Bagi orang Mandar, tradisi melaut bukan sekadar untuk urusan perut, melainkan juga ritual, penghormatan terhadap alam.

Dahri Dahlan
aat duduk di geladak tengah, lelaki kurus itu mengenakan sarung palekat hijau yang telah pudar. Tubuhnya dibalut kaus lengan panjang putih yang kebesaran. Cambang tipisnya mulai tumbuh putih beberapa. Ia mengisap keretek murahan di bawah topi jenjangnya yang dipenuhi jahitan tangan. Sesekali ia mengintai ke arah jauh.
Ia adalah Saharuddin, punggawa, orang nomor satu di perahu (nakhkoda). Di dekat tiang, seorang awak menyiangi telur-telur ikan yang masih lembap. “Bubu baru saja dilepas,” katanya. Ia menunjuk sebuah titik yang ditandai pataka setinggi 1 meter di atas bubu mengapung. Bubu itu berada sekitar 100 meter ke arah barat di haluan.
Dengan cekatan, Saharuddin menjatuhkan sampan. Pria berusia 51 tahun itu hendak mengikuti tali bubu itu dan menariknya untuk kami. Di luar sana, segalanya ialah horizon, bahang Juli, dan kilauan pantulan cahaya matahari di permukaan laut. Sesekali terlihat titik kapal motor yang lain. Walau hanya segaris kecil seukuran kuku jari, pelaut bisa saling mengenal perahu atau kapal.
Perahu yang sarat muatan itu mengayun tubuh kami. Bau garam dan amis ikan setengah kering menusuk hidung. Sepasang katir dari petung di ujung cadik sekali-sekali terempas, menghasilkan bunyi dan kecipak berpola. Rombongan itu telah mengarungi sekitar 60 mil laut dari Pambusuang, dekat kota Majene, Sulawesi arat. Menurut aplikasi, kami dibawa arus barat berkecepatan nol koma sekian knot.
Pulau Kapoposang masih tersisa 20 mil laut ke arah Laut Jawa. Di pulau yang masuk wilayah Kabupaten Pangkajene Kepulauan itu, Saharuddin dan semua pelaut dari Mandar sering mampir. Mereka berlabuh untuk menambah persediaan air atau berteduh jika cuaca buruk. Itu hari kelima perahu yang kami tumpangi berlayar dan sudah hari keempat mereka menghanyut: sepasang mesin terbungkus diam, layar digulung meliputi bong dengan rapi. Saat azan magrib dikumandangkan, KM Siarioi yang kami kendarai membuang sauh di Kapoposang. Kami menuju rumah sepasang haji berdarah Mandar dan Pangkajene untuk bermalam.
Di musim timur kali ini, Saharuddin yang akrab dipanggil Kanne’ ditemani menantunya, anak pertamanya, saudara tertuanya, dan seorang kerabat dekat. Sistem kekerabatan sangat berpengaruh untuk rekrutmen anak buah perahu.
Mereka masih menggunakan perahu sandek. Mungkin satu dari yang sedikit tersisa. Perahu bercadik dari Sulawesi Barat itu kini sudah bisa dihitung dengan jari masih digunakan di Selat Makassar. Meteka sedang berburu ikan terbang (Cypselurus oxycephalus fam Exocoetidae). Hanya sekitar lima mil laut sebelumnya kami juga berjumpa dengan Rahman bersama dua awak lainnya. Pria berusia 45 tahun itu juga menggunakan perahu sandek, juga dari Pambusuang. Ketika hari ketujuh Rahman menghanyut dan hanya memperoleh sekitar setengah kilogram telur, Saharuddin sudah memperoleh sekitar 20 kg bersih. Per Juli 2022 harga telur ikan kondisi kering tembus Rp960 ribu/kg.
Kami berjumpa Saharuddin sekitar pukul tiga sore hari. Itu berarti kapal motor yang kami tumpangi telah berlayar sekurangnya lima jam dari laut Parepare. Sebelumnya, kami hampir terjebak di kolor, sebutan pelaut Mandar untuk tepi palung. Lambung kapal bersisian dengan dangkalan yang dipenuhi karang mati bekas pengemboman ikan. Di sisi lambung lain, membentang gelap laut yang ananta.
Saya kembali mengamati, laut yang dalam tidak betul-betul biru, tetapi gelap. Tidak salah pelaut Mandar menyebutnya pattang, yang berarti gelap untuk laut dalam, Hanya sekita dua mil laut sebelumnya suar Bulango berdiri sekitar 300 meter dari jalur kami. Suar ialah penanda perairan dangkal yang dikenal baik oleh pelaut di wilayah sini, semacam rambu lalu lintas laut. Ia seperti kalimat, “Awas karam!”
Ikan terbang

