Catatan Henri Nurcahyo

Di tengah semakin redupnya denyut kesenian tradisi di ruang publik, sosok Besut seakan memanggil kembali dari lorong ingatan budaya.
esut bukan sekadar tokoh jenaka dalam pertunjukan rakyat, melainkan simbol kecerdasan, keberanian, dan daya hidup masyarakat kecil yang selama puluhan tahun menjadikan panggung sebagai ruang bercermin. Dari tradisi lisan Besutan lahir sebuah seni pertunjukan yang mampu menghibur sekaligus menyampaikan kritik sosial dengan bahasa rakyat yang lugas dan akrab.
Sepanjang bulan April dan Mei 2026, Meimura menghidupkan kembali tradisi tersebut dalam bentuk road show pertunjukan monoplay tanpa iringan musik (garingan) bertajuk “Besut Jajah Deso Milangkori”. Dia menempatkan tokoh Besut sebagai pusat narasi sekaligus penggerak dialog budaya. Menyusuri kota demi kota di Jawa Timur, pertunjukan ini bukan hanya upaya pelestarian kesenian tradisi, melainkan juga sebuah ziarah budaya untuk membangkitkan kembali kesadaran masyarakat—terutama generasi muda—pada akar kesenian rakyat yang pernah tumbuh kuat dari tanah, tawa, dan kegelisahan hidup sehari-hari.
Besutan adalah kesenian tradisional yang berasal dari Jombang, Jawa Timur, merupakan pengembangan dari kesenian Lerok dan merupakan cikal bakal Ludruk. Lerok merupakan kesenian yang bersifat amen. Pelakunya berpindah dari satu keramaian ke keramaian lain untuk menyuguhkan pertunjukan teater sederhana. Semula pelakunya tampil tunggal melakukan monolog, tetapi dalam perkembangannya pelakunya kini lebih dari satu orang. Lakon yang dibawakan merupakan cerminan dari kehidupan sehari-hari. Dari bermacam-macam lakon yang disuguhkan, ternyata yang menggunakan tokoh Besut paling digemari penonton. Lama kelamaan, karena lebih sering melakonkan Besut, maka keseniannya kemudian disebut Besutan.
Konon, kata besutan berasal dari kata besut. Besut itu sendiri merupakan akronim dari kata beto maksud (membawa pesan). Ada juga yang mengatakan besut berasal dari kata besot (menari). Yang pasti, Besut merupakan nama tokoh utama dalam teater Besutan. Tokoh Besut merupakan sosok laki-laki yang cerdas, terbuka, perhatian, kritis, transformatif, dan nyeni.
Namun ada sumber yang menyebutkan bahwa Besut itu sebetulnya nama seseorang. “Penelusuran saya, tahun 1904 ada tokoh namanya Besut, seorang kuli angkut di Pasar Wonokromo. Nah, ketika itu dia ketabrak mobil, pendarahan dan meninggal. Peristiwa ini mendapat perhatian besar di media massa. Dia juga sebagai representasi orang kelas bawah, pekerja, mendapat kecelakaan dan meninggal. Orang itu namanya Besut,” tutur Ribut Wiyoto, Ketua Dewan Kesenian Sidoarjo.
Dalam lakon Besutan, pada mulanya, tokoh yang selalu hadir, antara lain: Besut, Rusmini, Man Gondo, Sumo Gambar, dan Pembawa Obor. Tokoh lain bisa dimunculkan sesuai kebutuhan cerita. Besut yang gagah dan Rusmini yang cantik selalu menjadi sepasang kekasih atau sepasang suami-istri. Sumo Gambar selalu berperan antagonis, sebenarnya sangat mencintai Rusmini, akan tetapi selalu bertepuk sebelah tangan. Man Gondo yang merupakan paman Rusmini selalu berpihak pada Sumo Gambar karena kekayaannya. Dengan tema apa pun lakon atau ceritanya, bumbu cinta segitiga antara Rusmini, Besut, dan Sumo Gambar selalu menjadi sajian penyedapnya.

