
Dengan sangat hati-hati, Sutrisman Dinah membelokkan sepeda motornya ke gang sempit itu. Malam belum larut, tetapi atmosfer di sepanjang gang terasa senyap. Di kanan-kiri jalan setapak itu, rumah-rumah panggung—yang bagian kolongnya kebanyakan sudah dibeton—berdiri rapat seperti sambung-menyambung.
usul bae kami ke Gang Gading!” Begitu pesan singkat yang kami terima dari Sahilin, orang yang di-“buru” hingga ke gang-gang sempit di kawasan Kelurahan 7 Ulu, Palembang, tersebut.
Sebagai wartawan senior di daerah ini, Sutrisman tahu persis sejarah dan situasi daerah yang dimaksud Sahilin. Sebuah kawasan permukiman padat penduduk, yang pada tahun 1970-an termasuk salah satu daerah “rawan” dan ditakuti. “Kawasan ini bahkan sempat mendapat juluk sebagai ‘Texas’-nya Palembang,” kata Taufik Wijaya, penyair Palembang yang membuntuti kami dari belakang.
Akan tetapi, tawaran untuk datang ke wilayah “Texas”-nya Palembang tersebut kali ini tak ada kaitan dengan urusan “penaklukan” atau “serbu-menyerbu” kawasan seperti pada era 1970-an. Malam itu justru sebuah pentas seni tradisi akan dipergelarkan di sana, menghadirkan maskot pemantun lagu-lagu daerah Sumatera Selatan: Sahilin! Tentu saja berikut permainan gitar tunggalnya yang unik dan sudah sangat terkenal di provinsi ini.
Malam itu, pada penghujung Juli 2007, Sahilin memang diminta tampil hingga dini hari di sebuah hajatan perkawinan, yang siang harinya diisi pertunjukan organ tunggal. Di atas panggung, lelaki tunanetra itu terlihat tersenyum- senyum entah kepada siapa.
Sembari menyetel tali gitar di tangan, Sahilin yang buta sejak usia lima tahun itu sesekali berbisik kepada Sulaiman (21), satu di antara tiga anaknya yang sejak beberapa tahun terakhir selalu menyertai ke mana pun ia pergi. Tak berapa lama berselang mikrofon pun diarahkan ke wajahnya. Para penonton yang duduk di bawah tenda—yang didirikan di lapangan tak seberapa luas, sepintas seperti terselip di antara kepadatan rumah-rumah penduduk—langsung menyambutnya dengan tepuk meriah.

Anak elang anak lah layang
Anak tiung menari-nari
Bapak melayang, umakku malang
Sape nak menulungi aku lagi…
Ke laut sambilan mandi
Mandi ke lubuk menyelam jangan
Sape nak menulungi aku lagi
Banyak dibenci lah sanak-sanak
Kalu nak mandi menyelam jangan
Mandilah juge di lubuk kecik
Sangkan dibenci lah sanak- sanak
Aku dek pacak bejalan dewek….
Nyanyian dalam bentuk pantun itu pun ia lanjutkan.
Kalu nak mandi di lebak kecik
Anak tupai di pucuk kayu
Aku dek pacak bejalan dewek
Lain lah uhang lain bagiku
Kalu mak ini rase bagiku
Padi banyak campuran daun
Lain uhang lain bagiku
Mate cacat umur lah lime tahun
Batang padi campuran daun
Daun padi daun teriti
Mate cacat umur lah lime tahun
Turun dunia tesimpang kiri….
Diiringi petikan gitarnya yang dominan memanfaatkan melodi bas (tali 4, 5 dan 6), lagu-lagu daerah dalam bentuk pantun atau terkadang syair itu mampu menyirap penonton ketika isinya berupa ungkapan hati Sahilin yang pilu. Petikan lagu “Sukat Malang” di atas, misalnya, bercerita tentang biografi hidupnya yang sejak umur lima tahun tak bisa berjalan sendiri lantaran buta akibat diserang penyakit cacar (“Kene uap,” begitu kata Sahilin). Bapaknya meninggal dan ia dibesarkan oleh ibunya yang miskin di Dusun Benawe, Kecamatan Tanjung Lubuk, Ogan Komering Ilir. Sukat malang itu sendiri berasal bahasa Benawe, merujuk pada pengertian nasib malang yang terus menimpa kehidupan seseorang.
Namun, pada lagu lain, begitu isi pantun atau syairnya berupa cerita-cerita lucu tentang keseharian muda-mudi atau orang sedang jatuh cinta, misalnya, aplaus disertai suitan panjang terdengar dari berbagai sudut. Apalagi bila malam kian larut, saat Sahilin mulai menyelipkan ungkapan-ungkapan asosiatif tetapi disajikan dengan jenaka, sambutan pun kian ramai.
Ungkapan ‘barang buruk tegantung’ untuk menyindir (dalam arti positif) lelaki yang dianggap terlambat kawin alias bujang tue atau bujang lapuk bahkan telah menjadi bahasa gaul yang sangat populer di daerah ini. Begitu pun ungkapan dalam bentuk pantun umum lainnya, juga bersifat sindiran, tak jarang membuat banyak orang tersipu.
Terang bulan terang di kali
Buaye nimbul disangke mati
Jangan percaye mulut lelaki
Berani sumpah dek takut takut…