Ipeh Nur, seniman perupa Program Rimpang Nusantara dari Cemeti Institute, terus merekam dengan ponsel pintarnya. Ipeh bersama suaminya, Enka Komariah. Tajriani Thalib, seniman Rrimpang lain, juga turut dalam pelayaran itu. Tajriani telah lama mendalami ussul, perilaku spesifik orang Mandar yang menandai harapan.
Mereka bertolak dari Yogyakarta untuk mengamati pelaut tradisional Mandar yang bekerja di rentang April-September itu. Ipeh dan Enka selalu siap dengan alat tulis dan pertanyaan-pertanyaan. Mereka juga gemar mengumpulkan footage. Dua orang itulah yang berada di balik pelayaran ini. Ipeh terkesan dengan konsep menghayut pelaut jenis itu, dan ia kembali ke Mandar untuk mendalaminya.
Menghanyut atau dalam bahasa lokal mi’anus ialah kata kunci yang sering disebut potangnga. Potangnga ialah sebutan jenis pelaut semacam itu. Motangnga berasal dari kata tangnga yang berarti tengah. Imbuhannya mengandung arti kreativitas. Mereka bekerja di tengah laut. Dipasangkan dengan mi’anus, terdapat istilah mappari’ yang berarti ‘kembali ke titik awal’ atau sebut saja ‘kembali’. Lantas mengapa mereka harus menghanyut lalu kembali ke titik awal secara repetitif?
Di alam pikiran orang Mandar, ikan terbang atau bau tuituing (sering ditulis tuin-tuing) dianggap keramat. Ikan bersisik itu juga disebut sebagai mara’dia, yang berarti raja. Geneologi kulturalnya dibalut dalam perpaduan legenda dan dongeng. Konon makhluk itu ialah hadiah atas jasa manusia ketika mengobati si anak bangsawan ura’ liung, negeri bawah laut. Anak itu dipulihkan dari sakit tenggorokan yang menyiksa. Penyebab penyakit itu ialah kail emas si anak manusia yang tersangkut di sana. Latar ending legenda itu berada di perairan Tamanggaalle, Kecamatan Balaipa, Polewali Mandar.
Setali tiga uang dengan itu, ada banyak sekali pantang anjur yang menjadi aturan tidak tertulis di kalangan para pelaut. Salah satu pantang atau pimali saat motangnga adalah pimali menyebutkan hal-hal negatif. Jika harus menyebut, mereka menggunakan gaya bahasa. Satu contoh, jika harus menanggapi bau amis, seseorang harus mengatakan wangi atau harum. Tidak boleh sebaliknya. Jika kepala tersangdung tiang layar, misalnya, kita tidak bisa bilang, “Aduh, sakiti sekali!”
Intinya, semua hal baik atau semuanya (harus) terasa baik selama di atas perahu. Mereka juga pantang menyebut hewan berkaki empat. Itu terkait dengan kepercayaan tentang lelembut berwujud buaya yang ada di laut.
Omong jorok

Di saat yang sama dinjurkan berkata-kata jorok nan porno, atau macca dalam bahasa Mandar. Untuk memanggil ikan bertelur, pelaut tidak segan berteriak dalam bahasa mereka, “Ayo bersenggama, masukkan kelaminmu!” Kadang mereka menyebut nama perempuan yang dianggap primadona di kampungnya sebagai bahan untuk menyeru ikan-ikan itu.
Demikianlah salah satu cara yang diyakini pelaut bisa menarik simpati makhluk lucu itu. Lainnya, mereka selalu berdoa. Konvensi yang demikian itulah yang harus dipatuhi saat menghanyut. Konsep sah dan tabu menjadi kabur dan subtil.
Area Pulau Kapoposang menjadi titik tolak mereka menghanyut sejak dulu. Pun Pulau Papandangan, tetangga Kapoposang, juga memiliki peranan yang sama.
Muhammad (42), punggawa yang memimpin kami, menerangkan ‘perasaan’ adalah petunjuk orang terdahulu untuk menghanyut. Barangkali yang dimaksud ialah insting atau intuisi. Sementara itu, Samadun (50) menjelaskan beberapa tanda alam sebagai navigasi leluhur Man dar: ombak tua, ombak rapat, bintang, kemunculan ikan tertentu, dan capung. Bahkan leluhur mereka menghafal jenis dan bebauan lumpur yang melekat di alat pancing. Lumpur itu yang akan menjadi penanda jarak dengan pulau tertentu, dangkalan dan gusung (gosong), juga spot ikan.
Mereka berhenti menghanyut jika sudah mencapai dangkalan, atau dalam terminologi mereka disebut lante. Laut dangkal tidak menarik minat ikan terbang. Jika demikian, mereka akan map pari’, sebagaimana yang sudah diterang kan. Jarak waktu antara mappari’ dan mi’anus sangat fluktuatif. Selain karena sudah mencapai dangkalan, sering sekali mereka kembali ke titik tolak karena pada jalur terakhir mereka sangat beruntung.

Pada kondisi menghanyut, para pelaut betul-betul pasrah. Bubu direntangkan dengan tali. Bubu itu dipenuhi sayatan daun-daun kelapa tanpa lidi dan sedikit isian sargassum atau alga laut cokelat. Dalam kondisi segar, pelaut menyebut alga itu sebagai pa’bulu. Namun, jika sudah kering dan menyatu dengan telur, disebut kosseng. Pelaut juga sering kali memungut telur-telur yang terbawa oleh arus bersama material lainnya. Bahkan mereka sengaja menggunakan sampan untuk mencarinya. Telur yang hanyut disebut tapping.
Di masa lalu mereka bisa melakukannya sebulan penuh. Saat ini motangnga bisa dilakukan dalam belasan hari atau—jika lebih beruntung—bahkan hanya sepekan. Keterampilan dan jam terbang harus dimiliki, utamanya punggawa perahu. Tidak dimungkiri harga diri menjadi taruhan untuk para punggawa atau nakhoda. Mistik dan mantra-mantra sering menjadi hal wajib bagi mereka.
Malam sebelum kami menempuh 100 mil laut via Parepare, Ipeh dan Enka bertanya perihal pantang larang selama motangnga ke Muhammad. Besoknya, bapak tujuh anak itu meminta segelas air putih diletakkan di depannya. Dengan khidmat ia menggumamkan sesuatu sebelum berangkat. Air selesai diteguk, selesai pula urusan darat kami. Di laut ilmu membaui lumpur perlahan diganti GPS made in Finland berwarna mencolok. Mereka memesannya lewat aplikasi belanja online. **
Dahri Dahlan, Staf pengajar di Universitas Mulawarman, ia membidangi kajian tradisi dan penulisan kreatif.