Busana Besut sangat sederhana. Tubuhnya dibalut kain putih yang melambangkan bersih jiwa dan raganya. Tali lawe melilit di perutnya melambangkan kesatuan yang kuat. Tutup kepalanya merah melambangkan keberanian yang tinggi. Busana Rusmini merupakan busana tradisional Jombang, menggunakan kain jarik, kebaya, dan kerudung lepas. Man Gondo berbusana Jawa Timuran, sedang Sumo Gambar berbusana ala pria Madura.
Besutan merupakan seni tutur yang lentur, bersumber dari kegelisahan rakyat, dan tampil dengan gaya rakyat; tanpa panggung megah, tanpa protokol seni. Bahkan, tanpa Rusmini, Man Gondo, Sumo Gambar dan Pembawa Obor, Besut tetap bisa main monoplay (tunggal) sebagai pertunjukan yang utuh. Besut biasanya tampil keliling dari desa ke desa, atau dari pasar ke alun-alun, menyampaikan cerita sambil mengomentari situasi sosial dan politik setempat. Pertunjukan ini bersifat spontan, mobile, dan sering kali mengajak penonton atau seniman lokal untuk ikut terlibat dalam bentuk improvisasi. Dalam hal kemampuan monoplay ini maka pantas disebut nama Cak Markeso (alm) tokoh ludruk garingan (tanpa iringan) dari Jombang, yang hingga kini belum ada gantinya.
Pertunjukan road show “Besut Jajah Deso Milangkori” ini ditujukan untuk menggugah kesadaran, terutama di kalangan generasi muda, terhadap nilai historis dan artistik dari kesenian Besutan dan Ludruk, dua entitas yang kini semakin ditinggalkan dan hampir tak dikenal oleh anak-anak zaman digital. Dengan demikian diharapkan akan tumbuh kembali spirit kesenimanan dari rahim daerah. Sebab hanya dengan kesadaran akan jati diri budayanya, seniman bisa kembali bersemi, dan dari tangan-tangan mereka, kesenian tradisi bisa tumbuh kembali. Bukan sebagai fosil sejarah, melainkan sebagai denyut hidup yang relevan.
Mengapa memilih Besut, Meimura menuturkan bahwa ini berawal ketika dia dan teman-teman disingkirkan dari (Gedung Ludruk) di Taman Hiburan Rakyat (THR) Surabaya. Baginya, ini adalah peristiwa yang sangat luar biasa. Padahal saat itu Ludruk sedang tumbuh pesat: ada Ludruk khusus anak-anak; remaja, pelajar, mahasiswa, dan sebagainya. Namun justru pada saat jaya-jayanya itulah dia disomasi untuk meninggalkan THR tanpa ada solusi. Ini yang membuatnya sedih. Ternyata kesedihan ini ditangkap oleh seorang budayawan, yang juga gurunya, “mbesuto ae,” katanya.
“Lama-lama saya berpikir, bukankah saya sering monolog, dan tokoh Besut juga bermonolog. Maka Besutan adalah solusi untuk menggabungkan antara monolog dan ludrukan. Dan, ini juga mengingatkan bahwa kota Surabaya perlu punya Ludruk yang bagus. Karena Ludruk menjadi bagian dari peristiwa perjuangan kita meraih kemerdekaan. Itulah yang membedakan Ludruk dengan Kabuki di Jepang dan lainnya,” tambahnya.
“Oleh karena itulah saya hari ini besutan terus sampai Pemerintah Kota Surabaya sadar harus membangkitkan dan membangun Gedung Ludruk sebagai ikon kota. Sebagaimana juga harus ada Gedung Ketoprak, Gedung Wayang Wong, Gedung Srimulat, seperti dulu,” tuturnya panjang lebar.
Ludruk tunggal
Lahir tanggal 16 Mei 1963 dengan nama Meijono, arek kampung Petemon Surabaya ini sudah sejak kecil akrab dengan Ludruk. Melanglang buana sebagai aktor dan sutradara teater modern, Mei (panggilannya) sempat hinggap mengelola Ludruk Irama Budaya dengan manajemen yang rapi sehingga melahirkan sejumlah komunitas baru pelaku Ludruk. Namun tiba-tiba pemerintah kota menggusur Gedung Ludruk di kompleks THR yang mangkrak itu. Kelompok Ludruk itu pun kembali terlunta-lunta.
