Syeh Lah Geunta MAESTRO TARI SEUDATI

June 21, 2026

SyehLahGeunta2

udah 10 tahun rumah yang dia bangun di Desa Seuneubok Rambong, Idi Rayeuk, Aceh Timur, tak kunjung rampung. Tak seperti kariernya sebagai ‘koreografer’ dan penari seudati yang melesatkan namanya di panggung pertunjukan hingga ke mancanegara, penyelesaian rumah itu terasa begitu. lamban. Keberhasilannya di dunia seni tari tradisi-sampai-sampai sastrawan Ali Hasymi sewaktu menjadi Gubernur Aceh (1963) memberi gelar Syeh Lah Geunta berkat kepiawaian tokoh kita ini bermain seudati tidak diimbangi prestasi dalam membangun tempat berlindung di hari tuanya.

Seperti halnya nasib kebanyakan seniman tradisi di Tanah Air, begitulah jalan hidup Syeh Lah Geunta yang bernama lengkap Abdullah Abdulrahman. Dilahirkan di Desa Geulanggang Tengoh, Bireuen, tahun 1946, anak kedua dari tiga bersaudara ini mulai belajar tari seudati pada usia cukup belia, yakni saat ia masih duduk di kelas IV sekolah rakyat (SR). Ketertarikan Abdullah pada tari seudati makin menggelora setelah ia menyaksikan penampilan Nurdin Daud, seorang penari seudati terbaik di Aceh pada masa itu.

“Gerakannya agak keras, tapi lembut,” kata Syeh Lah Geunta mengungkapkan ingatannya atas penampilan Nurdin Daud yang waktu itu membawakan tari seudati bersama Syeh Ampu Muda.

Ketertarikan Abdullah kecil untuk menggeluti seudati mendapat dukungan dari ibunya, Halimah. Sikap berbeda justru datang dari ayahnya, Abdulrahman. Sang ayah sempat melarang Abdullah menekuni kegiatannya ber-seudati lantaran dianggap akan mengganggu pelajaran di sekolah dan saat-saat mengaji. Namun, Abdullah kecil tetap kukuh dengan tekadnya. Diam-diam ia ikut berlatih seudati bersama teman-temannya di sebuah hutan dekat Bireuen. Hasil dari latihan itu pertama kali mereka tampilkan di pasar malam Kota Bireuen, kemudian berlanjut hingga sampai ke Sigli dan Langsa.

Kekhawatiran ayahnya akhirnya memang terbukti. Lantaran sudah benar-benar kepincut pada seudati, Abdullah hanya sempat menikmati pendidikan formal hingga kelas 11 SMP. la pun drop out, dan sejak itu Abdullah mencurahkan hidup sepenuhnya untuk seudati. Bahkan minatnya yang lain, seperti main sepakbola, juga ia tinggalkan karena pilihannya menjadi penari seudati.

Pengorbanan ternyata Abdullah tidak sia-sia. Keinginan yang keras disertai semangat pantang menyerah dalam menekuni dunia seni tradisi yang ia geluti melambungkan namanya hingga ke seantero Aceh. Dan itu berawal dari penampilannya pada suatu kesempatan pada malam resepsi peletakan batu pertama SMA Cut Gapu, Bireuen, 1963. Di hadapan Ali Hasymi, sastrawan terkemuka yang juga adalah Gubernur Aceh, Abdullah bersama kelompoknya yang masih tergolong anak-anak tampil memukau.

Kelincahan gerak tubuh Abdullah yang menari bagai ulat, bergerak luwes mengikuti iringan pantun yang dinyanyikan, menarik perhatian penonton. Begitu pentas usai, Ali Hasymi secara khusus naik ke panggung, memberinya gelar Syeh Lah Geunta.

Syeh dalam lingkungan masyarakat Aceh dikenal sebagai sebutan khusus bagi pemimpin gerakan pertunjukan tari. Syair atau pantun yang biasa mengiringi tarian di Aceh dimotori oleh seorang syeh, mulai dari pola gerak hingga menjadi pemain utama dalam setiap pertunjukan. Adapun sebutan Lah, sebagaimana kebiasaan di lingkungan Aceh, diambil dari panggilan singkat nama utamanya: Abdullah. Sementara ‘Geunta’, yang artinya genta atau dengung, adalah gelar pemberian Gubernur Ali Hasymi untuk Abdullah: Syeh Lah Geunta!

Setelah beranjak dewasa, nama Syeh Lah Geunta benar-benar ‘berdengung’ dan dikenal di hampir semua wilayah Aceh. Dari seratusan syeh seudati di Aceh, nama dan permainan Syeh Lah Geunta sangat akrab dan selalu ditunggu masyarakat. Seudati sepertinya sudah menjadi aktivitas penting dalam kehidupan Abdullah Abdulrahman.

“Dengung pukulan Syeh Lah memang terasa berbeda dibandingkan penampilan syeh-syeh lain,” kata Benyamin Siregar, salah seorang penggemar seudati yang tinggal di Langsa.

Berkat pengaruh Syeh Lah, beberapa sanggar seudati dan rapa’i di Kota Langsa mulai dihidupkan kembali. Sanggar Pesona dan Sanggar Geunta Suasa adalah dua dari sejumlah sanggar tari tradisi yang didorong perkembangannya oleh Syeh Lah Geunta. Banyak juga orang mengenal sosok Syeh Lah lantaran ia tidak pernah menolak orang-orang yang mau belajar seudati dan tarian Aceh lainnya.

