Pernah sangat tenar dengan sabetannya. Kini sedang bahagia menikmati hari tua, karena anak dan cucunya sudah menjadi dalang.
ercelana pendek dan kemeja lengan pendek warna putih, pria bertinggi 180 cm itu santai berjalan·jalan di sekitar rumahnya di Desa Tambi, lndramayu (Jawa Barat). Setelah itu ia masuk rumah, senang memandangi anak-anak berlatih tari di sanggar yang pembangunannya didukung dana pemkab lndramayu sebesar Rp45 juta.
“Bapak sekarang hari-hari nggak ngapa-ngapain. Paling keliling kebun, atau cari teman ngajak ngobrol,” ujar Wangi lndriya Suheti, putri kedua dari empat putri Datang Taham. Di atas tanah seluas 1260 m2 yang dibeli pada 1970 itu, selain dibangun rumah dan sanggar, terdapat kebun yang ditanami pisang, mangga, melinjo, mengkudu.
Sekarang datang yang terkenat dengan sabetannya ini, memang jarang berpentas. Pada tahun 2007 misalnya, kelahiran Desa Tambi, lndramayu, 2 Februari 1935 ini, hanya dua kali manggung.
Padahal pada era 1970-1980an, Datang Taham, lebih dari 250 kali manggung dalam setahun. Bukan hanya di sekitar lndramayu dan Cirebon, tetapi juga ke luar kota seperti Brebes, Majalengka, Subang, Krawang. “Kadang-kadang satu desa bisa empat kali pertunjukan berturut-turut,” kenang Dalang Taham.
Penurunan itu terjadi sejak era 1990-an, bukan saja karena pemangku hajat tebih suka mengundang datang muda, tapi juga karena Datang Taham menetapkan tarif yang jauh tebih tinggi. “Kalau datang muda Rp3 juta sudah tengkap dengan sound system, Bapak Rp7 juta, minimal Rp5 juta, betum termasuk sound system,” jetas Wangi, yang belakangan ini menjadi asisten ayahnya.
“Ngapain kalau cuma dapat sedikit? biar aja aku nganggur daripada dimurahin. Soalnya aku udah tua, kalian membayar aku itu membayar capek,” tukas Datang Taham. la tak setuju dengan adanya kecenderungan, semakin tua seorang seniman, semakin banting harga. “ltu pelecehan,” tegasnya. Tapi, tambah Wangi, “Berbeda katau ada yang bilang ‘Pak saya nggak punya apa-apa, Bapak mau bantu nggak?’, Bapak mau biar nggak dibayar juga.”
Namun, bagi Wangi dan saudara-saudaranya – Sidem Permanasari, Suhem, dan Sunana – tebih baik bila sang ayah tidak usah mendalang lagi, sebab takut sakit jantung dan hipertensinya kambuh. Kataupun mau mendatang, Datang Taham tidak boleh ada kegiatan di siang hari.
Dan tampaknya, Datang Taham memang menikmati masa kini, yang ia sebut dengan “masa pensiun”. Apalagi untuk sehari-hari, sudah ditanggung oteh putri sulungnya, penari yang menikah dengan seorang pengusaha rotan di Cirebon. la tinggal menikmati bangun jam 4 pagi, kemudian setelah mandi dengan air panas yang rebus sendiri – ia tak mau dibantu kalau bisa mengerjakan sendiri – langsung jalan-jalan. Atau sambil menunggu sarapan ubi kukus dan tempe goreng kesukaannya, ia ngobrol dengan istrinya Caspinah (68 tahun).
Wanita itulah yang ditemuinya di Desa Gadingan, lndramayu, yang kemudian dinikahinya pada akhir 1956 sebagai istri kedua. “Saya paling senang perempuan yang jauh marah, sederhana,” ungkap Datang Taham, yang sempat enam kali menikah, tapi akhirnya kembali kepada Caspinah, yang telah memberinya empat orang putri. “Supaya jangan marah makanya cari yang sabar,” kilah Datang Taham, yang mempunyai 1 anak laki-laki dari istri di Sleman, Jawa Tengah.
Pengalamannya berkaitan dengan perempuan, membuat Datang Taham jadi sangat ketat menjaga anak-anak gadisnya. “Takut hukum karma,” kilah Dalang Taham. la mengakui, salah satu alasan membuka sanggar pada 1983, adalah agar keempat anak gadisnya tidak ke luar rumah.
“Supaya kawan-kawan seniman saja yang datang ke sanggar. Tidak seperti saya dulu, keluar desa
nggak malem nggak siang mencari seniman. Ternyata sekarang mereka akhirnya juga ke Yogya, Solo, Jakarta wad uh … ,” kata Dalang Taham. Kepada anak laki-lakinya, ia nasihatkan agar jangan meniru dirinya. “Jangan kawin banyak-banyak. Rugi. Susah bagi waktu,” ujarnya.