Mei tak bisa berdiam diri. Dia terus berteater dengan caranya sendiri. Tampil monolog sebagaimana sebelumnya sudah sering ia lakukan. Kali ini dia memilih peran sebagai Besut, mendatangi banyak acara, diundang atau tidak. Besut sebagai tokoh sentral dalam pertunjukan Besutan merupakan figur yang pas untuk memaksimalkan potensi keaktorannya tanpa bergantung adanya grup teater. Lagi pula, Besutan sebagai bentuk kesenian tradisi juga mewadahi kecintaan Meimura terhadap kesenian tradisi, khususnya Ludruk. Maka, menjadi Besut dalam Besutan bagi Meimura ibarat sekali dayung dua pulau terlampaui.
Dalam penampilannya, Mei mengenakan kain berwarna putih yang dililitkan di tubuhnya hingga sebatas dada. Mengenakan kaos lengan panjang putih. Sebuah topi yang mengingatkan topi bayi menutupi kepalanya. Tidak lagi mengenakan songkok berwarna merah seperti aslinya. Sepasang kain mirip selendang merah dan putih tersampir di lehernya, tanpa ikat pinggang tali lawe.

Meimura memulai pertunjukannya dengan muncul dari arah belakang penonton. Tangan kanan memegang bambu obor yang menyala, tangan kirinya membawa selembar daun pisang beserta tangkainya. Sambil berjalan menuju arena pentas, dia mendendangkan kidungan, menggumamkan tetembangan. Atau juga dialog antara Besut dan Rusmini yang diperankannya sendiri. Namun kadang juga Mei muncul dalam busana perempuan bernama Rusmini, lantas masuk lagi, setelah diselingi sebuah adegan dari pemain lokal, Mei muncul dalam perannya sebagai Besut. Keseluruhan pertunjukan hanya berlangsung sekitar setengah jam saja.
Sementara di area pementasan sudah disiapkan sebuah kuali grabah berisi sesajen berupa sesisir pisang, kelapa utuh, bunga tabur, dan dedaunan sebagai perlengkapan ritual. Sesaji tersebut ditata sebagai simbol ungkapan syukur, penghormatan kepada leluhur, serta permohonan keselamatan dan keberkahan dalam tradisi masyarakat Jawa. Kadang di tengahnya ditancapkan sebuah wayang rumput yang kemudian menjadi teman dialog Besut.
Sebagaimana ciri khas pertunjukan Ludruk, Mei juga melantunkan kidungan dan menari remo. Hanya saja, tidak seperti tarian remo pada umumnya, Mei sekadar memainkan selendangnya seperti sampur ke kanan dan ke kiri.
Salah satu kidungannya:
Ludruk Besut Jawa Timuran
Ayok diusut, korupsine wis trilyunan…
Dalam road show pentas Besutan ini, Meimura sengaja menggandeng dua pemain lokal di setiap lokasi. Langkah ini menjadi semacam laboratorium budaya untuk menguji sejauh mana Besutan masih mampu menghidupkan kembali roh Ludruk di tengah masyarakat. Di samping itu, juga pada ujung pementasan, selalu ada di antara penonton yang mendadak digaet masuk arena.

Seperti yang terjadi di Surabaya, Restu Gunawan dalam kapasitasnya sebagai Dirjen Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Kementerian Kebudayaan RI yang saat itu hadir, tiba-tiba digaet ikut bergabung dalam pentas. Di Sidoarjo ia mendaulat tiga penonton naik panggung. Di Jombang Besut mengajak Kepala Bidang Kebudayaan Disbudpar. Di Nganjuk melibatkan anak-anak sanggar yang bergantian baca puisi. Sementara di Mojokerto Besut menodong Dekan Fakultas Ilmu Keguruan UNIM (Universitas Islam Mojopahit). Melalui perjumpaan dengan pemain yang berbeda-beda, maka terlihat bagaimana unsur spontanitas, improvisasi, keluwesan dialog, dan kedekatan dengan penonton—yang menjadi ciri khas Ludruk—dapat tumbuh secara alami di setiap daerah. Dialog improvisasi justru menjadikan pertunjukan berlangsung cair dan akrab.
