Pesta Ulat Sagu Suku Asmat

June 17, 2026

Para peserta pesta ulat sagu berarakan memasuki jew

Pesta Ulat Sagu (Tow Pok Mbu) merupakan tradisi yang relatif melekat dan dilekatkan pada setiap adat masyarakat Asmat, Papua. Ulat sagu dan sagu dijadikan hidangan wajib dalam makan bersama suatu acara adat dan bahkan dalam perkembangannya bisa juga dikolaborasikan dengan makan bersama dalam acara kehidupan lain yang dianggap penting.

Pesta Ulat Sagu diawali dengan keberangkatan sekelompok laki-laki bersama para tetua adat (wair) dari kampung menuju hutan (dusun) sagu. Iring-iringan ataupun arak-arakan perahu yang membentuk tatanan parade nan indah menjadi sarana transportasi utama dalam memanen ulat sagu di lokasi yang sudah ditentukan sebelumnya.

Panenan ulat sagu diambil dari dalam batang sagu yang sudah ditebang 3 atau 4 bulan sebelumnya sehingga larva kumbang merah kelapa sudah menjadi ulat yang siap dipanen. Ulat sagu yang terdapat dalam batang sagu yang telah membusuk tersebut kemudian dibungkus dengan daun sagu untuk ditempatkan dalam beberapa pelepah sagu sebagai wadah (sakambot) hingga melimpah.

Tiba saatnya rombongan tersebut kembali ke kampung dengan membentuk parade iring-iringan ataupun arak-arakan perahu nan elok kembali dengan penuh keceriaan. Tua-tua adat yang lain bersama seluruh masyarakat di kampung sejak awal telah menunggu keberhasilan panen ulat sagu tersebut.

Ulat sagu diletakkan di atas pelepah sagu

 

Mereka menyambut kedatangan rombongan dengan suka cita dan ekspresi yang beragam dalam mengungkapkan kegembiraan mereka.
Sesampainya di kampung, hasil panen ulat sagu dibawa masuk ke dalam Jew (rumah bujang), semacam rumah panjang yang dipergunakan untuk berbagai aktivitas bersama warga kampung.

Terminologi jew dalam bahasa Asmat berarti roh atau jiwa yang menggerakkan kehidupan bersama. Ungkapan kebersamaan terwujud dalam kerja sama dan saling membantu berbagai perlengkapan hidup antar warga kampung yang selalu terpusat dan dipusatkan di Jew.

Isyarat pemukulan tifa (em) oleh tetua adat telah memberikan ruang bagi berlangsungnya Pesta Ulat Sagu. Rangkaian acara menyanyi (so) dan menari (ndi) dengan iringan para penabuh tifa melantumkan nyanyian dan gerakan tarian padu serasi dengan realitas kehidupan yang sedang dijalani.

Para tetua adat, sambil menabuh tifa, melantumkan beberapa nyanyian, seperti ucapan syukur, kisah keterpaduan hidup dengan alam, dan nilai-nilai dalam bersikap dengan sesama, alam, serta Sang Pencipta.

Dendang tifa yang terajut bersama nyanyian tersebut berlanjut dengan dendang tifa yang terangkai dalam tarian. Goyang paha untuk laki-laki (simbol keberanian dan kemenangan) serta goyang pinggul untuk perempuan (simbol kesetiaan), masing-masing mempunyai pemaknaannya sendiri-sendiri dan berbeda.

Namun tetap terajut dalam keterpaduan aktivitas sehari-hari mereka dalam relasi dengan alam dan dengan sesama. Masing-masing pemaknaan dan refleksi gerak kehidupan ini akhirnya terangkai kembali dalam makan bersama dengan menyantap hidangan sagu, ulat sagu, dan hidangan makanan yang lain.

Makna Pohon Sagu

Pohon Sagu merupakan sumber makanan pokok berupa sagu, berkarbohidrat tinggi, bagi masyarakat Papua, Papua Barat, dan beberapa wilayah Indonesia lain.

Bahkan batang pohon sagu yang mulai membusuk juga menjadi tempat berkembangnya ulat sagu, berprotein tinggi. Perpaduan karbohidrat dan protein ini direngkuh secara cerdas dalam Tradisi Pesta Ulat Sagu oleh beberapa masyarakat di Papua bagian Selatan, seperti orang Kombay, Korowai, dan Asmat.

Menurut pandangan orang Asmat, pohon sagu memberikan berbagai sumber kehidupan dan penghidupan bagi masyarakat Asmat, seperti sagu dan ulat sagu sebagai sumber makanan, serta daun, lidi, pelepah, batang sebagai sarana untuk kehidupan penting yang lain.

Masing-masing bagian tersebut merupakan satu kesatuan holistik yang mempunyai nilainya sendiri-sendiri, begitu juga dalam penghayatan tentang konteks kehidupan di Asmat.

Konteks kehidupan tersebut memberikan pemaknaan tersendiri bagi orang Asmat terhadap pohon sagu. Pohon sagu dipandang dan dimaknai sebagai simbol seorang perempuan atau ibu yang menghidupi dengan penuh kasih sayang dan memberi yang terbaik bagi anggota keluarganya.

