Nyanyian berisi puji-pujian bagi mendiang Felix Dammen alias Nenek Robin (1922-2002) terus dilantunkan oleh puluhan lelaki yang berdiri saling bergandeng tangan membentuk sebuah lingkaran.
Bau anyir darah kerbau dan babi yang masih berceceran di depan rumah tongkonan—rumah adat tempat ritual itu dilangsungkan—tak sedikit pun mengganggu konsentrasi mereka. Sesekali suara para lelaki berkaos serba hitam itu terdengar pelan menyayat, lalu tiba-tiba bisa berubah cepat, diikuti gerak tangan berayun atau saling bersedekap, sebelum akhirnya terdengar teriakan-teriakan kecil: Le-le-le, ohoooo…. le-le-le…. Bendo’, bendo’ le-le-le… bendo’!
Teriakan-teriakan itu masih saja terdengar. Di bawah terik matahari yang menyengat, disaksikan para tamu keluarga yang sedang mengadakan upacara serta sejumlah wisatawan lokal dan beberapa wisatawan mancanegara yang ikut menikmati “tontonan” dari rangkaian upacara pemakaman khas Tana Toraja itu, melalui nyanyian tadi mereka menyampaikan semacam catatan sejarah tentang keluhuran budi dan kebesaran jasa tokoh yang telah meninggal dunia tersebut.
Hanya saja karena kegiatan ini terkait dengan ritus kematian, nyanyian yang diselingi teriakan-teriakan kecil itu lebih dimaksudkan sebagai bentuk lain dari ratapan dukacita untuk sang tokoh yang sedang diupacarai. Nyanyian atau lagu ratapan itu sendiri dinamakan ma’bandong. Bahwa isi ratapan yang mereka nyanyikan ternyata lebih memberi tekanan pada kebesaran jasa dan keluhuran budi sang tokoh, bukan ungkapan kesedihan berikut raut wajah-wajah duka seperti halnya suasana kematian pada umumnya, tentu saja itu masalah lain.
//Umbamira sang tondokta, tomai sang banuanta sang to’ doan tarampakta/Ke’ de’ ko ta tannun bating, tana pana’ ta’ rio-rio/Rio-rio memtarampak, bating messa’ de banua/Mariokan kami, makarorrong silelekan, rammangkan massolanasang, sukkunkan angge mairi’/….//
Demikian antara lain bagian awal bunyi kidung Bating Lan Bandong, yang artinya lebih kurang: wahai orang sekampung, orang sepelataran, secucuran atap. Mari berdiri bersama menenun tangis dukacita, mengurai kesedihan. Mari kita semua hadir di halaman rumah duka ini….
Kidung semacam ini biasanya hanya dinyanyikan pada ritual pemakaman orang-orang terpandang alias para bangsawan. Artinya, tidak setiap ada upacara kematian kidung ma’bandong itu diperdengarkan. Jangankan kidung ma’bandong dengan segala puja-pujinya itu, pada upacara tingkatan rendah (tana’ karurung dan tana’ kua-kua), kerbau pun tak wajib dipotong untuk menandai “pesta” kematian mereka. Itu sangat boleh jadi karena—pada orang kebanyakan—apa yang disebut keluhuran budi dan jasa yang pernah mereka perbuat semasa hidupnya tak cukup layak untuk dikenang!
***
SIANG itu, Rabu pada minggu ketiga Oktober 2003, rangkaian upacara untuk mengantarkan jenazah Nenek Robin ke peristirahatan terakhirnya di liang patane yang dibangun berseberangan dengan gereja di Desa Kalolu-Lampio, Kecamatan Sangalla’, Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan, telah memasuki hari kedelapan. Agenda utama sepanjang hari itu adalah menerima tamu para keluarga dan kerabat yang sedang hajatan, serta orang-orang dari kampung sekitar Kalolu- Lampio. Hari itu adalah hari kedua prosesi penerimaan tamu yang secara resmi dimulai pada hari ketujuh dari rangkaian upacara ini.
Nyanyian ma’bandong tadi ditampilkan sesaat setelah rombongan tamu memasuki “ruang tunggu” yang memang dibangun khusus untuk itu. Setelah disuguhi ratapan ma’bandong, para tamu baru diterima secara resmi oleh kerabat almarhum. Didahului semacam prosesi yang dipandu oleh tiga lelaki berbusana khas: warna kuning mengilat, lengkap dengan topi “tanduk kerbau”, tongkat berjumbai dan perisai di tangan, barisan penerima tamu ini tampak panjang mengular. Di deretan paling belakang berbaris 12 wanita berpakaian adat setempat.
Begitu rombongan keluarga dan kerabat telah memasuki bangsal penerimaan tamu, ke-12 wanita ini pun lalu membentuk formasi tegak berjajar. Mereka pun lalu menyanyikan lagu ratapan sembari membuat gerakan-gerakan tari sederhana. Masyarakat Tana Toraja menyebutnya ma’katia. Kidung dan tari yang ditampilkan oleh para umbating (para wanita yang mendapat “tugas” menangis dan meratap dalam upacara kematian bangsawan) tadi baru akan berakhir bila rombongan keluarga keluar dari bangsal penerimaan tamu.