Syeh Lah Geunta selalu bersedia memberi masukan dan dorongan kepada siapa pun, terutama orang-orang muda, yang ingin memperdalam tari seudati. Bahkan tiga generasi penari sudati di Langsa harus mengakui kemunculan mereka tidak terlepas dari perhatian serius Syeh Lah Geunta. Tentang hat ini, Syeh Lah Geunta punya pandangan tersendiri. Katanya, “Seorang seniman yang sudah menari itu harus bisa memberikan ilmunya kepada orang lain.”

Sang Maestro

Seudati adalah satu di antara beberapa jenis tari Aceh yang cukup dikenal di Nusantara. Sebutlah seperti rapa’i, saman, daboh- serta beberapa varian dari perkembangan jenis khusus untuk rapa’i- dengan wilayah sebarannya hampir mencakup seluruh Aceh. Bagi kebanyakan awam, jenis-jenis tari dari Negeri Serambi Mekah tersebut bisa sating bertukar nama lantaran kemiripan satu sama lain. Sebab, kekuatannya ada pada gerak tangan yang kukuh dan iringan syair atau pantun yang dilagukan dengan citraan yang khas.

Namun, khusus pada seudati, kekhasannya terletak lebih pada gerakan yang bersumber dari pola dan variasi loncatan, selain- tentu saja- gerak tangan, serta keutep jaroe (petik jari), pukulan dada (persis di ujung rusuk); juga dengan iringan pantun atau syair yang spontan di atas panggung. Jumlah penari seudati minimal delapan orang dan selalu genap; sudah termasuk sang syeh di tam bah dua aneuk cahi a tau pelantun syair I pantun. Selain syeh dan aneuk cahi, satu orang penting lainnya dari penari seudati disebut apit syeh, posisinya sebagai asistensi yang duduk di sebelah kiri syeh. Selama delapan bagian berurutan dalam tari seudati (saluem anuek syahi, saluem rakan, bale saman, likok, saman, kisah, cahi panyang, dan Lanie) dilangsungkan, apit syeh berfungsi menjaga maksud spontanitas gerak syeh.

Pada kelompok seudati perempuan disebut seudati inong atau laweut. Berbeda pada kelompok laki-laki yang pukulan ke dada, pada seudati inong pukulan dilakukan di bagian pinggul. Selebihnya sama, termasuk jumlah penari serta delapan bagian berurutan dalam setiap pertunjukan seudati.

Hidup dari seni tradisi umumnya memang tidak memberi banyak pilihan. Tak terkecuali Abdullah Abdulrahman alias Syeh Lah Geunta. lmbalan yang ia terima setiap penampilan sangat bergantung siapa yang mengajak naik pentas. Terkadang dibayar ala kadarnya, tapi juga ada kalanya ia tak menerima imbalan sepeser pun.

Dari penghasilan bermain seudati itulah ia menghidupi istri (Safi ah) yang ia nikahi tahun 1968 berserta keenam anak mereka (Darmawati, Yusniati, Asnawi, lskandar, Darwinsyah, Effendy) hingga taman SLTA; kecuali anak ketiganya (Asnawi) yang bisa merampungkan pendidikan di lnstitut Kesenian Jakarta (IKJ).

Prestasi terbesar dalam hal bayaran yang ia terima adalah ketika diminta tampil dalam rangka peringatan dua tahun bencana tsunami di Aceh (sejarah memang mencatat, 26 Desember 2004 gempa yang diikuti tsunami menghancurkan wilayah Aceh; ratusan ribu nyawa melayang dan jutaan orang harus mengungsi). Ketika itu Syeh Lah Geunta dilibatkan oleh sebuah lembaga nonpemerintah (NGO/LSM) yang membayar permainan seudatinya sampai Rp 15 juta.

Seudati telah memberinya banyak hal dalam kehidupan. Berkat seudati ia telah pentas di berbagai tempat di Tanah Air. Syeh Lah Geunta bersama kelompoknya juga sempat tampil di mancanegara, seperti Tokyo, Jepang (1989), New York, Amerika Serikat (1991 ), Kuala Lumpur, Malaysia (1991 ), Singapura dan Spanyol (1992).

Sejak menggeluti seudati secara “profesional” tahun 1960-an, masa-masa sulit sempat ia lalui. Di awal kariernya ia harus berhadapan dengan situasi pra dan pasca-Gerakan 30 September. Lalu muncul konflik bersenjata antara TNI dan Gerakan Aceh Merdeka alias GAM. Selama masa-masa sulit itu, Abdullah tidak pernah pulang ke rumah sehabis main seudati. Kini keadaan relatif lebih baik, tetapi usia sudah kian menggerogotinya. Syeh Lah Geunta pun tahu diri. la mulai mengurangi aktivitasnya bermain seudati.

”Tapi, selama masyarakat masih mau menonton seudati, Syeh Lah akan tetap tampil,” katanya masih tampak bersemangat. Tak jadi soal kalau belakangan ini penampilan Syeh Lah lebih banyak di belakang panggung. “Saat ini saya lebih banyak ke mana-mana untuk memberi masukan soal seudati dan tari Aceh lainnya kepada generasi muda,” tambahnya. ,