Ulat sagu segar dan mengandung protein tinggi

 

Dalam kehidupan sehari-hari, perwujudan simbol tersebut dapat terlihat secara nyata bahwa pohon sagu memberi kehidupan dan mempunyai nilai sangat penting bagi kelangsungan kehidupan orang Asmat.

Orang Asmat mempunyai logika sederhana bahwa kehidupan keluar dari pohon sagu sebagaimana kehidupan keluar dari rahim seorang perempuan. Logika ini berdasarkan pemahaman bahwa masyarakat Asmat selalu dihidupi dan diberi apapun yang terkait dengan keberadaan pohon sagu.

Dalam konteks ini, penghargaan dan pengelolaan terhadap sumber kehidupan secara terus-menerus direproduksi melalui berbagai macam ritual maupun adat dan tradisi, salah satunya Tradisi Pesta Ulat Sagu.

Tradisi tersebut mengisyaratkan pengakuan dan penghargaan terhadap sesuatu yang kasat mata (pohon Sagu), yang simbolis (perempuan atau ibu), maupun pengakuan terhadap yang tidak kasat mata (Sang Pencipta melalui leluhur-fumeripits) atas kelangsungan kehidupan dan penghidupan bersama di Asmat yang telah diberikan.

Dalam kebijaksanaan logika sederhana mereka, sagu merupakan simbol kelangsungan hidup dan kebersamaan mereka, sedangkan ulat sagu mengisyaratkan simbol kasih sayang seorang ibu atau perempuan pada keluarga atau sesama.

Reproduksi Simbol: Hidup dan Menghidupkan
Ketika sagu dan ulat sagu dianggap sesuatu yang sakral bagi orang Asmat, maka keduanya mempunyai nilai penting dalam kelangsungan hidup mereka.

Dalam konteks lingkungan geografis masyarakat Asmat, kebutuhan bahan makanan yang mengandung karbohidrat tinggi relatif dipenuhi oleh banyaknya hutan sagu. Sedang kebutuhan makanan yang mengandung protein tinggi relatif dicukupi oleh ulat sagu, terutama masyarakat Asmat yang berada di wilayah pedalaman. Keduanya dapat dibingkai sebagai simbol kasih sayang dan kelangsungan hidup manusia.

Perpaduan karbohidrat dan protein yang terkandung dalam sagu dan ulat sagu ini saling dipertautkan dalam Tradisi Pesta Ulat Sagu pada setiap acara adat orang Asmat. Tradisi dengan hidangan wajib sagu dan ulat sagu ini secara holistik lebih dibingkai sebagai penghayatan terhadap kelangsungan hidup dalam hubungan antara manusia dengan sesama, dengan alam, dan dengan Sang Pencipta.

Tradisi ini terus menerus hidup dalam berbagai penyelenggaraan adat orang Asmat dan sekaligus terus menghidupkan penghayatan keberadaan orang Asmat dalam kehidupan bersama komunitasnya.

Tradisi Pesta Ulat Sagu menjadi sangat penting dan bermakna dalam kehidupan orang Asmat karena terkandung pertautan berbagai makna, simbol, dan penghayatan orang Asmat terhadap lingkungan dan kehidupannya.

Tata kelola bagi kehidupan yang terkandung dalam Tradisi Pesta Ulat Sagu justru mengisyaratkan logika berpikir sederhana sekaligus kompleks dan terintegrasi dalam kehidupan nyata orang Asmat.

Tradisi ini menegaskan kembali tentang pengelolaan kehidupan yang dijalani masyarakat Asmat dengan kondisi lingkungan geografis yang berawa-rawa dan sebagian besar ditumbuhi pohon sagu sebagai sumber kehidupan yang diwariskan oleh leluhur mereka.

Dalam kondisi seperti ini, Tradisi Pesta Ulat Sagu tidak bisa dilepaskan dari komponen-komponen lain yang saling terajut erat secara harmonis membentuk narasi, pandangan, penghayatan, pola pikir dan mitologi yang menjaga pengelolaan kehidupan bersama dalam komunitas tersebut.

Nuansa-nuansa yang terkandung dalam tatanan kehidupan bersama, seperti kebersamaan, penghargaan, keseimbangan, padu serasi, persekutuan, dan kedamaian hidup akan terus direproduksi dalam berbagai macam ritus, adat, dan tradisi di Asmat.

Penghayatan atas keberadaan manusia dalam Tradisi Pesta Ulat Sagu relatif masih utuh terajut dalam realitas kehidupan sehari-hari orang Asmat, bukan sekedar tradisi yang diselenggarakan bagi penghayatan kebijaksanaan tata kelola kehidupan warisan leluhur masa lalu.

Tradisi ini masih terjaga, terkelola, dan terlestarikan dalam konteks penghayatan secara nyata, bukan normatif, bagi kehidupan sehari-hari masyarakat Asmat. (Argo Twikromo. antropolog dan pengajar UAJY, Dewan Kebudayaan DIY 2020–2022, anggota ATL DIY). Artikel ini dimuat di harian Media Indonesia tanggal 30 Agustus 2020