Zulkaidah Boru Harahap: Ratu Opera Batak dari Tiga Dolok

June 19, 2026

InShot_20260608_085826549

 

geri-ngeri sedap! itulah ungkapan cerdas yang kaya makna dari Zulkaidah boru Harahap (60), mantan maskot Opera Batak pimpinan Tilhang Gultom pada 1960-an hingga awal 1970-an.

yang ia geluti selam dinamika. Sed· Apalagi ketika nasib Opera Batak yang ia geluti sejak tahun 1963 tersebut kini sudah lebih dua dekade mati suri. Dan, boru Harahap pun dipaksa menerima kenyataan jauh lebih buruk. Bukan saja ia kehilangan panggung seni yang menghidupinya, tetapi sekaligus kehilangan kesempatan memenuhi janjinya untuk menjaga wasiat (alm) Tilham Gultom agar ia tetap bisa menghidupi seni tradisi yang mulai berkembang sejak 1930-an tersebut.

Sempat terlunta-lunta selama lima bulan di Jakarta pada pertengahan 1980-an, lalu dijemput (boru Harahap lebih suka menyebut peristiwa itu dengan istilah ditangkap) untuk dibawa pulang ke tano Batak, tepatnya ke Desa Tiga Dolok, Kabupaten Simalungun, sejak itu pula babak baru kehidupannya seperti ditulis ulang. Beberapa kali kena gusur dari rumah kontrakan, sebelum akhirnya- setelah lebih dari 15 tahun berpindah-pindah tempat; bahkan pernah selama tiga tahun numpang di gedutlg KUO setempat-ia dan suami (Pontas Gultom alias Zulkarnaen) beserta lima anak mereka (Nurjunita, Nurjuniati, Bandit, Halijah, Metro) bisa membeli tempat ‘pertapaan’ (begitu ia menyebutnya) di Tiga Dolok.

Agar bisa bertahan hidup, sejak itu pula boru Harahap harus berjualan tuak dan kacang goreng keliling. Ikut kapal penyeberangan Danau Toba dari Tuktuk ke Tomok di Pulau Samosir kerap ia jalani. Setiap ada keramaian di desa-desa yang bisa ia capai tentu akan didatanginya. Tapi, satu hal yang tak pernah ia lupakan, ke mana pun pergi aneka jenis sulim (seruling khas yang biasa ia gunakan untuk mendendangkan lagu-lagu Opera Batak) selalu menyertainya.

geri-ngeri sedap! Itulah ungkapan cerdas yang kaya makna dari Zulkaidah boru Harahap (60), mantan maskot Opera Batak pimpinan Tilhang Gultom pada 1960-an hingga awal 1970-an.

Konteks ucapan boru Harahap tadi sebetulnya sederhana. Bahwa, menjadi seniman tradisi seperti yang ia geluti selama ini ternyata begitu penuh dinamika. Sedih dan duka kerap berjalan beriring dengan kegembiraan. Jarak yang memisahkan keduanya pun terkadang begitu tipis, tetapi di lain waktu bisa begitu jauh merentang; ibarat bumi dan langit

Apalagi ketika nasib Opera Batak yang ia geluti sejak tahun 1963 tersebut kini sudah lebih dua dekade mati suri. Dan, boru Harahap pun dipaksa menerima kenyataan jauh lebih buruk. Bukan saja ia kehilangan panggung seni yang menghidupinya, tetapi sekaligus kehilangan kesempatan memenuhi janjinya untuk menjaga wasiat (alm) Tilham Gultom agar ia tetap bisa menghidupi seni tradisi yang mulai berkembang sejak 1930-an. tersebut.

Sempat terlunta-lunta selama lima bulan di Jakarta pada pertengahan 1980-an, lalu dijemput (boru Harahap lebih suka menyebut peristiwa itu dengan istilah ditangkap) untuk dibawa pulang ke tano Batak, tepatnya. ke Desa Tiga Dolok, Kabupaten Simalungun, sejak itu pula babak baru kehidupannya seperti ditulis ulang. Beberapa kali kena gusur dari rumah kontrakan, sebelum akhirnya-setelah lebih dari 15 tahun berpindah-pindah tempat; bahkan pernah selama tiga tahun numpang di gedung KUD setempat-ia dan suami (Pontas Gultom alias Zulkarnaen) beserta lima anak mereka (Nurjunita, Nurjuníati, Bandit, Halijah, Metro) bisa membeli tempat ‘pertapaan’ (begitu ia menyebutnya) di Tiga Dolok.

