“A uram deyok aryi, Dorik ilil kuboka sirim talebmar. Ninyi aryi bai bisam oraming dinyi ara Dorik sirya bikmar. Ninyi aryi, obingyi ura, sekoka yubdi yiraming.” (“Dorik menggigil. Hal itu menakutkannya. Dia tahu apa yang terjadi apabila tertangkap. Kalau tertangkap, dipotong dan dimakan manusia…”)
Buku dalam tiga bahasa itu dibiarkan tergeletak di depan Hannah Mallo (26). Bai Bisam si Ara Dorik, begitu judul yang tertera di kulit depan buku berwarna oranye itu. Siang itu Hannah Mallo sedang membantu “anak didik”-nya belajar mengenal huruf lewat cerita tentang si babi hutan bernama si Dorik. Buku yang ditulis dengan huruf Latin menggunakan bahasa Una tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai Dorik si Babi Hutan. Di lembaran bagian akhir ada terjemahan dalam bahasa Inggris, berikut narasinya: Dug-Dug The Wild Pig.
Jangan membayangkan apa yang dilakukan Hannah Mallo seperti layaknya guru taman kanak-kanak (TK) di perkotaan. Sebagai tenaga sukarela yang membantu program keaksaraan di Langda, sebuah perkampungan sangat terpencil di salah satu lereng Pegunungan Jayawijaya pada ketinggian lebih dari 2.000 meter dari permukaan laut, Hannah Mallo bahkan tidak tamat SD. Bahkan, sebelum mengenal huruf, ia pun pernah duduk sebagai warga belajar keaksaraan dasar, seperti “anak didik”-nya sekarang.
Kerja yang ia geluti sejak enam tahun terakhir itu hanya bermodalkan pelatihan terprogram dari SIL Internasional-Indonesia yang berkedudukan di Wamena. Bersama Yayasan Pelayanan Sosial Masyarakat Indonesia dan Gereja Jemaat Protestan Indonesia Wamena, program pemberantasan buta huruf di pedalaman Papua yang dirintis sejak 1989—dan baru beroperasi tahun 1994—adalah cerita panjang tentang upaya menaikkan harkat kemanusiaan orang-orang pedalaman.
“Harus diakui bahwa pekerjaan ini tidak mudah, tetapi kami senang melakukannya. Sebelum sampai pada tahap seperti sekarang, kami terlebih dahulu melakukan serangkaian penelitian tentang bahasa-bahasa lokal di sini. Mempelajari bahasa-bahasa di Papua, juga bahasa Una yang digunakan di Langda dan sekitarnya, ternyata sulit sekali,” kata Dick Kroneman, ahli bahasa dari Belanda yang bekerja sebagai konsultan bahasa untuk SIL Internasional-Indonesia.
Terpencil di dunia
Para penutur bahasa Una di Langda dan sekitarnya itu hidup di antara tebing-tebing curam di Pegunungan Jayawijaya. Satu-satunya jalur masuk hanya melalui udara. Itu pun jadwalnya tidak pasti. Jika cuaca terang dengan sedikit kabut, pesawat kecil macam Filatus Porter harus terbang sekitar 45 menit dari Wamena untuk mencapai Langda.
SIL Internasional, sebuah lembaga pelayanan nonprofit yang memfasilitasi pengembangan masyarakat yang berbasis bahasa di 50 negara di seluruh dunia, mengidentifikasi wilayah hunian masyarakat pengguna bahasa Una sebagai salah satu wilayah paling terpencil di dunia. Bahkan, untuk mengunjungi antarkampung di Langda, Bomela, dan Sumtamon saja begitu sulitnya.
“Hingga tahun 1973, orang di sini masih ada yang makan manusia. Selalu ada perang antarmereka. Sekarang? Kadang-kadang orang juga marah, tapi itu untuk sementara saja,” kata Dick menambahkan.
Sejak program keaksaraan dasar dimulai tahun 1994, hasilnya sudah menunjukkan ke arah yang menggembirakan. Jika semula hanya 15 persen yang mengenal aksara Latin, kini sudah dua kali lipat. Ratusan anak sudah menikmati bangku sekolah. Bahkan, beberapa di antaranya ada yang melanjutkan ke perguruan tinggi. Meski baru sebatas program diploma II di Universitas Cenderawasih, apa yang dialami Sibet Nabyal (28), yang kini ikut membantu program keaksaraan di kampung kelahirannya itu, sangat membanggakan warga setempat.
Jargon pemberdayaan yang kerap digaungkan oleh berbagai pihak, entah dari kalangan pemerintah maupun aktivis lembaga swadaya masyarakat, menemukan bentuknya di Langda. Tanpa perlu merasa mengusung gagasan-gagasan besar tentang pemberdayaan, mereka sudah memulai usaha kecil yang sungguh sangat berarti. Setelah lebih dari 15 tahun berjalan, angka melek huruf meningkat, gedung sekolah pun sudah berdiri, dan fasilitas air bersih juga tersedia.
Sadar diri
Dick Kroneman memang tak seoptimistis Menteri Pendidikan Nasional (kala itu) Bambang Sudibyo dalam hal pemberantasan buta huruf. Jika Bambang yakin mampu menyelesaikan kerja besar ini (tentu saja berskala nasional) selama masa jabatannya sebagai Mendiknas, untuk memelekhurufkan “hanya” sekitar 5.400 anggota masyarakat Una di Langda dan sekitarnya, Dick mengaku butuh waktu hingga 15 tahun.
“Kami harus sadar diri. Membuat suatu perubahan itu tidak gampang. Perlu waktu dan bertahap,” katanya.
Hal itu diiyakan oleh Sibet Nabyal, juga Hannah Mallo, dan Doke Kesamlu (24). Ketiganya adalah tutor keaksaraan di Langda. “Metode pengenalan huruf, kemudian membaca dan menulis, perlu ketekunan dan kesabaran,” kata Sibet Nabyal.
Hasilnya memang tidak langsung jadi. Dalam belajar membaca, misalnya, pertama-tama lewat pengenalan gambar. Huruf-huruf disusun berdasarkan kata dalam bahasa Una. Yang diajarkan adalah bunyi, di mana dalam ejaan bahasa Una hanya terdapat 18 huruf.
Cerita tentang babi hutan, seperti kutipan di awal tulisan ini, adalah upaya mereka mendekatkan anak-anak dengan keseharian mereka. Begitupun ucapan belekuna, yang berarti selamat pagi, kini jadi bagian dari ritual hidup mereka sehari-hari.
Seperti ketika Gerson Kayo (14) menyapa tamunya di pagi itu, sapaan “Belekuna, Bapak” terasa mengiris ulu hati. Itu karena diikuti dengan cerita Gerson yang ingin sekolah ke Wamena, tetapi gagal lantaran ia tak punya cukup uang. Ia ingin melihat Indonesia dari jendela ilmu yang lebih luas. Akan tetapi, ia hanya bisa berucap lirih, “Belekuna, Indonesia….” (KN)