
ernaung di bawah Yayasan Asosiasi Tradisi Lisan, kehadiran situs atau portal (website) dengan domain dan tampilan dalam format baru ini tidak lain adalah bagian dari upaya kami untuk berbenah diri. Termasuk di dalamnya penyempurnaan muatan materinya yang secara khusus dipilah berdasarkan kategori yang kami namakan “JENDELA” sebagai pengganti istilah ‘rubrik/rubrikasi’ yang sudah umum digunakan. Di sanalah beragam jenis tradisi lisan Nusantara kami tuangkan secara mendalam. Baik berupa hasil “perjumpaan” dengan para pelaku tradisi, kunjungan ke komunitas-komunitas, maupun dari pertunjukan mereka di atas panggung. Laporan diupayakan berpusat pada orang (people), pada pelaku dengan segala persoalan yang mereka hadapi, dan tentu saja berikut cerita di balik keberadaan tradisi lisan yang mereka “hidupi”.
Dengan kata lain, situs/portal ini kami persembahkan sebagai tempat untuk “mencatat”—sekaligus mendokumentasikan tradisi lisan agar dapat diakses dengan gampang dan murah oleh sebanyak mungkin orang—bagaimana tradisi lisan Nusantara hadir memperkaya ingatan kolektif kita sebagai bangsa yang begitu luar biasa. Melalui laman-laman yang tersedia kami juga mencoba menghadirkan tradisi lisan dengan format baru. Selain berupa laporan berikut foto-foto pendukung tulisan/artikel/berita ringkas, rekaman audio-visual berupa “salinan pertunjukan” juga kami hadirkan ke genggaman Anda pada bagian “GALERI”. Kami pun mencoba hadir secara multi-platform, di mana situs/portal ini tertaut dengan akun-akun media sosial: Instagram, Facebook, YouTube, TikTok, dan Podcast.
Kehadiran semacam rubrik “Maestro” di pemuncak “JENDELA” bukan lantaran ATL sebagai organisasi nirlaba ikut menggagas kehadiran “Penghargaan Maestro Seni Tradisi”, yang kemudian dieksekusi oleh Direktorat Jenderal Nilai Budaya, Seni, dan Film (NBSF), Depatemen Kebudayaan dan Pariwisata; lalu pada 2008 untuk pertama kali sebanyak 26 maestro seni tradisi dari berbagai daerah mendapat anugerah berikut dana seumur hidup dari pemerintah agar mereka dapat mewariskan keahliannya. Bukan! Kehadiran “Maestro” tersebut lebih dimaksudkan untuk mengingatkan kita semua akan betapa penting peran sosok para tokoh yang mempuni di bidangnya dalam upaya keberlanjutan sebuat tradisi, tak terkecuali tradisi lisan.
Di atas segala, apa yang kami persembahkan melalui situs ini tidak ada artinya tanpa ada interaksi yang bersifat saling menguatkan dari para pencinta dan penggiat tradisi. Masukan dan kritik niscaya akan menjadi tambahan semangat bagi kami agar dapat berbuat lebih baik bagi keberadaan tradisi lisan Nusantara. Tabik!
Salam ATe-eLian,
TIM REDAKSI TRADISILISAN.ID
Yayasan ATL dan Kiprahnya
Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) sebagai anak kandung Yayasan ATL merupakan organisasi nirlaba yang bergerak di bidang pelestarian, pengembangan, dan pemajuan tradisi lisan sebagai bagian dari warisan budaya takbenda (WBTb) Indonesia yang sangat berharga. Kami hadir sebagai wadah kolaborasi bagi para pegiat budaya, akademisi, peneliti, seniman, komunitas, serta generasi muda yang memiliki kepedulian terhadap keberlangsungan tradisi lisan di tengah perubahan zaman.
Tradisi lisan bukan sekadar cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi, melainkan juga mengandung nilai-nilai kehidupan, kearifan lokal, norma sosial, hingga identitas suatu masyarakat. Bentuknya sangat beragam, mulai dari cerita rakyat, legenda, mitos, dongeng, pantun, syair, mantra, hingga seni bertutur yang hidup dan berkembang di berbagai daerah di Indonesia. Namun, di era modern yang serba digital, banyak tradisi lisan yang mulai tergerus dan terancam punah apabila tidak dilestarikan secara serius dan berkelanjutan.
Atas dasar itulah, kami berkomitmen untuk menjadi garda terdepan dalam menjaga, merawat, dan menghidupkan kembali tradisi lisan melalui berbagai program strategis. Kami melakukan kegiatan dokumentasi dan digitalisasi untuk memastikan bahwa kekayaan budaya ini dapat diakses oleh generasi sekarang dan mendatang. Selain itu, kami juga menyelenggarakan penelitian, diskusi ilmiah, pelatihan, workshop, seminar, hingga festival budaya yang melibatkan berbagai lapisan masyarakat.
Kami percaya bahwa pelestarian tradisi lisan tidak bisa dilakukan secara individu, melainkan membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Oleh karena itu, kami aktif menjalin kerja sama dengan pemerintah, lembaga pendidikan, komunitas budaya, serta berbagai pihak lainnya untuk menciptakan ekosistem yang mendukung keberlanjutan tradisi lisan di Indonesia.
Di samping pelestarian, kami juga mendorong inovasi dalam pengembangan tradisi lisan agar tetap relevan dengan perkembangan zaman. Melalui pemanfaatan teknologi digital, media sosial, serta pendekatan kreatif, kami berupaya menghadirkan tradisi lisan dalam bentuk yang lebih menarik dan mudah diterima oleh generasi muda tanpa menghilangkan nilai-nilai aslinya. Salah satunya adalah menghadirkan situs atau portal khusus yang mengangkat isu mengenai tradisi lisan dengan segala dinamika yang dihadapi pada laman-laman yang ada di TRADISILISAN.ID.
Sejak Juni 2012 organisasi kami sudah terdaftar dan remi diakui sebagai NGO/LSM kebudayaan yang terakreditasi di UNESCO. Status ini menjadikan kami mitra resmi UNESCO dalam pelindungan dalam warisan budaya takbenda (WBTb). Oleh karena itu pula, kami merupakan anggota tim ahli dalam penetapan Warisan Budaya Takbenda (WBT) nasional serta pengajuan Intangible Cultural Heritage (ICH/WBTb) ke UNESCO. Di tingkat internasional, kami juga menjadi anggota kelompok Heritage Alive dan kelompok film dokumenter. Selama sepuluh tahun terakhir, kami telah menjadi peserta aktif dalam Sidang Umum dan Sesi ICH, serta menjadi narasumber untuk pelestarian ICH di Indonesia.
Visi kami adalah menjadikan tradisi lisan sebagai sumber inspirasi, pengetahuan, dan identitas budaya yang terus hidup dan berkembang di tengah masyarakat. Adapun misi yang kami emban meliputi pelestarian, edukasi, dokumentasi, serta promosi tradisi lisan baik di tingkat lokal, nasional, maupun internasional.
Yayasan Tradisi Lisan dengan sayap organisasi ATL-nya hadir bukan hanya untuk menjaga warisan masa lalu, tetapi juga untuk membangun jembatan menuju masa depan, di mana tradisi dan modernitas dapat berjalan beriringan. Dengan semangat kebersamaan dan kecintaan terhadap budaya, kami berkomitmen untuk terus menghidupkan suara, cerita, dan nilai-nilai luhur yang menjadi bagian tak terpisahkan dari jati diri bangsa Indonesia.