Selalu berduet
Dalam setiap pementasan, Sahilin jarang tampil tunggal. Sejak mulai dikenal luas sebagai pelantun lagu-lagu daerah Sumatera Selatan tahun 1974, hampir selalu ia didampingi pedendang perempuan. Siti Rohmah yang saat ini masih bertahan sebagai teman duetnya adalah salah satunya.
Sahilin tentu saja memilih perempuan sebagai pasangannya. “Kalu sesame lanang idak lemak. Dak seru,” kata Sahilin terkekeh-kekeh.
Nama-nama mereka masih ia ingat dengan jelas. Ketika masih di Benawe, Sahilin sempat berduet dengan Robama, Layani, Zainab, dan Solbani. Setelah hijrah dan bermukim di Palembang sejak 1972, selain dengan Siti Rohmah, Sahilin juga pernah berpasangan dengan Ridaw, Chadijah, dan Cik Misah. Nama yang disebut terakhir ini berasal dari Desa Danau Tampang di Kecamatan Sungai Rotan dan telah meninggal dunia.
“Aku tu sebetul-nyo paling cocok dengan Cik Misah,” begitu pengakuan Sahilin saat ditemui esok harinya di rumahnya yang amat sederhana di sebuah gang sempit di Kelurahan 35 Ilir, Kecamatan Gandus, Palembang.

Rumah panggung yang ia tempati bersama istri (Semah, 48) dan tiga anak—Saidina (23), Sulaiman (21), Sjarwani (17)—serta satu menantunya itu berdiri di atas rawa, berukuran 5 x 8 meter. Hampir tanpa penyekat, kecuali dinding pemisah ruang depan, ruang tidur, dan dapur. “Rumah dan tanah ini dibeli dari hasil rekaman lagu-lagu daerah itulah,” kata Sahilin.
Sahilin sudah tak ingat berapa kaset rekaman lagu yang sudah ia hasilkan melalui perusahaan rekaman lokal: Palapa Record. Yang cuma ia ingat, setiap rekaman ia mendapat honor sekitar Rp 300.000. Setiap kaset berisi dua hingga empat lagu, di mana masing-masing lagu terdiri atas bait-bait pantun atau syair yang cukup panjang. Lagu “Sukat Malang”, misalnya, terdiri atas 10 bait. Namun, ada juga yang mencapai 20-30 bait, terutama lagu-lagu yang didendangkan dalam formasi duet berupa pantun bersahut.
“Permainan gitar Sahilin memang unik. Pada lagu ‘Nasib Muara Kuang’, misalnya, ia bermain pada metrum yang berbeda-beda. Metrum awal mempunyai hitungan 4, pada bagian- bagian tertentu ia memainkan gitar pada hitungan 6 dan 10. Bahkan, ada yang muncul pada hitungan ganjil, seperti hitungan 5,” begitu hasil pencatatan Hanefi dari Jurusan Karawitan, Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Padangpanjang, tentang lagu-lagu daerah yang dibawakan Sahilin.
Menurut Hanefi, dalam banyak lagunya terlihat bahwa Sahilin tak mau terikat dengan pola-pola birama konvensional. Sahilin bermain dengan mengikuti frase-frase melodi yang pada dasarnya memiliki metrum berbeda walaupun pada bagian awal dinyatakan dengan hitungan 4 atau metrum empat per empat (4/4).
“Unik,” begitu Hanefi berucap tentang musik-lagu Sahilin, yang sempat ia survei bersama Philip Yampolsky dari Ford Foundation, beberapa tahun sebelumnya.

Lagu-lagu daerah yang direkam pertengahan 1970-an hingga awal 1980-an itu umumnya telah direkam ulang berkali-kali. Sekalipun Palapa Record itu sendiri saat ini sudah tak ada, di sebuah toko kaset di kawasan 16 Ilir Palembang kita dengan gampang bisa menemukan kaset-kaset rekaman suara Sahilin dan pasangannya.
“Ketika rekaman dululah aku dapat honor Rp 300.000 tiap rekaman,” ujar Sahilin. “Kerno itulah, aman mak ini, kalu ado wong nak ngajak rekaman, aku dak galak lagi. Sering tebudi,” tambahnya.
Sahilin memang tak mengenal, apalagi memahami, istilah royalti dengan segala aturan hukumnya. Namun, meski buta huruf—ia pun tak pernah mengenal braille—dan hidup selalu dituntun ke mana pun pergi, Sahilin tidaklah bodoh. Dari pergaulannya sehari-hari, Sahilin mulai mengerti akan hak-hak atas karyanya meski ia sendiri tetap tak bisa berbuat apa-apa.
Sahilin memang bukan satu-satunya pelantun lagu-lagu daerah Sumatera Selatan ini, di mana unsur pantun dan syair menjadi dasar dari proses penciptaannya. Masyarakat juga mengenal nama-nama seperti Rusli Effendi, Syafrin, Emilia, dan Asnadewi. Namun, Sahilin tetaplah maskot dan paling populer.
Tak ada catatan tentang sejak kapan jenis musik-lagu daerah Sumsel ini mulai ada. Juga tak ada nama khusus terkait genre kesenian ini. Masyarakat, pertama-tama, cuma mengenalnya dengan sebutan lagu daerah. Karena biasanya diiringi petikan gitar, sebutan gitar tunggal pun kemudian juga dilekatkan.
Belakangan, karena jenis kesenian ini ada di hampir seluruh wilayah Sumsel, yang dikenal juga sebagai daerah batanghari sembilan (karena memiliki sembilan batanghari atau sungai besar yang semua akhirnya bermuara ke Sungai Musi), lekat pula nama ‘batanghari sembilan’ pada jenis kesenian ini. Istilah musik “Batanghari Sembilan” ini dikenalkan oleh Djaafar Malik. “Dia orang Lahat dan sudah meninggal dunia,” kata Sahilin. (KN)