Poros Makale-Rantepao masih seperti tiga tahun lalu ketika peringatan 100 Tahun Injil Masuk Toraja (1913-2013) digelar. Tak ada perubahan berarti. Kalaupun ada yang terlihat berbeda, kini jalan penghubung dua ibu kota kabupaten (Tana Toraja dan Toraja Utara) itu sedang sedikit diperlebar.
Irama kehidupan DI Tana Toraja masih bergerak lambat. Kontras dengan derasnya air Sungai Sa’dan yang mengalir di sisi kiri jalan yang (ironisnya) kian terlihat keruh. Saat melintas di pagi hari, masih kerap dijumpai warga yang duduk-duduk atau jalan pelan berselempang kain melintang di dada.
Lebih jauh ke dalam, di tebing-tebing bukit dan lembah yang dinaungi hutan bambu dan pepohonan, kehidupan berjalan penuh kedamaian. Di antara hutan bambu dan lembah-lembah itulah, juga di lereng-lereng bukit, desa-desa kecil seperti tersembunyi dalam derap kemajuan zaman. Meski sempit, jalan penghubung antarkampung cukup mulus. Tak jarang ditemui juga rumah berarsitektur tongkonan sedang dibangun, bersebelahan dengan rumah tinggal pada umumnya, mengindikasikan ada gerak perubahan di sana. Di tempat lain, ada juga rumah tinggal biasa pada bagian depannya, tetapi atap bagian belakang dibuat mirip seperti tongkonan.
”Biasanya rumah tongkonan semacam itu milik orang-orang Toraja yang terbilang sukses di perantauan,” kata Tiendas Mangeka, putra Toraja kelahiran Makale yang kini tinggal di Jakarta.
Terlepas dari itu semua, atmosfer Tana Toraja sepintas terlihat masih seperti yang dulu: tenang, damai, dan penuh harmoni. Dalam banyak hal, sebagaimana kerap digambarkan oleh Antonie Aris van de Loosdrecht (1885-1917)—misionaris pertama yang masuk ke Toraja pada 1913—dalam korespondensinya dengan Gereformeerde Zendingsbond di Negeri Belanda, secara umum alam Toraja masih terlihat eksotis. Anton bahkan mengibaratkan Toraja bagai Taman Eden yang didiami manusia yang murni dan kudus.
”Ini membuat orang tanpa sadar memandang ke langit, penuh rasa hormat dan kagum. Betapa indah dan mulianya. Betapa murni dan sucinya,” tulisnya dalam surat tertanggal 3 Juli 1914 yang dimuat dalam buku, Dari Benih Terkecil, Tumbuh Menjadi Pohon: Kisah Anton dan Alida van de Loosdrecht, Misionaris Pertama Ke Toraja, 2005.
Sumber krisis
Akan tetapi, apa yang tampak di permukaan tak selalu berbanding lurus dengan kenyataan. Dalam beberapa kasus, cerdik cendekia Toraja justru melihat ada fenomena baru yang kini mengancam ketorajaan orang Toraja. Bahkan berbagai disharmoni dalam berbagai bidang kehidupan sudah sangat menggejala, dan berujung pada apa yang mereka sebut krisis identitas.
Dalam berbagai kesempatan, antropo-linguistik Stanislaus Sandarupa (1959-2016) semasa hidupnya menyampaikan otokritik yang sangat tajam. Dalam ritual kematian (rambu solo’) misalnya, ia sampai pada kesimpulan bahwa masyarakat Toraja kini terjebak ke dalam kegiatan pragmatisme ritual tanpa pendalaman nilai yang ada di belakangnya.
Contoh kasus yang gampang dilihat ada pada tradisi mantunu (potong kerbau) dalam ritual kematian yang sudah melenceng jauh dari ketentuan adat. Lewat tradisi mantunu, kerbau (juga babi) dipotong dalam jumlah hingga ratusan. Tak ada lagi batasan sesuai adat yang selama ratusan tahun mereka kukuhi.
Betul bahwa sebagian hewan yang dikorban itu berupa ’sumbangan’, baik balasan atas ’sumbangan’ si mati (to mate) semasa ia hidup maupun ’sumbangan’ baru yang harus dibalas kemudian, akan tetapi tetap saja hal itu pemborosan. Apalagi sudah jadi pembicaraan umum, begitu banyak keluarga yang ”bangkrut” selepas ”pesta” rambu solo’ karena tradisi mantunu yang kian lepas kendali.
Padahal, adat (ada’) yang bersandar pada Alukta (agama nenek moyang orang Toraja) jelas-jelas telah menggariskan aturan: kerbau yang dipotong cukup 24 ekor. Itu pun ”kewajiban” bagi bangsawan tertinggi. Akan tetapi, yang terjadi sekarang, semangat di balik ritual kematian untuk menyempurnakan hidup si mati agar bisa mencapai puya (dunia roh, dunia arwah) dengan tenang dan menjadi dewata (to membali puang) kini justru dijadikan ”pesta” demi menjadi ruang selebrasi kesuksesan mereka.
