SINTREN dan GENJRING AKROBAT Perempuan Perkasa dari Cirebon

May 18, 2026

Tentu saja ini bukan pentas David Copperfield. Tak ada perangkat mutakhir menyertai tontonan yang digelar Grup Sintren Ogan Lapian II dari Desa Cangkring, Cirebon Utara, di Bentara Budaya Jakarta (BBJ), Senin (30/10/1995) malam. Tokohnya pun bukan lelaki penuh pesona, yang dengan gagah berani menyebut diri sebagai “ilusionis terbesar abad ini”, tetapi cuma seorang remaja belia dari desa di pesisir utara Pulau Jawa.

Dia adalah Sintren, nama sang tokoh sekaligus nama seni tradisi Cirebon pemeran tokoh fiktif yang konon kemasukan roh Dewi Supraba. Ketika suasana mistis menguak lewat kehadiran tembang-tembang Cirebonan dan bau kemenyan yang dibakar di dupa sang pawang, Sintren pun berangsur-angsur kerasukan: ia trans!

Tubuh bagian atasnya lalu diikat dengan seutas tali. Bersamaan dengan itu mulut lelaki berdupa terlihat komat-kamit, sementara dua lelaki lainnya ‘membungkus’ sang Sintren dengan selembar tikar. Di sebelahnya sebuah kerangkeng yang biasa digunakan untuk mengurung ayam aduan (tinggi dan berdiameter sekitar 100 cm, tertutup kain) tertutup rapat. Uniknya, ketika tikar dibuka, sang Sintren raib entah ke mana.

***

BAGI penggemar setia pertunjukan David Copperfield yang serba mencekam, boleh jadi apa yang dipertontonkan Grup Sintren Ogan Lapian II pimpinan Askadi Sastrasuganda (di Cirebon ia lebih dikenal dengan panggilan Mamae Titin) kurang memikat. Copperfield dengan kemampuannya meloloskan diri dari brankas yang diletakkan di suatu gedung yang kemudian diruntuhkan, atau bagaimana dengan efek-efek khusus penonton bisa menyaksikan langsung tubuhnya dipotong-potong dengan sebuah gergaji besar, boleh jadi pertunjukan Sintren menjadi kurang menarik.

Tetapi tentunya tidak adil mempersandingkan pentas kedua bentuk tontonan itu dalam satu bingkai penilaian. Dari aspek sosiokultural keduanya memang berbeda. Sintren adalah bagian seni tradisi masa lalu, yang bukan saja memiliki muatan-muatan kultural, tetapi juga muatan sosial dan religi. Pada awalnya Sintren berangkat dari bentuk permainan anak-anak di malam bulan purnama masa pra-Islam. Lewat apa yang disebut dolanan anak-anak, protes sosial terhadap perilaku yang tidak manusiawi—terlebih ketika masa penjajahan—dituangkan di sana.

“Ketika Islam masuk di Jawa Barat, khususnya di Cirebon, gambaran tentang perilaku yang tidak manusiawi itu menumbuhkan gagasan di kalangan tokoh agama untuk memprotesnya lewat kesenian. Entah bagaimana akhirnya dipilih dolanan anak-anak di malam terang bulan, yakni dengan memasukkan bahasa sandi dalam permainan itu sehingga protes tadi sampai kepada penonton,” kata Mamae Titin, tokoh penggerak seni Sintren di Cirebon.

Sintren itu sendiri berarti sinteran atau sindiran. Pemerannya adalah wanita muda (mungkin karena ia berangkat dari permainan anak-anak).

Alkisah, ketika Islam masuk ke Cirebon yang dipelopori Syeikh Datul Kahfi, Pangeran Walangsungsang (Mbah Kuwu Cirebon) dan Sunan Gunungjati, terjadi perlawanan terhadap penjajah. Pada satu ketika seorang tokoh agama setempat ditangkap, lalu diborgol, dipenjara alias dikerangkeng. Tetapi berkat pertolongan Yang Maha Kuasa, sang tokoh bisa melepaskan diri. Kisah inilah yang kemudian diangkat dalam bentuk pertunjukan Sintren.

“Permainannya memang penuh sakral, penuh unsur magis, dan sangat menantang. Pemeran Sintren diborgol dan dikurung, tetapi bisa lepas dengan sendirinya,” kata Mamae Titin.

Kini masa depan seni Sintren ibarat matahari senja yang hampir terbenam di ufuk timur. “Sekarang ini hampir tidak ada lagi yang mau nanggap, kalah oleh pertunjukan orkes dangdut. Kalaupun ada, tak lebih karena ada permintaan dari pemerintah,” keluh Mamae Titin. Dan kini, lanjutnya, seni Sintren tak ubahnya hanya milik para seniman yang menggeluti Sintren itu sendiri.

***

SETALI tiga uang dengan nasib seni tradisi unik lainnya dari Cirebon, yakni Genjring Akrobat. Berkembang sejak masa awal penyebaran Islam di pesisir pantai utara (pantura) Jawa Barat, khususnya di wilayah sekitar Cirebon dan Indramayu, Genjring Akrobat pun kini terancam punah. Kalah bersaing dengan aneka jenis tontonan masa kini.

Tontonan yang lebih dekat pada jenis permainan rakyat ini lewat perpaduan tabuhan musik genjring (rebana), dogdog dan gong berikut lagu-lagu religi dari Barzanji yang mengiringi permainan akrobatik yang cukup ekstrem ini,  pada masa kejayaannya begitu diminati oleh masyarakat pesisir pantura Jawa Barat. Atraksi-atraksi memukau, seperti memanjat bambu atau sekadar memeragakan gerakan-gerakan sulit sekaligus berbahaya, membuat genjring akrobatik Cirebonan tidak kalah “mencekam” dibandingkan pertunjukan Debus Banten.

