia Alfian, lektor kepala pada Departemen Sejarah, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia (FIB-UI).
Sejarah lisan, sarana rekonsiliasi
Di tengah berbagai keluhan terkait materi buku ajar dan pengajaran sejarah itulah “proyek” sejarah komunitas Kampung Juminahan jadi menarik. Ia menarik bukan pertama-tama karena model penanaman kesadaran akan sejarah komunitas itu sendiri, tetapi lebih pada semangat untuk menghargai dan mencintai sejarah sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
“Memang di sinilah tantangan terbesar kami, yakni bagaimana sejarah bisa menjawab keraguan masyarakat bahwa ilmu sejarah ada gunanya dalam kehidupan mereka. Selama ini mereka merasa bukan bagian dari sejarah, sebab sejarah dianggap hanya milik segelintir orang dan golongan saja,” kata Antariksa, salah satu penggagas proyek sejarah komunitas Kampung Juminahan.
Bergiat di Kunci Cultural Studies Centre, Yogyakarta, Antariksa mengungkapkan bahwa proyek ini dalam skala kecil sudah mulai digarap sejak 2004. Tujuannya sederhana, antara lain mendorong upaya melek sejarah kampung dan menjadikan warga kampung sebagai penyusun sejarahnya sendiri. Di balik itu, ada upaya mempererat hubungan antargenerasi dan antargolongan warga kampung.
Sebelum proses pengumpulan informasi yang melibatkan seluruh warga kampung dilakukan, program ini diawali kegiatan belajar bersama tentang sejarah lisan dan sejarah partisipatoris. Para orang tua berusia di atas 60 tahun diajak berkumpul, diminta bercerita tentang masa lalu kampung mereka.
“Dalam proses ini terkadang muncul kisah tentang peristiwa konflik di masa lalu yang membuat satu keluarga jadi bermusuhan. Setelah semua diceritakan, muncul kesadaran baru untuk saling memaafkan. Mereka pun berbaikan kembali setelah puluhan tahun saling menyimpan prasangka. Di sini saya melihat apa yang kami kerjakan bisa menjadi sarana rekonsiliasi antarwarga,” tutur Antariksa.
Kini warga Juminahan menggunakan Sanggar Watu Lunyu sebagai pusat arsip kampung itu. Berbagai dokumen dalam beragam bentuk tersedia dan bisa diakses siapa pun. Lewat pemanfaatan sejarah lisan sebuah langkah kecil dalam semangat pencarian jatidiri telah diayunkan dari Juminahan…. (KN)