Lakon yang dibawakan juga tidak dibuat seragam. Setiap kota menghadirkan cerita yang berbeda, menyesuaikan dengan isu, pengalaman, dan realitas sosial masyarakat setempat. Dengan demikian, Besutan tidak sekadar menjadi tontonan, melainkan ruang dialog yang hidup antara tradisi dan persoalan kekinian. Setelah pementasan, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi bersama seniman, budayawan, dan masyarakat untuk menggali respons, merekam pengalaman, serta memetakan peluang pengembangan Besutan dan Ludruk di masa mendatang.
Begitu pula pilihan tempatnya. Ketika pentas pertama di Surabaya, dilakukan di Balai RW Perumahan Gunung Anyar Emas, di mana ketua RW ikut hadir mendukungnya. Pentas kedua, digelar di panggung permanen halaman Dewan Kesenian Sidoarjo. Jelas penontonnya adalah kalangan seniman. Berikutnya, digelar di halaman samping sebuah kafe di Jombang, lalu sanggar anak di Nganjuk, dan akhirnya kampus universitas di Mojokerto. Namun setelah pentas kelima, Mei masih harus menunggu kucuran dana tahap berikutnya dari Dana Indonesiana. Kota-kota lain yang sudah dijadwalkannya adalah: Kediri, Madiun, Blitar, Malang, dan Jember. Pilihan kota-kota tersebut berdasarkan bahwa di kota-kota itu (pernah) ada kelompok Ludruk sehingga menjadi habitat tumbuh kembalinya Ludruk.
Kepada Kompas.id (8 April 2026), Mei mengaku ia terinspirasi peludruk legendaris Nachrowi yang memiliki nama panggung Markeso (1933-1966). Sejak tahun 1949 hingga meninggal di tahun 1995, Markeso getol keliling kampung melakonkan Besut. Markeso dikenal dengan gaya pentas keliling kampung atau ontang-anting, yang kemudian disebut Ludruk Garingan. Ia tampil mandiri tanpa bergabung dengan kelompok ludruk.
Besut ala Markeso itulah yang dilestarikan dan dijalankan kembali oleh Meimura. Besut bisa dimainkan tunggal, tapi juga dapat dipentaskan menjadi pertunjukan yang lebih kompleks. Akan tetapi, sekarang ludruk menghadapi tantangan tak ringan. Era keemasan dengan pentas tobong atau di gedung dan bertiket telah berakhir pada 2010. Selanjutnya, pentas tobong berubah rupa menjadi tanggapan atau pesanan di hotel, gedung seni, sekolah, dan balai masyarakat.
Imam Ghozali, pekerja teater dari Jombang, menuturkan dalam sesi diskusi di Surabaya, bahwa di Jombang memang dikenal adanya Ludruk Ontang-anting, ludruk yang hanya dimainkan seorang diri. Sampai sekarang yang menjadi ikonnya adalah Markeso. Namun dia mencatat tidak seperti itu. Markeso itu hanya meneruskan, melestarikan, dan mengembangkan ikhtiar yang sudah pernah dilakukan Pak Santik. Semula dikenal dengan nama Ludruk Amen, yang dilakukan oleh Pak Santik dari pintu ke pintu menggunakan musik congor (mulut), seorang diri. Yang disuarakan adalah persoalan-persoalan kesulitan ekonomi. Persoalan ketidakadilan, atau hubungan tetangga satu dengan yang lain. Kemudian ketemu dengan Pak Amir, Pak Pono, di Plandi, lantas mereka menginstitusikan bentuk keseniannya itu dengan nama Besutan dan lantas menjadi Ludruk.
“Tetangga desa saya bernama Pak Saman, sezaman dengan Markeso. Kalau Markeso dimakamkan di Tunggorono, sedangkan Pak Saman di Sengon. Pak Saman pun setiap malam melakukan seperti Markeso. Di pos gardu desa dia melakonkan sesuatu yang dikarangnya sendiri, nggandhang sendiri, melawak sendiri,” kata Imam.