Paling tidak itulah yang ditampilkan oleh perempuan-perempuan perkasa pada Pekan Budaya Cirebonan di Bentara Budaya Jakarta (BBJ), 28 Oktober hingga 5 November 1995. Daya tahan fisik mereka menakjubkan. Hanya mengandalkan kekuatan otot kaki dan panggul, anggota tim Genjring Akrobat dari Cirebon pimpinan Kartoni itu mampu memanggul beban berat. Berat dalam arti sesungguhnya.

Lihatlah betapa perkasanya salah satu perempuan penampil itu. Bercelana gombyor warna keruh dengan t-shirt kuning, diiringi genjring (rebana kecil dilengkapi kepingan logam bundar pada bingkainya) dalam alunan irama lagu-lagu khas Cirebon, sepasang kakinya terangkat ke atas. Tubuh rebah dalam posisi menengadah, beralaskan tikar dan bantal pada tongkeng-nya. Kedua tumit terjulur tegak lurus membentuk sudut 45 derajat.

Bertumpu pada kekuatan otot betis, paha dan tongkeng, sang wanita mendemonstrasikan betapa “entengnya” ia menahan beban dua lelaki yang duduk di papan yang membentuk semacam ‘kaki-kaki kuda’ itu. Tak lama berselang, tiga wanita meloncat ke atas papan, lalu perlahan-lahan tegak berdiri dan ‘bermain-main’ di sana.

Tiga wanita dan dua lelaki itu cuma disangga sepasang kaki yang terjulang. Jika berat badan mereka rata-rata 60 kg saja per orang, bisa dibayangkan beban yang ditumpukan pada telapak kakinya yang tengah ditengadahkan ke atas. Dan itu baru satu bentuk keterampilan yang dipertontonkan. Masih ada sejumlah pertunjukan “keperkasaan” lain yang ditampilkan oleh perempuan-perempuan desa dari pesisir pantura tersebut.

* * *

KEPERKASAAN wanita-wanita dari Cirebon ini tentu bukan bagian dari gerakan feminisme. Tetapi yang jelas, anggapan bahwa wanita identik dengan makhluk lemah setidaknya patut dipertimbangkan kembali.

Belum lagi tatkala menengok bagaimana “cerdik” dan terampilnya mereka bermain-main dengan sepeda beroda satu; jika sudah demikian, apakah ia masih bisa disebut sepeda? Atau, bagaimana lincahnya gerakan sepasang kaki kekar itu mempermainkan kotak-kotak kayu serta deretan tangga yang tinggi menjulang? Semua itu semakin mengukuhkan bahwa dalam banyak hal perempuan pun memiliki apa yang disebut nyali.

Mereka adalah wanita desa. “Pekerjaan sehari-harinya, ya, macam-macam. Ada yang ibu rumah tangga, pengolah lumpur di sawah, atau pedagang di pasar,” ujar salah seorang pendukung pentas Genjring Akrobat dari Cirebon itu. “Pokoknya tidak sulit, Mas, asal banyak latihan dan dibiasakan,” kata salah seorang pemain begitu disinggung betapa mengagumkan kekuatan yang mereka miliki.

Latihan dan kebiasaan! Dua kata kerja yang layak disimak oleh siapa pun yang merasa ingin sukses di bidangnya. Tetapi beberapa penonton yang membludak memenuhi halaman rumah Kudus di BBJ malam itu umumnya meragukannya. “Pasti ada kekuatan lain. Ya, semacam aji-ajian-lah. Tidak mungkin ada orang, apalagi wanita, yang bisa menahan berat badan lima orang hanya dengan kaki,” kata sang penonton.

Boleh jadi apa yang dikatakan oleh seorang penonton pertunjukan Genjring Akrobat Cirebonan itu ada benarnya. Tetapi untuk membuktikan dugaan tadi bukan perkara gampang. Kartoni yang memimpin grup akrobat ini enggan berkisah tentang kemungkinan adanya ‘sesuatu’ di balik itu semua. Sesuatu yang berbau unsur magis!

* * *

MESKI tidak ditunjang peralatan akrobatik seperti pentas serupa yang kerap disajikan lewat layar televisi, yang acapkali lebih mirip permainan sirkus, menonton genjring akrobat dari Kota Udang ini mengasyikkan. Ketika sebuah sepeda motor dinaikkan ke panggung, banyak yang menyangka itu akan digunakan sebagai sarana berakrobatik di panggung.

Dugaan yang keliru. Sepeda motor pinjaman dari penonton itu cuma dipakai sebagai alat. Dengan kelenturan kakinya yang dijulangkan ke langit, sementara tubuh rebah ke lantai dalam posisi menengadah, sepeda motor ukuran standar itu diletakkan di tumpuan telapak kaki sang wanita. Seorang penonton diminta naik ke atasnya, kemudian datang lagi penonton lain, lalu naik lagi penonton dari sisi kanan panggung. Tiga lelaki itu duduk di sadel, seorang di antaranya bahkan melambai-lambaikan tangan bagai anak yang baru mendapat mainan.

Mereka tak cuma memesonakan kita lewat keperkasaannya. Ketika bermain-main dengan sepeda roda tunggal, aspek keterampilan dan kegesitan pun tampil menawan. Dengan sepeda roda tunggal itu, misalnya, mereka memeragakan bagaimana lincahnya menjumput lembar demi lembar uang kertas yang dilemparkan penonton ke panggung.

Bukan cuma itu. Mereka juga mengajarkan makna sportivitas. Meski berhasil meraih lembaran uang yang berada di sudut panggung, tetapi karena saat itu posisi badan dan sepeda tidak sempurna, uang pun dilempar kembali … (KN)