Setelah para tamu dirujuk untuk beristirahat di pondok-pondok (lantang) yang juga khusus dibangun untuk upacara ini, pihak panitia dan kerabat almarhum kembali sibuk menyiapkan sambutan untuk rombongan tamu berikutnya. Begitulah seterusnya, sampai semua tamu yang datang bergelombang hingga menjelang sore hari itu diterima semua dan mendapat jamuan dari tuan rumah.
Pada upacara kematian Nenek Robin, dibangun 62 pondok, di mana masing-masing pondok dibuat bertingkat dan dibagi-bagi lagi menjadi beberapa “pintu” sehingga jumlah keseluruhannya mencapai sekitar 200 “pintu”. Di tiap-tiap “pintu” inilah para tamu menerima jamuan. Di sini pula mereka beristirahat untuk mengikuti prosesi-prosesi ritual lain yang masih menunggu.
Dua hari sebelumnya dilakukan prosesi perarakan jenazah (ma’pasonglo’). Pada hari keenam dari rangkaian upacara bagi almarhum itulah jenazah Nenek Robin, yang selama setahun terakhir disemayamkan di rumah tongkonan keluarga Dammen, diarak menuju lakkian; tempat yang dibangun khusus untuk jenazah selama upacara dilangsungkan sebelum dibawa ke liang patane untuk dimakamkan. Sejak itu pula keramaian sudah benar-benar mulai terasa.
Diiringi ratusan warga dari desa tempat acara berlangsung dan masyarakat dari desa-desa tetangga, serta para kerabat almarhum yang sengaja datang dari berbagai penjuru Tanah Air, jenazah Nenek Robin dielu-elukan. Hal itu tak terlepas dari status sosial Nenek Robin, baik sebagai bangsawan maupun sebagai tokoh masyarakat di Kecamatan Sangalla’. Di kalangan gereja, almarhum tercatat sebagai orang Sangalla’ pertama yang dibaptis sebagai penganut Katolik. Almarhum juga seorang guru dan selama 10 tahun (1962-1972) tercatat telah dua kali duduk sebagai anggota DPRD Tana Toraja mewakili utusan golongan.
Baik pada prosesi penerimaan tamu maupun prosesi perarakan jenazah, tentu saja, dilakukan pemotongan kerbau. Kalau pada prosesi perarakan jenazah dipotong dua ekor kerbau, pada hari penerimaan tamu masing-masing dipotong tiga ekor kerbau pada hari pertama dan empat ekor pada hari kedua. Tak terhitung jumlah babi yang dipotong. Ini belum termasuk pemotongan kerbau pada hari-hari sebelumnya, seperti selama mendirikan pondok-pondok dan saat prosesi pemasangan tonggak batu (menhir; mangriyu’ batu). Belum lagi kerbau-kerbau sumbangan yang akan dipotong pada saat ritual yang mereka sebut mantunu pada hari kesembilan upacara atau sehari sebelum ritual pemakaman.
***
TIDAK seperti upacara-upacara kematian yang banyak dilakukan di berbagai tempat di Tanah Air, yang biasanya kental dalam suasana dukacita; lengkap dengan musik berirama sendu seperti adanya suara titi dan domek dalam tradisi masyarakat suku Dayak di Kalimantan, pada upacara kematian di Tana Toraja kesan kesedihan itu sama sekali tak muncul ke permukaan. Tak ada ratap tangis. Tak ada wajah-wajah duka.
“Bagi orang luar tampaknya ini sesuatu yang aneh. Sebaliknya, bagi kami orang Tana Toraja, ini sesuatu hal yang wajar dan biasa. Sebab, orang Tana Toraja punya waktu yang cukup untuk mengucapkan selamat jalan kepada orang-orang yang mereka kasihi,” kata Pastor Stanislaus Ambalinggi’ Dammen MA (48), anak ketujuh (alm) Felix Dammen alias Nenek Robin.
Dilihat dari perspektif ruang dan waktu, apa yang dikemukakan Pastor Stanislaus memang ada benarnya. Kecuali pada masyarakat Tana Toraja yang sudah menganut Islam, orang Tana Toraja masih kuat dengan tradisi penyimpanan mayat sebelum dikuburkan. Tradisi yang berasal dari kepercayaan Aluk Todolo (semacam agama asli masyarakat Tana Toraja sebelum masuknya agama-agama samawi) ini terus hidup secara turun-temurun hingga sekarang. Tradisi penyimpanan mayat ini juga terkait konsep kehidupan dan kematian, di mana segala sesuatunya berproses di dalam ruang peralihan hidup dan mati.
Memang, dalam kepercayaan Aluk Todolo, seseorang yang secara medis sudah dinyatakan meninggal dunia tidak dengan sendirinya mendapat sebutan “orang mati” (to mate). Bagi masyarakat Tana Toraja, kematian itu baru benar-benar tiba apabila upacara pemakamannya sudah berlangsung. Sebelum upacara itu dilangsungkan, statusnya masih dikategorikan sebagai to makula alias orang yang sakit.