Yang unik, di sebelah utara perempatan tumbuh Ludruk, Jaranan, dan juga Jaran Dhor, bahkan juga Pencak Dhor. Sementara di sebelah selatan perempatan, yang dikenal daerah kaum, Ludruk tidak pernah ditanggap di daerah ini. Di sini yang berkembang adalah Gambus Misri. Cak Nun (Emha Ainun Najib) mengatakan, itu Ludruk Islam. Yang menciptakan pertama adalah Aswandi, ayahnya pelawak Asmuni, ketika menjadi santri Mbah Kyai Hasim. Waktu itu Aswandi ikut Ludruk, lantas ditanya oleh oleh Kyai Hasyim: mengapa ikut Ludruk? Karena yang bertanya adalah kyai khos, maka macam-macamlah tafsirnya. Barangkali takut tidak direstui, maka dia lantas menciptakan Gambus Misri. Jadi Gambus Misri ini merupakan strategi Aswandi agar Ludruk dapat diterima oleh kalangan santri.
Imam mencatat ada beberapa hal tentang Besutan itu sendiri. Pertama, ada konsep kesederhanaan dalam Besutan. Keluwesan. Ditampilkan di mana saja dalam kondisi apapun bisa, meski tanpa peralatan yang canggih. Kedua, ada keintiman. Maka pertunjukan Besutan selalu berupa arena, bisa sahur manuk (saling bersahutan) antarpenonton, antarpemain, penonton dan pemain, dan seterusnya. Ketiga, ada aspek ritus: bahwasanya Besutan itu memiliki fungsi kaulan, syukuran, nadar. Sementara itu Pak Santik sendiri, ketika melakukan “Jajah Deso Milangkori”, itu sebenarnya merupakan rangkaian ritual pencarian takdir untuk menyelamatkan dirinya, agar dia bisa survival. Ini adalah bentuk ritus keseharian yang dilakukan Pak Santik.
Catatan Akhir
Program pentas keliling ini setidaknya menegaskan bahwa pada dasarnya Ludruk bisa dihadirkan dalam keterbatasan. Tanpa gedung dan panggung, tanpa kelompok besar, tanpa kursi penonton, serta peralatan yang lengkap, termasuk iringan musik. Ludruk bisa tampil apa adanya. Konsep inilah yang dibawakan oleh Meimura dengan Ludruk Garingan ini. Sebagaimana dulu dilakukan Markeso, gamelane tak emut. (gamelannya dikulum dalam mulut).
Keberadaan grup Ludruk di Jawa Timur kini makin lama makin menipis. Yang ada sekarang hanya beberapa saja. Itu pun sebagian besar ada di Jombang dan Mojokerto saja. Diharapkan di kota-kota yang disambangi Mei dengan Besutan-nya ini Ludruk bisa tumbuh, hidup, dan berkembang lagi. Gerakan yang dilakukan Meimura ini harus dilihat sebagai bagian dari upaya untuk membangun optimisme bahwa Ludruk bisa hidup meski dengan segala keterbatasan.
Sudah saatnya Ludruk tidak lagi bergantung sepenuhnya pada keberadaan gedung pertunjukan, tanggapan, ataupun fasilitas yang serba lengkap. Kehadirannya justru harus kembali menyatu dengan ruang-ruang kehidupan masyarakat. Meskipun program ini memperoleh dukungan dari Kementerian Kebudayaan, sesungguhnya apa yang dilakukan Meimura bukanlah sesuatu yang baru. Jauh sebelumnya, ia telah berulang kali melakukan pentas serupa secara swadaya di berbagai tempat dan kesempatan, tanpa tiket dan tanpa pungutan apa pun.
Dengan demikian, perjalanan ini bukan semata-mata pertunjukan keliling, melainkan sebuah ajakan untuk percaya bahwa ludruk tetap memiliki masa depan. Selama masih ada kemauan untuk bermain, berkumpul, dan bercerita, ludruk akan terus hidup meski berada dalam segala keterbatasan. (*)
- Henri Nurcahyo, Wakil Ketua Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) Jawa Timur, penulis buku dan pegiat Budaya Panji.
- Foto-foto dokumentasi Meimura