Agar bisa bertahan hidup, sejak itu pula boru Harahap harus berjualan tuak dan kacang goreng keliling. Ikut kapal penyeberangan Danau Toba dari Tuktuk ke Tomok di Pulau Samosir kerap ia jalani. Setiap ada keramaian di desa-desa yang bisa ia capai tentu akan didatanginya. Tapi, satu hal yang tak pernah ia lupakan, ke mana pun pergi aneka jenis sulim (seruling khas yang biasa ia gunakan untuk mendendangkan lagu-lagu Opera Batak) selalu menyertainya.

“Sambil jual tuak dan kacang goreng, ketika lagi tidak ada pembeli, kutiuplah sulim dalam irama lagu ungut-ungut (lagu kesedihan- Red). Pernah sekali waktu, saat aku tiup sulim sambil duduk di pokok kayu, eh, datang bapak-bapak. Katanya, ‘Namboru, sedih ‘kali ya suara sulim-nya.’ Lalu orang pun satu per satu datang. Pokoknya ramai. Alhasil tak ada lagi orang ke pesta itu, semua ngerubungi aku. Pemilik pesta pun datang, bayarin tuak dan kacang goreng. Dia borong semua, tapi dengan syarat aku dimintanya pergi. Kejadian seperti itu sering terulang di banyak tempat,” ujar boru Harahap.

Kini pun, meski tak lagi jualan keliling lantaran usianya kian senja, ia masih berjualan tuak serta sedikit makanan ringan macam godo-godo (begitulah ia menyebut nama penganan campuran gandum dan pisang yang digoreng) di kedai kopinya di tepi jalan raya Desa Tiga Dolok. Di salah satu tiang penyanyi, tak jauh dari tempat penggorengan, tersangkut kantung kain berisi peralatan sulim yang hingga kini masih setia menemani boru Harahap. Dari ‘kedai’ tak berdinding yang berdiri di atas selokan desa itu pulalah perempuan yang pernah begitu populer dan tiada tandingan dalam menyanyikan lagu-lagu Opera Batak ini bertahan hidup.

Ditemui pada suatu malam gerimis di Pusat Latihan Opera Batak (PLOt) di Pematangsiantar, Sumatera Utara, boru Harahap tampak begitu energik ketika memainkan alat musik sulim dan hasapi (kecapi dua tali) secara bergantian. Di sela-sela permainan sulim dan hasafi, sesekali vokalnya yang bening muncul ke permukaan lewat nyanyian tentang adat (onang-onang) dan kesedihan (ungut-ungut). Pada masanya, berkat talenta bermain sulim dan vokalnya yang bening itu, boru Harahap tak ubahnya bagai “ratu” yang selalu ditunggu kemunculannya di atas panggung Opera Batak.

Sejak bergabung sebagai tukang masak dan penjaga anak-anak para pemain Opera Batak pada usia 13 tahun, boru Harahap sudah merasakan pahit getir jalan menikung untuk menjadi bagian dari sebuah popularitas. Sampai kemudian “karier”-nya meningkat menjadi pemain, pemusik, dan pelatun lagu-lagu Opera Batak -bahkan pada satu masa menjadi tauke grup Opera Batak Serindo sepeninggal (alm) Tilhang Gultom- ia pun pernah mengalami apa yang disebut sebagai pasang surut kehidupan.

Begitu suara beningnya mulai di-‘rekam’ dengan tape recorder saat ia diundang ke rumah orang-orang kaya, boru Harahap mengaku bagai hidup di atas awan. Katanya, “Seperti melayang-layang kemana-mana dijemput  naik sedan.

“Bahkan, setelah bangkrut pun boru Harahap mengaku masih ‘melayang-layang’ bila ada wartawan datang lalu difoto-foto, dan masuk koran. Tak peduli para tetangga kerap men-cemeeh-nya sebagai seniman penjual kacang goreng. Apalagi saat Rizaldi Siagian (entomusikolog yang saat itu, 1989, masih sebagai dosen di Universitas Sumatera Utara) datang ke gubuknya dan mengajak boru Harahap pergi untuk ikut pentas di tempat yang jauh sekali: New York, Amerika Serikat.

