BAHASA (DI) PAPUA (2) Una, SIL, Kelisanan dan Keberaksaraan

May 18, 2026

Orang sering keliru menempatkan bahasa ibu dalam konteks keberaksaraan. Dalam banyak kasus, bahasa ibu malah dituding pangkal dari interferensi yang negatif, melanggar kaidah gramatikal, sehingga jadi sumber kekacaubalauan dalam berbahasa yang baik dan benar.

Bahasa ibu lalu seperti “dimusuhi” karena dianggap bisa merusak kemampuan bahasa anak dalam pemerolehan bahasa baru: bahasa Indonesia! Akan tetapi tidak demikian pandangan Summer Institute of Linguistics (SIL) Internasional, sebuah lembaga nirlaba yang bergerak di bidang pembangunan berbasis pemberdayaan masyarakat melalui bahasa di 50 negara di dunia, termasuk Indonesia.

Dalam konteks program keberaksaraan—dalam bahasa sehari-hari lebih dikenal sebagai upaya pemberantasan buta huruf—di daerah-daerah terpencil, SIL Internasional-Indonesia justru menempatkan bahasa ibu sebagai pintu masuk. “Bahasa ibu adalah kunci untuk mengembangkan masyarakat dan untuk mengatasi buta aksara,” kata Dick Kroneman, ahli sosiolinguistik yang bertindak sebagai konsultan penerjemah pada SIL International-Indonesia.

Bahasa-bahasa minoritas

Lembaga yang didirikan William Cameron Townsend (1896-1982) pada 1934 di Guatemala ini memang memberi perhatian khusus pada para penutur bahasa-bahasa minoritas, termasuk mereka yang tinggal di pedalaman Papua. Hasil berbagai survei menyebutkan, dari sekitar 700 bahasa yang ada di Indonesia, lebih dari 265 ada di Papua. Masing-masing bahasa lokal itu memiliki karakteristik berbeda.

Meski jumlah penutur bahasa-bahasa minoritas di pedalaman Papua sangat sedikit, terkadang bahkan kurang dari 25 orang, akan tetapi tetap harus mendapat perhatian. Pandangan ini didasarkan pada keyakinan bahwa setiap bahasa melambangkan sumbangan yang berharga untuk warisan kebudayaan Indonesia.

Bukankah bahasa adalah alat perantara utama yang digunakan oleh suatu suku untuk mengingat sejarah, tradisi-tradisi, dan beragam bekal penghidupan yang mereka pelajari untuk dikomunikasikan kepada anak-anak mereka? Bahasa lokal, baik melalui nyanyian-nyanyian, cerita lisan ataupun tertulis, diyakini sebagai kunci untuk melestarikan pengetahuan suatu suku. Bila ini diabaikan tentunya akan hilang pula nilai pusakanya bagi generasi yang akan datang.

Oleh karena itu, kata John Custer, Direktur Hubungan Pemerintahan SIL International-Indonesia, “Program-program keaksaraan yang diadakan oleh SIL membangun dasar yang kuat melalui bahasa daerah sebagai jembatan untuk menggunakan bahasa Indonesia secara efektif, yaitu keterampilan yang sangat penting untuk memperoleh berbagai kesempatan pendidikan formal di SD.”

“Pendidikan formal dalam bahasa Indonesia penting sekali untuk mendidik warga masyarakat di daerah terpencil. Tetapi, kalau kebanyakan masyarakat belum tahu bahasa Indonesia, kita sebaiknya memulai dengan program pemberantasan buta aksara di dalam bahasa daerah,” ujar Dick menambahkan.

Pintu masuk utama

Memahami suatu bahasa daerah berikut struktur dan cara berpikir masyarakatnya memang tidak gampang. Hal itu disadari betul olek Dick Kroneman. Tidak heran bila ahli sosiolinguistik dari Belanda ini sempat menemui banyak hambatan ketika pertama kali menjadi fasilitator program pemberantasan buta huruf bagi para penutur bahasa Una di Langda dan sekitarnya.

Bahasa Una dipakai oleh sekitar 5.400 orang yang tinggal di bagian paling timur Kabupaten Yahukimo. Orang Una bermukim di 30 kampung yang tersebar di antara tebing-tebing curam di Pegunungan Jayawijaya pada ketinggian sekitar 2.000 meter dari permukaan laut. Di sekitarnya (dipisahkan bukit, tebing, dan jurang-jurang terjal berhutan lebat) ada tiga landasan pesawat kecil, yakni di Langda, Bomela, dan Sumtamon.

Bagi orang luar, satu-satunya cara untuk masuk ke wilayah ini hanya dengan menggunakan pesawat kecil. Jika kondisi baik, saat kabut agak menipis, penerbangan dari Wamena ke lokasi ini bisa ditempuh dalam 45 menit. Jika alam lagi “tak bersahabat”, kata Brett Lie—pilot pesawat Pilatus Porter yang membawa kami ke Langda—pesawat bisa terkurung di sini hingga seminggu. Namun, bila cuaca bagus, Langda dan sekitarnya begitu indah dipandang mata.