Pada usia 73 tahun, Dalang Taham yang sejak tahun 2000 mengenakan kacamata karena katarak, suka mengisi siang harinya dengan santai berbaring di kursi malas, sambil menonton latihan. Di sanggar yang didirikan pada 1983 itu, terdapat latihan untuk semua jenis kesenian, terutama tari dan karawitan, dengan mengenakan biaya Rp2.000. Khusus untuk mendalang malah gratis. “Kami bukan ngaku kaya, cuma misi kami lebih menanamkan kesadaran bagaimana menjadi seniman tradisional. Mereka harus bisa semua jenis kesenian,” jelas Wangi.
Meskipun murid yang bisa menjadi dalang belum kelihatan, Dalang Taham tidak galau. Sebab apa yang ia cita-citakan sudah terwujud melalui Wangi. Putri Dalang Taham, yang lahir tahun 1961 itu, sudah menjadi dalang. Bahkan ketika berpentas di Solo, Dalang Taham rela menjadi asistennya. “Tapi saya senang,” ujar Datang Taham, terkekeh. Apalagi, salah satu dari 12 cucunya – yaitu anak bungsu Wangi yang kuliah di STSI Solo – juga mulai mendalang.

la senang anak-anaknya tidak mengalami hal yang sama dengan dirinya ketika kecil. Meski menjadi anak Dalang Wisad yang sangat tenar di eranya, ternyata Taham tak mudah menjadi dalang. Memang, sejak kelas 1 Sekolah Rakyat (SR), kalau pulang sekolah atau libur, boleh ikut ayahnya manggung. Tapi ketika menyatakan keinginannya memegang wayang, ayahnya mencegah, dengan alasan harga wayang mahal dan kalau rusak perbaikannya lama. Maka yang dilakukannya, membuat wayang-wayangan dari daun kluwih dengan tangkai kipas.
“Bapak bilang, boleh jadi dalang, tapi selesaikan dulu sekolah. Tapi karena Bapak membawa saya semenjak kecil di panggung, saya lihat jadi dalang enak betul. Makannya mewah, kalau pulang diberi makanan ayam, kue-kue banyak. Di kampung dulu oncom saja tiap hari,” tutur Dalang Taham, yang setamat SR, berkeras tak mau melanjutkan sekolah.
“Suruh sekolah lanjutan saya nggak mau. Ndalang aja. Sampai Bapak menawar, ‘ingin motor apa, saya belikan. Asal ke lndramayu untuk sekolah’. Waktu itu SMP hanya ada di lndramayu. Saya bilang, saya jadi seniman saja,” tambah Dalang Taham.
Akhirnya melihat kekerasan hati anaknya, ayahnya membiarkan Taham mempelajari caranya mendalang. Anak kedua dari enam bersaudara ini, pertama kali dibolehkan mendalang, pada akhir tahun 1942 dalam perhelatan pernikahan kakaknya.
Lama-kelamaan, Dalang Taham berhasil menggantikan posisi ayahnya. Menjadi dalang Wayang Cirebonan, yang mengutamakan syiar Islam dan lengkap dengan sembilan punakawan – berbeda dengan wayang Jawa Tengah yang menggunakan empat punakawan. Selain pakem, Dalang Taham juga membuat cerita carangan, yang intinya memberi tuntunan hidup. Cerita carangan yang jumlahnya mencapai 200-an itu, sedang didokumentasikan oleh Wangi.
Datang Taham mengaku sempat ragu, apakah mungkin bisa sepopuler ayahnya yang mampu berangkat Sabtu sore dan pulang baru Kamis dan seharian hanya makan iwel-iwel pakai gula merah. la terus mengasah diri, di antaranya dalam suara. “Waktu muda saya nggak punya suara tinggi meliuk. Tapi akhirnya, tahun 1970-an, sudah baik suara saya,” tutur Dalang Taham. Caranya? “Kalau minum dari hidung. Tujuannya menggurah suara,” jelasnya. Cara itu pula yang ia ajarkan kepada Wangi.
la juga tidak makan nasi sejak tahun 1984. “Kata hati yang mengganti nasi dengan mie atau ubi. Mengikuti nasihat ayahnya, Dalang Taham sekeluarga sangat mengikuti kata hati.
“Kakek mengajari kami, yang penting komunikasi jiwa dan raga. Manakala perut kita belum lapar, nggak perlu diharuskan di meja makan. Kalau malam belum ngantuk, nggak perlu minum pil tidur,” jelas Wangi, yang menerima didikan langsung dari sang kakek.
Kini Datang Taham sedang menikmati masa tuanya. Apakah tidak rindu mendalang? “Ada juga kangen mentas lagi, tapi sedikit,” ujarnya tersenyum. Tapi dengan sanggarnya, ia tetap punya harapan, “Kesenian kuno aja hilang.”