“Ke Amerika! Ya, ke Amerika. lni foto-fotonya dan ini fotokopi koran-koran orang Amerika tentang kami. Lalu, ini piagam dari pemerintah,” kata Zulkaidah boru Harahap begitu antusias. Juga ketika ia bercerita tentang lawatan mereka ke Jepang. 142

Dua sisi mata uang

“Opung meninggal tahun 1973. Sebelum meninggal, ia minta agar aku meneruskan kelangsungan grup Opera Batak yang telah ia bangun dengan susah payah Kata dia, “Boru Harahap, jangan kau sia-siakan usaha ini. Kalau kau sia-siakan, awas kau!’ Begitu Opung bilang, seperti mengancam. Tentu saja itu semua ia sampaikan dalam bahasa Batak,” kata boru Harahap mengenang awal dari peristiwa kebangkrutan Opera Batak yang ditinggalkan Tilhang Gultom, sang pendiri.

Tak ada catatan persis bagaimana kehadiran jenis opera yang lebih mirip teater keliling ini di tanah Batak. Namun, yang pasti, nama Tilhang Oberlin Gultom selalu dikaitkan sebagai pemicu “kelahiran”-nya pada tahun 1920-an ketika ia menggelar tontonan ini di pedalaman Tapanuli Utara. Adapun istilah Opera Batak itu sendiri dilekatkan oleh Diego van Biggelar, misionaris dari Belanda yang datang ke Pulau Samosir pada 1930-an.

Sepeninggal (alm) Tilhang Gultom, atas persetujuan keluarga Tilhang Gultom, perempuan kelahiran Desa Bunga Bandar, Sipirok, Tapanuli Selatan, ini memutuskan melanjutkan usaha pertunjukan Opera Batak bernama Seni Ragam Indonesia alias Serindo tersebut. Untuk menghidupi sekitar 70 anggotanya, ia jual sebagian besar harta yang sempat dikumpulkannya selama menjadi maskot Opera Batak semasa Tilhang Gultom. Sawah, tanah, serta perhiasan emas yang melingkari leher, lengan dan pergelangan kakinya pun dilego.

Serindo tampil kembali menggelar pertunjukan keliling dari desa ke desa. Akan tetapi ternyata ‘dunia luar’ sudah berubah. Para penontonnya sebagian besar sudah pergi ke pertunjukan dangdut dan televisi, sementara pajak tontonan dan ‘pajak’ tak resmi dari oknum aparat membuat keuangan Serindo kelimpungan. Modal hidup terus terkuras, sampai akhirnya pada tahun 1985 boru Harahap pun menyerah. Grup Opera Batak Serindo ia kembalikan ke pemiliknya: keluarga (alm) Tilham Gultom. Sekitar 45 orang anggotanya yang masih tersisa akhirnya ia bubarkan.

Hidup dari seni tradisi dan menghidupi seni tradisi, bagi boru Harahap ibarat dua sisi dari keping mata uang. Sejak bergabung sebagai tukang masak dan penjaga anak-anak para pemain Opera Batak-nya Tilham Gultom pada awal 1960-an, br Harahap sudah jatuh cinta pada Opera Batak. Apalagi ketika ‘karier’-nya meningkat menjadi pemain, pemusik, dan pelantun lagu-lagu Opera Batak Serindo, bahkan pada satu masa menjadi tauke grup tersebut, Opera Batak bagai sudah mengalir dalam darahnya.

“Jadi seniman tradisional seperti kami ini, ya, ngeri-ngeri sedaplah. Bagaimana tak sedap, waktu di Jepang dan Amerika, semua orang hormat. Tidur di hotel mewah, makan tak kurang. Kayak presiden saja, padahal cuma penjual kacang goreng. Tapi begitu pulang ke rumah, habis dari hotel mewah tidur di tikar. Air kadang tak ada, makan sehari-hari pun terancam. Belum lagi awak di-cemeh orang kampung. Ha ha ha ha … Kadang-kadang awak berpikir, macam mana pula ini. Tapi sudahlah, darah kita kan sudah di kesenian. (*)