“Memulai belajar bahasa-bahasa di Papua, juga bahasa Una, sulit sekali. Strukturnya sangat berbeda daripada kebanyakan bahasa lain. Tapi, bagi kami, ini justru merupakan suatu tantangan,” kata Dick Kroneman, yang bersama istrinya sejak 1989 bergaul rapat dengan masyarakat Langda dan sekitarnya sebagai penutur bahasa Una.

Dalam bahasa Una, urutan kata dalam kalimat bukan saja tidak beraturan dalam perspektif bahasa modern pada umumnya, penempatan kata kerja pun bisa semaunya. Kalimat “Saya membunuh babi”, oleh masyarakat penutur bahasa Una bisa dengan enteng menjadi “Saya babi membunuh”, atau bahkan “Babi membunuh saya”.

Ini baru satu contoh kecil. Belum lagi hambatan lain yang lebih serius, yakni terkait fenomena sosial-budaya yang, kata Dick Kroneman, berbeda sekali. Oleh karena itu, sebelum program pemberantasan buta huruf dimulai, SIL meneliti bahasa daerah dan kebudayaan setempat. Dalam kasus pemberdayaan masyarakat penutur bahasa Una melalui program pemberantasan buta huruf, penelitian berlangsung hingga tiga tahun.

Selain menyangkut fonologi, ejaan, dan tata bahasa, hal lain yang juga diteliti tentu saja kebudayaan masyarakat setempat. Cerita-cerita apa yang menarik bagi mereka, pola hidup, serta nilai-nilai apa yang penting dalam kehidupan mereka sangat penting dipahami untuk perencanaan dan keberhasilan program pemberantasan buta huruf.

“Penelitian seperti ini sangat dibutuhkan. Kalau tidak dilaksanakan maka program pemberantasan buta aksara pasti akan kurang efektif,” kata Dick.

Dalam pelaksanaannya, pertama-tama anak hanya dikenalkan pada bunyi. Berulang-ulang. Tutor bercerita tentang keseharian mereka, atau murid yang diminta bercerita mengenai anjing misalnya. Sebelum sampai pada pengenalan huruf, anak disodori sejumlah gambar, dan diminta mengenali dan menceritakan sesuai gambar yang mereka kenali.

Huruf dikenalkan kemudian. Itu pun selalu dikaitkan dengan suatu kata kunci yang digambar. Untuk mengenalkan huruf “a” misalnya, anak disodori gambar ‘keladi’, yang dalam bahasa Una dilafalkan “am” dan bukan “a-em“. Atau huruf “b” lewat gambar ‘babi’, yang dalam bahasa Una disebut “bisam“. Setiap kata kunci itu ada cerita pendek dan sederhana yang dibacakan oleh tutor.

Buku-buku penunjang dalam tiga bahasa (Una-Indonesia-Inggris) sudah disusun sesuai tingkatannya. Buku yang terdiri atas enam bagian itu dimulai dari mengenal gambar (Buku I), membedakan huruf (Buku II), mendengarkan bunyi/melafalkan (Buku III), latihan menulis (Buku IV), menulis (Buku V), dan membuat kalimat sederhana (Buku VI).

Kasabaran tinggi memang dituntut dari para tutor yang dipersiapkan oleh SIL International-Indonesia. Bekerja sama dengan Yayasan Kristen Pelayanan Sosial Masyarakat Irian Jaya (Yakpesmi), kini sebanyak 68 tutor dalam bahasa Una terlibat sebagai sukarelawan dengan imbalan seadanya, kurang dari Rp 100.000 per bulan.

Hasilnya memang tidak cespleng. Setelah 15 tahun berjalan, sekarang hampir 30 persen dari 5.400 penutur bahasa Una sudah mampu membaca dan menulis dalam bahasa Una. Adapun yang sudah mengenal bahasa Indonesia baru sekitar 20 persen. Saat ini sekitar 200 pemuda-pemudi dari Langda dan desa-desa “tetangga”-nya telah melanjutkan pendidikan ke SMP, SMA, dan pendidikan tinggi di Wamena atau di Jayapura.

Jumlah wanita dewasa yang bisa membaca pun mulai meningkat. “Ini sangat berarti karena kalau sudah bisa membaca mereka akan paham tentang kesehatan juga. Buku-buku sederhana tentang hal itu sudah kami terjemahkan ke dalam bahasa Una,” kata Dick.

Begitu pentingkah peran bahasa lokal dalam pemberdayaan masyarakat? Para linguis dan ahli strategi pembangunan pasti sepakat tentang hal itu. Akan tetapi, seberapa banyak proyek pemberdayaan di negeri ini telah memanfaatkannya sebagai pintu masuk utama untuk meningkatkan kualitas hidup mereka? Rasanya kita masih harus lebih banyak berkaca pada pengalaman orang luar.

Di negeri ini, berbicara dengan bahasa rakyat—apalagi mau mendengarkan suara rakyat—masih sebatas jargon. (KN)