“Sebenarnya arti harfiah to makula itu adalah orang yang tubuhnya masih panas,” kata Tinting Sarunggallo (52) dari Desa Ke’te’ Ketsu’, Kecamatan Sanggalangi’.
Karena statusnya masih “sakit”, orang yang sudah meninggal tadi harus dirawat dan diperlakukan sebagai orang yang masih hidup. Pada masyarakat pemeluk Aluk Todolo, juga pada sebagian keluarga yang telah menjadi Kristen atau Katolik, perlakuan tadi termasuk menyediakan makanan, minuman, dan rokok atau sirih. Pihak keluarga juga harus selalu menjaga agar si “sakit” tidak mendapat gangguan dalam bentuk apa pun, termasuk menjaganya pada malam hari.
Selama masa penyimpanan sembari menunggu pelaksanaan upacara pemakaman, yang waktunya terkadang mencapai bilangan tahunan, rupanya sedikit demi sedikit aroma kesedihan itu terkikis. Ketika rangkaian prosesi dari rituak upacara pemakaman dimulai, sekaligus menandai berakhirnya fase to makula dan masuknya fase to mate, kesedihan yang mereka usung selama masa peralihan itu seolah tinggal menjadi kenangan.
Dalam upacara tersebut, kesedihan tampaknya cuma terucap lewat busana hitam dan lagu ratapan yang berisi puji-pujian bagi tokoh yang tengah diupacarai. Itu pun kalau orang yang mengikuti upacara tersebut mengerti makna kada-kada alias syair dari lagu-lagu yang dikidungkan. Kenyataannya, tak banyak orang yang paham makna dari untaian kata yang dilantunkan—baik dalam ma’badong maupun ma’katia—itu, bahkan di kalangan orang-orang Tana Toraja sekalipun. Hal itu bisa dimengerti karena kada-kada yang ada dalam nyanyian ma’badong dan ma’katia menggunakan bahasa tinggi, yang biasanya hanya dipakai oleh kalangan tominaa alias para penghulu adat.
Alhasil, suasana yang menonjol pada upacara kematian di Tana Toraja justru aroma kemeriahan. Kain-kain yang berwarna merah menyala dengan ragam hias di sana-sini terentang di mana-mana, mendominasi arena seputar lokasi upacara: mulai dari rumah tongkonan, pondok- pondok keluarga (lantang), pondok tamu VIP (biasanya dari kalangan pejabat), tempat penerimaan tamu, lakkian hingga bangunan lumbung yang dibuat seperti miniatur rumah tongkonan.
Oleh karena itu, bukan suatu kebetulan bila upacara yang berkaitan dengan kematian itu diembel-embeli kata “pesta”. Ini sangat terasa bagi orang luar yang menyaksikan upacara-upacara semacam itu. Kesan ini pula yang kemudian melahirkan banyak kritikan. Media massa pun telah menulisnya berulang- ulang, terutama menyangkut besarnya biaya yang diserap oleh ritus semacam ini.
Dalam upacara pemakaman Nenek Robin, misalnya, sejak masa persiapan hingga puncak acara pemakaman sedikitnya 40 kerbau yang dipotong. Belum terhitung ratusan ekor babi, biaya pembuatan lantang.
Memang pihak keluarga tak ada yang mau mempersoalkan biaya yang dikeluarkan selama “pesta” berlangsung. Namun, beberapa penduduk yang mencoba menghitung-hitungnya sempat berucap, “Ini memang bukan pesta pemakaman terbesar di Tana Toraja. Akan tetapi, ini pun bukan pesta yang tergolong kecil. Kalau mau dihitung, saya kira nilainya di atas Rp 1 miliar.”
Lepas dari pro dan kontra seputar pembiayaan dan kemeriahan dalam sebuah upacara kematian, pandangan Pastor BS Mardiatmadja—biasa dipanggil Romo Mardi, mantan Rektor Universtias Sanata Dharma Yogyakarta yang kini mengajar di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta—terhadap upacara kematian di Tana Toraja cukup menarik untuk direnungkan. Ia mengatakan, tradisi Aluk Todolo yang membaringkan orang mati agak lama di antara anggota keluarga yang masih hidup menunjukkan bahwa mereka tidak takut pada maut; pada kematian! Bahkan, hidup sesudah mati pun mereka akrabi.
“Pesta kematian orang Toraja bukan sekadar ratapan pilu, melainkan juga pesta kegembiraan seluruh desa dan kerabat. Di sana terungkap kesatuan suku. Berkat pesta kematian, orang-orang Toraja tidak kehilangan persatuan abadi dengan saudara yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dunia. Dalam persatuan abadi itu cinta benar-benar tidak bisa lagi dibatasi oleh tempat, waktu, suku maupun status hidup.”
Lalu, apa kata pihak keluarga yang tengah ber-“pesta”? Pastor Stanislaus Ambalinggi’ Dammen berucap, “Orang Tana Toraja percaya pada ungkapan: belum ada orang yang ‘bangkrut’ karena membuat upacara semacam ini. Malah sebaliknya, karena ungkapan hati tersalurkan, mereka menjadi lebih bersemangat dalam menapaki hidup.”
Begitulah…. (KN)