”Pemotongan hewan kerbau dan babi tanpa kendali menunjukkan bahwa mereka telah kehilangan pegangan, lalu berpartisipasi dalam budaya kapitalisme. Terjadilah transformasi nilai dari nilai makanana’ (hemat) ke nilai ma’katappui’ (menghabiskan),” demikian Stanislaus Sandarupa saat tampil sebagai pembicara pada Kongres Kebudayaan 2008 di Bogor.
Tradisi mantunu yang kian tak terkendali itu sebetulnya sudah sejak lama merisaukan tokoh adat dan cerdik cendekia masyarakat Toraja. Dalam pertemuan besar masyarakat Toraja menjelang peringatan 100 Tahun Injil Masuk Toraja, misalnya, isu ini menjadi salah satu topik bahasan mendalam.
Setelah ditelusuri ”pohon masalah”-nya, pertemuan bertajuk ”Toraya Ma’Kombongan” tersebut melihat bahwa akar persoalan memang beragam: krisis multidimensi! Tak ada penyebab tunggal, meski disebut-sebut semua itu berawal dari pemisahan aluk (agama) dan ada’ (budaya)—yang dalam sistem nilai-nilai budaya Toraja merupakan satu kesatuan—menyusul perjumpaan Alukta dan Injil pada awal abad ke-20.
Kembali ke akar
Tradisi mantunu hanya satu hal. Hal lain, meski terkadang masih dalam bentuk gejala, dapat diamati dalam keseharian masyarakat Toraja yang ada di Toraja, ”Toraja Diaspora” yang tinggal di rantau, maupun ”Toraja Hibrida”, yakni mereka yang lahir dari perkawinan lintas etnis. Masuknya budaya kapitalisme yang menerobos hingga bukit dan lembah-lembah di Tana Toraja telah ikut memicu konsumtivisme, individualisme, dan pragmatisme masyarakat Toraja di berbagai ranah kehidupan.
Sudah tak terbilang banyak lahan sawah yang berpindah tangan ke para pendatang. Di pasar-pasar tradisional juga semakin banyak kios orang Toraja yang dijual kepada orang luar. Selain untuk keperluan mantunu, tak jarang lahan sawah dan properti lain dijual karena ada perubahan gaya hidup kalangan muda yang tinggal di sini. Alhasil, lahan subur dijual hanya karena untuk memenuhi selera hidup mereka yang jauh dari etos kerja yang menjadi ciri ketorajaan: tekun, rajin, dan kerja keras.
”Meskipun lahan-lahan pertanian dan peternakan menantikan sentuhan tangan mereka, tidak sedikit generasi muda Toraja yang ada di Toraja justru memilih jadi ’tukang ojek’. Untuk itu, tidak jarang dengan menjual lahan produktif warisan orangtua sebagai modal membeli sepeda motor. Mereka tidak lagi melihat ’nilai kerja’ selain menganggapnya sebagai cara dapat uang dengan mudah dan cepat,” demikian salah satu keprihatinan yang muncul dalam forum tersebut.
Tak ada lagi daya juang, semangat kerja keras, ketekunan dan penghargaan pada proses. Yang dihargai cuma hasil akhir. Daripada bertani dan harus menunggu berbulan-bulan, mereka lebih memilih ’ngojek’ agar cepat dapat uang. Sebuah mental instan cerminan pikiran pendek tengah dipertontonkan!
Sementara di balik perbukitan, begitu banyak pohon kopi yang dibiarkan telantar tanpa perawatan berarti. Penyebabnya bukan semata karena harga kopi jatuh, tetapi lebih karena begitu banyak acara ”pesta” yang memakan waktu berminggu-minggu yang ”harus” didatangi jika tak ingin jadi pembicaraan orang-orang sekampung.
Forum ”Toraya Ma’kombongan” menyebut fenomena ini sebagai kemalasan berjamaah. Kini tidak sulit menemukan kelompok anak muda bergerombol di pinggir jalan, bersantai di atas sadel motor atau duduk-duduk di ’pos jaga’ sambil minum tuak dan mengisap rokok justru pada jam-jam produktif.
Banyak pihak menyinyalir hal ini justru dipicu oleh keluarga di rantau yang cenderung ’memanjakan’ dengan kiriman uang, entah rutin atau sesekali untuk upacara orang mati. Tentu tidak bisa digeneralisasi, tetapi memang keberadaan ”Toraja Diaspora” ini sering kali dikaitkan dengan tradisi mantunu yang boros dan tak terkendali itu. Patut dicatat, hanya sepertiga etnis Toraja yang tinggal dan berdiam di Toraja, tiga-perempat dari sekitar 1,5 juta etnis Toraja justru di rantau sebagai ”Toraja Diaspora”.
Tentu semua berpulang pada ketorajaan orang Toraja itu sendiri. Otokritik pedas lewat forum ”Toraya Ma’Kombongan” sudah disuarakan. Anatomi ’pohon masalah’ pun telah mereka ”temu-kenali”. Usul-usul dan agenda konkret pemecahan masalahnya juga sudah dirumuskan satu per satu. Tinggal kini mampukah ketorajaan orang Toraja yang menjunjung nilai-nilai harmoni, tekun, rajin, dan kerja keras kembali menjadi bagian dari keseharian hidup mereka di mana pun. (Kenedi Nurhan)